Kisah Sex Perselingkuhan Panas
By Blinger
—
Minggu, 18 Februari 2018
—
Add Comment
—
Cerita Dewasa,
Cerita Lesbian,
Cerita Mesum,
Cerita Ngetot,
Cerita Sex
Pesonaceritaku.com - Cerita Sex Perselingkuhan Panas - Pada sebuah pagi saya mendapatkan sepucuk surat. Ternyata surat itu dari sahabatku Nasem yang tinggal di Manado. Isinya beliau mengundangku datang ke sana untuk berkangen-kangenan. Maklum sudah puluhan tahun kami terpisah jauh. Nasem di Minahasa, Sulawesi Utara dan aku tetap di Malang, Jawa Timur.
Dalam suratnya, Nasem menceritakan pula wacana keadaan Hamid (samaran, sahabat kami pula) di Tewah. Katanya, ia juga kangen padaku.
Yah, bantu-membantu saya pun juga kangen pada mereka. Kami adalah tiga teman karib, yang dahulu tak terpisahkan. Lahir di kampung yang serupa, tahun yang sama pula. Tak heran orang kampung menjuluki “Three Brothers”. Cuma bedanya, Nasem dan Hamid berhasil di kariernya. Kini Nasem menjadi Kepala Cabang Dealer Mobil/Motor di Minahasa dan Hamid menjadi pedagang antar pulau dan tinggal di Tewah. Sedang aku tidak. Tak banyak yang bisa dilaksanakan anak petani macam saya ini.
Sayangnya, setelah 10 tahun menikahi gadis Minahasa, Nasem belum juga dikaruniai anak. Beda denganku yang mesti pontang-panting menghidupi isteri dan keempat anakku. Kalau saja Nasem tidak membantu, mungkin aku sudah tidak mampu. Itulah yang membuatku terharu. Meski telah sejahtera dan terpisah oleh lautan, mereka masih memperhatikanku.
Kembali ke surat Nasem. Ada satu hal penting yang disampaikannya, adalah minta bantuanku. Tanpa menjelaskan apa yang dimaksudkannya. Aku pun bingung, apa yang mampu kuperbuat untuk menolong orang sekaya Nasem?
Dengan duit yang dikirimkannya, saya pun berangkat menyanggupi undangannya. Istriku mesti tinggal, untuk menjaga rumah dan bawah umur yang mesti sekolah. Kepadanya saya pamit untuk waktu barang satu dua minggu.
Lalu, sesudah 5 hari 5 malam berlayar, saya pun hingga di tujuan. Di situ aku telah dijemput oleh Nasem dan istrinya. Begitu kapal bersandar, mataku menangkap sepasang tuan dan nyonya melambai-lambaikan tangan. “Nduuuttt.., Genduuuttt..!!” Teriak mereka. Nasem masih tetap mengundang dengan julukanku dan bukan namaku. Dulu semasa kecil, aku memang paling gendut dibanding Nasem Dan Hamid.
Begitu turun dari kapal, kami saling berpelukan tanpa canggung. Kurasakan mereka memang rindu sekali padaku. Acara kangen-kangenan berlanjut sampai di rumah. Rumah Nasem besar, sedang dipugar dan seperti rumah pejabat. Apakah alasannya adalah hal ini dia memanggilku ke sini? Entahlah. Praktis sepanjang hari kami tak menyinggung soal kedatanganku, sebab keasyikan saling berkisah selama kami berpisah.
Maka pada malam kedua itulah, setelah makan malam, Nasem dengan istrinya Sari memanggilku ke ruang tamu. Mulailah mereka membahas soal “santunan” itu.
“Kira-kira apa yang bisa kubantu, apakah melakukan rumahmu ini?” tanyaku.
Kulirik, Nasem menggelengkan kepala.
“Begini Ndut, kamu kan tahu kami telah 10 tahun menikah, tapi belum juga diberi momongan. Masalahnya, berdasarkan dokter, saya ini memang mandul. Kaprikornus kami sepakat untuk minta tolong kau. Itu sebabnya kami mengundangmu tiba kemari,” tutur Nasem, panjang-lebar. Tapi saya masih galau dengan ucapannya itu, hingga kuminta beliau menerangkan lagi.
“Jelasnya, kami ingin sekali punya anak walau seorang. Tapi kutahu pasti dari dokter bahwa saya tidak bisa membuahi istriku alasannya aku mandul. Maka kuminta bantuanmu untuk mengambil alih diriku semoga kami bisa punya anak,” tuturnya lagi dengan terperinci.
“Hah.. apa? Aku harus menggantikan dirimu semoga bisa memberikan anak kepadamu,” tanyaku, ingin tau.
“Yah.. begitulah maksudku,” jawabnya, menciptakan saya semakin tak memahami.
“Lalu dengan cara bagaimana saya menggantikanmu? Kamu kan tahu bahwa saya ini bukan ‘Deddy Coubuzier’ atau dukun. Apakah saya mampu melaksanakan permintaanmu itu Sem?” ucapku.
“Ah kau ini memang nggak tahu atau akal-akalan nggak tahu. Begini, kau ini memang bukan seorang dukun dan permintaanku ini tidak ada kaitannya dengan perdukunan. Yang kuminta yaitu, kesediaanmu menggantikan diriku sebagai suami dari istriku, untuk membuahi rahim istriku agar kami bisa punya anak. Sudah? Jelas tidak?” ucap Nasem merinci, dan nampak agak kesal juga menyaksikan kebodohanku.
“Oh begitu maksudmu. Tapi benarkah ucapanmu itu? Dan apakah Sari menyetujuinya?” tanyaku meyakinkan, seraya memberi pertimbangan agar Nasem mengadopsi anak saja.
Menurut mereka, semula memang bermaksud untuk mengadopsi anak.
“Tapi sebaik mungkin mengadopsi anak, masih lebih baik punya anak dari rahim istriku sendiri. Dan ini bila bisa.. ya kan sayang?” ucap Nasem.
“Ya Mas Ndut, kami telah berunding sebelumnya. Dan demi cita-cita kami, saya rela menyerahkan tubuhku untuk dibuahi Mas Ndut..” ucap Sari pelan.
Kini aku paham maksud mereka. Tapi aku tak secepatnya menjawab, secara tiba-tiba terpampang buah simalakama di mataku. Bila kuterima, ah.. itu memiliki arti saya mesti melanggar pagar ayu. Apalagi ini istri sahabat sendiri. Dan bila kutolak, Nasem pasti kecewa. Itu yang pertama. Yang kedua, aku terlanjur tiba jauh-jauh dari Jawa. Dan ketiga mengingat budi dan jasanya yang kuterima selama ini, kapan lagi saya mampu membalasnya.
Tapi Nasem terus mendesakku.
“Yah.. bagaimana ini ya. Sem, kuterima atau tidak permintaanmu ini?” kataku.
“Sudahlah Ndut, kuharap kamu bersedia membantuku. Nggak usah resah, kami pun tak ada perasaan apa-apa atas bantuanmu,” ucap Nasem meyakinkan.
Aku pun tanpa sadar berucap, “Yah baiklah. Tapi bagaimana nanti jika gagal?” tanyaku.
“Seandainya gagal, itu bukan kesalahanmu. Nanti kami akan senantiasa berdoa supaya cita-cita kami ini dikabulkan,” ucap Nasem dengan berilmu.
Selanjutnya dengan akad dan restu bersama, saya diminta untuk mengawali malam itu juga. Begitu mendengar kesediaanku mereka permisi hendak merencanakan kamar tengah. Nasem sendiri tampaknya pindah ke kamar depan. Bantal dan peralatan tidur lainnya dibawanya ke depan.
Tepat pukul 22:00 WITA, saya dipersilakan Sari masuk ke kamar tengah yang telah higienis, indah dan harum. Terasa berat kakiku melangkah, sampai Nasem dan Sari membimbingku masuk. Habis itu, Nasem pun keluar, meninggalkan saya dan Sari berdua di kamar.
“Sari, apakah kamu yakin aku bakal mampu memberi anak nantinya..?” tanyaku.
“Mas Ndut, secara eksklusif aku percaya kamu bakal mampu memberi anak untukku nantinya.” ucapnya manja.
“Aku tidak tega tubuhku yang kotor ini nantinya akan ‘mengobok-obok’ tubuhmu yang mulus itu.”
“Mas Ndut, saya kan telah bilang ini demi keinginan kami berdua. Jadi tubuhku yang mulus ini kuserahkan padamu Mas. Ayo dekatlah kemari Mas Ndut. Tak usah malu-aib, saya siap bertempur Mas..” ucapnya lagi sambil mempesona tanganku ke pembaringan.
Sayup-sayup kudengar pintu jendela depan ditutup dan dikunci.
“Lho siapa yang menutup pintu dan jendela di luar sana itu Sar?” tanyaku, sembari duduk di bibir ranjang.
“Oh itu pasti Mas Nasem sendiri kok Mas Ndut,” jawabnya, seraya menjelaskan bahwa 2 pembantunya terpaksa dipulangkan supaya planning ini berlangsung mulus.
“Oh begitu!” ucapku.
“Mas Ndut aku sudah nggak tahan nich?” ucapnya sambil membuka seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya yang mulus itu. Tubuhnya yang mulus dengan susunya yang begitu semok dan vaginanya yang menantang. Panas dingin aku memandangnya. Lutut ini gemetar dan tubuhku meriang kolam kena setrum listrik 1000 watt. Aku yang biasa melihat istriku bugil, sekarang jadi lain.
Di rumah aku biasa tidur dengan beralaskan tikar. Kini saya berhadapan dengan ranjang mewah beraroma busuk, plus badan mulus tergolek di atasnya. Tapi badanku terus menggigil seperti terserang malaria berat. Eh, Sari tiba-datang bangun menghampiriku dan melepaskan seluruh pakaianku yang sejak tadi belum kubuka. Aku hanya terbengong-termenung saja. Lalu…
“Sekarang.. coba Mas Ndut berbaring..” ucapnya sambil mendorong badan telanjangku. Aku berdasarkan saja. Penisku segera menegang saat merasakan tangan lembut Sari mulai beraksi.
“Wah.. wahh.. besar sekali penismu, Mas Ndut.” tangan Sari segera mengusap-usap penis yang telah mengeras tersebut. Segera saja penisku yang sudah berdenyut-denyut itu masuk ke lisan Sari. Ia segera menjilati penisku itu dengan penuh semangat. Kepala penisku dihisapnya keras-keras, hingga membuatku merintih keenakan.
“Ahhh… ahhh… ohhh..” saya tanpa sadar merintih mencicipi lezat sesaat. Menyadari keringatku yang mengucur dengan deras sehingga mengakibatkan amis badanku yang kurang sedap, terburu-buru aku mendorong kepala Sari yang masih mengulum penisku itu untuk pamit mau mandi dulu. Lalu, kuguyur badanku dengan segala macam sabun dan parfum yang ada di situ kugosokkan biar badanku harum. Tiga kran yang ada di situ kubuka semua dan kurasakan mana yang berbau sedap, kupakai untuk menyegarkan tubuh. Bukankah sebentar lagi aku mesti melayani sang putri kolam bidadari?! Mungkin telah terlalu lama saya di kamar mandi, terdengar Sari mengetuknya. Begitu pintu kubuka, ah. Sari bangun dengan tubuh montoknya. Ohhh.. Seandainya yang pamer aurat di depanku itu istriku saya tak akan menanti lama-lama pasti langsung kudekap ia. Tapi beliau yaitu istri sahabatku.”Malaria”-ku yang sempat sembuh waktu mandi tadi, sekarang kumat lagi. Cepat-cepat saya masuk lagi dan menguncinya. Di dalam kamar mandi aku tidak yakin bagaimana semestinya, kulaksanakan atau kubatalkan saja?
Akhirnya malam itu terpaksa gagal. Hingga pukul lima pagi aku masih belum berani melakukannya. Melihat Sari kolam bidadari turun dari kahyangan, memang membuatku tergiur. Tapi dikala berhadapan dengannya nyaliku jadi ciut.
Esoknya rupanya Sari melapor pada suaminya. Dan saya ditegur Nasem.
“Ndut, kenapa tidak kau jalankan? Bukankah sudah kami katakan.” ucapnya.
Aku cuma membisu saja. Agar tidak kecewa lagi, malam ini tekadku akan kulipatgandakan untuk melakukannya.
Pukul 22.00 WITA, Nasem meninggalkan kami berdua di ruang tamu. Sejurus lalu, “Ayo Mas Ndut kita tidur yuk,” ucap Sari manja sembari meraih tanganku dan ditariknya ke kamar. Setelah mengunci pintu kamar, beliau menyuruhku duduk di tepi ranjang dan jari-jarinya yang lentik mulai memijat pundakku. Aneh, sesudah dipijat aku menjadi lebih rileks. Dia sorongkan parasnya dekat sekali dengan wajahku dan tiba-datang bibir kami sudah merapat dan saling menghisap. Lama juga kami berciuman dan juga saling memilin pengecap sementara tangan kami saling membelai dan mengusap.
Kami masih duduk berhadapan. Lalu Sarilah yang mulai membuka semua pakaianku. Dia kecup leherku turun ke bawah ke dada dan ke puting dadaku. Sampai disini, dia menjulurkan lidahnya dan putingku dijilat-jilat. penisku pribadi menegang, sungguh keras dan semakin keras alasannya adalah diremas-remas olehnya.
Singkat kata, kami pun telah bertelanjang bundar dan aku pun secepatnya menindih badannya yang kenyal dan padat. Karena ada sisa kegugupan, maka saya pribadi coba memasukkan penisku ke dalam vaginanya.
“Tunggu, pelan-pelan saja Mas Ndut,” bisiknya sambil mengelus kepala kemaluanku di depan lubangnya. Pelan-pelan sekali. Lalu tugasnya kuambil alih dan kulanjutkan menjamah dan menggosokkan kepala penisku itu. Pelan dan pelan sekali. Terasa olehku lubangnya makin lembap dan licin. Tiba-tiba… “Sleppp..” masuklah penisku ke dalam sangkarnya.
Aku mulai menggenjot perlahan-lahan. Naik turun, naik turun. Sementara itu bibir kami berdua tetap bertaut. Saling kecup, saling hisap. Tangan Sari mengusap-usap punggungku sering kali turun ke bawah ke pantat dan jarinya mempermainkan lubang pantatku, geli campur yummy. Tanganku sibuk mengelus kepalanya dan rambutnya. Semua kami kerjakan dengan pelan dan lembut.
Setiap saya hampir hingga ke puncak, Sari selalu memelukku dekat-akrab sehingga saya tidak mampu bergerak. Tepatnya, kami berdua diam tak bergerak sambil saling peluk dan penisku tertanam dalam di kemaluannya. Setelah agak reda kembali aku memompa naik turun.
Selang beberapa saat, Sari ganti di atas. Rupanya ia amat menyenangi posisi ini. Ganti sekarang dia yang memeluk dan menciumiku sementara pantatnya bergoyang dan berputar dengan penisku tertancap di dalam kemaluannya. Semakin lama semakin semangat. Sampai akhirnya beliau pun mengejang dan mulutnya berdesis-desis dan kepalanya bergoyang-goyang liar ke kiri dan ke kanan, kupeluk ia dan kutekan pantatnya sehingga sampailah dia pada puncak kepuasannya. Lemaslah tubuh Sari dan ia menciumi seluruh wajahku sambil mengucapkan, “Terima kasih ya Mas? Mas telah melakukan peran dengan baik.. aku sangat tidak menyangka Mas bisa membuatku melayang hingga ke langit yang ke-tujuh.. (ucapnya sambil mengecup bibirku, terus tangannya memegang penisku yang menurut ia jauh lebih besar dan panjang dari punya Nasem)”.
Selesai tugasku maka saya pun membalikkan badannya dan ganti aku di atas. Kuangkat kedua kakinya dan kubelitkan di kedua pahaku kemudian kumasukkan penisku dan kukocok perlahan-perlahan untuk kian lama makin cepat dan akibatnya menyemburlah air maniku ke dalam lubang vagina Sari. Sari memeluk tubuhku erat-erat dan kami pun berciuman usang. Sempat sekitar sepuluh menit kami membisu tak bergerak dalam posisi saya di atas badannya dan tubuh kami tetap jadi satu bersambung dari bawah.
Tak terasa ‘pekerjaan’ yang kulaksanakan ini sudah menginjak malam ke dua belas.
“Mas Ndut, bahu-membahu menurut perkiraan saya, haid saya sudah melalui 7 hari yang lalu,” kata Sari pada suatu malam setelah kami kecapekan. Tapi Nasem masih belum percaya istrinya hamil. Aku dimintanya ‘bersabar’ barang sepuluh hari atau dua minggu lagi. Bersamaan dengan itu, ia mengantarkan duit belanja untuk istriku dan anak-anakku.
Hingga pada suatu hari, terhitung nyaris sebulan saya di sana. Nasem membawa istrinya ke dokter hebat kandungan. Tak berapa usang mereka pun pulang dengan paras yang cerah. Berhasil!
“Oh Ndut, istriku hamil!” katanya gembira.
Kiranya ‘pekerjaanku’ tak tidak berguna. Kusarankan pada mereka untuk mempertahankan kandungan Sari, hingga kelak si jabang bayi lahir. Aku sendiri, sudah kangen pada keluargaku di kampung. Maklum, nyaris sebulan aku meninggalkan mereka. Tapi aku berjanji terhadap Nasem, bersedia dipanggil lagi seandainya balasannya gagal. Nasem pun tak keberatan melepaskanku pulang. Kebetulan dua hari lagi ada kapal berangkat ke Surabaya. Sorenya mereka belanja buah tangan untuk keluargaku di rumah. Aduh bukan main senangnya hati mereka. Setelah itu saya pun berangkat naik kapal pulang ke kampung.
Singkat cerita, sesampainya di rumah kukatakan pada istriku bahwa saya diminta menyelesaikan bangunan rumahnya. Dan istriku percaya saja. Tapi dalam hati, aku merasa berdosa kepadanya.
Delapan bulan lalu aku menerima surat dari Nasem bahwa ‘anaknya’ sudah lahir, perempuan, bagus lagi, dan diberinya nama Ratih. “Ah syukurlah,” gumamku.
Begitulah yang terjadi. Rahasia ini masih kusimpan demi ketenangan keluargaku. Tapi satu hal yang tak dapat kupungkiri, bahwa darah dagingku pun terpisah di sana. Disatu segi aku gembira dapat membahagiakan sahabatku dan membalas budinya. Tapi disisi lain soal balasan dosanya, kuserahkan terhadap Yang Di Atas. Aku hanya mampu berucap, mohon ampun pada-Nya.
Tamat

0 Response to "Kisah Sex Perselingkuhan Panas"