Kisah Asusila Dengan Wanita Jakarta
By Blinger
—
Selasa, 20 Februari 2018
—
Add Comment
—
Cerita Dewasa,
Cerita Lesbian,
Cerita Mesum,
Cerita Ngetot,
Cerita Sex
Pesonaceritaku.com - Cerita Mesum Dengan Wanita Jakarta - Waktu itu saya semester 3 di tahun 2014 aku berkenalan dengan cewek yang bernama Yusii usiaku saat itu 21 tahun sedangkan ia 23 tahun, ketika itu Yussi melakukan pekerjaan di salah satu perusahaan swasta sebagai progamer, permulaan pertemuan kita berasal dari chatroom lam keloamaan kita saling bersahabat dan pernah ketemuan. Setelah persahabatan kami berlangsung 1 tahun kesannya kami mempunyai potensi untuk ber-copy darat. Aku memperoleh potensi untuk berlibur di Jakarta. Singkat kisah akupun sampai di Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan dengan berbekal beberapa lembar foto kirimannya, aku sore harinya pergi ke Mall Taman Anggrek untuk menemuinya.
Cerita Mesum Dengan Wanita Jakarta
Pertama sekali kumelihatnya, aku sangat tertegun. Bagiku, Yussi lebih manis aslinya daripada di fotonya. Ditunjang lagi oleh penampilannya yang makin remaja yang disesuaikan dengan profesinya sekarang selaku programer software di PT JS di daerah Gatot Subroto Jaksel.
Hal ini membuat aku kian terpesona dengannya dan membuat birahiku naik pelan-pelan. Setelah bertemu, kami berdua mengelilingi Taman Anggrek hingga malam dan dinner disana. Setelah dinner kami berkesempatan mengelilingi Jakarta dan kesudahannya kami pulang dan kuantar dia hingga ke rumahnya di daerah Duri Kepa Jakarta Barat.
Pertemuan itu menjinjing kenangan tersendiri bagiku dan oleh karena itu aku kembali mengajak Yussi keluar jalan-jalan keesokan harinya yang bertepatan dengan malam ahad. Keesokan harinya, pagi-pagi benar aku menjemput Yussi setelah itu kami pergi makan pagi bareng dan mengelilingi Jakarta beserta mallnya hingga jam 10 malam.
Sebenarnya aku masih sungguh ingin bersamanya hingga larut malam, tetapi Yussi menolak sebab katanya tidak ada yang mempertahankan rumah, sebab Papa, Mama, Koko, Kakak ipar dan Dedenya sedang ke Bogor menghadiri kondangan familinya.
Sebenarnya saya kecewa juga mendengar penolakannya itu, tetapi kekecewaanku ternyata tidak usang. Terbukti Yussi waktu itu eksklusif mengajakku untuk menginap di rumahnya, alasannya ia tidak berani tidur sendirian.
Akupun tidak mengiyakan secara pribadi penawarannya itu, aku berpikir beberapa menit. Setelah berpikir beberapa menit aku pun mengiyakan ajuan Yussi dan sepertinya dia sungguh bahagia sekali. Akhirnya kami sampai di rumahnya pukul 10 lewat 30 malam.
Segera setelah turun dari mobil, Yussi membuka pintu pagar dan pintu rumah. Lalu akupun masuk ke dalam rumahnya yang lumayan besar itu dan menempelkan pantatku pada kursi sofa di ruang tamunya.
Seketika itu pikiranku terbang-layang membayangkan seandainya aku dapat menyalurkan hasratku pada Yussi. Terus terperinci saja, selama ini saya senantiasa horny kalau mendengar suara dari Yussi dan saya pun selalu beronani membayangkan sedang menyetubuhinya.
Bahkan tidak jarang pada dikala kutelepon dia, aku sedang naked dan beronani sambil bertelepon dengan beliau dan Yussi pun tahu seluruhnya itu. Setelah mengunci pintu rumahnya, Yussi permisi padaku untuk mandi dan aku pun mengiyakannya.
Mendengar Yussi mau mandi pikiranku bertambah kotor setelah sebelumnya aku membayangkan bisa menyetubuhinya. Lalu dengan langkah berjingkat-jingkat kuikuti langkah Yussi yang berjalan ke arah kamar mandi di ruang makan sampai saya melihat Yussi masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintunya.
Akupun segera memutar otakku mencari celah semoga dapat mengintip Yussi. Namun belum sempat aku menerima cara mengintip yang pas, tiba-datang Yussi keluar dari kamar mandi dengan naked dan berteriak alasannya ada kecoa. Aku yang menyaksikan Yussi keluar dengan naked hanya mampu terpaku dan membisu. Mataku langsung tertuju pada dua daging kenyal yang bergantung di dadanya.
Sungguh indah sekali buah dada Yussi yang berukuran 34 A (kuketahui ukurannya, alasannya adalah saya pernah menanyakan ukuran bra nya melalui SMS dan dia pun menginformasikan saya) dengan putingnya yang berwarna kecoklatan.
Ingin rasanya lidahku pribadi menyeruput kawasan dadanya itu. Pandangan mataku kini tertuju pada lubang vaginanya yang ditumbuhi oleh ilalang asmara meskipun tidak begitu lebat. Penisku pun pribadi berdiri dan berdiri tegak.
Waktu itu yang cuma ada di pikiranku hanyalah bagaimana caraku untuk meniduri Yussi. Tanpa pikir panjang akupun mendekati Yussi dan kurangkul tubuhnya lalu kutempelkan bibirku pada bibirnya yang lembut mereka itu.
Yussi tidak menunjukkan perlawanan bahkan dia pun mengulum bibirku.
“Ah..” beliau mendesah. Aku pun semakin berani sesudah mendengar desahannya itu. Lidahku keluar masuk ke rongga mulutnya yang mungil dan tanganku pun bergerilya meremas-remas dan kadang-kadang meraba-raba onggokan daging kenyal di dadanya sambil memilin-milin putingnya yang telah mulai mengeras.
Sementara itu dia juga mulai mencoba menawan resleting celanaku dan tanpa kesusahan beliau berhasil menurunkan celanaku dan menawan kaosku serta melemparnya ke lantai kamar mandi. Saat itu, beliau sedikit terkejut, saat tanpa sengaja tangannya menyentuh penisku yang masih dilapisi oleh celdamku.
“Oh.. Very big buanget tongkolmu, Dave” Aku hanya menanggapinya dengan senyum dan tanganku masih bekerja memilin-milin puting susunya. Ciumanku mulai kuarahkan ke lehernya dan terus turun ke bawah dan berhenti di bagian putingnya.
Di sini saya permainkan putingnya yang indah itu dengan lidahku. Terkadang kuemut, kuhisap dan kugigit lembut putingnya itu, sehingga membuat Yussi tak kuasa untuk menahan hawa nafsunya yang sudah hampir meledak.
Tampaknya beliau juga sudah tidak sabar untuk melihat dan mencicipi penisku sebab Yussi sedang berusaha menarik turun sempakku. Dan kemudian tanpa halangan yang memiliki arti Yussi kesannya berhasil menurunkan celdamku.
“Jangan disini Yos, kita cari kawasan yang yummy, ok? Gimana kalau kita maen di kamar kamu Yos?” “Oh iya.. Enakan di kamar gue. Kita bisa ngent*t sampe puas”.
Lalu kugendong tubuhnya ke loteng dan kubawa ke dalam kamar tidurnya dan selanjutnya kurebahkan badan bugilnya diatas ranjang alga yang empuk. Tanpa menunggu lebih lama lagi, secepatnya kuhisap puting susunya yang telah semakin mengeras lagi.
“Ah.. Dave,” pekiknya.
“Yos.. Toket loe indah buanget. Gue suka buanget sama toket loe,” celetekku dengan sarat nafsu.
“Terus Dave.. Oh.. Geli..” desahnya. Mendengar desahannya aku semakin garang. Lambat laun ciumanku merambat turun ke pusarnya kemudian ke gundukan di selangkangannya. Kemudian kumainkan clitorisnya dengan lidahku dan saya terus memasukkan ujung lidahku ke dalam lubang vaginanya yang harum itu.
Kemudian ia mengangkat pinggulnya dan berseru, “Oh.. My god.. Is very great.. Oh.. God..” Sementara saya masih mempermainkan wilayah vaginanya dengan lidahku, Yussi semakin kencang menggoyang-goyangkan pinggulnya, lalu dengan datang-datang beliau berteriak,
“Dave.. aku.. ke.. lu.. aarr..” dan seketika itu badan Yussi mengejang dan matanya terpejam. Sementara itu di gua keramatnya terlihat cairan kewanitaannya membanjiri vaginanya. Kuhisap cairannya itu dan kurasakan bagus bercampur asin dengan aroma yang wangi dan hangat.
Kuhisap cairannya dengan rakus sampai habis dan tubuhku kembali merambat ke atas menghisap putingnya kembali yang tampak indah bagiku. Rasanya bibirku masih belum puas menyusui putingnya itu.
Tak lama kemudian kulihat Yussi kembali menggeliat-geliat dan mendesah-desah. Ia terlihat terangsang kembali dan memintaku untuk secepatnya memasukkan penisku yang berukuran 16 cm dengan diameter 3 cm ke dalam gua keramatnya yang telah berair sekali.
“Ayo.. Dave.. Masukkan tongkolmu ke memiawku. Gue sudah enggak tahan lagi,” pintanya. Tanpa menanti lebih usang lagi kuarahkan penisku ke dalam lubang vaginanya dan pelan-pelan tetapi pasti penisku pun mulai menyeruak masuk ke dalam lubang vaginanya yang masih sempit (maklumlah Yussi masih virgin) dan risikonya penisku berhasil masuk 3/4 ke dalam lubang vaginanya.
“Aduh.. Pelan-pelan ya, please,” erangnya sedikit tertahan. Kembali kutekan penisku untuk masuk ke lubang vaginanya secara perlahan sehingga jadinya saya sukses memasukkan semua penisku ke dalam lubang vaginanya dan menyentuh dasar vaginanya.
“Oh.. Nikmat buanget..” katanya yang diikuti dengan desahan halus. Aku makin agresif untuk menggenjotnya setelah mendengar desahan dan erangannya. Semakin beliau mendesah, saya kian mempercepat genjotanku di lubang vaginanya.
“Oh.. Dave.. ak.. uu.. suudahh.. ma.. uu.. kke.. luarr.. rr.. laggii..” “Tahan Yos.. aku juga.. u.. da.. mau.. ke.. luuaarr, keluarkan di.. mana.. Yos?” tanyaku.
“Di.. Da..” Belum sempat ia menjawab, saya sudah tak mampu menahannya lagi, sehingga balasannya, Crot.. Crot.. Crot.. Crot..! Beberapa kali penisku menembakkan maniku yang banyak ke dalam lubang vaginanya dan dikala itu juga saya mencicipi cairan hangat Yussi beserta fatwa darah perawannya menyelimuti batang penisku yang masih tegak di dalam vaginanya.
“Terima kasih Yos.. Kamu telah menawarkan saya kenikmatan malam ini..” ujarku sambil mengecup lembut bibirnya dan menarik keluar penisku.
“Aku juga hendak dapatkan kasih ke kamu, dikarenakan telah memuaskan nafsuku untuk melaksanakan hubungan sex denganmu yang selama ini kupendam dalam anganku,” katanya tanpa aib-aib dengan mata yang sayu.
“Ayo.. Kita mandi berdua,” ajaknya sambil menawan tanganku. Dan di kamar mandi itu, batang penisku kembali bereaksi dikala Yussi mengelus-elusnya. Tanpa malu-aib aku eksklusif menarik pinggang Yussi dan menyuruhnya menungging ke arahku.
Aku pun secara perlahan lahan memasukkan penisku yang sudah menegang ke sela-sela pantatnya yang tidak begitu besar. Sejenak, Yussi tersentak, namun hal itu cuma berjalan sebentar saja, sebab Yussi kemudian menggerak-gerakkan pinggulnya dikala dinikmati penisku sudah masuk semuanya ke dalam lubangnya.
“Ah.. Dave.. a.. kk.. uu.. ke.. ll.. uu.. aa.. rr.. l.. aa.. g.. ii..” erangnya dengan lembut. “A.. k.. u.. juu.. ggaa..” kataku sambil menyemprotkan maniku ke lubang vaginanya kembali. Setelah itu kami melanjutkan program mandi kembali dan sesudah mandi, sebelum tidur, aku mengent*tnya sekali lagi.
Keesokan paginya pada ketika aku bangun jam 7 pagi kembali kugenjot ia dan malam harinya kami kembali ber-ML ria.. Sungguh piknik yang berkesan dengan sahabat chatting. Terima kasih Yussi atas virginmu

0 Response to "Kisah Asusila Dengan Wanita Jakarta"