728 x 90

Native bar

Cerita Sex Asusila Dengan Mama Manis

 Pesonaceritaku.com - Cerita Sex Mesum Dengan Mama CantiK - Mamaku tipe perempuan karier yang mana usianya yang tak muda lagi dia masih terlihat anggun, seksi dan manis, soal karier kerjanya trafiknya naik, dan telah menjadi direktur di perusahaan kami, aku memilih hidup dengan mama ketimbang dengan papa, mereka sudah bercerai setahun yang lalu, papaku bekerja hanya pegawai rendahan yang hanya gajinya cuma bisa buat makan sekeluarga.


 Mamaku tipe wanita karier yang mana usianya yang tak muda lagi dia masih terlihat cantik Cerita Sex Mesum Dengan Mama CantiK
Cerita Sex Mesum Dengan Mama CantiK

Sedangkan mana bisa menyanggupi kebutuhanku yang doyan hura-hura. Jangankan membelikanku kendaraan beroda empat, sepeda motor aja Papa enggak mampu. Dua orang adikku juga menentukan tinggal bersama Mama. Sama sepertiku, mereka juga doyan hura-hura. Ngabisin duit Mama yang saya enggak tahu gimana caranya, selalu saja ada. Apa yang kami minta senantiasa bisa dipenuhinya.

Namaku Tomi. Semester enam fakultas ekonomi di suatu sekolah tinggi tinggi swasta yang beken di Jakarta. Adikku Mimi. Juga kuliah di fakultas ekonomi satu kampus denganku. Tapi dia masih duduk di semester dua. Adikku yang paling kecil, Arya. Dia masih kelas tiga SMU.
Dari kecil senantiasa hidup bergelimang harta, dari penghasilan Mamaku, membuat kehidupan glamour sungguh menempel pada diri kami. Masing-masing kami dibelikan Mama mobil sebagai alat transportasi. Uang jajan tak pernah kurang.

Karena itu aku dan adik-adikku tak pernah protes dengan apapun yang dilakukan oleh Mamaku. Aku dan adik-adikku senantiasa kompak membela Mama. Termasuk saat bercerai dengan Papa. Padahal karena perceraian kedua orangtuaku itu yakni terang-terang sebab kesalahan Mama. Papa menangkap lembap Mama sedang pesta sex dengan tiga orang gigolo muda di hotel! Meski begitu, saya dan adik-adikku tetap aja kompak membela Mama. Soalnya belain Papa juga enggak ada untungnya. Lagian kelakuanku dan adik-adikku juga enggak beda-beda amat sama Mama. Aku dan Arya pernah bawa perek ke rumah. Si Mimi tahu perihal hal itu dan beliau sih kalem-kalem aja. Soalnya dia juga sering bawa cowok ganteng ke kamarnya.

Setelah bercerai, rumah kami yang megah jadi mirip rumah bordil aja deh. Mama, saya, Mimi, dan Arya, rutin bawa partner sex kemari. Karena kami sama gilanya, jadi asyik. Kalau waktu ada Papa enggak asyik. Papa suka rese. Meski tak bisa memarahi kelakukan binal anak-anaknya, namun Papa suka ngomel atau ngasih saran. Huh, menyebalkan aja Papaku itu.

Dari banyak pemuda, si Toni yang paling sering dibawa Mama ke tempat tinggal. Dia tuh, kayak suami gres Mama aja jadinya. Hampir tiap hari dia ada di rumah. Paling jika Mama lagi bosen dan ingin cari variasi pasangan lain, barulah dia ngibrit dari rumahku, balik ke kostnya. Karena seringnya si Toni di rumah, aku dan adik-adikku jadi erat dengan beliau. Apalagi usianya enggak jauh dariku. Dia juga masih kuliah. Umurnya cuma lebih bau tanah dua tahun dariku. Obrolan kami nyambung. Tentang apa saja. Otomotif, sport, musik, dan niscaya ngesex. Hehe. Bisa dibilang, si Toni ini piaraan Mama. Segala biaya hidupnya, Mamaku yang nanggung.
Si Mimi paling senang dengan eksistensi Toni di rumah. Piaraan Mama itu dimanfaatinnya juga buat muasin nafsunya yang binal.

“Habisnya si Toni itu ganteng banget sih. Macho. Mana bodinya oke banget lagi. Belum lagi kontolnya. Gede banget Tom. Ngesexnya gila-gilaan. Pantes aja Mama paling demen ama beliau dibandingin ama gigolonya lainnya,” kata Mimi padaku sebuah hari. Dasar bandel. Dasar maniak tuh si Mimi.

Mendengar cerita si Mimi wacana kontolnya si Toni membuatku ingin tau juga. Eits. Jangan salah sangka dulu men. Aku bukan gay. Jelas-terang aku pemuda straight. Cuman, dengar ukuran kontol orang sampai 28 sentimeter kan terperinci bikin penasaran. Jangankan saya, cowok lain niscaya juga penasaran. Gila aja kontol mampu segede itu!

Selama ini kupikir kontolku telah paling gede. Panjangnya sekitar delapan belas senti. Susah-sukar lho, cari kontol sepanjang punyaku ini di Indonesia. Ternyata punya si Toni malah lebih gila. hingga 28 senti men, selisih sepuluh senti dari punyaku. Ambil penggarisan deh, liat dari titik 0 senti sampai 28 senti, panjang banget kan ukuran segitu.

Meski ingin tau, enggak mungkin kan aku permisi ke dia buat liat kontolnya. Gila aja. enggak usah ya. Pernah kepikiran buatku untuk ngintip dia dikala ngentot dengan Mamaku atau si Mimi. Tapi males ah. Ngapain juga ngeliat kerabat kandung sendiri ngentot. enggak ada seru-serunya. Entar aku jadi incest lagi. Bikin berabe aja.

Namun, yang namanya rezeki memang enggak kemana. Waktu itu malem hari. Hampir dini hari malah. Aku baru pulang. Biasalah, ngabis-ngabisin uang Mama. Semua orang telah tidur kayaknya. Kerongkonganku rasanya kering banget. Haus. Aku pribadi ke dapur, ingin ngambil minuman dari lemari es.
Pas aku nyampe di dapur aku tertegun. Kulihat Mama sedang berbaring telentang di atas meja makan kami. Pakaian atasannya terbuka memamerkan buah dadanya yang masih kencang dan besar.
Sementara bab bawah tubuhnya tak menggenakan penutup apa-apa. Sekitar memeknya yang penuh jembut lebat kulihat belepotan cairan putih kental hingga ke perutnya. Banyak banget. Mama tak sadar dengan kehadiranku, karena saat itu dia sedang memejamkan matanya sambil mendesah-desah.
“Ngg.. Enak banget Will,” katanya dengan suara mendesis. Rupanya beliau baru aja dientot sama si Toni di atas meja makan itu.

Aku secepatnya mengalihkan tatapanku dari tubuh Mamaku yang mengangkang itu. Entah kenapa, kok saya rasakan saya kayaknya terangsang. Bisa berabe nih. Pandanganku kualihkan ke lemari es. Saat menatap ke arah sana aku kembali kaget. Disana bangun si Toni. Dia tak menggenakan pakaian apapun menutupi tubuhnya. Badannya yang tinggi dan kekar berotot itu polos. Dia sedang menenggak coca cola dari botol.

Mataku langsung memandang ke arah kontolnya. Gila men. Si Mimi enggak bohong. Di selangkangannya kulihat sebatang kontol dengan ukuran luar biasa. Sedang mengacung tegak ke atas mengkilap sebab belepotan spermanya sendiri kayaknya.

Batangnya gemuk, segemuk botol coca cola yang sedang dipegangnya. Panjang banget. Kepala kontolnya yang kemerahan seperti jamur melalui pusarnya. Batang gemuk itu penuh urat-urat. Aku hingga melotot melihatnya. Kupandangi kontol itu dengan cermat. Ck.. Ck.. Ck.. Sadis.
“Baru pulang Tom?” kata Toni menegurku.

Ia telah menyadari kehadiranku rupanya. Aku segera menolehkan pandanganku dari kontolnya. Gawat jikalau beliau tahu saya sedang serius memperhatikan detil kontolnya itu.
“He eh. Iya,” sahutku sambil mengangguk.
Untung saja lampu di dapur itu bernyala redup. jikalau terang benderang, niscaya Toni mampu mengenali jika wajahku sedang bersemu merah ketika itu. Malu.
Mamaku yang sedang berbaring lemas diatas meja makan tiba-datang melompat bangkit. Ia sibuk mencari-cari roknya untuk menutupi bab bawah tubuhnya yang terbuka.

“Eh, Tomi. sudah usang kau tiba?” kata Mama dengan lisan malu.
“Baru aja ma,” sahutku.
Aku beraksi mirip tidak terjadi apa-apa disitu. Segera kuambil minuman acuh taacuh dari lemari es. Tubuh Toni yang berkeringat tepat disampingku.

Saat mataku melirik ke arah dalam lemari es, mencari minuman, kusempatkan untuk melirik sekali lagi ke arah batang kontol Toni. Kali ini aku mampu melihatnya lebih terang. Karena ada perlindungan penerangan dari lampu lemari es. Gila! Bagus banget bentuk kontolnya, pikirku.

Setelah mendpatkan minuman masbodoh, aku segera meninggalkan dapur. Tinggallah Mamaku dan Toni disana. Aku tak tahu apakah mereka masih melanjutkan lagi permainan cabul mereka atau tidak. Yang niscaya sepanjang jalan menuju kamarku, pikiranku dipenuhi dengan kontol si Toni yang luar biasa itu.
“Gila! Gila!” rutukku dalam hati.Kok saya bisa mikirin kontol punya cowok lain sih? Ada apa denganku ini? Rasanya malam itu saya sukar untuk tidur. Setelah membalik-balikkan badan beratus kali di atas ranjangku yang empuk, barulah saya bisa tertidur. Itupun sesudah jarum jam memberikan pukul empat pagi. Sebentar lagi pagi menjelang.
Berjumpa dengan Toni keesokan harinya aku jadi rada-rada grogi. Entah kenapa. Mataku jadi suka mencuri pandang ke arah selangkangannya. Aku jadi menyadari, jika ternyata dikala selangkangannya ditutupi celana mirip itu, ukuran tonjolan diselangkangan itu, memang beda dengan punyaku. Jauh lebih menonjol kayaknya. Gila! Gila! Rutukku lagi dalam hati. Kok saya jadi mikirin itu aja sih?!
Si Toni sih enggak ada perubahan. Ia tetap hambar aja seperti umumnya. Ia tak merasa ada yang gila dengan kejadian semalam. Sepertinya ia tak perduli kalao aku memergokinya telanjang bundar bareng Mamaku. Kayaknya, buatnya itu hal yang lumrah saja. Dasar gigolo profesional dia.

Sebulan berlalu. Dan selama jangka waktu itu, saya jadi pengamat selangkangan Toni balasannya. Entah kenapa, aku senantiasa berharap akan punya potensi lagi untuk ngelihat perkakas gigolo itu. Tapi tak juga pernah kesampaian. Sampai suatu hari.

Aku ingin berenang pagi-pagi di kolam renang yang ada di halaman belakang rumahku. Ketika saya hingga di bak renang mataku pribadi menangkap sebuah tontonan cabul. Si Mimi sedang ngentot dengan Toni. Dasar nekat si Mimi. Padahal Mama kan masih ada di kamarnya pagi-pagi begini.
Adikku yang elok dan sexy itu sedang nungging di tepi bak renang. Dibelakangnya Toni asyik menggenjot kontolnya dalam lobang vagina adikku itu. Genjotannya liar dan keras. Menghentak-hentak.
Tubuh si Mimi sampai terdorong-dorong ke depan karena hentakan itu. Kelihatannya si Mimi keenakan banget. Bibir bawahnya digigit-gigitnya dengan giginya. Ia menggelinjang-gelinjang sambil merem melek menikmati hajaran kontol Toni yang luar biasa itu di memeknya.

Aku terangsang jago. Celana renang segitiga yang kukenakan, tak lagi bisa menampung kontolku yang membesar. Aku tak tahu. Aku terangsang alasannya adalah apa? Apakah alasannya menyaksikan persetubuhan mereka, atau sebab serius memperhatikan kontol besar Toni yang keluar masuk vagina si Mimi itu. Entahlah.
Tanganku eksklusif mengocok batang kontolku yang sudah kukeluarkan dari celana renangku. Kukocok sekuat tenaga. Cepat. Aku ingin secepatnya menumpahkan spermaku.

“Eh, Tom. Ngapain luh?” datang-tiba kudengar bunyi Mimi menegurku.
Mataku yang sedang merem melek pribadi menatapnya. Kulihat ia menolehkan wajahnya yang manis memandangku yang sedang bangkit mengangang sambil ngocok. Toni tersenyum memandangku. Mereka tak menghentikan permainan mereka.

“memang lo enggak mampu liat, gue lagi ngapain,” jawabku cuek. Toni tertawa kecil mendengar jawabanku “Gila lo,” kata Mimi. Setelah itu beliau kembali asyik menikmati genjotan Toni.
Akhirnya akupun orgasme sambil memandangi Mimi dan Toni yang terus bercinta. Tak usang setelah itu si Toni yang orgasme di ekspresi Mimi. Sebelum spermanya sempat mencelat dari lobang kencingnya, Toni menyempatkan menyabut kontolnya yang gemuk dan panjang itu dari vagina Mimi. Lalu disuruhnya Mimi membuka mulutnya lebar-lebar menyambut tumpahan sperma Toni yang deras.
Aku betul-betul terbius birahi menyaksikan detik-detik Toni menumpahkan spermanya di lisan adikku itu. Entah kenapa nafsuku terasa menggelegak menyaksikan kontol itu menyemburkan spermanya yang deras berulang-ulang. Kupelototi setiap detik orgasme Toni itu tanpa berkedip sama sekali. Aku tidak ingin kehilangan momen yang indah itu sedetikpun.

“Gila lo. Adik sendiri ngentot ditonton,” kata Mimi padaku.
Saat itu kami bertiga berbaring di tepi bak renang capek. Kalau orang menyaksikan kami saat itu, mereka tidak mengenali kalau kami baru saja orgasme tadi. Yang melihat pasti cuma mengira kami sedang berjemur menikmati cahaya matahari di tepi bak renang.
“Habisnya elo berdua sama gilanya sih. Masak pagi-pagi ngentot disini. Ketahuan Mama gimana?” sahutku.
“Cuek. Mama enggak bakalan berdiri. Sebelum ngentotin gua, Mama habis dihajar sama si Toni. Jadi Mama pasti sedang ngorok kecapaian,” jawab Mimi yakin.

“Benar Wil?” tanyaku.
“Yap,” sahut Toni singkat. Dasar si Toni. Habis ngentot dengan Mama, masih sanggup ngentoti si Mimi sebinal tadi. Benar-benar profesional nih perjaka, pikirku. Itu pengalaman keduaku menyaksikan kontol si Toni. Seru? Belum! Ada pengalaman berikutnya yang lebih seru dari itu.

Dua minggu lalu. Aku gres bangun tidur siang. Sekitar jam tiga sore. Waktu itu hari Rabu, saya enggak ada kelas. Karena itu lazimnya habis tidur siang, sorenya aku latihan tenis. Kuubek-ubek kamarku, tetapi tak kutemukan dimana raket tenisku berada. Jangan-jangan dipinjam si Arya, pikirku. Adik bungsuku itu memang doyan banget minjem barang-barangku tanpa permisi.

Aku segera menuju kamarnya yang terletak di pavilyun samping bangunan utama rumah kami. Arya memang sengaja diberikan kamar disitu. Maklum ABG. Dia doyan nge-Band bareng temannya. Daripada ribut dengar suara alat musik yang dimainkannya bareng-bareng temannya maka lebih aman meletakkannya disitu.
Jadi suaranya tidak terlampau keras terdengar di dalam rumah. Mending suara musik yang dimainkan asyik di dengar kuping. Ini malah musik yang enggak terperinci juntrungannya. Metal yang enggak kualitas. Ups, jangan salah sangka lagi. Aku bukan anti metal. Aku doyan metal. Tapi metal yang enggak dimaenin sama Arya dan sahabat-temannya. He.. he..

Pintu kamar Arya tertutup rapat. Juga gorden jendelanya. Tumben. Pikirku. Jarang-jarang gorden kamarnya ditutup. Paling juga bila telah malem bila dia tidur. Dari kamarnya terdengar hiruk pikuk musik metal dari tape. Si Arya berarti ada di kamar, pikirku. Kugenggam gerendel pintu, kuputar. Tak terkunci. Kubuka pintu dan langsung melongokkan wajahku ke kamarnya. Aku sudah berkemas-kemas untuk ngomel ke dia.
“Arya! telah berapa kali gue bilang, jangan ambil barang-barang gue seenaknya.. Hahh?!!,” kata-kataku terhenti segera.

Mulutku menganga, tenggorokanku rasanya tercekat. Mataku melotot menyaksikan insiden yang terjadi dalam kamar Arya. Adikku itu sedang bermain cinta di kamarnya. Tubuhnya telentang di atas ranjang. Pakaian sekolahnya belum terlepas semuanya. Hanya resleting celananya saja yang terbuka lebar. Kontolnya yang nongol dari celah resleting itu, ngaceng total sedang dikulum oleh seseorang yang sedang menungging dalam posisi bertentangan arah dengan Arya di atas tubuhnya.

Aku sih telah tahu jika kelakuan adikku yang masih ABG ini sama bejatnya mirip aku. Aku telah sangat tahu kalau ia doyan ngesex dengan orang lain. Harusnya aku tak perlu kaget melihatnya sedang in action mirip ini. Tapi gimana aku enggak terkejut kali ini, yang kulihat dikala ini sangat tidak biasa. Arya maen kulum-kuluman kontol bukan dengan cewek. Tapi dengan perjaka men. Dan pemuda yang sedang mengulum kontolnya itu ialah si Toni! Shit!

Si Aryapun edan. Masak mulutnya juga ngulum kontol si Toni? Ngawur! Yang benar aja, kontol gede si Toni itu dikuluminya dengan penuh nafsu seperti ngulum permen lolipop saja. Arya kulihat salah tingkah setelah menyadari kehadiranku.

Buru-buru dilepaskannya kontol si Toni dari mulutnya. Ia segera bangkit dan membenahi celananya. Sementara si Toni kulihat tenang-damai saja.
“Ngapain Tom? Masuk kamar gue kok enggak ngetuk pintu dahulu,” kata Arya terlihat kurang suka padaku.
“Memang elo pernah ngetuk pintu jikalau masuk kamar gua?” sahutku. Kupandangi keduanya dengan tatapan tajam. Toni kulihat tersenyum padaku.
“Hai Tom,” katanya melambaikan tangan seperti tak ada apa-apa.
“Ngapain elo berdua?” kataku masbodoh.

“Enggak ngapa-ngapain. Mau ngapain elo?” sahut Arya masih salah tingkah.
“Enggak ngapa-ngapain?! Jelas-terang mata gua ngelihat elo berdua sedang emut-emutan kontol kok elo bisa ngomong enggak ngapa-ngapain. Elo homo?!” kataku.
“Siapa yang homo? Enak aja!” kata Arya protes.
“Kalau bukan homo, apa namanya perjaka sama cowok emut-emutan kontol begitu? Nah elo, kok elo bisa..,” kataku pada Toni.

Kalimatku tak kusambung. Aku menatap bingung padanya.
“Sante aja men. Ini hal yang biasa kok,” sahut Toni tanpa beban.
“Biasa??!” tanyaku resah. Dahiku mengernyit.
“Iya. Gue sama Arya kebetulan lagi sama-sama horny. enggak ada pelampiasan, ya sudah, kenapa kita enggak maen berdua aja.

Toh maksudnya cuman untuk melampiaskan birahi doang. Maen sama cewek juga emut-emutan kan. Gua punya mulut, Arya punya mulut, kan bisa dipake untuk ngemut. Hasilnya tetap sama kok,” sahut Toni tenang.
Gigolo tampan itu benar-benar hening luar biasa. Sepertinya apa yang dilakukannya bareng Arya itu bukan hal yang ajaib. Aku jadi terkesima mendengar jawabannya. Arya kulihat mengangguk-angguk mendengar kata-kata Toni. Duduk dengan seragam SMUnya diatas ranjang, adik bungsuku itu tak berkata apa-apa.
“Gua enggak ngerti deh. Gua yang ajaib atau elo berdua yang asing,” kataku.

“Enggak ada yang ajaib Tom. Apa gue pernah ngatain elo abnormal alasannya adalah elo suka mandangin kontol gua? enggak pernah kan?”
“Maksud elo?”
“Jangan pura-pura bego. Gue tahu kok elo suka curi-curi pandang lihat tonjolan di selangkangan gue. Apalagi jika pas gue telanjang bulat. Mata elo kan hingga melotot ngelihat adik gue ini kan,” kata Toni.
Ia menggoyang-goyangkan kontolnya yang telah lemas. Memamerkannya padaku. Aku tak tahu mau bilang apa lagi. Tak kusangka Toni mengenali kalau aku selalu memperhatikan perkakasnya selama ini.
“Sudahlah. Sekarang elo mau bangkit terus disitu sambil ngelihatin kita sekaligus melototin kontol gue, atau mau ikutan bareng kita menikmati anugerah yang kita miliki. Tom kita harus bersyukur lo, kita bertiga kan dianugerahi kontol yang punya ukuran diatas rata-rata. enggak banyak lo orang yang dianugerahi hal beginian,” kata Toni.

Benar yang dibilang Toni. Kami bertiga memang punya ukuran kontol yang diatas rata-rata. Adikku si Tony kulihat juga punya kontol yang gede. Ukurannya enggak jauh-jauh dengan ukuranku.
Akal sehatku sirna. Aku yang memang sudah cukup lama tergoda dengan kontol si Toni jadinya pasrah saja saat Toni dan Arya membimbingku ke arah ranjang. Kubiarkan saja mereka mempreteli seluruh pakaianku. Kami bertiga telanjang lingkaran di dalam kamar Arya.

Toni menawarkan penghormatan khusus padaku. Rasa penasaranku pada kontolnya yang gede itu dipuaskan olehnya. Toni mengangkangi leherku saat saya berbaring telentang di atas ranjang. Kontolnya yang besar ditampar-tamparkannya ke pipiku.

Birahiku menggelegak. Pertama kali seumur hidupku aku diperlakukan mirip ini. Saking menggelegaknya birahiku alhasil apa yang tak pernah terpikirkan selama ini dibenakku kulakukan. Kukulum kontol Toni sepuas-puasnya. Aku menggila. Seperti anjing ketemu tulang, kulahap kontol Toni. Aku tak ubahnya Mamaku dan Mimi yang tergila-ajaib pada kontol gigolo ganteng ini.

Rupanya Aryapun sama tergila-gilanya mirip saya. Ia berebutan denganku mengerjai kontol besar si Toni. Seringkali kudorong muka tampan adikku yang masih abg itu menjauhi kontol Toni, alasannya adalah saya telah tak tabah ingin memasukkan batang gede itu dalam mulutku. jika telah gitu, Arya cuman mampu bersungut-sungut padaku. Aku masbodoh aja. Sementara Toni tertawa menyaksikan kami berebutan kontolnya seperti itu.
“Kalian sekeluarga sama binalnya deh,” komentarnya.Ia niscaya teringat pada Mama dan Mimi saat mengoral kontolnya. Pasti sama maniaknya seperti aku dan Arya.

Aku jadi terlupa, bahwa saya laki-laki straight. Aku jadi menikmati permainan pria seperti ini. Toni rupanya tidak mau melewatkan kontolku dan Arya. Dia segera membalik tubuhnya bertentangan arah denganku.

Aku dan Arya sama-sama berbaring telentang bersisian. Mulut kami bergantian mengulum kontol Toni. Sementara Toni yang menungging diatas kami menggilir kontolku dan Arya. Mulutnya ganti berubah mengulum kontolku dan kontol adikku itu. Saat mulutnya di kontolku, tangannya mengocok kontol Arya. Begitu juga sebaliknya.

Sore itu saya tak jadi latihan tenis. Kebetulan Mama belum pulang dari kantor, dan Mimi tak ada di rumah, kami puas-puaskan bermain sex bertiga. Segala apa yang memungkinkan, kami lakukan bertiga.
Termasuk juga saling menyodomi satu sama lain. Baby oil yang umumnya dipakai Arya untuk coli, kami gunakan sebagai pelumas supaya kontol tak terlalu sulit memasuki lobang pantat. Meski dianal yakni kali pertama buatku, namun saya ternyata bisa mencicipinya. Diantara rasa sakit dimasuki kontol dalam lobang pantat, saya merasakan juga lezat yang hebat.

Saat sore menjelang, kami segera cabut menuju kost Toni. Kami tak ingin terganggu dengan kepulangan Mama dari kawasan kerjanya. Pada Mama, Toni menelpon bahwa ia tak bermalam di rumah kami malam itu.
Ada kerjaan, alasannya pada Mama. Sementara aku dan Arya tak perlu menelpon Mama. Sudah lazimkami tak tidur di rumah. Jadi Mama tak akan merasa aneh. Malam itu kami puas-puaskan bermain cinta bertiga. Tak peduli, bahwa aku dan Arya ialah kerabat kandung, kami juga saling menyodomi Setelah berulang kali bersetubuh, akibatnya kami bisa mengerti posisi masing-masing. Meskipun kami sama-sama fleksibel ketika bercinta, namun Arya lebih suka pada posisi dianal, baik olehku maupun Toni.

Sedangkan saya dan Toni suka keduanya, baik dianal dan menganal. Hanya saja aku lebih menikmati dianal oleh Toni dibandingkan dengan oleh Arya. Kontol Toni yang sangat besar sangat membuatku keenakan. Aku hingga menggelepar-gelepar saat dianalnya.

jika menganal, aku lebih suka melakukannya pada Arya. Aku sangat suka menyaksikan verbal adikku yang sepertinya kesakitan namun terus memaksaku untuk mengentotnya dengan buas. Sedangkan jika menganal Toni, aku tak mendapatkan mulut itu.

Toni telah sungguh profesional dalam hal ini. Ternyata ia yaitu gigolo bagi wanita dan laki-laki sekaligus. Saat dientot, ekspresinya cuma sarat kenikmatan saja. Lagipula, lobang pantat Toni tak sesempit lobang pantat si Arya. Lobang pantat Toni sudah mengendor. Dia sudah sering dientot oleh pria lain.
Kami bercinta tiada henti. Toni memberikan kami minuman belakang layar miliknya. Minuman yang membuat tenaga kami tak kunjung sirna. Pantas saja tenaga gigolo ini bak kuda liar. Ia punya ramuan diam-diam rupanya. Saat kutanyakan pada Toni, apa cairan itu dan darimana ia memperolehnya, gigolo itu tak ingin mengatakannya padaku.

“Ini belakang layar perusahaan,” jawabnya. Aku dan Arya tertawa mendengar jawabannya.
Hari kamis esoknya, harusnya Arya sekolah. Tapi adik bungsuku itu absen. Aku juga mangkir kuliah, pun Toni. Kami mirip mesin sex. Arya tak jenuh-bosannya memintaku dan Toni bergantian menghajar lobang pantatnya. Dia betul-betul ketagihan.

“Pantes aja cewek-cewek suka dientot. Enak banget men,” komentarnya.
Pantat Arya yang putih dan molek penuh semangat bergerak saat Toni atau saya menyodominya. kalau kupikir-pikir, goyang ngebor Inul, kalah jauh deh dibandingin ngebornya si Arya. Membuatku dan Toni tak kuasa untuk menahan orgasme. Sperma kami tumpah menyanggupi lobang pantat adikku itu. Kamar kos Toni semerbak dengan wangi sperma dan keringat kami. Bau ini malah kian membuat kami bernafsu untuk mengentot lagi dan lagi.

Setelah sore, kesudahannya kami kembali ke rumah. Dan sejak itu kami menjadi berkala ngesex bertiga. Mencuri-curi peluang tanpa sepengetahuan Mama dan Mimi. Apa yang kami kerjakan yakni belakang layar kami bertiga. Tak perlu orang lain tahu. Termasuk juga cewek-cewek kami. Apalagi Mama dan si Mimi.

0 Response to "Cerita Sex Asusila Dengan Mama Manis"

sosial bar