728 x 90

Native bar

Cerita Sex Ml Dengan Penis Besar

 Cerita Sex ML Dengan Penis Besar - Namaku Marie, usiaku 26 tahun dan bekerja di salah satu bank swasta di Bekasi. Ketika peristiwa itu terjadi, usiaku baru 24 tahun. Saat itu saya sedang menghabiskan weekend di suatu villa di daerah Puncak. Aku memang cuma sendiri. Tiada tujuan lain selain menetralisir kepenatan di segarnya udara Puncak tanpa hambatan siapa saja. Tragisnya kesendirianku itu justru menghilangkan satu-satunya harta yang paling berguna bagiku, kegadisanku.


  tahun dan bekerja di salah satu bank swasta di Bekasi  Cerita Sex ML Dengan Penis Besar
 Cerita Sex ML Dengan Penis Besar

Ceritanya sore itu aku berendam di air hangat. Kira-kira jarum jam memberikan pukul tujuh lima belas menit petang hari. Udara acuh taacuh Puncak yang semenjak tadi siang diguyur gerimis membuatku enggan bangun dari bathub. Kubersihkan tubuhku dengan sabun cair sampai pada kemaluanku yang masih bisa kubanggakan sebab saya belum sekalipun melaksanakan relasi badan. Karena air bath tub sudah agak masbodoh kuputuskan untuk menuntaskan program mandiku.

Aku bangkit di depan cermin kamar mandi sambil menghanduki rambutku yang lembap. Kupandangi badan telanjangku di cermin besar yang dapat memuat bayangan tubuhku secara sarat itu. aku tersenyum sendiri menatap paras indoku yang higienis dari jerawat. Omaku memang asli Belanda. Lalu saya alihkan pandanganku pada dua buah payudaraku yang bundar dan gempal. Ukurannya 36, dengan tinggi badan yang 173 cm dan berat 54 kg. Aku usap-usap kedua payudaraku yang tegang kedinginan. Pandanganku kemudian beralih pada satu-satunya bagian terpeka, kemaluanku yang ditumbuhi bulu-bulu yang tak lebat. Jelas telihat bagian gemuk itu terbelah di tengahnya. Ah.. inilah hartaku yang termahal, pikirku sambil membelainya.

Tiba-datang seseorang membuka pintu dari depan. Aku tersentak kaget alasannya adalah semestinya tak ada orang lain di villa ini. Seorang perjaka berbadan tegap segera menerobos masuk. Lalu ia secepatnya menyeretku keluar kamar mandi. Aku berupaya berontak namun tenagaku tak cukup untuk melawan tenaga laki-laki itu.
?Hallo Nona cantik, boleh kami mampir sebentar??, sapa perjaka lain yang telah menunggu di kamar tidur.
?S.. siapa kalian? Pergi! Pergi dari sini!?, rontaku.
Pemuda yang menyeretku tadi telah memasung kedua tanganku di kedua tiang penyangga atap. Posisiku terpasung namun kakiku masih bebas tak terikat.

?Tenang, Nona elok. Namaku adalah Leo?, kata pemuda yang mengikatku.
Wajahnya bersih dan tampan, nampak mirip anak orang kaya.
?Dan saya Syam. Kami hanya mampir untuk bersenang-senang Nona?, lanjut pemuda jangkung yang tadi menyeretku.

Tubuhnya lebih kurus daripada Leo tetapi wajahnya juga sedap dipandang, walaupun terkesan agak beringas.
?Ma.. mau apa kalian? Tidak sopan!?, bentakku.
?Ha.. galak juga, Leo. Heh perawan! Siapa namamu??, hardik Syam mencengkeram rahangku hingga terasa sakit.

?Sabar Syam, tanya baik-baik. Nona anggun, siapa nama dari badan aduhai ini??, kata Leo mengelus-elus pinggangku.
Syam melepaskan cengkeramannya. Rahangku terasa sungguh ngilu.
?M.. Marie. Tolong kalian secepatnya keluar dari villa ini, aku mohon?, rengekku.
?Enak saja! Kami telah masuk, mana mungkin keluar tanpa menjinjing hasil?, jawab Syam yang lebih cepat murka.

Leo menepuk bahu Syam. Syam mundur beberapa langkah.
?Marie.. kami mampir khusus untuk menikmati kecantikanmu. Lihatlah, kau mempunyai badan yang sangat sensual. Juga wajah yang anggun, sayang bila tidak dirasakan. Syam! Lihatlah bibir nona Marie ini, bukankah sungguh sexy??, kata si Leo sambil secepatnya menyerang bibirku.

Syam cuma tersenyum membiarkan Leo memagut bibirku dengan rakus. Tercium wangi alkohol dari mulutnya. Aku ingin meronta tetapi mulutku sudah dijejali dengan pengecap Leo. Kakiku menendang-nendang namun tenaga Leo lebih berpengaruh. Tangan kanannya mencengkeram leherku mencegahku menghindar dari pagutannya. Sedang telapak tangan kirinya digosok-gosokkan ke permukaan kemaluanku dengan berangasan. Lidahnya terus menjilat-jilat menghisap-hisap lidahku dengan rakusnya. Darahku serasa naik antara rasa sakit dan lezat. Tapi aku masih waras, kutekuk kakiku sehingga tentang kejantanannya yang mulai tegang. Leo mengaduh kesakitan. Ia nampak misuh-misuh dan ingin memukulku namun Syam mencegahnya. Leo menunduk sambil memegangi kejantanannya. Syam mendekatiku sambil membuka kaos yang pakainya. Nampak dada bidangnya yang ditumbuhi bulu-bulu halus.

?Sabarlah sayang, akan terasa indah kalau kamu mau menikmatinya?, kata Syam.
Lalu lelaki jangkung itu mencium bibirku dengan lembut menggigit bibir bawahku perlahan-lahan lalu menyodokkan lidahnya menyusuri benda-benda yang mampu dijangkaunya. Ternyata Syam tidak sekasar yang kukira. Kelembutannya mencumbu bibirku membuatku bagai diperlakukan seperti seorang kekasih. Darahku mendesir-desir. Lidahku pun menyambut lidah Syam yang meminta-minta. Tangan Syam menggerayangi punggungku dan terus turun ke bawah kemudian berlabuh di bokongku. Diremas-remasnya mengikuti desah nafas Syam yang sudah mulai naik turun. Jemari tangan itu mengitari bokongku. Jemarinya bermain di bibir vaginaku dengan lembut. Jiwaku rasanya mau terbang. Aku menghendaki sentuhan itu lebih lama. Tapi tidak, Syam segera mengalihkan jemarinya kembali ke bokongku. Tanpa kusadari Syam menyuntikkan sesuatu, aku tak tahu itu apa. Hanya belum hingga hitungan kesepuluh kepalaku terasa berat. Mataku berkunang-kunang.

Terdengar tawa kedua perjaka itu sayup-sayup. Rupaya mereka sudah menyuntikkan semacam obat perangsang ke dalam tubuhku. Tubuhku terasa kejang. Darahku naik ke ubun-ubun. Hawa cuek terasa menjadi panas. Aku menggeliat-geliat menahan birahiku yang melaju tanpa rem. Bibirku mendehem-dehem. Kemaluanku terasa hangat, payudaraku nampak jerawat dengan sendirinya. Gelora birahiku melambung-lonjak. Seperti ada kekuatan yang mendorongku untuk secepatnya bercinta dengan mereka, ingin semoga mereka segera menggerayangiku, mencumbuku, ohhh… Bajingan! Mereka cuma tertawa-tawa melihatku bersimbah keringat, berkelojotan menahan birahiku. Apa mereka tak tahu aku ingin secepatnya mereka sentuh…
?Syamm… Leo… kenapa kalian hanya diam saja… kemarilah.. aku… ingin…?
Tawa mereka makin lebar.

?Syam, tadi ia menolak kini?! Ha…ha..?
?Ayo Leo, bidadari kita ini sudah tak sabar rupanya?
Samar-samar kulihat keduanya membuka semua busana yang melekat di tubuh masing-masing. Nampak penis-penis yang besar menegang menantang. Kemudian keduanya mengundi siapa dulu yang menggarapku. Ternyata Syam. Ia mendekatiku dan kembali mencumbu bibirku, tubuhnya menempel akrab di tubuhku. Sehingga dadanya yang bidang melekat dengan kedua payudaraku yang telah menegang. Tangannya meremas-remas bokongku yang bahenol lalu membelai-belai selakangku yang sudah tersendal-sendal oleh penisnya yang mengacung-acung. Ohh.. bagai terbang ke awan. Kemudian iapun menurun dan mendapati kedua payudaraku. Matanya berbinar-binar. Diciuminya dadaku hingga terasa hangat nafasnya kemudian dimasukkannya nipples-ku ke dalam mulutnya. Aku mendesah-desah ketika nipples-ku dijilat-jilat kemudian dihisap besar lengan berkuasa-besar lengan berkuasa oleh lidah lincahnya.

?Oah… auh.. Syamm…?
Leo yamg mulai tak tabah secepatnya melepaskan kedua ikatan tanganku. Lalu ia ikut bergabung dengan melumat bibirku dari arah samping. Tanganku menjambak-jambak rambut Syam sambil meladeni Leo. Kini gerakannya lebih lembut walau tak selembut Syam. Sepuluh menit lalu mereka melepaskan mulutnya dari tubuhku. Aku terkulai di lantai memandangi kedua payudaraku yang terasa sungguh berat membengkak, nampak beberapa bekas gigitan Syam.

Samar-samar terlihat Leo bangun diatas tubuhku. Ia mengacung-acungkan penisnya yang besar menegang dan memintaku untuk mengulumnya. Aku bangun dari tidurku dan tak berapa lama penis berkulit kecoklatan itu sudah masuk ke dalam mulutku. Leo mengelus-elus rambutku sambil terus menyodokkan penisnya ke dalam mulutku. Aku mengulumnya, lidahku menyapu semua bagian benda panjang itu. Leo mengocok-ngocoknya berirama hinga ujungnya menyemburkan cairan sperma.

?Syam! Aku keluar Syam! Keluar…, aarrghh…?, teriak Leo.
Aku ingin memuntahkannya tetapi Leo mencegahnyanya dengan terus menyodokkan penisnya.
?Telan sayang, telan…?, terdengar suara Syam yang telah meremas-remas kemaluanku yang terasa lengket dari belakang.

Perlahan-lahan Syam menuntunku untuk menungging. Kakiku bertumpu pada lutut sedang tanganku berpegangan pada kedua paha Leo. Aku tak tahu apa yang diperbuat Syam. Yang kurasakan cuma nikmatnya penis Leo. Tak kuduga datang-tiba terasa ada benda ajaib yang masuk ke dalam lubang vaginaku.
?Aaaah…?, teriakku tertahan.

Gigiku menggigit penis Leo nenahan rasa nyeri di lubang kewanitaanku itu. Leo berjingkat-jingkat menahan rasa sakit sambil misuh-misuh. Tapi Syam bagai tak peduli terus berupaya menerobos tirai-tirai kewanitaanku. Hingga karenanya jebol, darah mengucur sampai pada pahaku. Aku menangis tersendat-sendat tetapi Syam kian asyik memainkan penisnya di memekku. Memasukkannya beberapa senti kemudian mengeluarkannya, belum sampai keluar telah disodokkannya lagi. Sperma muncrat ke dalam lubang vaginaku. Dalam tangis jiwaku seakan terbang. Sejujurnya aku sangat menikmatinya dikala itu. Terasa sungguh indah saat Syam menggoyang-goyangkan penisnya di dalam lubang vaginaku.

Sekitar pukul sepuluh malam. Keringatku mengucur deras. Aku telentang di lantai. Di sampingku nampak Syam yang juga terengah-engah. Tapi Leo ternyata belum puas. Dicumbunya kelaminku dengan lidahnya. Licah menyusuri dinding-dinding vaginaku menghisap-hisap klitorisku dengan gemas. Mataku berkejap-kejap menahan nikmat yang tercipta. Selakanganku mengatup mencengkeram kepala Leo biar tak pergi dari kemaluanku. Sepuluh menit kemudian Leo memasukkan jari tengahnya dengan gampang ke dalam lubang memekku. Untuk kedua kalinya pertahananku jebol. Cairan kewanitaanku muncrat membasahi telunjuk Leo. Ditariknya jari tengah Leo yang bersarung di memekku. Tanpa rasa jijik dijilatnya jari tengah yang berlumuran cairan kewanitaanku itu dengan senyum kepuasan.

Terdengar suara orang ronda diluar melintas di depan villa. Maka dengan buru-buru Syam dan Leo mengenakan pakaiannya kemudian melompat dari jendela kamarku meninggalkanku dalam kondisi sungguh lemah. Aku berusaha menjerit mengundang-manggil penjaga ronda keliling itu. Tapi suaraku bagai tersumbat. Belum sampai sepuluh hitungan pandanganku sudah gelap gulita.

0 Response to "Cerita Sex Ml Dengan Penis Besar"

sosial bar