Kisah Seks Di Atas Motor
By Blinger
—
Rabu, 21 Februari 2018
—
Add Comment
—
Cerita Dewasa,
Cerita Lesbian,
Cerita Mesum,
Cerita Ngetot,
Cerita Sex
Pesonaceritaku.com - Cerita Seks Di Atas Motor - Baru saja pulang melakukan pekerjaan sambil memacu motorku pelan pelan. Hujan rintik tidak menghentikan jalanku menuju kosan. “Ujan gak berenti-berenti. Masuk angin deh nih…” Gerutuku dalam hati. Tujuanku masih cukup jauh, namun si kuda besi yang ku tunggangi sudah haus meminta jatah minumnya.
Cerita Seks Ngentot Di Atas Motor
Ku pinggirkan motorku ke pom bensin terdekat sebelum motor kesayanganku ini ngambek dan berhenti di tengah jalan. Hujan sedikit lebih deras dari sebelumnya ketika saya sedang mengisi bensin, tetapi itu tidak menghentikan langkahku untuk bisa sesegera mungkin sampai rumah. Memang hari ini hari Jumat dan besok saya tidak perlu bangkit pagi untuk ke kantor, namun cuaca dan pekerjaan yang bikin capek hari ini membuatku ingin bergegas menyelimuti diri dan tidur hingga siang hari esok. Selesai membeli bensin, kembali ku pacu motor bebekku yang sudah cukup berumur.
Saat hendak memasuki jalan utama, sebuah dompet di pinggir jalan mencuri perhatianku. Dompet panjang berwarna hitam dengan keadaan terbuka menawarkan isinya yang cukup banyak tergeletak begitu saja tanpa pemilik.
Langsung saja ku dekati dan ku ambil dompet tersebut. Ku amati sekitar, terlihat sepi tak ada orang yang sedang berlangsung, atau orang yang terlihat sedang gundah mencari sesuatu. Ku lihat isinya, uangnya masih ada dan kartu-karu mirip ATM dan lainnya lumayan banyak. Tanpa pikir panjang,
secepatnya ku ambil tersebut. Ku berniat mencari kawasan lain untuk menyaksikan identitas si pemilik dan bermaksud mengembalikannya.
Tidak jauh dari situ ada warung kopi yang cukup sepi. Segera saja ku sambangi warkop tersebut. Pesan kopi segelas, ku pilih kawasan dibelakang yang tidak tampakorang.
Meski aku mendapatkan dompet tersebut dan berencana mengembalikannya, tetap saja aku khawatir terlihat seperti orang yang gres saja mencopet.
Ku buka dompet tersebut, ku cari KTP tanpa memedulikan uang belahan seratus ribuan lumayan banyak yang ada di dalamnya.
Begitu aku menemukan KTPnya, ku amati dengan seksama wajah dan identitas si pemilik. Sinta, parasnya terlihat elok dengan rambut hitam panjang. Usianya ternyata lebih muda 2 tahun dariku, dan alamatnya tidak jauh dari kawasan ku berada. Aku tahu persis jalan kawasan tinggalnya tersebut. Setelah menyerap gosip yang cukup, aku pun menghabiskan kopi dan mengeluarkan uang lantas kembali menaiki sepeda motorku. Aku secepatnya menuju rumah si empunya dompet tersebut untuk mengembalikannya.
http://www.undiantoto.com/
“Duh sial banget sih nih cewek, pasti pusing banget keilangan dompet.” Gumamku dalam hati. Aku pernah mengalami hal serupa mirip ini dan tau mirip apa pusingnya. Harus mengurus KTP, ATM, belum lagi SIM dan STNK, selain memakan ongkos, juga mengkonsumsi tenaga dan waktu, bukan hanya kasus duit yang ada di dalam dompetnya saja.
Tidak sampai 15 menit, aku telah tiba di jalan yang tertera di KTP. Aku memang tahu jalannya, tetapi tidak tahu rumahnya. Alhasil saya harus tetap mencari rumahnya. Cukup sukar karena tempat tersebut bukan perumahan, sehingga mencari nomer rumahnya menjadi tidak semudah yang dibayangkan.
Aku pun mengajukan pertanyaan dengan pemilik warung rokok di pinggir jalan yang masih buka.
“Pak, maaf mau tumpang tanya. Tau alamat sama pemiliki KTP ini pak?” Tanyaku sambil mengambarkan KTP.
“Ohhh, ini Neng Sinta, Mas. Itu rumahnya yang itu tuh. Yang pager warna ijo. Tuh liat gak?” Si pemilik warung mengambarkan tangannya ke arah rumah yang letaknya tidak jauh dari warung tersebut.
Aku pun mengangguk.
“Makasih ya, Pak…” Jawabku.
Ku kunjungi rumah tersebut. Rumahnya besar sekali, pagar hijaunya yang tinggi membatasi pandangan untuk melihat ke dalam rumahnya. Tanpa menanti usang alasannya hujan yang makin deras, ku tekan saja tombol bell yang ada di depan dan berharap ada orang di rumah.
Bell ku tekan tiga kali, tidak juga ada tanggapan. Aku hampir putus asa dan bermaksud menitipkan dompet ke warung tadi, meski khawatir duit yang ada di dalamnya akan diambil si pemilik warung.
“Yaudahlah, yang penting niatnya sudah baik…” Pikir ku dalam hati.
Baru saja saya menaiki motor ku kembali, datang-tiba pintu pagar terbuka. Seorang perempuan keluar, dengan pakaian putih ketat, celana pendek berwarna krem dan sendal jepit sambil memegangi payung.“Cari siapa, Mas?” Tanya perempuan tersebut.
“Hmm, Sintanya ada?” Balasku.
“Iya, saya Sinta. Siapa ya? Ada perlu apa, Mas?”
“Oh mbak yang namanya Sinta? Ini mbak, saya tadi nemuin dompet mbak di deket pom bensin…” Kata ku sambil memberikan dompetnya.
Matanya terbelak melihat dompetnya, dia pun langsung histeris. “Ya ampun! Akhirnyaaaaa! Aduhhh, makasih ya masss…” Teriaknya sambil menjangkau dompet yang aku berikan.
Ia pun segera membuka dan memeriksa isi dompetnya.
“Di cek aja dahulu, mbak. Ada yang ilang apa enggak.”
Ia menggeleng, “Enggak ada, Mas. Uangnya masih ada semua…” Jawabnya sambil menutup dompet.
“Mas, masuk dahulu yuk. Hujan, Mas….” Tawar Sinta.
“Ah, gak usah mbak. Sudah malam. Saya eksklusif pulang saja…” Kilahku.
“Hujannya deras, Mas. Baju mas juga basah, lebih baik masuk dahulu untuk mengeringkan tubuh. Anggap saja untuk rasa terima kasih saya…” Pintanya memelas.
Setelah ku pikir-pikir, jalan menuju rumahku masih terbilang jauh. Di rumah pun tidak ada orang tua yang menanti sebab orang tuaku sedang bepergian ke luar kota. Aku pun berpikir panjang, dan menyepakati tawarannya.
“Oke deh, Mbak, numpang neduh dahulu bila gitu…” Jawabku,
Aku pun memasukan motorku dan mengikuti Sinta masuk ke dalam rumahnya.
Aku terperangah menyaksikan isi rumahnya. Ruang tamunya saja besar sekali dengan sofa kulit yang terlihat mahal. Aku jadi cukup canggung masuk ke dalamnya.
“Silakan duduk, Mas. Anggap saja rumah sendiri…” Ujar Sinta memersilahkan ku duduk.
“Iya, Mbak..” Jawabku sambil duduk di sofa.
“Sebentar ya, Mas…” Sinta berlalu masuk, sepertinya ia ke kamarnya.
Rumahnya cukup besar, ruang tamunya dipenuhi beberapa hiasan antik. Lukisan pedesaan berskala cukup besar tergantung di dinding sempurna di hadapanku. Di sudut ruangan terdapat guci berukuran besar, dan hiasan lain yang memperbesar suasana glamor rumah tersebut.
“Ini mas minum dahulu…” Aku sedikit terkejut alasannya adalah ternyata Sinta sudah kembali, menjinjing dua gelas teh hangat dan menyodorkannya terhadap ku. “Ini ada handuk, bisa dipakai untuk mengeringkan tubuh, Mas. Mau saya pinjamkan baju ganti?”
“Wah makasih banyak, mbak. Ga usah, ini aja cukup kok.”
Sinta lalu duduk di samping sofa ku. Aku pun meminum teh hangat yang diberikannya, terasa lezat menghangatkan tubuhku.
“Makasih banyak ya, Mas telah ngembaliin dompet. Tadi kayanya jatoh pas aku abis beli bensin. Aku juga gak ngerti kenapa bisa jatoh gituuu…”
“Iya mbak sama-sama, lebih hati-hati aja…” Jawabku kikuk. “Sepi sekali rumahnya, telah pada tidur ya?” Tanyaku untuk memecah kekakuan. Mungkin obrolan ringan seperti ini bisa membantu.
“Oh, enggak kok. Emang saya tinggal sendiri, Mas. Ini rumah orang renta, namun orang renta saya pindah ke Inggris. Jadi ya sendiri deh…” Jelasnya.
“Oh gitu, gak punya saudara emangnya? Adek? Atau abang gitu?”
“Punya adik satu, tetapi kuliah di Inggris juga. Kakak ku telah nikah dan tinggal sama suaminya. Makara ya tinggal aku deh sendiri hehehe.”
Aku cuma menganggukan kepala tanda jikalau saya mengetahui situasinya.
Ku amati Sinta dengan seksama kali ini. Tubuhnya begitu sintal dengan pakaian ketat yang memberikan lekuk tubuhnya dengan tepat, rambut hitam panjangnya yang dikuncir, tercium harum bersama-sama dengan aroma tubuhnya yang begitu menarik . Sesekali ku curi pandang, payudaranya terlihat kencang dan menggoda. Pikiranku pun mulai macam-macam.
“Gak takut emang tinggal di rumah segede gini sendirian?” Tanyaku untuk mengalihkan konsentrasi biar tidak mempertimbangkan yang aneh-abnormal.
“Ya takut sih, namun mau gimana? Itung-itung mencar ilmu berdikari aja hehehe…”
“Iya bener, tapi tetep aja kalo cewek sendirian kan lebih beresiko. Kenapa gak ajak pacarnya aja tinggal disini?” Tanyaku memancing, ingin tahu apakah beliau punya pacar atau tidak.
“Hahaha, maunya sih gitu mas tetapi pacarnya aja gak punya…” Jawab Sinta sambil tertawa. Aku pun hanya ikut tertawa kecil.
Obrolan makin larut, saya pun tahu bahwa Sinta ini masih kuliah, kampus yang sama denganku dahulu. Bisa dibilang dia juniorku di kampus, namun sayangnya tidak pernah ketemu alasannya berlawanan jurusan apalagi kini saya pun telah lulus dan melakukan pekerjaan .
Sinta juga bercerita sedikit wacana pacarnya dulu. Bagaimana beliau dan pacarnya menghabiskan waktu di rumah itu berdua. Mereka telah seperti sepasang suami istri dulu, tinggal berdua di rumah yang besar. Namun sayang, pacarnya mata keranjang dan selingkuh dengan sahabat baik Sinta. Mata Sinta tampaksedikit berkaca saat dia menceritakan ihwal pacarnya tersebut.
“Ya telah, paling gak sekarang kan kamu tau jika pacar kau memang gak jodoh sama kau, dan kamu tau ternyata temen kamu pun gak seluruhnya mampu diandalkan…” Nasihatku kepada Sinta mendengar curhatnya.
Ia pun mengangguk pelan. “Mas sendiri, punya pacar gak?”
Aku menggelengkan kepala, “Sama nasib kita..” Jawabku diiringi tawa renyah Sinta.
“Udah berapa usang, Mas?”
“Hmm…” Sejenak ku menghitung berapa bulan sejak aku putus dengan pacar ku sebelumnya, “Udah hampir setahun lah…”
“Wah lumayan juga, udah kering lah ya mas?” Ledek Sinta sambil tertawa.
“Hahaha, kayak kau enggak aja…” Balas ku.
“Iya sih…” Jawab Sinta, secara tiba-tiba beliau menghilangkan tawanya dan menjadi serius. “Sudah mau jam 1 mas, hujan belum berhenti. Gimana jika mas bermalam saja dahulu? Itung-itung nemenin saya. Besok kan libur, jadi gak mesti ke kantor kan?” Tanya Sinta.
“Waduh, jangan deh. Gak enak nanti diliat tetangga. Ntar dikira macem-macem…” Ujarku, menolak halus usulan Sinta.
“Tenang aja, Mas. Tetangga disini acuh taacuh kok. Kalo macem-macem juga kenapa? Udah gede ini, macem-macemnya enak juga…” Jawab Sinta santai.
Perkataan Sinta sejujurnya membuat fikiran kotorku semakin menjalar tak karuan. Ingin rasanya menergap badannya, melumat bibir dan menggerayangi tubuhnya yang menggiurkan tersebut. Tapi ku coba untuk menahannya, menghormati dirinya sebagai tuan rumah.
“Oke deh jikalau gitu, saya numpang tidur di sofa ya…” Pintaku.
“Eh, jangannn. Dingin dong tidur disini, mana lezat juga. Ayo di kamar aja. Sini aku anterin…” Kata Sinta sambil menawan tanganku.
Seperti kerbau yang dicocok hidungnya, saya menurut saja dan mengikuti Sinta ke kamar yang terletak di bab belakang rumahnya.
Dibukanya pintu kamar, dan dinyalakan lampunya.
Kamar tersebut cukup besar, bisa dikatakan lebih besar dari kamarku di rumah. Kasurnya king size, cukup untuk tidur 4 orang tampaknya. Lampu kuning yang temaram, memperbesar ketentraman kamar tersebut.
“Nih, tidur disini aja mas…” Ujar Sinta.
Aku pun mengangguk, lalu meletakan tas ku di samping kasur tersebut. Sinta tampak mengambil sesuatu dari lemari.
“Nah, ini. Ada baju sepertinya muat sama kau. Pake nih, dibandingkan dengan masuk angin….” Sinta menyodorkan pakaian.
Aku pun mengambilnya, “Kamar mandinya dimana?”
“Udah, ganti disini aja emang kenapa sih?” Kata Sinta nyeleneh. Mendengar perkataan Sinta seperti itu, dengan santainya ku buka saja pakaianku di depan Sinta dan mengubahnya dengan pakaian yang ia berikan.
“Ini celananya juga.” Ucap Sinta. Kali ini saya sedikit ragu untuk mengganti celanaku di hadapannya. Penisku sedang bangkit sedang, tidak terlalu tegang, tetapi niscaya terlihat jelas bila ku tanggalkan celanaku dan tersisa celana dalamnya saja.
“Gak berani ya? Cupu dehhh..” Ledek Sinta.
“Berani kok, kamu yang berani gak liatnya?” Ledek ku balik ke Sinta. Ia cuma tertawa.
Aku pun nekat, dengan pasti ku buka kancing celana dan reseletingnya. Ku turunkan celanaku.
Sinta sedikit terbelak menyaksikan cetakan penisku yang menyumbul dibalik celana dalam. Aku yang mengenali hal tersebut, sengaja mengulur waktu untuk memakai celana.
“Kenapa? Udah usang ya gak liat?” Aku kembali meledek Sinta.
Tanpa ku duga, Sinta eksklusif menghampiri dan menawan turun celana dalamku. Penisku yang gres setengah bangun itu eksklusif digenggamnya dengan besar lengan berkuasa.
“Iya, dan ini kini jadi punyaku!” Kata Sinta tegas. Ia pun berjongkok dan memasukan penisku ke dalam mulutnya.
Mendapat perlakuan seperti itu, saya cuma meringis menahan nikmat. Sinta buas sekali melahap penisku.
Awalnya beliau memasukkan penisku seluruhnya ke dalam verbal, kemudian ia menjilati batangnya dengan pelan, menghisap kepala penisku, kemudian menjilati zakarku dengan rakusnya. Penisku semakin tegang, kali ini tegang dengan kekuatan penuh.
“Uhhhh, secara perlahan-lahan donggg Sinnn…” Desisku sambil memegangi kepala dan rambutnya supaya tidak membatasi pemandangan indah yang ku saksikan.
Sinta tidak menjawab, dia makin asik memasukan penisku ke dalam mulutnya.
Tidak mau tinggal diam, saya pun mempesona pakaian Sinta supaya terlepas. Sinta menaikan tangannya untuk mempermudah ku. Tubuhnya begitu putih dan higienis. Branya yang berwarna biru muda masih tertinggal di badannya, menutupi dua gundukan payudara indah yang siap kunikmati sesaat lagi.
Aku pun menarik badan Sinta semoga kembali bangun. Langsung ku lumat bibirnya yang cukup tebal tersebut. Lidah kami saling berpagutan, sesekali dia menggigit bibirku dengan gemas, dan menghisap lidahku dengan besar lengan berkuasa.
Lalu aku mendorong tubuh Sinta ke kasur. Ku tarik celananya turun, sekarang celana dalam mininya yang berwarna senada dengan branya terlihat jelas. Wanita manis yang baru saja ku kenal kurang dari tiga jam, sekarang sedang berbaring nyaris telanjang di hadapanku, menunggu untuk ku nikmati sampai pagi.
Dengan tidak sabar, aku pun membuka celana dalam Sinta. Kali ini giliranku menikmati kemaluannya. Bulu bulu terlihat tercukur rapih, ku buka kaki Sinta dan ku dekatkan wajahku ke arah vaginanya.
Tercium aroma sedap khas dari vagina berair yang sarat gairah. Ku usapkan jariku di bibir vaginanya yang menciptakan Sinta menggelinjang.
“Aaaaaaaaahhhh, geliiiiii masssssss……” teriak Sinta. Aku tidak memedulikannya.
Aku pun menjulurkan lidahku dan menjilati klitorisnya yang merekah lembap. Jari telunjuk dan jari tengahku kususupkan masuk ke dalam vaginanya, perlahan ku keluar masukan jariku untuk memperbesar kenikmatan Sinta.
“Uuuuuuuuughhhhh, lezat massss, enakkkkkk…..”
Semakin Sinta berteriak, makin liar pula permainan lidahku di vaginanya.
Tangan kiri ku arahkan ke payudaranya, ku remas remas dan ku pilih putingnya. Ku serang habis vagina dan payudaranya di dikala yang bersamaan. Perasaan nikmat sekarang menjalar di seluruh badan Sinta.
“Uhh uhhh ohhh, massss, terus massss, saya mau keluar masssss….” Erang Sinta sambil menjambak rambutku kencang. Aku pun memperbesar frekuensi serangan. Kali ini kocokan jari di lubang vagina Sinta semakin cepat, jilatanku pun semakin jadi.
“MAASSSSSS KELUAR AKU MASSSSSS…” teriak Sinta kencang. Benar saja, cairan putih cair hangat keluar dari dalam vaginanya. Ku hisap dan ku jilat habis tak bersisa.
Sinta terengah-engah sesudah titik puncak yang beliau dapatkan. Tubuhnya sudah dipenuhi keringat meski udara masih terasa acuh taacuh karena hujan yang semakin deras di luar.
Aku pun merebahkan tubuhku di samping Sinta. Aku ingin membiarkannya menikmati sisa-sisa kenikmatan sambil menghimpun tenaga.
“Huh huh, saya suka banget gaya permainan kamu masss…” Ujar Sinta, matanya masih terpejam, mulutnya masih terbuka untuk mencari nafas yang tersengal.
Aku hanya diam tersenyum. Ku peluk tubuh Sinta dari samping, sambil ku mainkan payudaranya yang cukup besar itu.
“Kamu belum keluar kan, mas?” Tanya Sinta.
“Belum dong, belum diapa apain juga…” Jawabku kalem.
Sinta lalu bangkit dari tidurnya dan berlangsung menuju lemari yang ada di pojok ruangan. Ia buka pintu lemari tersebut dan mencari sesuatu di laci yang ada di dalamnya.
Tidak lama dia kembali menghampiri. Rupanya ia mencari kondom.
“Kalau mau, kau mesti pake ini. Gimana?” Tanya Sinta sambil mengambarkan kondom yang dia miliki.
Aku mengangguk. Sinta pun membuka kotak kondom berwarna merah tersebut dan mengeluarkan isinya. Masih ada dua kondom tersisa di dalamnya.
Dengan niscaya Sinta memasangkan kondom di penisku yang masih tegang. Aku cuma berbaring menyaksikan Sinta yang tampaktidak sabar ingin menghujani vaginanya dengan serangan dari penisku.
Begitu kondom terpasang, Sinta memosisikan dirinya diatasku. Ia duduk sambil mengarahkan penisku ke lubang vaginanya.
BLESSSS
Sinta menduduki diriku dengan penisku yang tertanam semuanya di dalam vaginanya. Mulutnya terbuka begitu penisku menghujam ujung vagina. “Ahhhhh…” Desahnya nikmat.
Perlahan Sinta memaju mundurkan tubuhnya diatasku. Penisku terasa ditarik begitu Sinta menggerakan pinggulnya. Tubuhnya yang indah bergerak seluruhnya mengiringi kenikmatan yang ia rasakan.
“Hmmm, hmmmm, uhhhh” Desis Sinta sambil menggigit bibirnya sendiri.
Aku pun meremas payudara Sinta untuk menambah kenikmatan. Begitu tanganku menjamah payudaranya, Sinta seakan bermetamorfosis binatang yang haus dan liar. Ia pribadi menggoyangkan pinggulnya dengan kencang dan cepat seolah tidak ingin membiarkan sedikitpun penisku keluar dari dalam vaginanya.
“AAAAAAH MAASSSS AAARGGGHHHHH” Teriak Sinta sambil memainkan rambutnya, matanya terpejam, wajahnya mendongak ke atas. Rumah Sinta yang besar pasti menciptakan kami berdua makin santai dan leluasa untuk berteriak dan merintih merasakan lezat yang sedang kami ciptakan.
“TRUS MASSSSS, NIKMAATTTT MASSSSS. KONTOL KAMU NIKMATTTTTTTT”
Aku pun memegangi pinggul Sinta supaya berhenti bergoyang, kali ini saya yang menggerakan pinggulku naik turun. Sinta makin menikmati penisku yang sedang melayani vaginanya.
“MASSSS AKKKUU MAUU KELUARRR LAAAAGIIIII MASSSSSSSSS…..” Sintapun mencengkram dadaku dengan besar lengan berkuasa, tidak lama berselang vaginanya terasa mengencang, mempesona penisku hingga terasa ngilu.
“AAAAARRRRRGGGHHHHH MASSSSSSSSSS….” Sinta mencapai orgasmenya sekali lagi.
Tubuhnya terkulai diatasku seketika itu juga. Ia pun berbisik dengan lemah, “Terusin sampai kau keluar, mas…”
Aku pun mencium kening Sinta kemudian mendorong tubuhnya. Kali ini aku ada di atasnya. Ku arahkan penisku lagi dan ku masukan sekali lagi.
Untungnya, kondom yang Sinta berikan sangat tipis sehingga tidak meminimalkan kenikmatan penisku yang dilayani vagina Sinta. Bulir di dalam vaginanya terasa pribadi di penisku mirip aku tidak memakai kondom.
Ku genjot vagina Sinta sambil tanganku sesekali meraba payudaranya. Ku percepat genjotannya supaya mampu cepat keluar, karena Sintapun tampaksudah cukup lelah. Akhirnya ku rasakan dorongan yang besar lengan berkuasa dari dalam penisku yang memaksa untuk keluar. Tanpa menunggu usang, ku muncratkan air mani yang sudah begitu usang tertahan di dalam buah zakar ku tersebut. CROT CROT CROOTTTT
“AAAHHHHHHHHHH!!” Teriakku saat kenikmatan menjalar di seluruh tubuhku.
Aku pun merasa lemas bukan kepalang, tubuhku langsung ambruk disamping Sinta yang sedang kelelahan. Malam itu kami pun tertidur berdua, tanpa pakaian. Ku rasakan ada sesuatu yang hangat di penisku. Aku yang masih mengantuk berupaya untuk membuka mata. Rupanya Sinta sedang menyambut penisku yang bangun di pagi hari. Ku lihat jam dinding yang ada di depanku,
waktu telah pukul 9 pagi, dan saya terbangun sebab hisapan Sinta di penisku yang terasa sangat nikmat. Aku pun segar dengan segera, dan menikmati acara Sinta. Dijilatinya dengan pelan batang penisku, dan dimainkan sesekali lidahnya di kepala penisku. Terasa begitu nikmat di pagi hari. Membuatku ingin melakukannya sepanjang hari tanpa henti. Sinta lalu menawan tanganku agar ku bangun.
“Sambil mandi yuk! Biar seger…” Ajak Sinta. Aku menyetujuinya dan lekas bangkit dari tidurku.
Aku berlangsung mengikuti Sinta. Ia menuntun penisku semoga tetap berdiri.
Sesampainya di kamar mandi, Sinta menyalakan shower dan membasahi dirinya.
“Sini, mass…” Sinta memintaku supaya mendekat.
Ia kemudian berjongkok dan menghisap kembali penisku. Diremasnya buah zakarku dengan gemas. Aku tidak mencicipi masbodoh air sama sekali, sebaliknya, yang kurasakan hanya hangat menyelimuti penisku dari ekspresi Sinta.
Sinta lalu bangun, mengambil kondom yang tersisa, memasangkan kondom pada penisku, dan memunggungi diriku. Tubuhnya dicondongkan ke depan, saya mengerti tujuannya. Sinta menyandarkan kedua tangannya ke tembok, saya mengarahkan penisku ke vaginanya dari belakang.
Dengan sekali hentakan, penisku pun kembali menghujam vagina Sinta. Tanganku menjangkau payudaranya dan meremas ke duanya sambil pinggulku bergoyang mengeluar-masukan penisku dari dalam vagina Sinta.
“UHHHHH AAAHHHHH IYA GITU MASSSSS….” Sinta mengerang kencang. Aku makin terangsang mendengarnya.
Tangan Sinta menahan tubuhku sebagai tanda untuk aku menghentikan genjotannya. Lalu beliau menggerakan pinggulnya naik turun, sensasi kenikmatan yang tiada duanya.
Sungguh lezat vagina Sinta, kenikmatan terus menjalar diseluruh tubuhku tanpa henti.
Lalu Sinta berteriak, “MASSS AKU KELUAR MASSSSSSSSSSS…..” Dan crot crot! Sinta orgasme di pagi hari ini. Vaginanya yang mengejang dan menegang membuatku ingin mengikuti orgasmenya.
“Aku juga nih, sebentar lagiii..” Kata ku sambil menggenjot vagina Sinta.
Sinta kemudian menarik penisku, dia kembali berjongkok, melepas kondom yang sebelumnya terpasang kemudian memasukan penisku ke dalam mulutnya. Aku tidak bisa menahan lagi, ku tumpahkan sperma ku semuanya ke verbal Sinta.
“AAAAAAARRRRGGGGHHHH!” Teriakku. Crot crot crot.
Mulut Sinta dipenuhi sperma ku yang kental dan banyak itu, tanpa menunggu usang, ia eksklusif menelannya habis, kemudian membersihkan penisku dengan lidahnya.
Kami pun menuntaskan acara mandi kami, kemudian berpakaian dengan rapih. Setelah sarapan, saya pun pamit pulang, namun Sinta menahanku. Ia masih ingin bareng ku. Aku tak kuasa dan menuruti seruan Sinta.
Sejak dikala itu, kami berdua resmi berpacaran. Sinta mampu membuat puas hasratku dengan hebat, dan saya bisa meyakinkan Sinta bahwa aku tidak akan meninggalkannya alasannya adalah dia memang benar-benar sesuai dengan apa yang aku cari selama ini. Petualangan cintaku dengan Sinta tidak hanya hingga situ, beberapa kali saya dengan Sinta melaksanakan hal aneh, seperti Sinta yang memintaku untuk menggoda temannya yang merebut kekasihnya dahulu kemudian beliau memintaku untuk menidurinya. Sungguh gila, tetapi hal itu membuatku makin menyukainya.

0 Response to "Kisah Seks Di Atas Motor"