728 x 90

Native bar

Dongeng Cukup Umur Kenakalan Ku

  Cerita Dewasa Kenakalan Ku - Saat masih Sekolah Menengan Atas aku memiliki sifat yang keras, pemberontak dan nekat. Orang bilang aku ini seorang perjaka yang tidak tahu hukum. Tapi bergotong-royong tidak, saya hanya ingin membuatkan diriku sendiri. Pada waktu itu aku punya sobat kampung yang sebaya denganku, ia sekolah di Sekolah Menengan Atas swasta. Dalam berteman kami sangat cocok dan sering melakukan sesuatu bersama. Kami tidak berpikir usang untuk melaksanakan sesuatu yang ekstrim, menantang atau bahkan melanggar aturan atau hukum.


 Saat masih SMA aku mempunyai sifat yang keras Cerita Dewasa Kenakalan Ku
 Cerita Dewasa Kenakalan Ku

 Ya benar, mulai dari naik gunung, panjat tebing, melancong ke luar pulau, memancing di laut, hingga yang ini; kebut-kebutan, judi, pengguna dan pengedar ganja, mabuk-mabukan atau bahkan yang ini; mengutil di plaza, mencuri dan banyak lagi. Singkatnya kami ini adalah persekongkolan. Namun ulah kami yang satu ini ialah yang paling berkesan bagi kami meskipun kami sama sekali tidak menduganya: mengintip.

Aku tinggal di perumahan dengan bangunannya antik dan besar, ruang-ruangnya yang luas, langit- langitnya yang tinggi dan temboknya yang tebal. Kuno seperti bangunan jaman Belanda. Nah, aku punya tetangga yang bentuk rumahnya sama persis dengan rumahku, rumahku dengan rumah tetanggaku itu menyambung. Meski di tengahnya ada tembok, tetapi menyambung di atasnya. Ya, ruangan di atas asbes di bawah genteng, yang ada rangka kayu besar itu di disain los.

Kalau ada seorang yang berada di atas, jelas dia dapat bebas menjelajah dari rumahku ke tempat tinggal tetanggaku tanpa di ketahui orang di dalam rumah yang ada di bawah. Tentunya beliau harus melakukannya dengan tanpa bunyi. Nah, itulah yang hendak saya dan temanku kerjakan bareng . Kenapa? sebab tetanggaku itu, sebut saja keluarga Darwin, mereka punya dua orang anak wanita, satu masih TK dan satu lagi SMP kelas dua, sebut saja Wanda. Wanda meskipun masih Sekolah Menengah Pertama tetapi tubuhnya tinggi seperti ibunya, ramping dan anggun, menurutku. Kami sering menggodanya. Terkadang bila beliau punya PR, aku dan temanku yang mengajarinya, terang lebih sering saya sendiri. Tapi bukan Wanda yang menjadi target pengintipan kami, melainkan ibunya.

Ya benar, Ibu Darwin ini lebih bagus, wajahnya mirip model Larasati. Umurnya mungkin 35-an, tubuhnya putih mulus, seksi, dan pakaian yang dikenakannya sering tidak lengkap, "ini"-nya yang kelihatanlah, "itu"- nya yang terbukalah, pokoknya betul-betul menggoda. Aku dan temanku sering kepergok mengamati dia kalau dia sedang membersihkan halaman dan beliau hanya tersenyum pada kami. Suaminya? oh suami Ibu Darwin kerja di luar pulau dan cuma pulang mungkin 2 kali dalam sebulan, dan dia sering ke mancanegara untuk waktu yang tidak sebentar.

Akibatnya Pak Darwin selalu memberi pesan padaku supaya aku mengawasi, mempertahankan atau menolong anak-isteri yang ditinggalkannya. Benar-benar suatu skenario yang bagus, pikirku. Pada sebuah malam kami naik ke atas, kami mempersiapkan semuanya, obeng, bor kecil, pisau bergerigi, sapu tangan epilog wajah dan senter, karena di atas gelap dan berdebu. Kami naik ke atas dan eksklusif menuju ruang kamar mandi, kira-kira hampir 2 jam kami merekayasa atap asbes yang ternyata bukan yang dibuat dari asbes, untung kami menjinjing bor. Bor ini bukan bor listrik tetapi suatu bor manual tangan jadi tidak ada suaranya.

Beres sudah, 2 lubang persegi tepat berada di atas kamar mandi sebesar 5x5 meter yang mampu ditutup telah tamat. Kami pulang dan pada esoknya sekitar pukul 05.00 pagi, kami kembali ke atas dan menanti Ibu Darwin untuk mandi. Lalu terjadilah, ia masuk sedangkan kami mengamatinya dari atas. Ketika beliau mengusap dadanya yang padat dengan sabun, lalu membersihkan selangkangannya dengan gerakan tangan naik-turun lalu menggosok pantatnya yang seksi, kami betul-betul terangsang. Bu Darwin mustahil atau kecil kemungkinan untuk menoleh ke atas, alasannya dengan ukuran kamar mandi yang kecil bila ia menatap ke depan sudut pandangnya maksimal hanya hingga ke dinding tembok tidak meraih ke langit-langit yang tinggi. Kecuali kalau ada sesuatu dari atas yang jatuh atau bila kami lagi sial dan tiba-datang ia menoleh ke atas, itu resiko kami. Selanjutnya kami pulang untuk bersiap berangkat ke sekolah masing-masing.

Kami mengulangi pengintipan kami dikala sore dan pagi sampai selama 5 hari. Berikutnya hari ke-6 kami "habis", kami kepergok. Sore itu, demi Tuhan yang ada di sorga, entah dari mana asalnya datang-tiba aku bersin, bahkan sampai dua kali. Ibu Darwin menoleh ke atas dan melihat lubang kami, beliau menjerit. Dengan cepat kami menutup lubang-lubang tersebut dan pribadi turun untuk melarikan diri. Kemudian aku berpikir, hei kenapa melarikan diri? suami Ibu Darwin tidak ada, jadi kenapa takut? Kami nekat mendatangi rumahnya kemudian mendapati Ibu Darwin yang masih basah tergesa-gesa hendak keluar dari rumah. Kami bertemu di pintu depan rumahnya. "Ada apa Ibu Darwin kok masih basah?" aku berpura-pura. "Andre, ada orang yang mengintip saya di kamar mandi. Dia ngintip dari atas." Aku dan temanku saling berpandangan. "Haah, jadi kalian yang mengintip aku, kurang asuh."

"Plaak!" Ibu Darwin menamparku. Buru-buru temanku menyela, "Maaf Bu, soalnya Ibu bagus, seksi lagi, kami jadi ingin tau, dan bergotong-royong ini semua inspirasi Andre, maafkan kami." Sepintas kulihat senyum di bibir Ibu Darwin yang merah. Lalu temanku dengan kalem ngeloyor pergi. "Benar Bu, ini tangung jawab aku, maafkan aku, saya, ehh.." Dengan nada rendah, "Sudah Andre, sekarang kamu pergi saja, saya muak melihat kamu." Empat hari berikutnya aku nekat mendatangi Ibu Darwin yang sedang bergurau di teras dengan Wanda. "Wanda, masuk ke kamarmu Ibu mau bicara berdua dengan Kak Andre, ada perlu apa Andre?" Aku tidak merasa khawatir sedikitpun namun pengecap ini terasa beku dan tak bisa bergerak, tak tahu mau mulai dari mana. Lalu cuma ibu itu yang bicara tentang apa saja. Aku hanya menyimak sambil tersenyum, dan beliau membalas senyumanku.

Sepertinya dia sudah melewatkan peristiwa 4 hari kemudian. Kemudian topik pembicaraan beralih menyangkut suaminya. Segera aku menimpali, "Ibu pasti kesepian ditinggal terus oleh suami." Dia memandangku dengan tajam, "Iya!" Lalu Ibu Darwin termenung lama dan datang-tiba, "Suami macam beliau Andre, pasti punya simpanan lain di sana. Kalau ia pulang aku nggak dapat apa- apa, cuma si kecil dan Wanda yang diurusin, saya enggak." "Oooh begitu rupanya," saya menimpali. Gila kesempatanku nih. Lama kami melongo dan sesekali pandangan kami bertemu dan ia tersenyum padaku lagi. Hari menjelang gelap, tiba-datang ia memegang tanganku dan berkata,

"Andre, temanmu mana?" "Oh si Rahmat, aku akan bertemu dengan beliau besok siang, kenapa Bu?" "Kalian kan telah menyaksikan Ibu di kamar mandi, sekarang giliran Ibu mesti melihat kalian." Aku tersentak kaget bagai seorang yang baru saja tahu jikalau beliau kecopetan. "Besok siang jikalau kalian sempat, Ibu tunggu di rumah ya, Wanda masuk siang dan baru pulang jam 6 sore." Lalu Ibu Darwin melepaskan genggamannya dan segera masuk ke dalam rumah sambil tersenyum. Dengan perasaan terkejut bercampur gundah saya pergi ke rumah Rahmat dan menceritakan semua apa yang gres saja terjadi. Siang itu pukul 11.00 saya absen sekolah dan bertemu rahmat yang juga absen, di warung. "Kita berangkat kini Ndre, aku sudah nggak tahan nih." "Boleh, ayo!" Kami eksklusif menuju rumah Bu Darwin, sepi, tetapi pintu tak terkunci, kami berdua pribadi masuk dan menguncinya dari dalam. "Eh.. jadi juga kalian tiba." Kulihat Ibu Darwin berpakaian rapi. "Ibu Darwin mau kemana?" "Hei, jangan panggil Ibu Darwin, panggil Lisa saja, itu nama saya.

Oh, jika kalian tadi nggak datang dalam 15 menit saya mau pergi jalan- jalan ke mall dengan si kecil." Dari sini rasa hormat hormatku terhadap tetanggaku ini mulai hilang. Aku mulai berganti jahat dan saya mulai mengajukan pertanyaan dalam hati, dimana Pak Darwin kini? Apa yang beliau pikirkan atau lakukan kini? Beliau memberiku iktikad namun lihat, setan dalam diriku telah menguasaiku 100%. Kalau pun apa yang kami bayangkan tidak terjadi atau Ibu Darwin membohongi kami, kami akan terus maju, kami akan memaksanya. Dan ternyata benar, anggapan jahatku hilang..berubah menjadi ketakutan.

Aku menyaksikan mobil ayahku, yang ialah seorang perwira menengah TNI datang. Dan ayahku membawa serta seorang anak buahnya yang tinggi besar, Provost mungkin, dan mereka menuju kemari ke arah kami. Gawat! "Hei, ternyata Ibu menipu kami, ini lebih menyakitkan dari apa yang kami kerjakan terhadap Ibu!" "Andre, aku ingin sifat kau berganti, kau sudah tidak kecil lagi.." kami tidak menggubrisnya lagi, kami berlari dan lompat lewat pintu belakang, kabur.

Sempat kudengar ayahku berteriak, "Andre jangan lari, ayah hanya ingin menyiksamu! Kembali kamu, pengecut!" Aku mendegar kata terakhir ini. Sambil berlari, saya murung dan kecewa, seluruh tubuhku ini terasa lemas. Kami lari tanpa tujuan. Sesampai di persimpangan jalan besar, temanku mulai bicara, "Andre, saya sudah tidak punya waktu lagi dengan segala kegilaan kita ini, insiden barusan sudah cukup bagiku, 4 bulan lagi kita Ebtanas, saya punya rencana panjang setelah saya lulus nanti, aku tak ingin gagal, aku ingin kita berhasil!" Aku terbelalak kaget seperti orang yang memperoleh uang 1 juta di jalan. Kami terdiam dan saya hanya menatap ke bawah dan mulai merenung dan berpikir, keras sekali. Tidak kusangka, temanku ini punya semangat baja dan pantang mengalah, semangatku mulai bangkit dan pikiranku terasa bergerak ke satu arah, tobat.

 "Thanks Mat, aku gembira punya sahabat seperti kau, aku tahu kini waktunya kita berubah. Masa remaja telah berlalu dan saya juga tak mau gagal." "Andre, saatnya telah tiba bagi kita dan.." "Rahmat, aku setuju denganmu dan sebaiknya kita berpisah kini dan kita ketemu ketika kita lulus nanti, oke man?" "Oke, boss.." Kami saling pandang lalu mirip ada yang menggerakkan dalam diri kami, sambil tertawa masam kami berangkulan singkat sekali, kami berpisah. Kulihat ia berlari menuju terminal untuk pulang ke tempat tinggal. Lalu aku berbalik arah menuju rumah namun datang-datang saya berbelok arah menuju warung yang sering saya dan Rahmat datangi. Di warung itu kembali aku merenung dan memikirkan semua yang sudah saya kerjakan selama Sekolah Menengan Atas, aku termangu, lalu terdengar bunyi kecil dari dalam pikiranku dan sepertinya berkata,

"Satu kali lagi, Andre, satu kali lagi Andre, satu kali lagi Andre.." terus berulang-berulang. Aku terbangun dari lamunan, oke jika begitu. Kemudian, tergesa-gesa saya pulang ke tempat tinggal, dan kebetulan ayahku sudah tidak ada di situ lagi, aku pribadi masuk masuk ke kamar, mengganti baju kemudian mengambil semua tabungan uangku, dan terakhir mengambil semua perlengkapan naik gunungku. Yap, Aku memutuskan akan naik gunung untuk yang terakhir kalinya sendirian. Kemudian, ibuku berupaya untuk mencegahku dan menyampaikan jikalau ayahku mencariku. "Ibu, katakan pada Ayah jika aku akan kembali." Ibuku menangis sejadi-akibatnya, tetapi aku tetap pergi. Dan sementara aku keluar dari rumah saya berpapasan dengan Ibu Darwin. Dia memegang tanganku, "Andre, kamu mau kemana, apa yang hendak kau lakukan, Andre, jangan minggat, aku.." saya tidak menggubrisnya. Aku pergi menuju terminal, saya cabut. Selama 3 hari saya berlangsung mendaki gunung itu hingga ke puncak lalu berlangsung turun ke utara.

 Satu malam saya terjebak hujan di tengah perjalanan turun. Sepi, tidak ada satu nafas manusia pun kecuali saya. Sekarang aku telah hingga di bawah, terminal bus Ngawi pukul 09.00 malam, hari Minggu. Aku pulang. Sesampai di rumah ternyata ayah dan ibuku sudah menanti. Tanpa sepatah kata mereka merangkulku. Lalu kami semua tidur. Besok paginya saya berangkat ke sekolah, kali ini aku diberi dogma oleh ayahku membawa mobilnya. Sebelum pergi, saya sempat mengatakan serius dengan Ibu Darwin dan dia memberiku surat. Dalam perjalanan ke sekolah aku memaksakan untuk membaca surat itu, isinya ternyata sebuah seruan maaf, pernyataan pribadi terhadapku, dan suatu perjanjian..yang sangat penting. Tiga bulan berlalu,

aku lulus dari Sekolah Menengan Atas dengan nilai terbaik, mereka bilang kalau aku tergolong dalam 10 besar terbaik tingkat nasional dan saya tidak yakin. Setelah itu aku bertekad untuk melanjutkan karier ayahku, saya sudah puas sekaligus jenuh dengan pendidikan formal dan saya tidak akan mencampakkan waktuku percuma hanya untuk kuliah, sekarang waktunya untuk sesuatu lainnya. Aku mendaftar sekolah tinggi tentara, syukur ternyata saya lolos ujian lokal. Waktu berlangsung cepat, tiba saatnya sekarang saya harus berpisah dengan orang tuaku. Tapi sebelum itu, pada suatu malam pukul 19.00, aku menghubungi Ibu Darwin dan dia menyuruhku untuk tiba ke rumahnya pada pukul 22.00. Selama 3 jam saya menunggu di rumah saya sungguh-sungguh tidak tahan, serasa 3 tahun lamanya. Waktunya datang, belum, pada pukul 21.20 aku nekat ke rumah Ibu Darwin, lewat pintu belakang pastinya. Waktu itu kedua putrinya sudah tidur di kamarnya masing-masing, mungkin, mesti. Aku pribadi menuju kamar Ibu Darwin yang berada di samping belakang rumah. Aku mengetok 2 kali, "Masuk Andre, kami sudah menunggumu." Aku tersentak terkejut seperti orang tertimpa tangga dengan datang-datang,

"Hah, kamu siapa?" saya membuka pintu kamar itu dengan cepat. Kamar itu terperinci, jadi saya dapat melihat jelas Ibu Darwin yang tergolek di ranjang, beliau memakai daster mini warna hitam, kontras dengan warna kulitnya yang putih. Lekuk-lekuk tubuhnya tergambar terperinci saat beliau memiringkan tubuh sambil menyangga kepala dengan tangannya. Ibu Darwin memang perempuan sejati, dia begitu cantik. Tapi aku begitu terkejut untuk yang kedua kalinya saat menyaksikan pemuda yang bangkit di samping ranjang, Rahmat! Sambil tertawa saya tersedak, "Rahmat! Kaprikornus, jadi, kesepakatanini juga berlaku buat kau?" "Hehehe, benar Andre, namun kamu tenang saja, aku dan Ibu Darwin belum mulai kok, kami menunggu kamu."

Akhirnya Aku dan Rahmat tertawa bersama. "Eh sst, kalian ini kenapa? Tunggu apa lagi? Saya telah tidak tahan lagi." "Hehehe.. sama," kami menimpali. Dengan masih berpakaian lengkap saya menerkam Ibu Darwin dan menindihnya. Kulumat habis bibirnya sambil kuremas-remas dadanya yang kecil padat dan beliau memelukku dengan erat. Sementara itu Rahmat dengan pelan menelanjangi dirinya sendiri. Setelah beberapa menit kami bercumbu, Rahmat naik ke ranjang dan mengangkangi Ibu Darwin di kepalanya, kemudian Rahmat menyerahkan rudalnya yang gres setengah bangun itu ke mulut Ibu Darwin dan perempuan itu melahapnya. Aku sendiri eksklusif menuju bab bawah pinggang Ibu Darwin, kutarik celana dalamnya dan kujilati pahanya yang empuk, kemudian menurun hingga ke pangkal paha. Dari sini saya mencium wangi ajaib, sembab.

Tapi aku tidak memperdulikannya, aku mengamati belahan daging lembut yang berwarna coklat kemerahan yang sudah lembap itu. Aku mulai menciuminya, kusibakkan bulu-bulu halus di sekitarnya kemudian kujilati area kewanitaan itu, dan anu-ku sudah tidak terkontrol lagi bentuknya. Beberapa dikala kemudian Rahmat telah tidak tahan dengan perlakuan Ibu Darwin, perempuan itu benar- benar kuat mengoral Rahmat selama itu, kini Rahmat meledak, beliau semprotkan seluruh spermanya ke lisan dan muka Ibu Darwin. "Oh.. oh.. ssh, ayo keluarkan semua Mat.. ayo, oh.." Kini paras Ibu Darwin sarat dengan lelehan sperma Rahmat, Rahmat rebah di sisi kiri Ibu Darwin sambil tersenyum. Sementara itu saya masih menjilati vagina Ibu Darwin dengan rakus.

"Eeeh.. mmh, Andree aahk.. ooh.." sambil menjilat kulihat muka Ibu Darwin sedang dibersihkan dengan selimut oleh Rahmat. "Rahmat, kau jangan kecewakan saya. Buktikan jikalau kau perkasa, ayo bangkit lagi ayoo!" sambil tangannya mengocok dan memainkan rudal si Rahmat. Setelah puas bahkan bosan menjilat, aku merebahkan diri di segi kanan Ibu Darwin. Tanpa kuperintah Ibu Darwin mengerti maksudku, ia bergerak menuju ke bawah, melepas celana jeansku dan celana dalamku, kemudian mengulum dan menhisap benda yang ada di baliknya.

Aku benar- benar terbang seraya tanganku memeras rambutnya. "Aduuh Ibu Darwin, anda mahir sekali ooh." Setelah beberapa ketika lamanya kemudian, penisku mulai bertingkah, kurasakan mirip sebuah cairan di dalamnya akan segera keluar. Aku terbangun dari posisi rebah, dan berlutut di ranjang. Sementara Ibu Darwin masih menelan dan mongocok penisku dengan mulutnya, lalu kupegang bersahabat kepalanya dengan kedua tanganku sementara Ibu Darwin melingkarkan tangannya di pantatku. Lalu kubenamkan seluruh batang penisku ke mulutnya dan akibatnya.. "Oooh, aduuh uhhs, Ibu Darwiin anda, anda.. hebat.." spermaku keluar bagai air bah, dan membanjiri ekspresi dan rongga tenggorokan Ibu Darwin. Kulihat Ibu Darwin dengan terpejam menelan semua spermaku tanpa sisa. Membuatku jadi jijik melihatnya. Aku melepaskan cengkeraman tanganku di kepalanya dan kembali rebah di ranjang. Lalu Ibu Darwin pergi ke kamar mandi yang ada di dalam kamar itu juga dan membersihkan diri. Waktu itu pukul 23.45.

Begitulah, kami meneruskan pesta kami sampai puas. Kami melakukan semua gerakan, posisi dan teknik dari semua khayalan kami. Benar-benar tanpa batas. Sampai menjelang pukul 06.00 pagi hari Minggu, dikala 2 putri Ibu Darwin bangun, khususnya si Wanda, kami mengunci diri di kamar tersebut sambil membersihkan diri, mandi. Kira-kira pukul 07.30, paman mereka, adik Pak Darwin datang dan menjemput keduanya, si kecil dan Wanda, tamasya ke luar kota. Hebatnya, ibu mereka tidak berpartisipasi dengan mereka walaupun beliau merasa berat. Ibu Darwin ternyata menepati perjanjiannya dengan kami untuk selama 2 hari melayani nafsu kotor kami. Akhirnya kami melakukannya lagi dimanapun dan kapanpun kami suka. Ibu Darwin betul-betul adalah perempuan yang besar lengan berkuasa meskipun tak sekuat kami pastinya. Dia membuktikannya dengan melayani kami secara bergantian dari mulai pagi sampai malam hari. Seperti pada sekitar pukul 13.00, 1 jam seteleh beliau senggama dengan Rahmat dia menuju ke dapur dan makan, lalu mandi. Tepat pada dikala itu nafsu birahiku mulai berdiri dan kuputuskan untuk melampiaskannya di kamar mandi. Kuketok pintu kamar mandi, dengan tanpa mengajukan pertanyaan pintu langsung dibukanya. Kulihat panorama yang indah, Ibu Darwin bangkit dengan keadaan persis seperti Hawa dikala beliau gres diciptakan, telanjang bulat. "Oh kamu Andre, kenapa? minta lagi? kalian ini memang perkasa, namun aku masih lelah. Kamu mampu tunggu 1 jam lagi nggak?" "Haa? 1 jam? Nggak, aku maunya kini." Lalu kuremas pantat Ibu Darwin dan mulai kusapukan lidahku ke liang peranakannya.

 Ibu Darwin cuma bisa mendesah dan mulai bereaksi menyandarkan dirinya ke dinding kamar mandi. "Auuh, ooh, sshaa.. lebih cepat Andre, lebih singkat, ookh.." Aku puas menikmati vagina Ibu Darwin yang masih berbau harum sabun. Lalu sambil bangun kudorong Ibu Darwin untuk berlutut dan menghisap kemaluanku. Dan Ibu Darwin melayaniku dengan baik, ia menghisap penisku dengan gerakan cepat kelihatan mirip rakus. Setelah hampir setengah jam menghisap, dengan masih menelan penisku tiba- datang beliau berhenti. "Eeemmh, oockh," Ibu Darwin baru saja meminum semua spermaku yang kutembak dalam mulutnya. Kemudian Ibu Darwin membalikkan dirinya membelakangiku, sambil masih bangkit dia membungkuk. Lalu kupeluk beliau dan kutelusupkan penisku yang sudah tegang itu dari belakang.

Kami berdua menikmatinya dengan kalem. Kami bahkan bercerita dan tertawa sambil aku tetap mengocoknya dari belakang. Dan saat yang paling nikmat datang, Ibu Darwin mulai merintih tegang dan aku mulai mencicipi kontraksi dalam penisku. "Oh oh oh oh, Andree, eehk, eehk, eehk, saya telah nggak berpengaruh lagi Andre, ssaya habiss.. oohh!" bersama-sama dengan itu spermaku kembali keluar. Lalu kami terkulai lemas dan bersandar di dinding sambil berangkulan. Itulah kesepakatankami dengan Ibu Darwin yang ditulisnya di dalam surat 3 bulan kemudian. Kini kami semua berpisah. Aku sukses masuk tes tingkat nasional pendidikan perguruan tinggi di Jawa Tengah, Rahmat meneruskan pendidikannya di sekolah tinggi tinggi negeri di Bandung, dan alhasil Pak Darwin memboyong keluarganya pindah ke Kalimantan. 5 tahun berlalu, kedua orang tuaku pindah ke Sulawesi, saya ditugaskan di Jakarta ketika saya menerima surat dari Rahmat dan menceritakan bahwa ia akan berangkat ke Jerman untuk semacam pendidikan khusus. Raih cita-citamu setinggi mungkin mitra, supaya berhasil.

0 Response to "Dongeng Cukup Umur Kenakalan Ku"

sosial bar