728 x 90

Native bar

Dongeng Sex Ngentot Di Kebun Sawit

 Cerita Sex Ngentot Di kebun Sawit - Satu ahad libur sekolah untuk menyambut idul fitri sungguh mengasyikkan.”Ngapain ya?” pikirku dalam hati.  Aku ingin mendesain pengalaman baruku. Kalau di rumah terus selama 1 minggu, ahh..bosan! mudah-mudahan mama papaku ada planning bawa aku jalan-jalan. Siiip dech!


  Satu minggu libur sekolah untuk menyambut lebaran sungguh menyenangkan  Cerita Sex Ngentot Di kebun Sawit
 Cerita Sex Ngentot Di kebun Sawit

“Gideon…,” panggil mamaku tiba-tiba .”Iya ma!” sahutku. Aku tiba menghampiri mamaku dan duduk di pangkuannya dengan manja. ”Ya Tuhan, semoga ada kabar baik untukku hari ini!” demikianlah doaku. ”Kamu dan mama sama-sama libur sekolah , jadi gimana kalau kita pergi bersama papa ke Duri kawasan papa melakukan pekerjaan ?” ajak mamaku sambil mengelus kepalaku. “Mama ingin  kita ikut papa kesana , sekalian mama ingin tahu  bagaimana suasana tempat papa melakukan pekerjaan ! ”Nah, menurut mama ini waktu yang  paling tepat ! kamu dan mama kebetulan sama-sama libur sekolah oke?”

terperinci mamaku. Papaku kerjanya berkebun sawit di Duri jauh dari kota Siantar tempat aku tinggal dan bersekolah. Jadi kami hanya ketemu  papa hanya 1 atau 2 kali sebulan, yach.. demi membiayai keperluan sekolahku dan 2 orang abangku yang sudah SMA , untuk sementara waktu papaku rela berjauhan dengan kami. Apalagi aku dan kakak-abangku itu semuanya sekolah di swasta, butuh ongkos yang tidak sedikit. Itulah sebabnya papaku tak bosan-bosannya terus mengingatkan aku dan abang-abangku supaya benar-benar mencar ilmu. Katanya jika kami baik dan cerdik, harapan kami akan tercapai. Dan  itu semua untuk diri kami sendiri, untuk masa depan kami.

Aku pribadi setuju seruan mamaku, ”okke ma..!” jawabku besar hati sambil mencium mamaku dan beranjak dari pangkuannya. Memang aku sungguh senang jalan-jalan terlebih bersama mama dan papaku , sangat saya udah lama menginginkannya! Kami berkemas-kemas menjinjing perbekalan 1 minggu di kebun sawit , terutama bahan kuliner dan tak lupa oleh-oleh. Kata papaku di sana bahan kuliner lebih mahal dari di Siantar, kalau mau membeli mesti di pekan, itupun cuma 1 kali seminggu. Mamaku bilang usang perjalan naik bus INTRA kira-kira 8 hingga 9 jam.
Kami berangkat dari siantar jam 7 malam dan tiba besoknya pukul 5 pagi. Sesampai di sana kami pribadi menaiki boat ke lokasi kebun ,saya sedikit ngeri ketika kami terapung di atas air .Aku jadi ingat waktu kecil pernah naik kapal di danau toba dan saya tenteram.Tapi kapal yang kami naiki ini beda, ukurannya kecil, kalau duduk di dalamnya goyang-goyang, jadi mesti pegangan besar lengan berkuasa-berpengaruh.

 Papaku bilang namanya boat, yaitu berbentuksampan namun digerakkan oleh mesin .Orang-orang di sini menggunakannya sebagai alat transfortasi . Kami menyelusuri sungai melewati pohon-pohon sawit masyarakatsetempat. Sesekali tangan papaku menyisihkan rumput-rumput panjang yang menghalangi perjalanan kami. Aku membayangkan kawasan ini niscaya banyak ularnya,”ich..angker!” pikirku. Selama di atas boat perhatianku cuma tertuju ke arah gerak-gerik papaku yang seakan-akan berusaha mempertahankan keseimbangan kami di atas air. Aku sungguh-sungguh melihat sendiri, papaku kerjanya di pedalaman , jauh dari hiruk pikuk kota Duri hingga-sampai naik  boat . Kini aku gres percaya.Ternyata apa yang selama ini diberitahukan papaku ihwal suasana kerjanya terhadap kami jikalau ia pulang  ke Siantar , ialah benar. “Tidak enak!” demikian nadanya.  Begitupun, aku sungguh bahagia .Sebab mama papaku ada bareng dengan aku.Aku tenteram bersama mereka karena saya percaya mereka sangat menyayangiku.

Hari pertamaku datang di kebun, saya kenalan dengan anak-anak tetanggaku, mereka langsung menyambut saya dengan ramah, mereka sangat bagus padaku.”Gideon..!” panggil mamaku, “ini, kasih sama teman-temanmu!” Mamaku memberikan beberapa kemasan kue untuk kubagi-bagikan sama sobat-temanku. Aku besar hati sama mamaku yang suka memberi kepada orang lain, sifat gemar memberi mirip ini terus diajarkan mama papaku terhadap kami anak-anaknya. ”kita harus suka memberi ya nakku ?” begitulah bunyi nasihatnya. Dengan senang hati aku dan mamaku membagi-bagikan oleh-oleh bawaan kami terhadap tetangga di sana. Kue ketawa dan roti ganda, itulah oleh-oleh khas kampungku yang murah meriah yang tidak pernah terlewatkan mamaku kalau bepergian.Tidak lupa permen ocop bereng milkky yang senantiasa disediakan mamaku di tasnya. Ia bahagia membagi -bagikannya ke setiap bawah umur yang dijumpai mamaku. Wah, semua kami sungguh menyukainya.

Hari ke dua di kebun sawit , Abetnego dan temanku yang lain mengajak saya memancing di susukan yang letaknya tidak jauh dari halaman rumah tempat papaku tinggal. Kanal ialah seperti sungai kecil yang mengalir di sekeliling kebun. Kata temanku jika animo hujan mirip sekarang ini air di saluran akan naik sehingga dalamnya mampu 3 hingga 5 meter. Sebelum memancing kami apalagi dulu  mencari cacing  selaku umpannya. Kami menggali tanah di bersahabat terusan itu dan berhasil mengumpulkan beberapa ekor cacing. Kaki, tanganku dan bajuku berlumpur-lumpur .Tetapi  untuk menerima cacing , sedikitpun saya tidak jijik,alasannya adalah otakku membayangkan  serunyanya memancing itu. Wah, aku dan teman-temanku dapat ikan . Pancingan pertamaku langsung sukses.Kami mampu ikan yang besar juga kecil, macam-macam dech jenis ikannya,aku hanya kenal ikan lele saja sebab mamaku sering membelinya .

“Hei..teman-sahabat ,aku mampu ikan lagi!” seruku sambil memperlihatkan ikan pancinganku kepada sobat-temanku. Mereka semua memandang ke arahku “Iya..ya..jago juga kamu  Gideon!” puji temanku sambil mengacungkan jempolnya ke arahku. Aku kian bergairah  berkat pujian mereka itu. Dengan senang hati kami mengumpulkan semua ikan-ikan hasil tangkapan kami dan menyerahkannya sama mamaku. Kami sepakat untuk menikmati bareng hasil perjuangan kami . Mamaku bangga dengan kebolehan kami semua.”Ayo..kita kolaborasi, kalian bersihkan ikannya biar mama merencanakan bumbunya!” perintah mamaku dengan haru. Kami dan mamaku melakukan pekerjaan sama memasak ikan tangkapan kami itu dan kami makan bahu-membahu uenak lho! Rasanya cantik dan segar,kami semua kenyang.

Pagi itu hari ke tiga aku dan mama papaku berlibur di kebun sawit, aku berdiri kesiangan. ”Gideon..Gideon..bangun anakku!” panggil mamaku dari dapur yang telah berdiri terlebih dahulu. Pertama kali diundang mamaku , saya masih malas  bangun dari tempat tidurku, yach.. mungkin alasannya semalam aku kelelahan menangkap ikan bareng sahabat-temanku. Tiba-tiba mamaku membuka jendela kamar sambil memaksa aku bangun .”Ayo..bangkit udah siang!” kata mamaku. Mataku silau terkena cahaya matahari, sehingga  mengusir rasa malasku dan menciptakan aku pribadi bangkit .”Doa dahulu ya nakku..?” mamaku mengingatkan saya , sebagaimana kebiasaan kami dalam keluarga yang senantiasa beribadah mau tidur  dan berdiri .
Dari luar pintu saya dipanggil oleh temanku, ”Gideon…Gideon.. !” panggil Abetnego tetanggaku.  Badannya gendut kulitnya hitam dan rambutnya keriting , percis mirip orang Papua. ”Abet!” begitu panggilannya.Orangnya baik, lucu dan menyenangkan. Dia mengajak saya bermain di saluran yang tidak jauh dari rumahku. Kami berenang dan bermain sampan yang kebetulan sedang parkir di situ, untung mama papaku tidak melarang saya bermain. Sesekali mamaku menoleh ke lokasi berenangku  untuk menentukan bahwa saya aman-kondusif saja. Wah..aku sangat bahagia sekali mampu bermain di tempat ini, saya lompat kesana-kemari , menyelam ke dasar jalan masuk bergembira bersama sahabat-temanku . Ach..hampir-nyaris aku tertelan air terusan. Baru beberapa hari di sini, saya tampaknya udah mulai ketagihan dengan suasana daerah tinggalku ini. Pokoknya sungguh menyenangkan! Aku jadi ingat waktu di Siantar, guruku membawa kami berenang ke Detis. Itupun sekali-kali saja, bila ada kegiatan olah raga. Jika boleh dibandingkan, lebih seru di sini. ”Terimakasih Tuhan..!” ucapku dalam hatiku mensyukuri .

Hari telah siang, kami pulang ke rumah untuk membersihkan tubuh kami dengan air higienis dan sabun, soalnya air di susukan tadi warnanya kuning namun untung saja badanku nggak gatal. Aku mengajak sahabat-temanku makan di rumahku, mamakupun meladeni kami dengan bahagia hati. Yach..! kami makan dengan lahapnya, sekalipun lauknya ikan asin sambal. Memang mamaku baik, terlebih sama anak-anak. Di kampung dia sering memanggil dan menghimpun bawah umur untuk diajari dan sekaligus memperlihatkan buku-buku bagus untuk dibaca. Mamaku suka bercerita ke pada kami.Ia gemar mencar ilmu dan membaca. Bermula dari hobby itu mamaku menciptakan TAMAN BACA ANAK TIRANUS di bersahabat rumahku. Mamaku sangat menyayangi dunia belum dewasa . Apakah alasannya adalah dia berprofesi seorang guru, saya tidak tahu!

Sore itu aku bermain bareng dengan si putih. Siputih yaitu nama seekor anjing peliharaan papaku yang kebetulan bulunya berwarna putih. Papaku sangat suka memelihara anjing .Waktu kecil si putih punya saudara namanya si hitam. Kedua anjing ini dulunya dibawa papaku dari  Siantar, namun kata papaku si hitam telah mati alasannya adalah tergoda racun sawit. Jadilah si putih sebatang kara.”Kasihan yach.”  Udah pernah beberapa kali si putih hilang, namun dia kembali lagi.

Dia senang berburu, menangkap hewan-binatang liar  yang  menggangu  yang suka memakan buah-buah sawit. Si putih bak seorang hero bagi orang-orang yang tinggal di kebun itu. Papaku bilang si putih yaitu seekor anjing yang  jinak dan dia sangat tertip lho..! Anjing si putih tak inginmasuk  asal pilih ke dalam rumah mengotori rumah, bila beliau ada maunya misalnya minta makan, beliau duduk di depan pintu rumah dan menghentak-hentakkan kepala dan kaki depan selaku   bahasa isyaratnya tanda lapar. Papaku yang sudah mengenal sifatnya langsung memberinya makan. Papaku senantiasa mengamati kesehatannya dengan cara sering membersihkan  tubuhnya, apalagi bulunya yang putih sungguh gampang kotor. Jika papaku berkeliling menyelidiki kebun setiap pagi, si putih terus membuntutinya dari belakang, kolam pengawal sambil sesekali menggonggong. Dia suka mengkais-kais tanah dan menciumnya, mungkin beliau sedang mencari sesuatu. Waktu aku dan papaku berjalan menyeberangi sungai melalui sebuah titi yang terbuat dari sebatang kayu, si putih merengek-rengek sambil menggaruk-garuk tepi titi. Aku menoleh ke belakang, ternyata si putih tidak mampu berjalan melalui titi. Terpaksa  papaku menggendongnya. Lucu aku melihatnya. 

Pernah suatu waktu si putih anjing peliharaan papaku  itu tidak kelihatan. Aku dan papaku mencari-carinya di sekeliling kebun sawit yang lumayan luasnya, kira-kira 100 ha.Kami terduduk sebab kecapean.Tidak jauh dari lokasi kami duduk , kami lihat ternyata si putih sedang kasak-kusuk asik menggonggong ke arah suatu tempat . Papaku menilik, ternyata ada ular besar yang sedang terjerat oleh perangkap.Warnanya hitam belang-belang. Panjang ular itu  kira-kira 3 meter, ” iiih.. aku takut!” Aku disuru papku berlari mengundang  orang ke rumah. Lalu ular itu secepatnya ditangkap dan diasingkan oleh anak buah papaku, entah bagaimana nasip ular itu selanjutnya aku nggak tahu. Untunglah si putih  bijak,sehingga ular besar itu dapat diamankan. Kalau tidak, bisa-bisa ular itu mencelakai orang-orang.     Si putih yakni sahabat baikku yang lucu yang setia menemaniku bermain, kemanapun saya pergi.Sedih rasanya aku berpisah dengan ia jikalau aku kelak akan pulang ke kampungku bersama mamaku.

Hari ini hari yang ke empat liburanku di kebun sawit,kata papaku kami panen pertama.Ternyata era panen sawit 2 kali dalam sebulan atau 1kali setiap 2 minggu. Daiam-diam aku mendekati papaku yang sedang duduk bareng dengan mamaku di teras rumah.”Pa,boleh saya ikut papa melihat-lihat panen hari ini? “ tanyaku pada papaku. ”Boleh, asal jangan mengganggu dan tidak macam-macam!” sahut papaku .Okke paa..! jawabku dengan semangat.Aku mengajak Abetnego temanku  semoga ikut.Ternyata ia dan kakaknya juga harus membantu ibunya mengutip berondolan. Berondolan adalah butiran buah kelapa sawit yang berjatuhan saat di panen, kata papaku harga 1 kg berondolan Rp 900 emm..tidak mengecewakan besar juga untuk  anak-anak seusiaku. Kalau misalnya dapat 100 kg? maka uangnya Rp 90.000. Katanya uang hasil berondolan yang dikumpulkan Abet dan kakakya  ini dipakai untuk keperluan sekolah mereka.
Aku melihat temanku Abet dan kakaknya sangat bersemangat menolong ibunya mengumpulkan berondolan.  Aku jadi ikut semangat. ” Boleh aku ikut bantu?”  tawarku   menyodorkan diri.” Boleh,tapi awas hati-hati tanganmu nanti tertusuk durinya!” jawab Abetnego temanku. Lalu perlahan-lahan tanganku menggapai tumpukan sawit  yang  berjatuhan dan memasukkannya pada suatu goni. Aku mengikuti Abetnego ke arah pokok sawit yang sedang diambil buahnya (kata ungkapan di sana  didodos ) dan memperhatikan jikalau-jika ada buah sawit yang berjatuhan, secepatnya kami mengambilnya memasukkannya ke dalam goni. ”Wah, goni kita udah nyaris penuh ya Bet?” seruku . 

Papaku sangat hati-hati menilik buah-buah yang dipanen biar tidak terikut yang mengkal. Buah sawit yang telah siap dipanen itu warnanya merah kecoklat-coklatan. Kalau kulitnya dikupas, mengeluarkan minyak.  Satu pokok sawit bisa didapat dua sampai tiga tandan buah. Lumayan juga ya.  Para pekerja anak buah papaku sangat cekatan dan cekatan melakukan pekerjaan , mungkin alasannya adalah sudah umummelakukannya. Papaku sudah membagi tugas mereka sesui dengan kemampuan mereka masing-masing. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan tenaganya untuk menghimpun dan mengangkat buah sawit dengan memakai angkong. “Wah berat sekali..!” pikirku. Aku terharu menyaksikan papanya Abet yang tidak kenal letih mendorong buah-buah sawit yang dipanen. Aku teringat saat Abet pernah kisah padaku bahwa kaki papanya yang sebelah kiri udah tidak ada lagi. Kakinya diamputasi karena mengalami kecelakaan berat. Kaprikornus mesti dibantu pakai kaki imitasi, supaya mampu melakukan pekerjaan mencari nafkah keluarga.” Tuhan,semoga Engkau memberi kekuatan kepada bapak ini.” Doaku .

Buah-buah sawit yang telah dipanen dikumpulkan di suatu kawasan ke pinggir akses, kemudian di masukkan kedalam perahu. Maklum, alat transfortasi di sini memakai bahtera yang digerakkan oleh mesin. Aku sangat senang saat papaku mengijinkan saya ikut di perahu mengantarkan sawit-sawit ke pangkalan. Sepertinya papaku ingin mengajarkan aku agar aku betul-betul mengetahui betapa berat dan susahnya  papaku melakukan pekerjaan di sini ,mencari nafkah untuk keperluan sekolahku dan abang-abangku . Papaku benar-benar seorang  yang hebat dan bertanggung jawab kepada keluarga. Itulah sebabnya mamaku dan kami anak-anaknya sangat sayang sama papaku. Aku besar hati sama papaku. Aku tetap berdoa semoga mama papaku diberi Tuhan kesehatan dan berkatNya. Khususnya hikmat dan ketekunan untuk mendidik kami anak-anaknya.

Hari kedua panen aku masih menggemari aktifitas yang kemarin yakni ikut sama papaku memantau para anak buah papaku memanen sawit. Aku hanya lihat-lihat saja sambil ikutmembantu ngumpulin berondolan bareng temanku Abetnego. Para pekerja anak buah papaku masih tetap ulet melakukan pekerjaan , ada yang  selaku pemotong buah, ada yang membersihkan pelepah , ada yang sebagai tukang ngumpulin buah dan membawanya  ke pinggir susukan, ada yang khusus memasukkan buah ke dalam bahtera  ada juga selaku pengirim buah hingga ke tangkahan.

 Tidak mau ketinggalan, saya terus ikut-ikutan kolam mandor kecil. Sampai di tangkahan hasil panen secepatnya disortir dan ditimbang oleh tokeh buah. Papaku mengawasi dengan extra hati-hati semoga tidak terjadi penyimpangan timbangan, mampu-bisa rugi khan? . “Paa..berapa berat panen sawitnya..?” tanyaku ingin tahu.” Semalam 4 ton dan hari ini 5 ton anakku.”  jawab papaku dengan sabar. Aku hanya membisu nganguk-ngangguk karena aku memang kurang mengerti soal itu, masih bawah umur . Aku cuma tahu  1 ton itu sama dengan 1000 kg, alasannya di matematika kami sedang mempelajari pelajaran ukuran berat. Aku sangat gembira  bisa menemani papaku dalam pekerjaannya.

Hari  ini  ialah hari terakhir panen . Air di terusan meluap hampir-hampir sampai kepekarangan rumah daerah kami nginap. Semalam-malaman turun hujan dengan deras . Suara katak bernyanyi berbalas-balasan, bergembira seperti perlombaan paduan bunyi. Ah! telingaku jadi bising  melihat suara-bunyi yang tidak terang nadanya itu. Tapi untung juga, air di terusan menjadi sarat . Sehingga kami bisa naik bahtera tanpa ada hambatan. Sebab tinggi air mencukupi untuk mampu dilalui sampan.  Papaku senantiasa menjinjing aku naik perahu kalau mengantarkan hasil panen ke tangkahan.Senang naik perahu mesin bareng papa, terlebih sepanjang  jalan papaku menceritakan pengalaman-pengalaman suka dukanya padaku.

 Kami jadi akrap mirip sobat.
Usai menemani papaku, 4 orang temanku mengajak aku bermain di air akses. Kanal menjadi kawasan paforit kami bermain. Mama papaku mengizinkan aku . Kami main bola air, berenang , bermain perahu dan main alep tangkap. Kami hanya diperbolehkan mamaku di kawasan-kawasan yang  airnya dangkal  saja dan tidak jauh-jauh dari rumah, semoga mamaku bisa mengawasi aku. Sedang kami asik-asiknya berenang, eh..!tiba-tiba kami dikagetkan oleh bunyi keras tangisan anak kecil. Segera, segenap permainan kami hentikan dan kami mencari arah sumber suara. Astaga..ternyata adiknya temanku Abet yang tergelincir jatuh ke jalan masuk. Umurnya gres 2 thn. Kepala dan tangannya berdarah. Aku kira tidak bernafas lagi,alasannya adalah beliau langsung lemas ,kaku dan matanya tertup.Tanpa berpikir panjang kami eksklusif menolongnya ,menggendongnya ke darat dan menyerahkannya pada ibunya yang gres saja pulang mengutip berondolan. Ibunya terkejut menjerit histris, membuat orang-orang sekampung jadi berdatangan. Akibat peristiwa itu kami semuanya jadi bubar dan pulang ke tempat tinggal masing-masing.

Hari ini hari terakhir era liburanku di kebun sawit. Aku meminta sobat-temanku menuliskan alamat sekolahnya untuk kubawa pulang ke Siantar. Aku tidak mampu melalaikan mereka semua.Aku berharap sebuah  saat akan menulis surat kepada mereka semua.  Aku dan mamaku memanggil mereka semua masuk ke dalam rumahku . Sepertinya mamaku menciptakan program perpisahan skala kecil dengan mereka. Kepada kami mamaku bercerita perihal seorang tokoh Ilmuan Thomas Alfa Edison yang waktu kecil diketahui lemah ,tetapi risikonya sukses dan populer karena keteguhan dan kegigihannya mencar ilmu. Ia tidak pernah takut untuk terus mencoba,sekalipun berkali-kali mengalami kegagalan. Mamaku menasehati aku dan sahabat-temanku agar meneladani  tokoh itu .”Semangat sekolah, tekun mencar ilmu, jangan takut gagal, taat pada orang renta dan guru!” begitulah nasihatnya. . Mamaku memperlihatkan duit jajan kepada sahabat-temanku semua dan berjanji sebuah ketika akan jumpa lagi kalau ada piknik sekolah.

Kami bersiap-siap hendak pulang ke Siantar, alasannya adalah  libur sudah akhir dan besok masuk sekolah. Aku dan mamaku sangat suka cita meninggalkan lokasi kebun sawit yang telah banyak memberi ingatan yang sangat berguna. ”Semua tak terceritakan!” ucapku dalam hatiku. Kami  meninggalkan kebun dengan menumpangi sebuah sampan .Tak ingin ketinggalan , si putih berlari mengikuti kami dari belakang dan akhirnya berhenti memandangi kami dari kejauhan  seraya mengucapkan selamat jalan. Aku melambaikan tanganku ke arah si putih dan berteriak “da..da..putiihhh.!”. Semakin usang kian jauh kami meninggalkannya. Mataku berkaca-beling melihat perpisahan itu.” Kalau ada konferensi, ada juga perpisahan!” kata mamaku kepadaku.

0 Response to "Dongeng Sex Ngentot Di Kebun Sawit"

sosial bar