Kisah Cukup Umur Ngentot Ibu Halimah
By Blinger
—
Minggu, 11 Februari 2018
—
Add Comment
—
Cerita Dewasa,
Cerita Lesbian,
Cerita Mesum,
Cerita Ngetot,
Cerita Sex
Cerita Dewasa Ngentot Ibu Halimah - ANPA gairah Roni mengeluarkan sepeda motor dari ruang tamu. Setelah yakin kondisi oli mesin pada motornya masih cukup manis, distater dan dijalankannya mesin kendaraan yang dari sisi mode telah agak ketinggalan jaman. Bunyinya berderum cukup keras, maklum motor anak muda. "Sudah siap Ron? Bude Imah udah nungguin nih. Takut pulangnya kemalaman dan kehujanan di jalan," bunyi ibunya terdengar dari ruang dalam rumahnya. "Uh ceriwis amat sih.
Cerita Dewasa Ngentot Ibu Halimah
Orang baru mau manasin mesin kok," gerutu Roni membathin. Gara-gara Pak Nardi (tetangganya) diam-membisu kawin lagi, Roni memang jadi ikutan repot. Sebabnya, Bu Halimah istri Pak Nardi berteman erat dengan ibunya. Dan Bude Imah (demikian Roni lazimmengundang Bu Halimah) atas masalahnya yang dihadapinya selalu curhat terhadap ibunya yang juga ditinggal suami yang kawin lagi. Hingga saat Bude Halimah memutuskan untuk meminta tunjangan dukun guna mengembalikan suaminya,
atas usul ibunya Roni yang diminta untuk selalu mengantarnya. Sang dukun yang tinggal di desa terpencil, kendati masih satu wilayah kabupaten, jaraknya dari rumah Roni lebih dari 50 kilometer. Tetapi bukan sebab faktor jarak dan keadaan buruk jalan ke arah sana yang membuat Roni enggan mengantar Bu Halimah. Apalagi wanita itu selalu mengajaknya makan dan memberikan sejumlah duit setiap Roni sesudah mengantar.
Namun masalahnya, sudah tiga kali datang ke dukun tersebut belum ada gejala Pak Nardi akan kembali. Bahkan seperti yang diceritakan Bu Halimah pada ibunya, ulah Pak Nardi makin nekad. Seluruh pakaiannya sudah dibawa ke rumah janda yang menjadi istri mudanya. Karenanya Roni merasa, dukun itu hanya menyiasati Bu Halimah yang gampang memberi duit hingga ratusan ribu rupiah sekali datang dengan dalih untuk membeli aneka macam persyaratan dan sesaji.
"Nak Roni niscaya bosan ya mesti ngantar-ngantar bude seperti ini," kata Bu Halimah saat mereka berhenti makan di warung sate langganan dalam perjalanan ke tempat tinggal sang dukun. "Ee.. enggak Bude. Nggak apa-apa kok," ujar Roni yang terpaksa berhenti menikmati dua tusuk sate terakhir yang tersisa di piringnya. Sepuluh tusuk sate di piring Bu Halimah tampak sudah tandas tanpa sisa. Tetapi Roni yakin wanita itu tidak menikmati makanannya. Karena lisan wajahnya terlihat masygul dan tatap matanya terlihat kosong. Pasti ia sungguh tertekan gara-gara ulah suaminya. Melihat itu Roni menggeser duduknya, merapat ke akrab Bu Halimah.
Diraihnya tangan perempuan itu dan digeganggamnya dengan lembut. "Roni siap mengirim ke manapun Bude mau pergi. Bude tidak usah ragu," kata Roni mencoba meyakinkan. Cukup usang Roni menggenggam dan meremas tangan Bu Halimah. Bahkan mirip seorang kekasih yang tengah menenangkan pasangannya yang tengah merajuk, Roni melakukan itu sambil menatapi wajah Bu Halimah. Menatapi hidungnya yang bangir, matanya yang teduh dan bibirnya yang merah merekah. Roni gres menyadari pakaian yang dikenakan wanita itu berlainan dari biasanya.
Dibalik jaket tipis warna hitam yang dilepasnya, Bude Halimah hanya mengenakan T shirt warna krem dipadu dengan celana panjang warna hitam. Biasanya dia senantiasa mengenakan rok jalan masuk panjang yang longgar. Ketatnya bentuk kaos dari materi agak tipis yang dikenakan, membuat bentuk tubuhnya seperti tercetak tepat. Di balik kaos tipis itu, sepasang buah dadanya yang berskala besar nampak membusung dan kutang warna hitam yang dipakainya tampakmembayang. Serasi dengan perawakannya yang tinggi besar.
Ke bagian menggunung itulah Roni berkali-kali mencuri pandang. Juga ke leher jenjangnya yang putih seksi meski sudah ada kerutan sebab usianya. Kendati usianya memasuki kepala lima, Bu Halimah belum kehilangan pesonanya. Karena itulah Roni sering mencuri-curi pandang menatapi keindahan pinggul dan pantat besarnya serta tonjolan buah dadanya dikala perempuan itu hanya mengenakan kaos oblong dan celana pembinaan ketat dikala hendak berangkat dan sepulang senam dengan ibunya. Saat telanjang, bentuk tubuhnya niscaya jauh lebih merangsang, demikian Roni selalu membathin setiap melihat perempuan itu habis bersenam. Karenanya Bu Halimah selalu menjadi perempuan favorit yang dihadirkan dalam angan-angannya saat beronani. Sambil mengocok sendiri kontolnya untuk menyalurkan hasrat biologisnya,
Roni memang senantiasa membayangkan nikmatnya dada besar dan memek Bu Halimah bila disetubuhi. Makanya dia tidak habis pikir dengan langkah-langkah Pak Nardi yang jatuh ke pelukan perempuan lain. Diperlakukan sedemikian rupa oleh Roni, Bu Halimah bahwasanya sungguh bahagia dan tersanjung alasannya ada pria muda yang memberinya perhatian. Hanya seorang perempuan pengunjung warung yang lain, menatapinya dengan tatapan abnormal sampai Bu Halimah segera mempesona tangannya dari genggaman dan belaian Roni. "Satenya tidak dihabiskan Nak Roni? Kalau tidak yuk kita berangkat. Nanti kemalaman di jalan," ungkapnya. Kunjungan keempat ke rumah sang dukun ternyata sia-sia.
Sang dukun ternyata tidak berada di kawasan. Kata istrinya, ia tengah ke Jakarta untuk mengobati pasien selama sepekan. Maka ditentukan untuk pulang secepatnya karena mendung di langit mulai menggantung dan cukup tebal. Bu Halimah nampak kecewa. Dalam perjalanan pulang, gres beberapa kilometer dari kawasan tinggal sang dukun, hujan mengguyur deras. Air seperti tercurah dari langit. Saat itu, Roni dan Bu Halimah yang berboncengan sepeda motor tengah berada di posisi jalan suatu kawasan hutan. Hingga tidak memungkinkan bagi keduanya mencari kawasan berteduh. Dalam terpaan derasnya air hujan dan hawa acuh taacuh yang menusuk, Roni yang mengenakan jaket kulit tebal tak kelewat terpengaruh oleh cuaca tersebut. Roni cuma merasakan dingin di bab pinggang ke bawah. Karena celana jins yang dikenakan lembap kuyup oleh hujan. Tetapi tidak bagi Bu Halimah. Ia memang memakai jaket.
Namun jaket yang dipakainya dari bahan kain yang kelewat tipis sampai air hujan eksklusif meresap menembus ke semua lapis busana yang dikenakannya. Termasuk ke kutang dan celana dalamnya. Karena dingin yang dinikmati dia yang tadinya membonceng agak merenggang, mulai merapat ke depan melekat ke badan Roni. Bahkan kedua tangannya alhasil melingkar, memeluk tubuh pria muda anak sahabat baiknya tersebut kendati agak canggung. Perubahan posisi yang dilakukan Bu Halimah dalam membonceng sepeda motornya, diyakini Roni dijalankan wanita itu untuk menghemat acuh taacuh akhir hujan. Namun yang membuatnya risih dan kurang berkonsentrasi dalam mengemudi, ia mencicipi buah dada Bu Halimah jadi menempel ketat ke punggungnya. Sepasang payudara yang dia percaya ukurannya cukup besar itu, terasa empuk dan sesekali menekan punggungnya.
Membayangkan itu, gairah mudanya jadi terbakar. Timbul asumsi badung di kepala Roni. Saat badan Bu Halimah agak merenggang, diinjaknya rem dengan secara tiba-tiba. Seolah hendak menyingkir dari jalanan berlubang. Dengan begitu tubuh wanita yang diboncengnya terdorong ke depan hingga kembali dinikmati tetek Bu Halimah menekan punggung. Ia melakukannya berkali-kali dan berkali-kali pula tetek besar Bu Halimah menumbuk punggungnya. Hasrat Roni jadi semakin terpacu dan fantasinya semakin melambung. Awalnya Bu Halimah menerka injakan rem dilaksanakan karena Roni benar- benar tengah menghindari lubang. Namun sehabis berulang kali terjadi dan dilihatnya jalanan yang dilalui sangat mulus, dia menjadi curiga. Terlebih dikala ia disadarkan pada sikap Roni ketika di warung yang seperti tak lepas memadangi busungan buah dadanya. Menyadari itu, Bu Halimah yakin Roni sengaja melakukannya agar buah dadanya merapat dan menekan punggungnya. Sejak lima bulan terakhir, terlebih semenjak suaminya mengawini janda muda, Pak Nardi memang telah tidak menyentuhnya lagi. Ulah nakal Roni menciptakan gairah Bu Halimah jadi terpicu.
Puting teteknya mengeras mengharap belaian dan remasan mesra. Tanpa sadar dia memindah posisi duduknya di boncengan sepeda motor. Maju ke depan, merapat serapat- rapatnya ke tubuh yang memboncengkannya. Hingga buah dadanya melekat ketat ke punggung Roni. Ia percaya cowok anak temannya bisa mencicipi besarnya buah dada yang dimilikinya. Seperti halnya Bu Halimah yang mulai terangsang gairahnya balasan buah dadanya yang menggesek-gesek punggung perjaka itu, reaksi Roni malah lebih jauh. Selama ini beliau selalu membayangkan tetek Bu Halimah saat beronani. Kini daging empuk dan kenyal itu melekat di punggungnya hingga tak terasa kontolnya mulai mengeras di balik jins ketatnya yang berair oleh hujan. Hujan mengguyur makin deras dan bahkan mulai kerap ditingkahi oleh suara guruh yang menggelegar serta kilat yang menyambar. Ketika dilihatnya suatu bangunan pos polisi hutan di pinggir hutan jati, Bu Halimah yang menjadi ketakutan meminta Roni berhenti untuk berteduh. "Kita berhenti dan numpang berteduh dahulu Nak Roni. Takut ah bila terus di jalan," ungkapnya. Bangunan pos polisi hutan itu kosong tanpa seorang petugas pun di dalamnya.
Ada bale besar dari kayu dengan ganjal tikar. Bahkan di lantai bagian tengah bangunan ada semacam tungku dengan setumpuk kayu bakar kering. Mungkin biasa digunakan para petugas untuk merebus air atau menanak nasi. Sebuah kawasan ideal buat berteduh di hari hujan dan cuaca cuek alasannya di dalamnya mampu memanaskan diri dengan mengkremasi kayu dalam tungku. Setelah mencopot jaketnya dan menggantungkannya pada paku yang menempel pada tiang bangunan pos polisi hutan, Roni secepatnya berupaya menyalakan api dalam tungku. Untung ada sisa minyak tanah dalam keleng yang ada di sudut ruang. Dengan perlindungan korek Zipo-nya, api eksklusif menyala membakar ranting-ranting kayu kering.
Tetapi berbeda dengan Roni yang mulai merasa nyaman dengan kehangatan yang didapat dari posisinya yang berjongkok di depan perapian, Bu Halimah tampakbingung. Ia bangkit mematung sambil bersedekap menahan dingin. "Bude, kenapa di situ. Sini di depan tungku agar hangat," panggil Roni menyaksikan wanita sahabat ibunya seperti menggigil kedinginan. "Iya nih cuek banget. Eee .. Nak Roni, jaket kulitnya Bude pinjam dahulu ya. Kayaknya bagian dalamnya kering biar tubuh Bude agak hangat," ujar Bude Halimah. "Oh silahkan-silahkan Bude, pakai saja," kata Roni. Bahkan dengan sigap ia langsung bangkit mengambil jaket tersebut dan berencana menolong memakaikannya. "Nanti dulu Nak, Bude mau copot dulu semua baju ini. Soalnya celana dalam dan kutang Bude ikut berair semua. Ta...... tapi kira-kira ada orang ke sini nggak ya?," kata Bude Halimah lagi sambil memutarkan pandangannya ke arah luar bangunan tersebut.
"Ah kayaknya nggak ada Bude. Nggak mungkin ada yang tiba ke hutan di tengah hujan deras begini," Meski agak ragu, Bu Halimah risikonya membukai pakaiannya. Bukan hanya jaket hitamnya yang berair. Kaos ketat warna krem yang dipakainya pun tak kalah kuyup. Setelah Bu Halimah melepaskan jaket dan menaruhnya di balai-balai yang ada, terpampanglah lekuk-liku badan perempuan itu. Kaos yang dipakainya memang kelewat lembap sampai lengket ke tubuhnya. Roni yang berdiri di belakang wanita itu berkali-kali menelan ludah karena lekuk-liku badan di hadapannya menjadi seperti telanjang. Namun yang menciptakan Roni kian gelagapan adalah dikala sesudah Bu Halimah melepas kaos dan kutang hitamnya. Seperti yang diminta perempuan itu, seharusnya dari arah belakang Roni segera menolong mengenakan jaket kulit yang dipegangnya.
Tetapi badan telanjang di hadapannya kelewat mempesona untuk dilewatkan hingga Roni lupa dengan yang mesti dikerjakan. Ia baru terjaga dikala Bu Halimah mengingatkannya. "Bude kedinginan Ron, tolong jaketnya dipakaikan," ujar wanita itu. Ia terlihat menggigil kedinginan. Tergesa Roni segera memakaikan jaket kulit miliknya. Menutupkannya ke tubuh telanjang Bu Halimah. Namun sebab kelewat tergesa, tanpa segaja tangan Roni menjamah tetek perempuan itu. Payudara Bu Halimah yang ukurannya cukup besar terasa empuk dan lembut. Bahkan jemari Roni sempat pula menjamah putingnya yang mencuat dan terasa agak keras. "Ma.. maaf Bude, sa .. aku tidak sengaja," Roni berupaya menawan tangannya sesudah sesaat sempat menikmati kelembutan buah dada Bu Halimah. Tetapi anehnya, Bu Halimah seolah mencegahnya. Dipegangnya tangan Roni dan tetap ditekankannya pada buah dadanya. Seolah memberi kesempatan pemuda itu untuk menggerayangi teteknya.
"Dingin banget ya Ron. Kamu nggak kedinginan?" "I.. iya Bude, sebenarnya Roni juga kedinginan," kata Roni menimpali. Dari usaha Bu Halimah agar dia tidak melepaskan sentuhannya pada buah dadanya dan pernyataannya soal kedinginan, Roni menebak perempuan itu memerlukan sentuhan kehangatan. Namun dia tidak berani terlalu teledor mengenang perbedaan usia yang sungguh jauh dan wanita itu ialah sahabat erat ibunya. Karenanya meskipun ia sungguh ingin meremasi tetek Bu Halimah yang sudah ada dalam genggamannya, Roni tidak berani melangkah lebih jauh. Takut dianggap kurang bimbing dan besar lengan berkuasa pada relasi baik ibunya dan Bu Halimah.
"Tadi waktu di warung Roni ngelihatin tetek Bude terus kan? Juga sengaja main injak rem biar tetek Bude nempel di punggung Roni kan? Kok sesudah ada di pegangan malah didiamkan? Bude sudah tua sih, jadi teteknya udah nggak mempesona bagi Roni," kata Bu Halimah lagi. Pernyataan itu menciptakan Roni kian percaya bahwa Bu Halimah menghendaki sentuhan kehangatan. Sekaligus mengingatkan semoga Roni mengambil insiatif melakukan sentuhan-sentuhan yang mengundang gairah. Maka kesempatan itu pribadi disambutnya. Tangan Roni yang semula hanya menangkup memegangi busungan buah dada perempuan itu, kini mulai berani meremasinya. Remasan yang tidak cuma memberi kehangatan pada diri Bu Halimah yang sudah usang tidak disentuh suaminya, juga memuaskan dahaga Roni yang selama ini hanya mampu membayangkan kemontokan busung dada wanita itu dikala beronani. "Sa.. saya suka banget tetek Bude.
Sebenarnya saya sering membayangkannya khususnya jikalau habis lihat Bude. Saya suka membayangkan bentuk badan Bude bila telanjang, pasti sungguh merangsang," ujar Roni makin berani. "Masa? Kalau begitu remaslah Ron, lakukan apa saja yang kamu suka pada tubuh Bude. Sudah usang Pak Nardi nggak menjamah Bude sejak terpengaruhi janda itu," kata Bu Halimah sambil membalikkan badan. Kini, yang sebelumnya cuma hanya ada di angan-angannya benar-benar terpampang di hadapannya. Tubuh Bu Halimah yang nyaris bugil karena cuma tersisa celana dalam warna hitam yang masih dipakainya sehabis jaket yang dipakainya dibiarkan terjatuh ada di depannya. Ah badan Bu Halimah ternyata benar-benar masih sangat menarik.
Lebih dari yang kubayangkan, begitu Roni membathin. Postur tubuh Bu Halimah yang tinggi, semok dan berisi benar-benar mempesona di mata Roni. Payudaranya besar, mengkal, meski agak turun ibarat buah kelapa. Pinggangnya ramping dan kian ke bawah pinggulnya yang masih terbungkus celana dalam warna hitam makin membesar mirip gentong besar. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan yang ada, Roni pribadi menubruk dan memeluk tubuh telanjang sahabat baik ibunya itu. Dengan rakus dihisap- hisapnya puting susu kiri Bu Halimah dengan mulutnya. Puting berwarna coklat kehitaman itu terasa mengeras di verbal Roni sesudah dihisap dan dipermainkan dengan pengecap.
Kedua tangan Roni juga meliar di badan bahenol wanita itu. Sambil terus menghisapi tetek wanita itu, ajun Roni meremasi dan memain- mainkan buah dada Bu Halimah yang lain. Sedangkan telapak tangannya yang sebelah kiri merayap meremasi bongkahan pantat besarnya. Bu Halimah menggelinjang, menahan gairah yang menjadi terbangkitkan. Ia tak menyangka, perjaka anak teman baiknya ternyata menyimpan nafsu terpendam pada dirinya. Bila diperhatikan seksama, sesungguhnya tanda-tanda ketuaan pada Bu Halimah sudah sangat kentara. Wanita berambut sebahu yang bertubuh tinggi besar itu, pada bab perutnya sudah tidak rata. Agak membusung dan sudah ada lipatan-lipatan kecil. Namun di mata Roni, itu tanda- tanda kematangan pada perempuan dan membuatnya semakin terangsang.
Puas menghisapi tetek Bu Halimah dan meremasi bongkahan pantat besarnya, perhatian Roni mulai tertuju ke selangkangan wanita itu. Bagian di bawah perut yang tertutup celana dalam warna hitam itu, tampak gembung dan membusung. Bahkan terbentuk suatu celah membujur karena celana dalam yang menutupnya menempel rapat sebab berair kuyup akhir air hujan. Di bab paling peka milik perempuan itulah tangan Roni sekarang meliar. Diusapnya perlahan memek Bu Halimah dari bab luar celana dalam yang masih membungkusnya. Roni yang memang belum pernah menjamah kemaluan perempuan, seolah ingin menikmati dan mencicipi setiap inchi dari busungan memek perempuan itu. Selama ini dia cuma melihat memek perempuan dewasa dari video porno yang sering dilihatnya. Dijalari jari-jari tangan Roni di bagian yang paling peka, Bu Halimah makin mendesah. Terlebih bukan cuma sentuhan-sentuhan di memeknya yang menciptakan gairahnya terbangkitkan.
Tetapi alasannya adalah pentil-pentil teteknya juga mulai menjadi sasaran kuluman dan hisapan perjaka itu. "Ssshhh... sshh... aaahhh...ahhhh... terus hisap tetek Bude Ron. Aaahhh... ee.. yummy banget Ron, ya... ya terus .. terus hisap," Bu Halimah tak ingin kalah. Sambil menikmati sentuhan jemari Roni di memeknya dan hisapan pemuda itu di pentil susunya, tangan perempuan itu merayap berupaya membuka kancing celana cowok anak sobat akrabnya. Akhirnya, setelah Roni membantunya dengan membuka kancing celana jinsnya dan sekaligus memelorotkannya bareng CD nya,
Bu Halimah memperoleh apa yang dicari-carinya. Tanpa melihatnya Bu Halimah tahu ukuran ****** Roni tergolong besar dan panjang. Terlebih jikalau ketimbang milik suaminya. Dibelai- belainya batang ****** Roni dan kepala penisnya yang membonggol dan sesekali dengan gemas beliau meremasnya. Demikian pula Roni. Tak puas cuma meraba dan mengusapi memek Bu Halimah dari luar celana dalamnya, kini jari-jarinya berusaha menyelinap mencari celah biar bisa menjamah kemaluan wanita yang seusia dengan ibunyaitu. Hanya karena celana dalam warna hitam yang dipakai Bu Halimah kelewat ketat, Roni agak kesusahan untuk menyingkapkannya. Akhirnya, sehabis melepas kulumannya pada puting-puting susu Bu Halimah, Roni langsung berjongkok.
Celana dalam warna hitam milik wanita dia pelorotkan melalui pinggul dan pantat besarnya sampai sebuah panorama yang sangat menumbuhkan hasrat terpampang di hadapannya. Di selangkangannya, di antara kedua paha membulat Bu Halimah terlihat memeknya yang membusung. Roni tertegun sesaat. Seperti yang selama ini dia bayangkan, memek Bu Halimah betul-betul besar dan tembem. Ia tak menyangka bisa menerima peluang untuk melihat dan menyentuh vagina yang oleh pemiliknya sudah dipangkas habis bulu-bulunya itu. Peris di bagian pusar dan bawah perut wanita yang telah tidak rata lagi itu, telah banyak lipatan dan kerut-kerut di permukaan kulitnya. Sedangkan di bab bawahnya lagi, yang ialah bagian atas dari memek Bu Halimah terlihat membentuk semacam gundukan daging dengan permukaan yang lebar dan tebal. Sebenarnya Roni ingin meminta Bu Halimah membuka dan mengendorkan kakinya yang yang bangun merapat biar pahanya terbuka hingga beliau bisa melihat seluruh bab memeknya. Karena dalam posisi bangkit merapatkan kaki, memek sobat ibunya tidak terlihat sampai keseluruhan lubangnya. Seperti balita gres menerima mainan baru yang mempesona hatinya,
Roni mulai mengusap-usap gundukan daging yang terasa hangat di telapak tangannya. Roni agak grogi saat mengusapi vagina Bu Halimah. Usapannya perlahan alasannya adalah beliau gres pertama kali menyentuh bab paling merangsang pada badan perempuan tersebut sampai Bu Halimah menduga Roni kurang menyukainya. "Bude kan udah bau tanah Ron, jadi memeknya udah agak peyot. Pasti jauh merangsang di banding punya pacar Roni ya?" "Eng... enggak Bude. Sungguh punya Bude merangsang banget. Saya sungguh suka. Saya belum punya pacar dan baru kali ini menjamah yang mirip ini Bude," ujar Roni. "Masa? Kalau melihat?" Kata Bu Halimah "Kalau di film BF sering. Ju.. juga aku pernah mengintip dan menyaksikan memek Bude. Waktu itu Bude mandi numpang mandi di rumah. Saya seneng banget kini mampu menyaksikan dan memegang eksklusif," Bu Halimah bahagia sekaligus gembira mendengar balasan jujur Roni.
Ia tak menduga anak sobat baiknya selama ini menjadi pengagum dirinya secara diam-diam. Ia yang tadinya ragu dan malu untuk menunjukkan seluruh bagian memeknya dengan merapatkan kakinya sebab takut menerima penolakan dari Roni menjadi yakin diri. Direnggangkan dan kemudian diangkatnya kaki kanannya serta ditumpukannya pada pinggiran bale kayu yang ada di dekatnya sampai terpampanglah seluruh bab memeknya di hadapan perjaka itu. Roni kian terperangah. Lekat-lekat ditatapinya memek Bu Halimah. Di bab tengah yang menggunduk ada celah memanjang dengan bab daging yang menebal di bagian bibir luar memek Bu Halimah. Warnanya coklat hitaman, berkerut-kerut dan mengeras mirip bagian daging yang telah kapalan. Kontras dengan warna daging merah muda di bab dalam yang tampakagak basah.
Di bab atas mendekati ujung celah lubang memek itu, sebentuk tonjolan daging sebesar biji jagung tampak mencuat. Mungkin ini yang dinamakan itil, pikir Roni membatin dan itu semakin membuatnya terangsang. Rupanya bagian itu kelewat menawan untuk dilewatkan sampai Roni tergerak untuk menyentuhnya. Diawali dengan mengusap-usap bibir luar memek Bu Halimah yang berkerut dan terasa kasar,
ujung jari Roni mulai menelusup masuk ke celahnya kemudian menyentuh dan menggesek-gesek tonjolan daging mungil itu. Mendapat rangsangan di bagian paling peka pada kelaminnya, Bu Halimah yang telah cukup lama tidak dientot Pak Nardi suaminya, tubuhnya menjadi tergetar andal. Terlebih ketika itilnya mulai dipermainkan Roni dengan intensitas sentuhan yang kian kerap. "Ooouuww.. sshh... sshhh ..ahhh..ahh.. ahh...ssshh. Itil Bude kamu apakan Ron? Ahhh... ssshhhh....ssshhhh....akkhhhhh... yummy.. banget Ron," lenguh Bu Halimah mendesah. Namun yang membuat Bu Halimah makin menggelinjang mirip cacing kepanasan serta berkali-kali memekik tertahan menahan lezat yang tertahankan adalah tatkala dinikmati bibir memeknya serasa dilumat. Karena sangat terangsang, Roni memang risikonya melumat bibir luar kemaluan Bu Halimah dengan mulutnya. Ia bergotong-royong cuma meniru adegan yang sering ditontonnya dalam adegan film asusila.
Tetapi ternyata, ulahnya itu membuat Bu Halimah kelojotan menahan nikmat. Bahkan dikala Roni mengecupi dan menghisapi itilnya, erangan dan rintihan Bu Halimah kian kencang. Roni jadi kian bersemangat.
Lidahnya tak cuma disapu-sapukan namun dijulur-julurkan masuk ke kedalaman lubang nikmat Bu Halimah yang mulai terasa asin alasannya adalah banyaknya cairan pelicin yang keluar. Merasa pertahanannya nyaris jebol dan didorong keinginannya untuk secepatnya merasakan batang ****** Roni yang berskala ekstra besar dan panjang, Bu Halimah meminta Roni menghentikan agresi obok-obok memek dan itil dengan mulut dan lidahnya. "Sshh.. sshh.. aahhh.. ahhh... ahhh. Udah Ron, Bude nggak tahan." kata Bu Halimah sambil mempesona kepala Roni menjauh dari selangkangannya. Lalu diajaknya Roni ke bale kayu kawasan para penjaga hutan melepas lelah. Di bale kayu itu, Bu Halimah langsung merebahkan badan telentang dan membuka lebar pahanya.
Roni tahu tugas yang menunggunya sekarang ialah menyogok lubang memek sobat ibunya yang memang telah usang ingin dinikmatinya. Seeperti tak tabah Bu Halimah pribadi menggenggam ****** Roni saat perjaka itu telah berada di atas tubuhnya. Ujung penis Roni yang membonggol besar di arahkannya tepat di tengah lubang memeknya.
"Masukkan Ron.. ahhh ..ahhh Bude udah kepengen merasakan kontolmu," "Sa... aku juga Bude. Roni telah lama pengen ngentot dengan Bude. Roni suka memek Bude," "I.ii. iya Ron, cepat tekan dan masukan kontolmu," ujar Bu Halimah. Akhirnya, Roni menurunkan pinggulnya. Ujung penisnya menyentuh bibir luar memek Bu Halimah yang sudah menunggu untuk disogok. Tetapi sebab kepala ****** Roni kelewat membonggol dan berukuran cukup besar, tak gampang untuk masuk walaupun memek Bu Halimah termasuk sudah oblong. "Kayaknya ****** kau gede banget Ron. Jauh lebih gede dibanding punya Pak Nardi jadi agak sukar masuknya," "Te... terus gimana Bude?," Kata Roni gundah. Namun Bu Halimah tidak kehilangan akal. Dikeluarkannya ludah dari mulutnya dan ditampungnya di telapak tangannya. Lalu, ludah itu dibalur-balurkannya di ujung ****** Roni semoga bisa menjadi semacam pelumas.
"Udah Ron, masukkan lagi kontolmu namun pelan-pelan ya," "Ii... iya Bude," Karena tergesa-gesa dan sama sekali belum pernah melakukannya, ujung rudal Roni sempat meleset. Kepala penis perjaka itu terantuk di bagian atas lubang memek Bu Halimah dan cuma mengenai itilnya sampai wanita itu memekik. Baru sesudah dipandu tangan Bu Halimah, sedikit demi sedikit ujung ****** Roni mulai masuk dan jadinya bleesss! ****** Roni sukses masuk sepenuhnya ke lubang lezat itu sesudah dia sedikit menyentaknya dan membuat Bu Halimah kembali memekik. "Sa... sakit Bude?" "Eee .. enggak Ron. Bude cuma terkejut .
****** kau gede banget," Sudah sangat sering Roni membayangkan nikmatnya bersetubuh dengan Bu Halimah sambil mengocok-ngocok sendiri kontolnya. Tetapi ternyata, jauh lebih nikmat ngentot langsung dengan perempuan itu. Batang kontolnya yang telah membenam di lubang kenikmatan sahabat ibunya itu, terasa hangat dan nikmat dijepit dinding-dinding vagina Bu Halimah. Disogok ****** pemuda berskala besar, wanita yang telah usang tidak menikmati permainan ranjang sejak suaminya menikah lagi itu mengulum senyum. Senyum yang menciptakan paras tuanya kembali kelihatan cantik dan menciptakan Roni tergerak untuk melumat bibirnya.
Ciuman itu langsung disambut Bu Halimah dengan lebih panas. Lidah Roni yang terjulur pribadi dihisapnya hingga bukan hanya kemaluan keduanya yang beradu di bagian bawah tetapi mereka juga saling hisap dengan kedua mulutnya. Hari makin gelap dan hujan yang mengguyur kawasan hutan jati kian menderas diseling bunyi guruh yang sesekali menggelegar. Namun cuaca jelek yang tengah berjalan tak menghipnotis panasnya gairah yang tengah disalurkan pasangan itu.
Desahan dan erangan lezat yang keluar dari ekspresi pasangan itu seolah ingin mengalahkan suara halilintar yang menggelegar. Bu Halimah betul-betul dibentuk melayang dan dihantarkan pada kenikmatan yang belum pernah dinikmati sebelumnya sehabis Roni menaik-turunkan pinggulnya dan memaju-mundurkan batang kontolnya di lubang memeknya. Apalagi Roni juga sesekali menyelingnya dengan meremasi susunya yang besar. Bahkan tidak jarang Roni juga memilintir dan memijit puting teteknya yang membuatnya merintih menahan nikmat. "Terus Ron... sshhh..... ssshhh.... aahh.... aahhh... enak banget entotanmu Ron.
Ssshhhh... sshhhhh.... Bude nggak pernah merasakan seenak ini bila dengan Pak Nardi. Aaahhh..... aaauuwww.... sshhhh... sshhhhh," Dulu, semasa Pak Nardi belum kena pelet dan akhirnya mengawini seorang janda, perilaku Bu Halimah dalam melayani suaminya bahu-membahu termasuk biasa-biasa saja. Apalagi Pak Nardi tergolong kurang potensinya dalam masalah ranjang. Hingga dia merasa tidak butuhmenservisnya dan dalam melayani sekadar asal suami mampu muncrat saja air maninya. Namun menghadapi Roni dengan tenaga muda serta kekerasan batang kontolnya yang mampu menjadikannya merintih lezat, Bu Halimah merasa mesti memberikan tanggapanyang sepadan. Maka sambil menggoyang pinggul dan memutar-mutarkan pantat besarnya, otot-otot bagian dalam memeknya juga ikut dikejut-kejutkan hingga mampu mencengkeram berpengaruh batang ****** cowok itu.
Apa yang dikerjakan Bu Halimah menciptakan batang ****** Roni serasa dihisap hingga memberi kenikmatan tiada tara. Permainan panas keduanya mendekati puncaknya sesudah irama goyangan dan hunjaman yang berjalan dalam gelap mulai tidak teratur. Roni mulai menancapkan batang kontolnya di lubang memek Bu Halimah dengan sentakan-sentakan. Sementara Bu Halimah sesekali mulai mengangkat tinggi-tinggi pantatnya. "Sshhh... ookkkhhh.... oookkkk.. enak banget... lezat banget. Ahhhh.... ahhh... ssshhh terus Ron... enak banget. Akhhh.... bude nyaris keluar.. Ron... ohhhkkhhhh," "Roni juga Bude... aahhhh..... aahhhkk.... terus hisap Bude. Akhhhh.... ya.... terusshhhh.... akkhhh memek Bude anak banget," Akhirnya, diawali dengan badan mengejang Bu Halimah jadinya menggelepar menikmati orgasme yang didapatnya. Ditandai dengan semburan hangat dari setiap sudut di lubang vaginanya membasahi batang ****** Roni.
Seperti halnya Bu Halimah, di ketika yang nyaris berbarengan Roni juga merasa tak mampu lagi membendung apa yang ingin dimuntahkannya. Setelah mengerang menahan lezat tiada tara yang didapatnya, Roni hasilnya ambruk di tubuh molek perempuan itu. Tak kalah banyak, air mani Roni juga menyembur bak lahar panas. Membanjir berbaur dengan cairan yang keluar dari lubang memek perempuan sahabat bersahabat ibunya. Keduanya gres menyadari bahwa hari telah beranjak malam setelah beberapa ketika melepas letih dari permainan nikmat yang gres dilaksanakan. Dalam gelap dan hanya diterangi sinar dari nyala api di tungku perapian yang ada di kawasan berteduh penjaga hutan itu,
Roni secepatnya menghimpun pakaiannya untuk dikenakan. Begitu juga Bu Halimah. Setelah semua pakaian dikenakan, Roni eksklusif menstater motornya dan melesat menembus kegelapan hutan jati. Hanya, sepanjang perjalanan pulang keduanya termenung membisu. Suasana kaku itu gres cair sesudah Roni menghentikan motornya karena berniat membeli rokok di suatu kios di sebuah kampung. "Nih pakai duit Bude saja Ron," kata Bu Halimah menyodorkan lembaran seratus ribu rupiah. Roni membeli sebungkus rokok dan dua botol air mineral yang pribadi ditenggaknya. Botol air mineral yang lain disodorkannya terhadap bu Halimah sambil menyerahkan uang kembalian. Namun Bu Halimah cuma mau mendapatkan air mineralnya saja yang juga langsung dibuka dan diminumnya.
"Kembaliannya kamu kantongi saja untuk beli bensin," ujarnya. Setelah kembali berada di atas sepeda motor, Bu Halimah kembali membuka percakapan. "Kok Roni diam saja sih. Nyesel ya melaksanakan itu dengan orang setua Bude?" "Ih enggak Bude. Sungguh. Roni diam karena takut Bude marah. Sungguh Roni sangat senang berkesempatan berdua dengan Bude mirip tadi," kata Roni. Bu Halimah yang sempat canggung, sekarang kembali merapatkan posisi duduknya dalam membonceng dan tangannya memeluk tubuh Roni dari belakang. Sikap mesra keduanya seperti sepasang kekasih yang tengah menikmati era-kala indah berpacaran alasannya adalah angan mereka melonjak pada bayang-bayang kenikmatan yang baru direguknya

0 Response to "Kisah Cukup Umur Ngentot Ibu Halimah"