Dongeng Sampaumur Dengan Guru Privat
By Blinger
—
Senin, 12 Februari 2018
—
Add Comment
—
Cerita Dewasa,
Cerita Lesbian,
Cerita Mesum,
Cerita Ngetot,
Cerita Sex
Cerita Dewasa Dengan Guru Privat - Fanny Damayanti, ialah seorang gadis dengan paras cantik, alis matanya melengkung, dan mata indah serta jernih, dilindungi oleh bulu mata lentik, hidung mancung harmonis melengkapi kecantikannya, ditambah dengan bibir mungil merah alami yang harmonis pula dengan wajahnya. Rambutnya yang hitam dan diiris pendek membuatnya lebih menarik, kulitnya putih mulus dan terawat, badannya mulai tumbuh begitu indah dan seksi. Dia berkembang di kalangan keluarga yang cukup berada dan menyayanginya. Usianya gres 15 tahun, kadang sifatnya masih kekanakan. Badannya tidak terlalu tinggi berkisar 155 cm, badannya ideal dengan tinggi badannya, tidak terlampau gemuk atau terlalu kurus.
Cerita Dewasa Dengan Guru Privat
Rumahku memang terkesan romantis dengan terdengar pelan alunan lagu-lagu cinta, Fanny sedang melaksanakan tugas yang gres kuperintahkan. Dia terlalu asyik melakukan peran itu, tanpa sengaja penghapusnya jatuh tersenggol. Fanny berusaha menggapai ke bawah berniat untuk mengambilnya, namun ternyata dia memegang tanganku yang telah lebih dulu mengambilnya. Fanny kaget melihat ke arahku yang sedang tersenyum padanya. Fanny berupaya tersenyum, ketika tangan kirinya kupegang dan telapak tangannya kubalikkan dengan lembut, kemudian kutaruh penghapus itu ke dalam telapak tangannya.
Aku selaku orang yang sudah cukup berpengalaman mampu merasakan getaran-getaran perasaan yang tersalur melalui jari-jari gadis itu, sambil tersenyum saya berkata, "Fan, kau tampak lebih cantik jika tersenyum mirip itu". Kata-kataku membuat gadis itu merasa tersanjung, dengan tidak sadar Fanny mencubit pahaku sambil tersenyum senang.
"Udah punya pacar Fan?", godaku sambil menatap Fanny.
"Belum, Kak!", jawabnya malu-malu, wajahnya yang anggun itu bersemu merah.
"Kenapa, kan temen seusiamu sudah mulai punya pacar", lanjutku.
"Habis mereka maunya hanya hura-hura kayak anak kecil, caper", komentarnya sambil melanjutkan menulis balasan tugasnya.
"Ohh!", saya bergumam dan beranjak dari tempat duduknya, mengambil minuman kaleng dari dalam kulkas.
"Minum Coca Cola apa Fanta, Fan?", lanjutku.
"Apa ya! Coca Cola aja deh Kak", sahutnya sambil terus melakukan pekerjaan .
Aku mambawa dua kaleng minuman dan mataku terus menyaksikan dan menelusuri badan Fanny yang membelakangi, ternyata mempesona juga gadis ini, badannya yang semampai dan manis cukup membuatku berangasan, pikirku sambil tersenyum sendiri.
"Sudah Kak", suara Fanny mengagetkan lamunanku, kuhampiri dan kusodorkan sekaleng Coca-Cola kesukaan gadis itu. Kemudian saya menyelidiki hasil pekerjaan itu, ternyata benar semua.
"Ahh, ternyata selain elok kau juga berakal Fan ", pujiku dan menciptakan Fanny tampak tersipu dan hatinya berbunga-bunga.
Aku yang sengaja duduk di sebelah kanannya, melanjutkan menandakan pemecahan soal-soal lain, Bau anyir parfum yang kupakai sangat lembut dan terasa nikmat tercium hidung, mungkin itu yang menjadikannya tanpa sadar bergeser semakin bersahabat padaku.
Pujian tadi menjadikannya tidak dapat berfokus dan berupaya menjajal mengerti apa yang sedang diterangkan, tapi gagal. Aku yang melihatnya tersenyum dalam hati dan sengaja duduk menyamping, agak menghadap pada gadis itu sehingga instingku mengatakan hatinya agak tergetar.
"Kamu mampu ngerti yang baru abang jelaskan Fan", kataku sambil melihat paras Fanny lewat sudut mata.
Fanny tersentak dari lamunannya dan menggeleng, "Belum, ulang dong Kak!", sahutnya. Kemudian saya mengambil kertas gres dan diletakkan di depannya, tangan kananku mulai menuliskan rumus-rumus sambil menandakan, tangan lainnya diletakkan di sandaran kursi tempatnya duduk dan sesekali saya sengaja mengusap punggungnya dengan lembut.
Fanny semakin tidak mampu berkonsentrasi, saat mencicipi usapan lembut jari tanganku itu, jantungnya semakin berdegup dengan keras, usapan itu kuusahakan senyaman dan selembut mungkin dan menjadikannya kian terlena oleh perasaan yang tak terlukiskan. Dia sama sekali tidak bisa berfokus lagi. Tanpa terasa matanya terpejam menikmati belaian tangan dan bacin parfum yang lembut.
Dia berupaya melirikku, namun aku acuh taacuh saja, sebagai perempuan yang senantiasa ingin diperhatikan, Fanny mulai menjajal menarik perhatianku. Dia memberanikan diri menaruh tangan di atas pahaku. Jantungnya semakin berdegup, ada getaran yang menjalar lembut melalui tanganku.
Selesai membuktikan aku menatapnya dengan lembut, ia tak kuasa menahan tatapan mata yang tajam itu, perasaannya menjadi tak karuan, tubuhnya serasa menggigil saat menyaksikan senyumku, tanpa sadar tangan kirinya meremas lembut pahaku, akibatnya Fanny menutup mata sebab tidak kuat menahan gejolak didadanya. Aku tahu apa yang dirasakan gadis itu dengan instingku.
"Kamu sakit?", tanyaku berbasa kedaluwarsa. Fanny menggelengkan kepala, tapi tanganku tetap meraba dahinya dengan lembut, Fanny membisu saja karena tidak tahu apa yang mesti dikerjakan. Aku genggam lembut jari tangan kirinya.
Udara hangat menerpa telinganya dari hidungku, "Kamu betul-betul gadis yang anggun, dan telah berkembang akil balig cukup akal Fan", gumamku lirih. pujian itu membuat dirinya kian bangga, tubuhnya bergetar, dan nafasnya sesak menahan gejolak di dadanya. Dan Fanny ternyata tak kuasa untuk menahan keinginannya menaruh kepalanya di dadaku, "Ahh..", Fanny mendesah kecil tanpa disadari.
Aku sadar gadis ini mulai menyukaiku, dan berhasil menghidupkan perasaan romantisnya. Tanganku bergerak mengusap lembut indera pendengaran gadis itu, kemudian turun ke leher, dan kembali lagi naik ke pendengaran beberapa kali. Fanny merasa angan-angannya melambung, entah kenapa dia pasrah saja dikala aku mengangkat dagunya, mungkin terselip hatinya perasaan ingin terus menikmati belaian-belaian lembut itu.
"Kamu memang sungguh elok dan aku yakin jalan pikiranmu sangat sampaumur, Aku takjub!", kataku merayu.
Udara hangat terasa menerpa wajahya yang elok, disusul bibir hangatku menyentuh keningnya, lalu turun pelan ke pendengaran, hangat dan lembut, perasaan nikmat seperti ini niscaya belum pernah dialaminya. Anehnya dia menjadi ketagihan, dan merasa tidak rela untuk cepat-cepat menuntaskan semua kejadian itu.
"Ja.., jangan Kak", pintanya untuk menolak. Tapi ia tidak berusaha untuk mengelak dikala bibir hangatku dengan lembut sarat perasaan menyusuri pipinya yang lembut, putih dan halus, saat mencicipi hangatnya bibirku mengulum bibirnya yang mungil merah merekah itu bergeter, aku percaya gres pertama kali ini dia mencicipi nikmatnya dikulum dan dicium bibir laki-laki.
Jantung di dadanya berdegup makin keras, perasaan nikmat yang menyelimuti hatinya makin menjadikannya melonjak. "Uuhh..!", hatinya tergelitik untuk mulai membalas ciuman dan kuluman-kuluman hangatku.
"Aaahh..", dia mendesah merasakan remasanku lembut di payudara kiri yang mencolokdi dadanya, seakan tak kuasa melarang. Dia membisu saja, remasan lembut memperbesar kenikmatan tersendiri baginya.
"Dadamu sangat indah Fan", sebuah pujian yang menjadikannya kian mabuk, bahkan tangannya sekarang memegang tanganku, tidak untuk melarangnya, tetapi ikut menekan dan mengikuti irama remasan di tanganku. Dia betul-betul semakin mencicipinya. Serdadukupun mulai menegang.
"Aaahh", Fanny mendesah kembali dan pahanya bergerak-gerak dan tubuhnya bergetar menunjukan vaginanya mulai berair oleh lendir yang keluar balasan rangsangan yang dialaminya, hal itu menciptakan vaginanya terasa geli, merupakan kenikmatan tersendiri. Dia kian terlena diantara degup-degup jantung dan keinginannya untuk meraih puncak kenikmatan. Diimbanginya kuluman bibir dan remasan lembut di atas buah dadanya.
Saat tanganku mulai membuka kancing baju seragamnya, tangannya menjajal menahannya.
"Jangan nanti dilihat orang", pintanya, tetapi tidak kupedulikan. Kulanjutkan membuka satu persatu, dadanya yang putih mulus mulai terlihat, buah dadanya tertutup bra warna coklat.
Seakan dia telah tidak acuh lagi dengan keadaannya, cuma kenikmatan yang ingin dicapainya, ia pasrah dikala kugendong dan merebahkannya di atas tempat tidur yang bersprei putih. Di kawasan tidur ini aku merasa lebih tenteram, semakin bisa menikmati cumbuan, dibiarkannya dada yang putih mulus itu makin terbuka.
"Auuhh", bibirku mulai bergeser pelan mengusap dan mencium hangat di lehernya yang putih mulus. "Aaahh", dia semakin mendesah dan mencicipi kegelian lain yang lebih lezat.
Aku makin bahagia dengan anyir bacin di tubuhnya. "Tubuhmu bacin sekali", kembali rayuan itu menjadikannya semakin angkuh. Tanganku itu dibiarkan menelusuri dadanya yang terbuka. Fanny sendiri tidak kuasa menolak, seakan ada perasaan besar hati tubuhnya dilihat dan kunikmati. Tanganku sekarang menelusuri perutnya dengan lembut, membuatnya menggelinjang kegelian. Bibir hangatku beralih menelusuri dadanya.
"Uhh.!", tanganku menawan bajunya ke atas hingga keluar dari rok debu-abunya, kemudian jari-jarinya melepas kancing yang tersisa dan menari lembut di atas perutnya. "Auuhh" membuatnya menggelinjang lezat, perasaannya melambung mengikuti irama jari-jariku, sementara serdaduku terasa semakin tegang.
Dia mulai menawan kepalaku ke atas dan mulai mengimbagi ciuman dan kuluman, seperti caraku mengulum dan mencium bibirnya. "Ooohh", terdengar desah Fanny yang semakin terlena dengan ciuman hangat dan tarian jari-jariku diatas perutnya, sekarang dada dan perutnya terlihat putih, mulus dan halus hanya tertutup bra coklat muda yang lembut.
Aku semakin tegang sampai harus mengendalikan gejolak birahi dengan mengontrol pernafasanku, saya terus mempermainkan tubuh dan perasaan gadis itu, kuperlakukan Fanny dengan halus, lembut, dan tidak terburu-buru, hal ini membuat Fanny makin ingin tau dan semakin garang, mungkin itu yang menciptakan gadis itu pasrah ketika tanganku menyusup ke belakang, dan membuka kancing branya.
Tanganku mulai menyusup di bab dada yang mencolokdi bawah bra gadis itu, terasa kenyal dan padat di tanganku.
"Aaahh.. Uuuhh. oohh", Fanny menggelinjang gelinjang geli dan lezat, jemari itu menari dan mengusap lembut di atas buah dadanya yang mulai berkembang lembut dan putih, seraya terus berpagutan. Dia merasa kian lezat, geli dan melambungkan angan-angannya.
Ujung jariku mulai mempermainkan puting susunya yang masih kecil dan kemerahan itu dengan sungguh hati-hati. "Kak.. Aaahh.. uuhh.. ahh". Fanny mulai menawarkan gejala terangsang hingga berusaha ikut membuka kancing bajuku, agak sukar, tapi ia berhasil. Tangannya menyusup kebalik baju dan mengelus dadaku, sementara birahinya kian memuncak. "Ngghh.. ", vaginanya yang basah kian membuatnya lezat, pikirku. Fanny berdasarkan saat badannya diangkat sedikit, dibiarkannya baju dan branya kutanggalkan, lalu dilempar ke samping daerah tidur.
Sekarang badan bagian atasnya tidak tertutup apapun, ia terlihat terkesima dan risih sejenak, saat mataku menelusuri lekuk tubuhnya. Di sisi lain ia merasa kagum dengan dua gunung indah yang masih perawan yang menyembul di atas dadanya, belum pernah terjamah oleh siapapun selain dirinya sendiri. Sedangkan saya terpana sejenak menyaksikan pemandangan di depan mataku, birahiku bergejolak kembali, saya berupaya menertibkan pernafasan, alasannya tidak mau melepaskan nafsu binatangku hingga menyakiti perasaan gadis manis yang tergolek pasrah di depanku ini.
Aku mulai mengulum buah dada gadis itu perlahan, terasa membusung lembut, putih dan kenyal. Diperlakukan mirip itu Fanny menggelinjang, "Ahh.. uuhh.. aahh". Pengalaman pertamanya ini membuat angan-angannya melayang tinggi. Buah dadanya yang putih, lembut, dan kenyal itu terasa nikmat kuhisap lembut, tarian lidah diputing susunya yang kecil kemerahan itu mulai bangkit dan mengeras.
"Aaahh..!", dia merintih geli dan makin mendekap kepalaku, vaginanya mungkin kini terasa membanjir. Birahinya kian memuncak. "Kak.. ahh, terus Kak.. ahh.. Uhh", rintihnya makin panjang. Aku terus mempermainkan buah dada gadis lugu itu dengan bibir dan lidahku, sambil membuka kancing bajuku sendiri satu persatu, kemudian baju itu kutanggalkan, tampakdadaku yang bidang dan atletis.
Kembali ujung bibirnya kukulum, terasa geli dan nikmat. Saat Fanny akan membalas memagutnya, telapak tangannya kupegang dan kubimbing naik ke atas kepalanya. Aku mulai mencium dan menghisap lembut, dan menggigit kecil tangan kanannya, mulai dari pangkal lengan, siku hingga ujung jarinya diisap-isap. Membuatnya bertambah geli dan lezat. "Geli.. ahh.. ohh!"
Perasaannya melambung kembali, ketika buah dadanya dikulum, dijilati dan dihisap lembut. "Uuuhh.!", dia semakin mendekapkan kepalaku, itu akan membuat vaginanya geli, menciptakan birahinya semakin memuncak.
"Kak.. ahh, terus kak.. ahh.. sst.. uhh", ia merintih rintih dan menggelinjang, sesekali kakinya menekuk ke atas, sampai roknya tersingkap.
Sambil terus mempermainkan buah dada gadis itu. aku melirik ke paha mulus, indah tampakdi antara rok yang tersingkap. Darahku berdesir, kupindahkan tanganku dan terus menari naik turun antara lutut dan pangkal paha putih mulus, masih tertutup celana yang membasah, Aku mencicipi birahi Fanny semakin memuncak. Aku terus mempermainkan buah dada gadis itu.
"Kak.. ahh, terus Kak.. ahh.. uhh", terdengar gadis itu merintih panjang. Aku dengan pelan dan pasti mulai membuka kancing, lalu menurunkan retsleting rok debu-bubuk itu, seakan Fanny tidak acuh dengan tindakanku itu. Rangsangan yang membuat birahinya memuncak membuatnya bertekuk lutut, menyerah.
"Jangan Kak.. aahh", namun saya tidak acuh, bahkan kemudian Fanny malah membantu menurunkan roknya sendiri dengan mengangkat pantatnya. Aku tertegun sejenak melihat tubuh putih mulus dan indah itu. Kemudian badan gadis itu kubalikkan sehingga posisinya tengkurap, bibirku merayap ke leher belakang dan punggung.
"Uuuhh", saat membalikkan badan, Fanny menyaksikan sesuatu yang menonjol di balik celana dalamku. Dia terkejut , aib, namun ingin tahu. "Aaahh". Fanny mulai merapatkan kakinya, ada perasaan risih sesaat, kemudian hilang kalah oleh nafsu birahi yang sudah menyelimuti perasaannya. "Ahh..", beliau diam saja dikala saya kembali mencium bibirnya, membimbing tangannya ke bawah di antara pangkal paha, ia sekarang memegang dan mencicipi serdadu yang keras bundar dan panjang di balik celanaku, sejenak Fanny sejenak mengelus-elus benda yang menciptakan hatinya ingin tau, tapi kemudian dia kaget dan menarik tangannya.
"Aaahh", Fanny tak kuberikan kesempatan untuk berfikir lain, dikala mulutku kembali memainkan puting susu mungil yang berdiri tegak dengan indahnya di atas tonjolan dada. Vaginanya terasa kian membanjir, hal ini membuat birahinya semakin memuncak. "Ahh.. ahh.. teruus.. ahh.. uhh", sambil terus memainkan buah dadanya, tanganku menari naik turun antara lutut dan pangkal pahanya yang putih mulus yang masih tertutup celana. Tanpa disadarinya, sebab lezat, tanganku mulai menyusup di bawah celana dalamnya dan mengusap-usap lembut bawah pusar yang mulai ditumbuhi rambut, pangkal paha, dan pantatnya yang kenyal terbentuk dengan indahnya bergantian.
"Teruuss.. aahh.. uuhh", alasannya geli dan lezat Fanny mulai membuka kakinya, jari-jari Rene yang pembangkang mulai menyusup dan mengelus vaginanya dari bagian luar celana, birahinya memuncak sampai kepala.
"Ahh.. terus.. ahh.. ohh", gadis itu terkejut sejenak, kemudian kembali merintih rintih. Melihat Fanny menggelinjang kenikmatan, tanganku menjajal mulai menyusup di balik celana melalui pangkal paha dan mengelus-elus dengan lembut vaginanya yang berair lembut dan hangat. Fanny kian menggelinjang dan birahinya makin membara. "Ahh.. teruuss ooh", Fanny merintih rintih kenikmatan.
Aku tahu gadis itu nyaris meraih puncak birahi, dengan mudah tanganku mulai beraksi menurunkan celana dalam gadis itu perlahan. Benar saja, Fanny membiarkannya, telah tidak acuh lagi bahkan mengangkat pantat dan kakinya, sehingga celana itu terlepas tanpa halangan.
Tubuh gadis itu sekarang tergolek bugil di depan mataku, terlihat semakin indah dan merangsang. Pangkal pahanya yang sangat anggun itu dihiasi bulu-bulu lembut yang mulai berkembang halus. Vaginanya tampak kemerahan dan berair dengan puting vagina mungil di tengahnya. Aku terus memainkan puting susu yang kini bangun tegak sambil terus mengelus bibir vagina kian membanjir. "Kak.. ahh, terus Kak.. ahh.. uhh".
Vagina yang basah terasa geli dan gatal, nikmat hingga ujung kepala. "Kak.. aahh", Fanny tak tahan lagi dan tangannya menyusup di bawah celana dalamku dan memegang tentara yang keras lingkaran dan panjang itu. Fanny tidak merasa malu lagi, bahkan mulai mengimbangi gerakanku.
Aku tersenyum penuh kemenangan melihat tindakan gadis itu, secara tidak langsung gadis itu meminta untuk bertindak lebih jauh lagi. Aku melepas celana dalamku, melihat serdaduku yang besar dan keras bangun tegak dengan gagahnya, mata gadis itu terbelalak takjub.
Sekarang kami tidak memakai epilog sama sekali. Fanny takjub hingga mulutnya menganga menyaksikan prajurit yang besar dan keras berdiri tegak dengan gagahnya, gres pertama kali ia melihat benda itu. Vaginanya niscaya telah sungguh geli dan gatal, ia tidak acuh lagi jika masih perawan, lalu telentang dan pelan-pelan membuka leber-lebar pahanya.
Sejenak aku tertegun menyaksikan vagina yang bersih kemerahan dan dihisi bulu-bulu yang baru tumbuh, lubang vaginanya tampak masih tertutup selaput perawan dengan lubang kecil di tengahnya.
Fanny cuma tertegun dikala aku berada di atasnya dengan prajurit yang tegak bangkit. Sambil bertumpu pada lutut dan siku, bibirku melumat, mencium, dan kadang menggigit kecil menjelajahi seluruh tubuhnya. Kuluman di puting susu yang disertai dengan goresan-tabrakan ujung burung ke bibir vaginanya kulakukan dengan hati-hati, makin membasah dan nikmat tersendiri. "Kak.. ahh, terus ssts.. ahh.. uhh", birahinya memuncak mampu-bisa hingga kepalanya terasa kesemutan, dipegangnya serdaduku. "Ahh" terasa hangat dan kencang.
"Kak.. ahh!", dia tak mampu lagi menahan gejolak biraninya, membimbing serdaduku ke lubang vaginanya, ia mulai mengharapkan serdaduku menyerang ke lubang dan merojok vaginanya yang terasa sangat geli dan gatal. "Uuuhh.. aahh", tetapi aku malah memainkan topi baja serdaduku sampai menyenggol-nyenggol selaput daranya. "Ooohh Kak masukkan ahh", gadis itu hingga merintih rintih dan meminta-minta dengan sarat kenikmatan.
Dengan hati-hati dan secara perlahan-lahan aku terus mempermainkan gadis itu dengan serdaduku yang keras, hangat tetapi lembut itu menyusuri bibir vagina.
"Ooohh Kak masukkan aahh", di sela rintihan lezat gadis itu, setelah kulihat puting susunya mengeras dan gerakannya mulai agak lemas, prajurit mulai menyerang masuk dan menembus selaput daranya, Sreetts "Aduuhh.. aahh", tangannya mencengkeram bahuku. Dengan begitu, Fanny hanya merasa lubang vaginanya seperti digigit nyamuk, tidak begitu sakit, dikala selaput dara itu robek, ditembus serdaduku yang besar dan keras. Burungku yang terpercik darah perawan bercampur lendir vaginanya terus masuk perlahan hingga setengahnya, ditarik lagi secara perlahan-lahan dan hati-hati. "Ahh", ia merintih kenikmatan.
Aku tidak mau terburu-buru, saya tak mau lubang vagina yang masih agak seret itu menjadi sakit alasannya belum terbiasa dan belum elastis. Burung itu masuk lagi setengahnya dan.. Sreets "Ohh..", kali ini tidak ada rasa sakit, Fanny cuma merasakan geli saat dirasakan burung itu keluar masuk merojok vaginanya. Fanny menggelinjang dan mengimbangi gerakan dan mendekap pinggangnya.
"Kak.. ahh, terus Kak.. ohh.. uhh", serdaduku terus menghunjam makin dalam. Ditarik lagi, "Aaahh", masuk lagi. "Ahh, terus.. ahh.. uhh", lubang vagina itu makin lama kian mengembang, sampai burung itu mampu masuk sampai meraih pangkalnya berulang kali. Fanny merasakan nikmat birahinya memuncak di kepala, perasaannya melayang di awan-awan, badannya mulai bergeter getar dan mengejang, dan tak tertahankan lagi. "Aaahh, oohh, aahh" vaginanya berdenyut-denyut melepas lezat. Dia sudah mencapai puncak orgasme, lalu terlihat lega yang menyelimuti dirinya.
Melihat Fanny sudah mencapai orgasme, aku kini melepas seluruh rasa birahi yang tertahan semenjak tadi dan makin cepat merojok keluar masuk lubang vagina Fanny, "Kak.. ahh.. sst.. ahh.. uhh", Fanny merintih dan merasakan lezat birahinya memuncak kembali. Badannya kembali bergetar dan mengejang, begitu juga denganku.
"Ahh.. oohh.. ohh.. aahh!", kami merintih rintih panjang menuju puncak kenikmatan. Dan mereka meraih orgasme hampir bersamaan, terasa prajurit menyemburkan air mani hangat ke dalam vagina gadis itu yang masih berdenyut nikmat.
Aku mengeluarkan prajurit yang terpercik darah perawan itu secara perlahan-lahan, berbaring di sebelah Fanny dan memeluknya agar Fanny merasa kondusif, beliau tampak merasa sangat puas dengan pelajaran tahap awal yang kuberikan.
"Bagaimana bila Fanny hamil Kak", katanya sambil sudut matanya mengeluarkan air mata.
Sesaat kemudian aku dengan tabah menjelaskan bahwa Fanny mustahil hamil, alasannya tidak dalam kurun siklus subur, berkat pengalamanku mengevaluasi kekentalan lendir yang keluar dari vagina dan siklus menstruasinya.
Fanny makin merasa lega, kondusif, merasa disayang. Kejadian tadi mampu berlangsung sebab ialah keinginan dan kerelaannya juga. Diapun bisa tersenyum puas dan menitikkan air mata bahagia, kemudian tertidur pulas dipelukanku yang sudah menjadikannya seorang perempuan.
Bangun tidur, Fanny membersihkan badan di kamar mandi. Selesai mandi beliau kembali ke kamar, dilepasnya handuk yang melilit tubuhnya, begitu indah dan menggairahkan sampai-hingga saya tak berkedip memandangnya. Diambilnya pakaian yang acak-acakan dan dikenakannya kembali satu persatu. Kemudian ia pamit pulang dan mencium pipiku

0 Response to "Dongeng Sampaumur Dengan Guru Privat"