Kisah Sex Merengut Perawan Ponaan Sendiri
By Blinger
—
Senin, 12 Februari 2018
—
Add Comment
—
Cerita Dewasa,
Cerita Lesbian,
Cerita Mesum,
Cerita Ngetot,
Cerita Sex
Cerita Sex Merengut Perawan Ponaan Sendiri - Bersama saudara sendiri selalu saja menarik untuk diulas. Cerita Sex dengan kategori sedarah yang ingin aku ceritakan di website ini aku alami sementara waktu lalu. Jadi ceritanya yakni begini, kalau pulang ke rumah sehabis kerja, saya suka melepaskan semua busana kerjaku setelah masuk pintu, lalu berjalan-jalan di dalam rumah hanya memakai bra dan celana dalam. Setelah itu.
Cerita Sex Merengut Perawan Ponaan Sendiri
Dua bulan yang lalu, saya kehadiran tamu dari Semarang. Tamu itu yakni keponakanku sendiri. Umurnya baru 17 tahun, beliau anak dari kakak laki-lakiku yang paling bungsu. Dia tiba di ketika liburan sekolahnya. Aku sangat besar hati menyambutnya. Dia kusuruh tinggal di kamar sebelah kamar tidurku. Hari-hari permulaan semuanya berlangsung mirip wajar , tetapi satu minggu lalu, ada yang sedikit aneh. Pakaian dalamku sering kutemukan tidak pada daerah dan urutannya. Kadang-kadang sedikit tidak rapi. Ada muncul kecurigaan jika keponakanku itu memainkan busana dalamku, alasannya adalah kalau tidak siapa lagi. Kadang-kadang ada busana dalamku yang hilang kemudian besoknya didapatkan kembali ditempatnya semula. Aku mulai merasa kalau keponakanku memiliki obsesi seks ihwal saya.
Suatu malam saya memutuskan untuk menguji keponakanku. Selesai mandi, aku secepatnya mengambil celana dalam g-string warna merah dengan renda-renda yang sexy dan kukenakan. Setelah itu, aku memilih sebuah gaun malam berwarna pink dengan bahan satin. Gaun malam itu semi transparan, jadi tidak akan transparan bila dilihat dari dekat, namun akan menampakkan lekuk tubuhku jika ada latar cahayanya. Panjang gaun malam itu cuma 10 cm dari selangkanganku. Di bab pundak hanya ada 2 tali tipis untuk menggantung gaun malam itu ke tubuhku. Bila kedua tali itu diturunkan dari pundakku, dijamin gaun malamku akan meluncur ke bawah dan menampakan tubuhku yang telanjang tanpa hambatan.
Setelah itu, aku keluar ke ruang keluarga tempatku menonton TV dan secepatnya duduk menonton TV. Mula-mula saya berupaya duduk dengan sopan dan berusaha menutupi selangkanganku dengan lipatan kakiku. Tak lama lalu, keponakanku keluar dari kamarnya dan duduk di sebelahku. Sepanjang malam itu, kami mengobrol sambil menonton TV, tetapi saya tahu jika ia diam-membisu mencuri lihat tubuhku lewat sudut mataku. Kadang-kadang aku menundukan badanku ke arah meja di depan seakan-akan menjangkau sesuatu yang jadinya membuat lebih mudah ia menyaksikan payudaraku lewat leher bajuku yang longgar. Tak usang lalu, saya menjajal lebih berani lagi. Aku mengubah posisi tempat dudukku sehingga kali ini pakaian tidurku bab belakang tersingkap dan memperlihatkan pantat dan tali g-string di pinggangku. Dari ujung mataku saya bisa melihat kalau keponakanku melihat bab itu terus. Anehnya, aku mulai merasa terangsang. Mungkin ini akibat dari periode mudaku selaku seorang eksibisionis.
Sejenak kemudian aku pergi ke kamar kecil. Sengaja pintu kamar mandi tidak kututup sampai rapat, namun menyisihkan sedikit celah. Dari pantulan tegel dinding, aku melihat bayangan keponakanku muncul di celah pintu dan mengintipku, walaupun dikala itu aku membelakangi pintu. Setelah itu, aku menundukan kepalaku, akal-akalan fokus pada g-stringku biar ia tidak kaget. Kemudian saya membalikkan badanku, mengangkat gaun malamku dan menurunkan celana dalamku di depan matanya. Aku tidak tahu bagaimana rasa seorang lelaki melihat hal ini, namun dari banyak yang kudengar, bahwasanya laki-laki paling menyukai saat ini yaitu pada dikala wanita mulai membuka pakaiannya.
Dengan tetap menunduk, aku berjongkok dan menyemburkan air kencingku. Aku percaya dengan posisi seperti ini, keponakanku ini akan sungguh menikmati panorama vaginaku yang mengeluarkan air kencing. Ini juga salah satu yang kudengar bahwa lelaki suka menyaksikan wanita kencing. Setelah kencingku tamat aku kembali bangun, membetulkan g-stringku lalu kuturunkan gaun tidurku. Setelah itu, saya membalikan badanku lagi sambil membetulkan g-stringku bagian belakang. Sebetulnya aku menunjukkan peluang kepada keponakanku untuk pergi tapa terlihat saya. Benar saja, lagi-lagi dari pantulan tegel dinding saya melihat bayangan keponakanku menjauh ke arah ruang keluarga. Setelah semua final, aku kembali ke ruang keluarga dan berlagak seolah-olah tidak ada apa-apa.
Saat aku berjalan ke arah sofa, saya melihat jika paras keponakanku merah, Dalam hatiku saya tertawa alasannya adalah teringat kurun laluku selaku eksebisionis. Waktu itu, semua pria yang memandangku dikala saya sedang “Beraksi” juga memperlihatkan reaksi yang sama. Untuk menghilangkan rasa gugupnya, saya melemparkan senyum kepadanya, dan dibalas dengan senyum yang kikuk. Setelah itu, saya kembali duduk di sofa dengan posisi yang lebih sopan dan melanjutkan acara nonton TV dan bincang-bincang kami. Tak usang lalu, saya menetapkan untuk tidur, alasannya adalah saat itu jam 11.30.
Saat di dalam kamar, saya membaringkan tubuhku di daerah tidur. Gaun malamku yang tersingkap dikala aku naik ke kawasan tidur kubiarkan saja sehingga menawarkan g-string yang kupakai. Tali gaun tidurku sebelah kiri merosot ke siku tangan juga tidak kuperbaiki sehingga puting payudaraku sebelah kiri nongol sedikit. Aku mulai menikmati bila diintip oleh keponakanku di kamar mandi tadi. Mulai besok saya menyiapkan sesuatu yang lebih enak lagi.
Keesokan harinya adalah hari Minggu, jadi besoknya aku berdiri dengan posisi pakaian yang tidak karuan. Setelah membetulkan tali bahu gaun malamku, aku keluar kamar. Di luar kamar, saya berjumpa dengan keponakanku yang telah bangun. Dia sedang menonton acara TV pagi. Aku menyapanya dan secepatnya di balas dengan sapaannya juga. Setelah itu, saya mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi. Lagi-lagi pintu kamar mandi tidak kututup rapat. Seperti dugaanku, keponakanku kembali mengintipku. Aku lalu membuka gaun malamku sehingga aku hanya mengenakan g-string. Gaunku itu kuletakan di kawasan cucian. Setelah itu, dengan hanya memakai g-string, aku bangkit di depan wastafel dan menggosok gigiku. Saat menggosok gigi, payudaraku bergoyang-goyang alasannya adalah gerakan tanganku yang menyikat gigi.
Keponakanku niscaya melihatnya dengan jelas karena aku telah mengendalikan posisi tubuhku biar dia dapat menikmati pemandangan ini. Setelah tamat, aku lalu membuka g-stringku. Sementara g-stringku masih kupegang di tangan, aku kemudian kencing sambil berdiri. Air seniku kuarahkan ke lantai. Setelah itu, saya siram dan saya masuk ke daerah shower. Tempat shower itu sengaja tidak kututup juga. Aku lalu mandi mirip biasa, tetapi ketika menyabuni tubuh, saya menyabuni dengan perlahan-lahan. Gerakan tanganku kubuat sesensual mungkin. Bagian payudara dan vaginaku kusabuni agak lama. Setelah membilas badanku, saya masih melanjutkan program mandi sambil diintip dengan mencuci rambut. Selesai semua itu, saya lalu mengeringkan tubuh dan rambut, kemudian melilitkan handuk di tubuhku. Sekilas aku menyaksikan dari pantulan tegel dinding bila keponakanku sudah pergi. Aku kemudian keluar dari kamar mandi.
Saat keluar saya melihat keponakanku duduk di depan TV sambil menikmati program TV. Aku tahu bantu-membantu dia hanya akal-akalan. Mukanya merah mirip kemarin di saat habis mengintipku kencing. Aku lalu masuk kamar tidurku. Pintu kamar tidurku kali ini tidak kututup rapat pula dengan keinginan keponakanku akan mengintip baju. Lewat pantulan cermin di lemari pakaianku, aku melihat jikalau bayangan keponakanku ada di depan pintu. Dia mengintipku lagi. Aku tidak menyia-nyiakan peluang ini. Kubuka lilitan handukku sehingga saya telanjang lingkaran. Setelah itu, dengan handuk itu, saya terus mengeringkan rambutku yang basah sementara saya terus menuju ke meja rias.
Di meja rias, aku mengambil blower dan dengan blower itu, saya mengeringkan rambutku. Setelah kering, saya menuju ke lemari kemudian mengambil celana transparan yang berwarna putih. Setelah memakainya, aku kemudian mengambil suatu strapless bra warna putih (bra yang tali bahunya bisa di lepas, namun kali ini aku tidak melepasnya) dengan kawat penyangga payudara di bab bawah cupnya dan memakainya pula. Kemudian aku mengambil jubah pendek dari bahan satin berwarna putih dan kupakai. Setelah menalikan tali jubah itu ke pinggangku saya membereskan rambutku lagi sebelum keluar. Dari pantulan cermin aku menyaksikan jika bayangan keponakanku telah tidak ada.
Setelah itu, saya keluar kamar dan mempersiapkan makan pagi untuk kami berdua. Keponakanku saat itu telah di kamar mandi untuk mandi. Perkiraanku, di kamar mandi beliau tidak cuma sekedar mandi, namun niscaya menggunakan gaun malam dan g-stringku sambil mastubasi membayangkan badanku. Aku tertawa dengan geli sebab merasa berhasil merangsang keponakanku. Saat membayangkan rasanya diintip saat mandi dan ganti baju, cairan kewanitaanku terasa mengalir di sela-sela vaginaku. Aku sendiri betul-betul terangsang.
Saat makan pagi siap dan keponakanku tamat mandi, aku menyuruhnya makan bareng . Saat makan, jubah satin yang kupakai melonggar di bagian leher, tetapi saya pura-pura tidak tahu. Aku tahu jika keponakanku memperhatikan bra yang terlihat balasan bab leher yang terus melonggar. Setelah makan final, saya merapikan piring sementara keponakanku duduk di sofa membaca buku. Setelah saya merasa semua sudah beres, aku kemudian mengajaknya untuk jalan-jalan menikmati liburannya.
Sejak hari itu, saya senantiasa bermain kucing-kucingan dengan keponakanku. Kubiarkan dirinya mengintipku ketika mandi, kencing atau ganti baju. Aku juga membiarkannya mencuri dan menggunakan busana dalamku sepanjang beliau mengembalikannya baik ke lemariku maupun ke kawasan cucian.
Aku akal-akalan tidak tahu jikalau beliau melakukan semua itu. Hanya saat aku melaksanakan masturbasi saja yang tidak kubiarkan ia mengintip. Lagi pula biasanya saya melaksanakan masturbasi di malam hari saat hendak tidur. Sebetulnya ini karena saya aib menawarkan kepadanya jika aku sedang terangsang. Aku sangat menikmati suasana ini sampai ketika dia harus pulang kembali ke Semarang, saya mengatakan kepadanya jika saya sangat menyukai perhatiannya. Maksudku adalah saya suka diintip olehnya. Entah beliau mengetahui maksudku atau tidak, namun beliau juga menyampaikan bila beliau sangat menikmati liburan ini. Aku berharap untuk liburan berikutnya, keponakanku mau datang lagi agar aku bisa menandakan tubuhku lagi kepadanya.
Pengalaman ini sungguh indah dan menyegarkan masa laluku. Kalau ada kesempatan, aku akan berusaha untuk mengulanginya lagi cuma saja aku kini lebih suka diintip.

0 Response to "Kisah Sex Merengut Perawan Ponaan Sendiri"