Kisah Sex Anak Sekolah Dikala Ospek
By Blinger
—
Rabu, 14 Februari 2018
—
Add Comment
—
Cerita Dewasa,
Cerita Lesbian,
Cerita Mesum,
Cerita Ngetot,
Cerita Sex
Cerita Sex Anak Sekolah Saat Ospek - Namaku Dian Ratnasari (nama samaran). Umur 23 tahun. Aku mahasiswi di suatu sekolah tinggi tinggi di Bandung. Asalku dari Jawa Timur, jadi niatnya cuma berguru di Bandung ini. Siapa tahu mampu jadi tukang insinyur. Aku tinggal di kawasan Dago, menempati suatu rumah yang cukup luas milik keluarga pamanku. Rumah itu sepi dengan beberapa kamar kosong. Hanya ada aku, seorang pembantu yang cukup tua dan dua ekor anjing peliharaanku serta beberapa ikan di dalam akuarium di sudut ruang tamuku. Keluarga pamanku tinggal di Inggris, alasannya adalah peran mencar ilmu yang mesti dia lakukan.
Cerita Sex Anak Sekolah Saat Ospek
Beberapa senior pun mulai mengeroyokku. Sambil tentu saja, terjatuh-jatuh mendapatkan tendangan dan libatan tanganku. Apa hendak dikata salah satu senior, yah mungkin ia termasuk pimpinan mahasiswa di kampusku melerai kami dan memberi hukuman pada kami semua. Lari-lari mengitari kampus sambil menyanyi dan menari, dasar!
But never mind, yang paling penting gadis cantik itu tidak lagi digoda dan diganggu. Mungkin mereka aib atau takut jika selesai era yang harus dilalui mahasiswa gres ini bakal ketemu aku dan bisa betul-betul kuhajar mereka. Bagaimanapun yang lemah mesti dibela.
Seminggu kemuRatna, gres kutahu gadis itu satu kelas denganku dan kami pun berkenalan.
“Hai…, terima kasih yah kemarin kau menolongku. Gara-gara saya, kau jadi kena problem deh.” Hey ia menyapaku duluan.
“Ah ndak kok, itu sih permasalahan kecil buatku”, sambil tersenyum kusapa balik.
“Oh, yah kita belum berkenalan kemarin, nama kau siapa?” Aku mengajukan pertanyaan seolah aku belum tahu namanya. Hi.. hi.. padahal aku sudah tahu namanya dari senior-seniorku.
“Santi, kamu?” Duh mak, nih gadis betul-betul bagus sekali, senyumnya aah…, apalagi matanya, bundar dengan alis yang tertata rapi berwarna hitam, harmonis sekali
“Hey… kamu kenapa?” Duh tertangkap basah jikalau lagi tertegun. Eh, nih anak pakaian dan celananya seksi and ketat sekali, memanggil perhatian perjaka, pikirku. Beda sekali denganku, celana jeans belel dengan kemeja panjang kedodoran, pecahan rambut pendek cepak dan memakai jam tangan yang besar. Pokoknya aku bahagia mirip ini, dahulu saya terkenal cool di antara sahabat-sobat pemuda SMU-ku di Malang.
“Ah.. yah.. namaku Ratna, lengkapnya Dian Ratnasari. Tapi kamu boleh panggil saya apa saja, tetapi Ratna lebih lezat kedengarannya, he.. he.. he.” Makara grogi juga nih.
“Hmm.., kamu tinggal di mana?” tanyaku, siapa tahu kan nanti ia lebih rajin punya catatan, kan mampu kupinjam. Dasar otak nakal dan pemalas. Aku heran juga, dari kecil saya membenci mencar ilmu tapi aku bisa dengan gampang menerima apa pun dalam otakku. Bukannya angkuh tetapi yah.., hanya begitu saja.
Tanpa sadar aku senyum-senyum sendiri, dikala beliau menegurku, “Ian, kau duduk di sebelahku yah”, pintanya. Aku hanya manggut-manggut saja mengiyakan sambil terus berjalan menuju kelas kami.
“Eh, kau ini lucu juga yah, dari tadi senyum-senyum sendiri hihihi”, dia tertawa kecil. Duh maak manisnya temanku ini.
Tiba-datang dari arah belakang terdengar kebisingan kecil, ternyata segerombolan perjaka-perjaka mengganggu dan mempermainkan salah seorang sobat kami yang lebih kecil ukurannya dari mereka, mungkin sekitar 155 cm. Oh, yah aku sendiri 172 cm dan beratku 60 kg. Cukup tinggi besar untuk ukuran cewek kali, yah?
Lagi-lagi aku belagak nih, padahal memang tanganku gatal ingin meninju orang, habis sedang gregetan nih sama Santi. Kusambar salah satu cowok dan tendanganku sungguh tepat bersarang di bawah perutnya, yah si-xxx, tahu temannya menjerit, mereka berhenti dan memandangku. Ada kemarahan di wajah mereka, namun aku tidak tahu kenapa, mereka eksklusif ngeloyor pergi sambil menolong temannya berlangsung. Akh, aku puas juga. Sejak saat itu, aku cukup disegani di kampusku, mungkin juga mereka sudah membaca biodataku di buku tahunan.
Kembali menjajari Santi, aku bertanya lagi, “Eh, di mana rumah kamu?”.
Dia tersenyum, “Kamu masih inget dengan pertanyaanmu sehabis sabung barusan?”, berkata begitu, tangannya menempel di pundakku dan turun menggandeng tanganku.
“Yah, sekali lagi, itu hal kecil buatku, habisnya mereka seenaknya mengganggu orang lain”, gumamku sambil menikmati sentuhan alami lengan dan jari-jari kami yang saling mengait.
“Ah, sudahlah, jangan dibicarakan lagi”.
Bosan juga saya, kan aku pingin tahu wacana anak satu ini eh, malah melenceng dari pokoknya.
“Aku tinggal di Taman Sari”, jawabnya. Akhirnya meluncur juga jawabannya.
“Tinggal dengan siapa?”, tanyaku agak galau, maklum sendirian sih saya.
“Kost, ama sahabat-teman juga.., banyak kok”, Ia menjawab sambil menentukan tempat duduk untuk kami berdua. Ok, di pojok belakang, jadi saya bisa tidur nih.
“hh, boleh main nih, aku bosan sendirian di rumah”, timpalku.
“Aksen kau tampaknya bukan dari sini, kalau saya dari sekitar sini juga sih, kamu bukan orang sini, kan?”, Ia balik bertanya padaku. “Iyah, saya bukan orang sini, tetapi aku tinggal di rumah pamanku, sekalian jaga rumahnya.”
Kuliah pertamaku dimulai, akh bosan rasanya. Tanpa sengaja tanganku merangkul bangku sebelah dan menempel di punggung Santi. Antara sadar dan tidak, maklum mengantuk, aku mirip merasakan tabrakan halus di tangan kananku. Jantungku berdesir dan mulai berdegup kencang.
Kutengok, ternyata punggungnya betul-betul beliau gesekkan ke tangan kananku hingga jamku pun tertarik ke atas-bawah, ke kanan-kiri, akhh aku mulai menikmati permainan ini. Bibirnya terbuka sedikit, dia menengadah dan lehernya yang jenjang kulihat sangat menantangku. Akh, aku ingin mengecupnya, duh aku bergetar. Ada apa ini?
Aku duduk dengan gelisah, akh ia mempermainkan nafsuku. Aduh mampu pening aku dibuatnya. Aku berdoa, agar kuliah ini cepat final. Dengan sedikit keberanianku, Iih.., aku takut jikalau tertangkap basah teman lain. Telapak tangan kananku mulai meraba dan meremas pundak dan terus turun ke punggung, pinggang, dan berhenti di antara dua kantong saku di belakang jeansnya. Ia mulai menggoyang pantatnya, geser depan-belakang, kanan-kiri. Kuremas salah satu pantatnya yang muat juga di tanganku. Hehehe ternyata cukup kecil, tetapi kenyal, dan enaak sekali. Nafasku pun memburu dengan segera. Akhh lamanya kuliah ini.
Akhirnya, kuliah selesai juga. Permainan kami pun berhenti. Aku tersenyum dan beliau pun membalas senyumku dan mengajakku ke belakang (toilet wanita). Duh, ajaib juga Santi, apa orang sini berani-berani yah. Tanpa ba-bi-bu kuikuti langkahnya dan pokoknya kami telah ada di dalam. Cukup sepi, alasannya adalah terhitung masih pagi, belum ada yang ke belakang. Aku bersyukur juga. Lagian yang namanya makhluk berjenis kelamin perempuan tidak begitu banyak. Aku pikir-pikir cukuplah bermain 15 menit.
Aku duduk di closet dan beliau kupangku. Kepalanya sempurna di hadapanku. Kami cuma berjarak berapa inchi saja. Nafasnya yang hangat menyapu wajahku. Hidungnya yang agak mancung, ia gesek-gesekkan di hidungku, ih geli juga. Aku tidak tahan.
“Hey, I can lift you”, sambil tersenyum ia berkata.
“Aku cuman 48 kok, San”, sambil melingkarkan lengannya di leherku. Kugendong beliau dan aku duduk kembali. Ia tertawa lirih.
Tanganku terus meraba paha, terus ke belakang, meremas pantatnya ke atas menelusuri pinggang dan mulai menyelusup di balik kaus ketatnya, tiap gunung kembar itu teraba olehku nampak kausnya bertambah padat dan dia busungkan dadanya sambil menggeliat menahan nafsu birahinya, duh melekat di punyaku, menekan dan, “Terus.., lagi.., dan…” Aku tak tabah, kubuka kaus ketatnya dan ajaib, Santi sungguh-sungguh berbody indah, saya merasa yang di bawah mulai berdenyut-denyut. Bra-nya yang putih kecil, seakan tak mampu menutupinya, kubuka sekalian, dan nampaklah gunung itu atau bisa dikata bukit sajalah. Kecil dan menantang, kuelus dan kujilati, akh harum, keringatnya mulai keluar satu-satu agak asin. Akh, aku semakin ajaib. Kuremas pantatnya, kutekan ke selangkanganku, akh dia meremas rambutku dan menekan kepalaku tepat di penggalan itu. Akhh! dia mulai menjepit kepalaku, akhh aku hampir tak bisa bernafas. Gila kencang sekali mainnya! Kecil-kecil cabe rawit. Duh, nafasku sesak nih. Sambil terus kutekan pantatnya ke perutku.
Akh, lepas juga kepalaku sehabis itu ia menjerit pelan, terkejut juga aku, kenapa beliau? Baru sekali ini saya melakukan permainan kait-mengait. Apalagi dengan seorang gadis. Eeh, apa ia masih gadis? Entar kutanya, namun mataku sempat melirik jam tanganku dan saya mengerti permainan ini harus ditunda, ada kuliah lagi.
Kukecup lembut dan lidahku masih ingin melumat kedua bukit itu, kupasang kembali bra dan kaus ketatnya.
“Entar lagi, yah”, kataku, beliau tersenyum.
“Makasih, Yan”.
Kutepuk-tepuk pantatnya dan segera kuputuskan.
“San.., kamu mau pindah ke rumahku?”, tanpa pikir panjang juga beliau mengangguk. Kuturunkan dia dan aku merasa CD-ku mirip lembab dan lengket.
“San, entar dahulu yah”, sambil kubuka retsluiting celanaku dan kuraba yang di balik CD-ku ialah selangkanganku. Jariku basah mirip ada jelly. Ada apa nih? Seketika kubuka agak lebar dan aku melongok untuk melihatnya lebih jelas. Santi meraih jariku yang lembap dan menghirup serta menjilatinya, “Enak, asin, gurih, harum selangit!” terkesima saya melihat mulutnya yang bergetar dikala menggumamkan kata-kata itu.
Tangannya menuntunku memasuki celana ketatnya dan terus ke bawah dan di balik CD-nya, basah juga. Kenapa kami, yah? Bingung juga yah saya waktu itu. Hehehe, aku mulai menyukai permainan ini.
Telapak tanganku ternyata cukup menutupi selangkangannya, dia gesek-gesekkan dan saya mulai menekan kemaluannya, jari tengahku mulai bermain-main kesana-kemari. Kembali Santi menggeliat dan mengerang lirih. Duh, apa toilet ini memang kosong yah? Gila juga nih anak, pakai program mengerang segala terlebih pakai menjerit.
Eh, seakan dia tahu apa yang kupikir, ia berhenti dan cuma menggigit bibirnya. Aku tidak tahan, kulumat lagi bibirnya dan kubuka pelan dengan mulutku, dan kami berpagutan lagi. Lidahku dan lidahnya berhubungan dan lama. Matanya terpejam dan akh.., saya memperoleh daging kecil di dalam, jariku menerobos dan mulai masuk sedikit.
Tiba-datang meluncur pertanyaan di otakku, refleks kukatakan padanya, “San, kau pernah melaksanakan beginian?”.
Ia menjawab pelan, “Belum, Yan.., baru sama kau.”
“Jadi kau masih gadis, masih punya selaput?”, kataku.
“Iya, masih. Pelan aja Yan entar sakit.”
“Maaf, San. Lebih baik nggak sekarang, ada kuliah kan.”
Kulihat Santi kecewa, namun demi amannya saja sih, padahal sungguh aku udik sekali pelajaran biologi, jadi saya tidak tahu berapa jarak selaput itu dari luar vagina. Kutarik jariku dan ia pun menjilatinya sampai higienis. Ok, entar lagi. Nikmat juga jilatannya.
Singkat kisah, Santi pindah ke tempat tinggal tinggalku dan ia tak ingin beda kamar. Inginnya satu kamar denganku. Yah, tidak apa-apa sih, tidak mengecewakan ada yang menemani. Aku memiliki kebiasaan bermain gitar di sore hari, alasannya hanya gitar yang mampu kumainkan. Kini tiap kali aku mainkan senar gitar Santi senantiasa menyanyi merdu hanya untukku seorang. Terkadang saya duduk di kursi malas beranda luar menghadap taman dalam. Santi datang dan duduk mengangkangi kedua kakiku. Ia suka sekali menggunakan daster pendek di atas lutut dengan CD yang terlihat jika angin bertiup agak kencang atau saat dia mengangkat kakinya. Pokoknya hal-hal gampang seperti itu telah cukup merangsang nafsuku. Apalagi jika malam datang, Santi memakai kimono sutra yang sekali talinya kubuka, nampaklah seluruhnya.
Tiap malam dia membuatkan saya susu kegemaranku. Saat saya asyik duduk di komputer sedang online atau mengerjakan peran, Santi menghampiriku dan melekat di punggungku. Hal ini sungguh kusukai dan Santi tahu itu. Aku merasakan lekukan bibir kemaluannya, bukitnya dan beliau menempelkannya, merenggangkannya akhh.., mengaduk-aduk emosiku. Segera aku membalikkan badanku. Kurengkuh tubuhnya dan kukempit kakinya dengan kedua pahaku yang kuat, kadang Santi meronta dan aku pun melepaskannya, umumkami berlarian mirip dua orang abang beradik bermain kejar dan tangkap. Aku sangat menggemari permainan ini. Kadang Santi tiba-tiba mengerem dan membalikkan tubuhnya dan tentu saja saya menubruknya dan jatuh bersama bergulingan saling menindih. Nafas kami yang tak beraturan sebab berlari-lari saling mengejar-ngejar dengan kecupan-kecupan yang makin menambah ketidakberaturannya nafas kami. Buah dada kami saling menggesek dan, “Berat ah.. Yan”, saya kemudian dengan gesit ganti posisi di bawah, dan dia menyeringai puas karena Santi sungguh tahu saya sangat menyayanginya dan tidak mau beliau merasa sakit atau apapun. Dan mau tahu apa yang ia lakukan tiap itu terjadi? Santi mengambil susu itu dan menuangkannya di vaginanya dan saya menjilatinya sampai kepuasan yang amat sangat pada kami berdua. Coba saja deh atau jika siang mampu saja pakai es sirup, dengan cuek yang mengalir pelan rasakan.
Kami saling menjaga, menyayangi, dan berusaha menawarkan kepuasan. Namun pernah suatu dikala beliau sakit demam, duh aku galau sekali. Kukompres dia bila panas dan kuselimuti ia di saat dingin menyerangnya. Tapi beliau tidak ingin selimut, dia mau tubuhku menyelimutinya dan sekali lagi beliau sangat tahu jika aku betul-betul cuma bertindak selaku penghangat tubuhnya dengan kegalauan di wajahku yang sangat dihafalnya. Santi sangat menggemari sikapku yang melindungi dan menyayanginya. Sikap yang mampu membedakan kapan bermain dan kapan mesti mempertahankan dan merawat.
Santi sungguh erat dengan keluargaku, begitu juga aku. Keluarganya dan keluargaku sudah saling mengenal dan tidak mempermasalahkan korelasi kami. Aku bungsu dari empat bersaudara, kupunya 1 orang kakak laki-laki dan 2 kakak wanita sedangkan Santi sulung dari tiga bersaudara, 1 orang adik wanita dan 1 orang adik pria. Kemana pun kami senantiasa berdua, ke swalayan beli materi kebutuhan sehari-hari, ke mall untuk cari pakaian atau kebutuhan lain, ke toko-toko buku, ke bioskop buat nonton, dan lain-lain kecuali kalau saya dan ia sedang memiliki kegiatan yang berlawanan. Aku senang berorganisasi dan berolah raga sedangkan dia suka melukis dan bermain musik.
Dini hari ketika fajar tiba, sambil tidur saya selalu merasakan sesuatu yang berdenyut di bawah dan refleks saya menempel lekat ke tubuhnya, entah itu punggung dengan sentuhan pantat hangatnya atau langsung perut dengan bukit kembar dan selangkangan yang mengaitku. Santi memahami kebiasaanku di setiap fajar dini hari dan kami pun saling menggesek.
Sekali merengkuh tubuhnya, dia jatuh menindihku dan berbaring tiduran di tubuhku. Enak katanya, mencicipi pelukanku yang hangat, maklum kota ini tidak mengecewakan hambar. Pokoknya kami melaksanakan itu kapan saja. Tidak ada jenuh-bosannya, soalnya kami mulai andal sih. Kami mengganti posisi setiap kali mulai jenuh dan yahud juga!
Aku mulai mengetahui apa yang namanya liang garba itu. Wah, indah sekali, berapa jarak selaputnya, apa itu clitoris, dan perlu dicatat, sampai kini selaput itu belum robek. Aku tidak mau jika dia sakit, jadi mulutku cuma mengecup, mengulum dan lidahku menjilati agak ke dalam. Ia sungguh menyenangi posisi di atas dan aku di bawah. Terkadang aku bertahan cukup lama, kasihan Santi telah 2-3 kali keluar gres saya keluar. Kalau saya pastinya suka posisi kaki saling mengait dan selangkangan kami saling melekat dan bergesek kian kencang, jadi kami mampu orgasme bersama. Tahu kan caranya. Begini, kuangkat kaki kirinya, kuselipkan kaki kiriku, dan kedua kaki kami saling membelit. Posisi ini menimbulkan cairan kental dari kedua kemaluan kami yang keluar bersamaan bercampur dan euunaak sekali. Kadang dengan cara ini Santi telah sungguh kerepotan menertibkan nafas, memekik dan menggeliat kencang, kawasan tidurku pun awut-awutan tiap kali kami main di kamar. Perlu dicatat, final permainan dan mandi, tempat tidurku kembali sungguh rapi alasannya adalah Santi orang yang sungguh tekun dan mempertahankan kebersihan. Tidak sepertiku, ceroboh.
Kalau di dapur saat dia memasak aku merengkuhnya dan mengecup lembut lehernya serasa kami sepasang suami istri sepatutnya, mendudukkannya di meja dan biasa aku rentangkan kedua paha itu dan mulai mencumbuinya, kubuka celanaku dan kugesekkan CD-ku ke CD-nya. Enak lho. Kalau kami bermain di kamar mandi, yah seperti dua anak kecil yang berteriak-teriak kegirangan saling menyiram daerah-daerah sensitif yang telah sangat kami hapal sambil menciumi daerah-daerah itu. Bath-up yang telah mulai terisi dengan busa sabun kuoleskan ke seluruh tubuhnya, terutama di-xxx-nya, pelan alasannya aku takut jika ada apa-apa. Santi bahagia sekali telentang di atas tubuhku, “Nyaman, Yan?” katanya sambil mencari di mana pinggangku. Kupeluk erat dia, kurasakan gunungku menekan punggungnya dan satu hal saya nggak senang posisi ketika beliau membalikkan badannya tepat ke arahku (di bath-up). Pernah dia coba dan saya tidak enjoy melihat kesulitannya mencumbuiku.
Permainan di beranda pun kami buat berlawanan, mirip sepasang kekasih yang damai saling membelai dan menata taman sambil tiduran di luar, kami sangat menikmati tidur di atas rumput yang lembut. Cuma kadang aku sangat risih menyaksikan semut. Jadi kami nggak begitu memaksakan diri tiduran di taman. Atau aku cemburu dan takut sama semut, kalau-kalau semut itu memasuki area xxx dan menggigit vagina kekasihku. Akhh kan kasihan Santi hanya bisa meringis kesakitan. Nah, jika yang ini, di kawasan tidur kami seperti dua orang asing yang senantiasa tergila-ajaib. Banyak posisi yang kami kerjakan, pasti jikalau mampu dengan alami melakukanya. Intinya cuma satu, ikuti kata hati, jikalau mau stop ya stop, mau nge-sun, sun saja, mau membelai, belai aja, jikalau mau maju yah maju, kalau mau ganti yah ganti posisi, begitu saja, sepele. Dan seperti sudah menjadi sebuah keharusan bagi Santi untuk senantiasa membersihkan punyaku dan saya begitu juga, menjilati dan saling menghangati kedua vagina kami dengan telapak tangan yang saling kami selipkan di antara kedua paha kami dan hehehehe. Hangat kan, coba deh.
Pernah sebuah ketika aku berkonsultasi ke seorang ahli dan beliaunya menjawab jika saya bahwasanya tergolong transexsual, berjiwa dan bertingkah laku laki-laki tetapi tubuh perempuan, balasannya setengah-setengah dengan hormon yang lebih banyak jenis laki-laki. Yang lazim sih salah satu lebih besar dan mengikuti hormon kelaminnya. Kalau saya mau, kata beliaunya mampu saja bedah kelamin. Tapi ongkos yang dikeluarkan pun sangat besar. Yah, sudahlah aku seperti ini saja. Dan selama ini Santi senantiasa mendampingiku entah hingga kapan. Sudah dua tahun ini saya nyambi melakukan pekerjaan di kontraktor dan saya mencicipinya. Dengan honor yang lumayan tinggi, saya bekerjsama sanggup menghidupi kami berdua dengan 3 orang sekaligus, contohnya. Mungkin selesai kuliah ini, selesai semuanya. Aku pernah tanyakan kepadanya dan dia cuma tersenyum saja. Ia berkata “Yan, jangan pikir sekarang, apa yang terjadi besok ialah misteri bagi kita semua, kecuali hal-hal yang sudah kita rencanakan”, dan kalian tahu hingga ketika ini aku belum tahu apa maksud dari perkataannya.
TAMAT

0 Response to "Kisah Sex Anak Sekolah Dikala Ospek"