728 x 90

Native bar

Kisah Sex Dengan Bapak Tiri

 Pesonaceritaku.com - Cerita Sex Dengan Bapak Tiri - Bapak harusnya mengayomi, tetapi ini tidak, bapak justru menimbulkan anaknya selaku pemuas seks, walau anak tiri, tetap saja tidak biasa , tapi inilah yang terjadi, anak tiri dijadikan pemuas nafsu seks nya. Sudah satu bulan saya pulang pergi ke tempat tinggal sakit karena istriku sedang sakit lever yang cukup akut. Aku tinggal di rumah bareng satu pembantu dan Ita anak tiriku yang gres saja menginjak kelas satu SMA.

 
 bapak justru menjadikan anaknya sebagai pemuas seks Cerita Sex Dengan Bapak Tiri
Cerita Sex Dengan Bapak Tiri


Sore itu aku baru pulang kantor dan hendak ke rumah sakit pukul 18.00 WIB, aku sedang duduk di teras depan sambil membaca koran harian sore.
“Sore pak… ini Ita buatkan teh buat bapak..” sambil Ita memperlihatkan secangkir teh kepadaku.
“Makasih Ta…! ” jawabku padanya.
“Bibi kemana Ta..?” tanyaku padanya, alasannya dari tadi pembantuku tidak kelihatan.
“Tadi katanya mau nengok saudaranya di Pulo Gadung..!” jawabnya.

Sore itu Ita kelihatan nampak sexy sekali, mengenakan bawahan pendek putih dan kaos tipis, sehingga tampak lekuk tubuhnya membuat libidoku menjadi bangun apalagi aku telah usang tidak mendapatkan kenikmatan dari istriku.

“Pak kelihatannya tampak lelah sekali ya pak… ?”
“Iya Ta” jawabku.
“Ita pijitin ya pak…”
Lalu Ita tanpa dikomando telah memijit kepalaku.
“Oh pijitan kamu lezat sekali Ta… !”
“Iya dong pak… ! ” jawabnya.

Aku dipijit Ita dari belakang dan jemari tangannya menciptakan saya kian ingin menerkamnya. Dan datang-datang posisi Ita berganti memijatku dari depan sehingga dua gundukan susu Ita tampak jelas terlihat. Sesekali tubuh Ita menempel ke tubuhku dan kont*lku pun kian keras mengacung ke depan.

Aku mencoba untuk tenang dan memejamkan mata, namun saat tangan Ita mulai memijat punggungku dan tubuhnya sungguh rapat sekali dengan tubuhku, sehingga dengan sengaja aku majukan pinggulku.

“Ah… burung bapak nyenggol lutut Ita nih……!!!” candannya padaku.
“Kalau nyenggol memangnya kenapa Ta…?”
“Ah bapak… Ita hentiin nih mijitnya..?!”
“Jangan dong sayang… Ita enggak kasihan sama bapak… ?”

Lalu aku tarik pinggul Ita dan eksklusif Ita kepincut tubuhnya di pangkuanku. Ita mencoba untuk bangun tapi aku malah mendekapnya.
“Pak… ah… pak… jangan… dong…!!”

Tapi apa boleh buat posisi Ita sudah dalam pangkuanku, dengan keadaan berhadapan dan kedua kakinya sempurna berada dalam sanggahan pahaku. Sementara bawahan pendeknya telah agak sedikit tersingkap dan kont*lku sudah menempel sempurna di mem*knya. Lalu aku tekan pinggul Ita dan pinggulku aku gesek-gesekkan ke arah pinggulnya dan terasa gundukan daging mem*k Ita terkena benggolan kont*lku yang besar.

“Pak ah… pak… ja… jangan… pak…!!” Ita mencoba meronta namun sesekali dia terlihat sedikit menikmati sebab di balik rontaannya kadang-kadang ada satu gerakan pinggulnya yang mencoba mengimbangi irama gerakanku.

Ita mulai meminimalisir gerakannya dan akupun makin menggila. Aku keluarkan seluruh kont*lku dari balik celanaku, sehingga kian menyembul keluar, kemudian saya kulum ekspresi Ita dengan mesra. Awalnya dia agak kaku tetapi lama-kelamaan mengikuti juga irama ciumanku.

Sleep… ah… sleeep ah… Ita mendengus dikala lehernya mulai kena oleh serangan bibirku.
“Ah… pak .. yummy… pak… Ita belum merasakan seperti ini” rintihnya.

Lalu tangan kiriku mulai menelusup ke dalam bawahannya dan saya eksklusif merangsek ke bab depan celana dalamnya. Terasa verbal mem*k Ita telah basah. Jari-jariku menyisir bagian pinggir celana dalamnya dan aku singkapkan sedikit, sehingga aku mencicipi lubang mem*k Ita telah bebas tidak tertutup lagi oleh celana dalamnya. Lalu aku arahkan kont*lku mencari lubang kemaluan Ita. Dan saat saya tekan aku merasakan ujung kont*lku sudah tepat di lubang mem*knya dan saat aku tekan.

“Ah… pak… sakit… pak… !!!” Mata Ita terlihat terbelalak.
“Bentar sayang bapak masukin ya…” dan napasku makin mendengus.
“Tapi… pak… ah… ah… sa… sakit… pak….!!!”

Ketika seluruh kont*lku masuk merangsek mem*knya yang masih sempit itu, kont*lku merangsek masuk dan rasanya begitu sempitnya mem*k Ita.

“Bapak… aduh… bapak… aduh… pak… ah… ah….!!!”
Ita mulai menjambak rambutku, saat kont*lku menghujami mem*knya berkali-kali.
Sleep… slepp… sleep… plok… plokkk… antara pahaku dengan paha Ita saling berbenturan.
“Ahhh… aaah… aaaah… bapak telah pak….. mem*k Ita ngilu..!!!!”
“Bentar sayang… uh…. uhhh… bapak lagi lezat…..!!!”

Aku terus merojok-rojokkan kont*lku pada Ita, sehingga Ita kerap kali meringis menahan sakit tusukan kont*lku. Tubuh Ita sudah mulai agak sedikit lunglai dan tersandar pada tubuhku, sedangkan pinggulku masih dengan perkasa menggoyang naik-turun sehingga seluruh kont*lku keluar masuk ke mem*k Ita yang masih perawan itu.

“Bapak… bapak…. sudah… pak… ah…. ah… pak… kenapa jadi begini… pak…”
Tubuh Ita nampak sudah basah kuyup oleh keringatnya yang keluar deras dari pori-pori kulitnya.
“Oooh sayang… oh… punya kamu yummy sekali… ooohh….!!!!”
Lalu saya hentak keras ke atas saat ujung kont*lku telah terasa akan mengeluarkan spermaku. Crooot…. crooot… croot…. ah… ah… saya dekap Ita dengan pelukanku begitu dekat. Pinggulku saya tekan berpengaruh-besar lengan berkuasa ke arah mem*knya. Seluruh spermaku masuk ke dalam mem*knya dan Itapun menjerit histeris.

“Ah… paaaaak…. ah…..”

Aku biarkan kont*lku menancap di mem*k Ita. Aku mencicipi denyutan rongga-rongga mem*k Ita. Kami melongo sejenak, sementara Ita masih dalam dekapanku dengan rambut yang masih berantakan.

“Hmmm… pak… hmmm” Ita mulai sedikit merajuk.
“Kenapa sayang… enak enggak punya bapak ?”
“Ah… bapak… punya Ita sobek nih pak… ah… bapak jahat” sambil tangan Ita memukul-mukul ke arah tubuhku.

Lalu Ita merebahkan tubuhnya ke tubuhku dengan manjanya sambil jari-jari manisnya memainkan ujung rambut panjangnya.

“Pak… bapak puas engga ngent*tin Ita ?” tanyanya padaku.
“Bapak puas sayang… punya Ita yummy sekali… mandi bersamayuuk sayang… nanti kita jenguk ibu di rumah sakit”

Ita mengangguk kecil dan kami kesudahannya untuk pertama kali mandi bareng . Setelah mandi saya dan Ita pergi menuju rumah sakit.

0 Response to "Kisah Sex Dengan Bapak Tiri"

sosial bar