728 x 90

Native bar

Cerita Sex Di Hotel Vip

 Pesonaceritaku.com - Cerita Sex Di Hotel VIP - Di Cengkareng seseorang telah menanti kedatanganku dan kami pribadi meluncur menuju Hotel Regent yang letaknya saya sendiri tak tahu dimana, yang terang di Jakarta. Ini adalah pertama kali aku mendapat bookingan untuk terbang melayani tamu di Jakarta, bagiku tamunya sih tidaklah hebat meskipun termasuk VIP, telah lazimkulakukan, tapi yang agak beda ialah saya yang melayang menemui beliau.

“Tolong layani beliau dengan baik, beliau seorang pejabat tinggi di negeri ini” begitu pesan penjemputku yang ialah orang suruhan GM yang mengatur perjalanan dan booking-anku.

 Di Cengkareng seseorang sudah menunggu kedatanganku dan kami langsung meluncur menuju Hot Cerita Sex Di Hotel VIP
Cerita Sex Di Hotel VIP

Sesampai di hotel kami pribadi menuju ke kamar yang telah dipersiapkan, ditinggalnya saya sendirian menanti tamuku yang katanya pejabat tinggi itu, ia menanti beliau di lobby. Jarum jam menunjuk ke angka 11:30, mungkin nanti baru jam 12.00 tamuku akan datang, mempunyai arti ada waktu setengah jam untuk menyegarkan diri di bathtub.

Sebelum saya beranjak menuju kamar mandi, terdengar telepon berdering, secepatnya kuangkat.
“Halo, Selamat Siang, ini Lily?” Tanya bunyi dengan nada berat.
“Siang, betul aku sendiri, ini siapa?” tanyaku balik, padahal hanya GM dan tamuku saja yang tahu keberadaanku.

“Bapak sebentar lagi nyampe, mungkin 15 menit lagi, kau kalem aja dahulu menanti dia”
“Siap Boss ” jawabku santai, kubatalkan acara ke kamar mandi.
Sambil menanti kedatangan beliau, kurapikan make up yang agak acak-acakan selama perjalanan di pesawat.
Ternyata tak hingga 15 menit bel kamar berbunyi, segera kusambut kedatangan ia yang katanya pejabat tinggi itu. Didampingi seorang ajun dan orang yang menjemputku tadi, masuklah bapak pejabat itu, segera kukenali bahwa dia yaitu seorang Menteri yang masih aktif pada sebuah departemen yang cukup disegani, namanya sebut saja Pak Usman.

“Bapak tak memiliki waktu, temani ia dengan baik, setuju” pesan yang sama kuterima lagi,
“Beres Boss” jawabku singkat, alasannya ia bukanlah pejabat tinggi yang pertama kali kulayani, jadi tak ada rasa canggung atau minder berhadapan dengan ia.
“Pak kita di lobby, jika ada apa apa just call me” katanya pada Pak Usman lalu mereka meninggalkanku berdua.

Aku maklum, selaku seorang Menteri tentu acaranya sungguh padat namun masih sempat juga dia menyempatkan waktu untuk kesenangan dunia yang satu ini.

Kami mengobrol ringan, lazimsekedar menghilangkan kekakuan pada orang yang pertama kali bertemu. Seperempat jam berlalu, Pak Usman telah memindah duduknya di sebelahku, kusandarkan kepalaku di pundaknya, beliau membalas dengan rangkulan dan elusan di rambut.
“Kulepas dahulu ya Pak, biar nggak terlalu ribet dan lebih kalem” kataku sembari melepas blazer hitam yang menutupi tubuhku.

Sesuai pesan dari GM yang mem-booking, saya diminta mengenakan busana resmi seperti orang kantoran, semoga nggak terlalu mencolok, katanya. Kuturuti permintaannya, kukenakan setelan Blus merah tanpa lengan dipadu dengan rok hitam yang sedikit di atas lutut, Blazer hitam menutupi bagian atasku ditambah stocking sewarna kulit menghiasi kakiku.

Pak Usman menarikku dalam pangkuannya, diciuminya pipi dan leher jenjangku, tangannya sudah menggerayang di daerah dada, meraba dengan remasan ringan. Kami berciuman, tangan beliau sudah menyelinap di balik blus merahku, remasannya semakin keras. Aku merosot dari pangkuannya, berlutut diantara kakinya, sengaja kugoda dengan membuka resliting celananya dan kukeluarkan kejantanan yang sudah tegang mengeras. Tidak ada yang special, sama dengan umumnya namun not so bad untuk seusia ia, kuremas dan kupermainkan jari jemariku pada penisnya, ia mulai mendesis, matanya melototi tanganku yang putih cekatan bermain di penis coklatnya.

“Masukin” perintah dia pelan namun tegas mirip memerintah anak buahnya, agak ragu aku melakukannya, apalagi dengan penis yang coklat kehitaman, terkesan kurang bersih.
Melihat keraguanku, Pak Usman memegang kepalaku, ditekannya ke arah penis hingga wajahku melekat di selangkangannya.

Sambil mengumpat dalam hati saya cuma tersenyum manja menerima perlakuannya, bukan sekali ini kualami perlakuan bernafsu dan sok kuasa dari tamuku, mentang mentang aku dibayar, semua kupendam dalam dalam, anggap saja sebagai resiko pekerjaan.
“Lepas dahulu bajunya Pak, ntar kusut” kucoba mengalihkan perhatian dengan mencopot baju safarinya.
Sesaat aku terbebas dari tekanannya, kulepas baju dan celananya sekaligus, akupun ikutan melepas blus dan rok-ku, menyisihkan bikini merah tua dan stocking.

Kucoba menarik perhatiannya dengan menonjolkan ke-sexy-an tubuhku, dengan gerakan erotis satu persatu kulepas sisa sisa epilog tubuhku, tali bra merosot ke lengan, perlahan kuturunkan dan kulepas sampai terpampanglah kedua bukit indahku, celoteh kekaguman keluar dari ekspresi ia. Aku sengaja ingin menjadikannya kepincut akan kemolekanku, biar terhindar dari paksaan permainannya, bagiku lebih baik ia yang aktif menikmati tubuhku dari pada saya mesti terjebak alur permainan yang tidak aku senangi, apalagi dengan dia yang usianya lebih tua dari Papaku. Bra yang sudah terlepas kulempar ke tampang dia, ia tersenyum saja, ketika kusodorkan kedua buah dadaku di hadapannya, tangannya pribadi meraih dan meremas remas gemas sambil mempermainkan putingku. Langsung kuraih kepalanya yang agak botak dan kubenamkan di dada, dia menuruti kemauanku, lidahnya menjilati putingku secara bergantian kemudian mengulum dengan sarat nafsu.

Tangannya yang mulai menjelajah di selangkanganku kutepis halus, belum waktunya, bisikku. Aku kembali menjauh melanjutkan gerakan menggoda, pelan pelan kulorotkan celana dalam mini yang masih menempel, namun sebelum benar benar terlepas Pak Usman menerkamku, hamper terjatuh aku dibuatnya, untung dengan gesit ia menangkap tubuhku, dan kamipun terjatuh di ranjang sambil tertawa lepas. Kami berangkulan bergulingan di ranjang, beliau melumat bibirku dengan ganas. Aku menggelinjang geli dikala ciumannya menyusuri leher dan dadaku, kuluman bernafsu penuh nafsu bermain main di puncak bukitku, terasa agak nyeri dengan kekasarannya.

Kubiarkan ia menyentuh seluruh tubuhku dengan bibir, lidah dan tangannya, bahkan dikala dua hingga jari tangannya mengocok vaginaku, akupun hanya mendesah pasrah menerimanya. Beberapa kali turun naik dari kepala hingga kaki dia menjelajah seluruh tubuhku, termasuk punggung dan pantat, tampaknya tak ada sejengkalpun tubuhku yang terlepas dari jamahannya, tak kusadari bila stockingku sudah tidak berada ditempatnya. Puas menikmati tubuhku, kutuntun penisnya ke selangkangan, tanpa usapan pemanasan dia langsung melesakkan kejantanannya ke liang senggamaku. Aku tersentak terkejut dengan kekasarannya, namun tak berlangsung usang dikala Pak Usman mulai kocokannya dengan tempo tinggi.

Kejengkelanku perlahan lahan menjelma kenikmatan beberapa menit lalu, ternyata alunan permainannya berhasil membuaiku mengarungi lautan nikmat bersama sama, desahankupun mulai terdengar sarat gairah.
Kuangkat kedua kakiku yang masih bersepatu ke pundaknya, beliau tersenyum sambil mempercepat sodokannya, aku menggeliat nikmat seraya meremas remas buah dadaku sendiri. Belum sempat aku menggapai puncak kenikmatanku, ketika Pak Usman tanpa tanda tanda langsung menyemprotkan spermanya ke vaginaku, kurasakan cairan hangat membasahi dan memenuhi liang senggamaku, ada sedikit kecewa namun bukanlah hakku untuk menuntut lebih. Kuraih penisnya dikala ditarik dari vaginaku, dengan mengabaikan rasa jijik kukocok dengan tanganku, beliau menjerit geli, lalu kuusapkan ke buah dadaku.
“Kamu memang badung dan cendekia menarik hati orang” komentarnya, saya hanya senyum senyum saja seraya beranjak ke kamar mandi membersihkan diri.

Ketika saya keluar, Pak Usman sudah berpakaian rapi bersiap untuk pergi.
“Lho kok buru buru sih Pak, kan masih belum jam satu” saya merajuk bergelayut di lengannya menggandeng duduk kembali di sofa.

Masih telanjang kutemani beliau menghabiskan waktu hingga jam satu, masih 20 menit lagi, meski aku tidak terlampau menikmati bercinta dengannya, namun sudah tugas pekerjaanku untuk menjadikannya merasa perkasa dan dibutuhkan. Dua batang rokok sudah ia habiskan sambil ngobrol, mendekati pukul satu tanganku menggerayangi selangkangannya, sudah kembali tegang, apalagi melihat saya yang senantiasa telanjang disampingnya.

“Sekali lagi ya Pak” rayuku seolah saya ketagihan dan minta lagi.
“Jangan waktu kembali ke kantor” tolaknya tanpa berusaha menghentikan tanganku yang membuka resliting dan mengeluarkan penisnya. Matanya terpejam dikala tanganku mengocoknya.
“Sebentar aja ya Pak” kataku, tanpa menunggu jawabannya saya lansung ambil posisi di pangkuannya, kami saling berhadapan.
Kubasahi penisnya dengan ludahku, begitu tubuhku turun, kembali penisnya amblas dalam vaginaku. Aku diam sesaat mengamati expresi kenikmatan yang terpancar diwajah dia, kupeluk kepalanya dan kutempelkan di antara buah dadaku.

Pantatku bergerak maju mundur mengocok penisnya, dia mendesah, semakin cepat goyanganku, kian deras desahannya. Beliau membalas dengan sedotan besar lengan berkuasa pada putingku bergantian. Goyanganku semakin cepat bervariasi, maju mundur lalu berputar lalu berbalik arah, dan tak lebih dari lima menit dia telah mengerang orgasme, tubuhnya kaku mencengkeram pantatku, kurasakan denyutan yang tak sekeras sebelumnya, cuma enam denyutan lalu menghilang. Aku masih belum beranjak dari pangkuannya sampai napasnya normal kembali, dengan hati hati saya turun biar tidak ada sperma yang tercecer ke pakaiannya, namun tetap saja beberapa tetes keluar perihal celananya, beliah cuma tersenyum menepuk pantatku.

“Kamu memang bandel” katanya sambil mencubit kedua pipiku.
“Udah dulu ya, ntar Bapak terlambat ke kantor ” kataku menarik hati ketika membersihkan penis dan kukecup lalu memasukkan kembali ke celananya.

Kuperiksa kerapihan pakaiannya sebelum meninggalkan kamar.
“See you nanti sore selepas jam kantor” katanya sehabis mengecup bibirku dan keluar kamar.
“Dasar si tua tak tahu diri” gerutuku sepeninggal ia.

Kuhabiskan setengah harian di kamar tanpa keluar, menanti kedatangan Pak Usman nanti sore, makan siang kupesan dari Room Service. Setelah mandi membersihkan diri, kurebahkan tubuhku di ranjang sampai tertidur. Tapi tidurku tak mampu nyenyak, lebih dari 4 kali Pak Usman maupun suruhannya meneleponku, baik lewat HP maupun ke hotel, sekedar menanyakan apakah sudah makan atau apakah ingin jalan atau pertanyaan lainnya yang memberikan perhatiannya. Namun semua itu bagiku yaitu cerminan ketidak percayaan padaku, mungkin mereka menduga jikalau saya akan pergi menerima tamu yang lain selama Pak Usman tak ada. Tentu saja saya tak pernah melakukan itu, aku mesti bersikap professional dan loyal pada tamu yang telah mem-booking.

Setengah jam sebelum pukul lima sore, aku bersiap menyambutnya, kukenakan lingerie hitam yang sexy tanpa bra dan bikini lagi, sangat kontras dengan kulit putihku. Aku ingin memberinya kejutan ketika ia masuk ke kamar ini. Tepat pukul 5 sore Pak Usman telah berada kembali di kamar ini, rupanya ia tak inginmembuang waktu dengan percuma, begitu jam kerja selsai lansung meluncur ke hotel yang letaknya hanya 10-15 menit perjalanan. Sorot kekaguman dan sejuta pujian eksklusif terucap melihat penampilanku yang begitu erotis dan menantang, kulihat dia menelan ludah mirip kucing yang melihat ikan siap santap di atas meja.

Pak Usman pribadi memelukku, dengan sepatu hak tinggi yang kukenakan, relative saya lebih tinggi, bibir dia yang berada sempurna di leherku secepatnya beraksi, menciumi leher dan bahu hingga lengan. Sambil bersandar di dinding, kubiarkan Pak Usman menyusuri seluruh lekuk tubuhku dengan bibir dan lidahnya, tangannya bergerilya menjarah di tempat selangkangan dan jarinya pribadi menyelinap di liang kenikmatanku yang tidak mengenakan celana dalam. Kubuka kakiku lebih lebar, saya ingin menikmati bagaimana kepala Pak Menteri yang terhormat berada di selangkanganku, moment itulah yang paling saya sukai bila melayani pejabat tinggi.

Pak Usman dengan rakus melahap kedua buah dadaku, disedot dengan kuatnya, saya menggelinjang geli. Begitu bernafsunya dia mengulum sampai tubuhku terdorong ke belakang, terduduk di meja sebelah TV. Ciuman Pak Usman telah berpindah ke paha, lingerie yang kukenakan tak diijinkan dilepas meski sudah acak acakan melekat di tubuhku. Moment yang kutunggu dari tadi kian bersahabat, makin menjadi realita ketika dia mulai menjilati klitoris dan bibir vaginaku. Kubentangkan kakiku kian lebar, makin masuk pula kepala ia di selangkanganku. Lingerie yang dari tadi tersingkap di perut kututupkan di atas kepala dia, hingga cuma terlihat badannya saja sementara kepalanya berada di selangkanganku tertutup lingerie. Entah sudah puas atau pengap berada di selangkanganku, beliau mempesona kepalanya keluar, baru kusadari jikalau aku belum melakukan sesuatu pada beliau, masih rapi tertutup baju safarinya.

Aku tersenyum memandang parasnya yang kemerahan dilanda nafsu, hidungnya kembang kempis seakan ingin menelanku lingkaran bulat. Sembari membuka resliting celana aku mengecup dahi botaknya, kukeluarkan penisnya yang telah keras menegang dan kutuntun ke arah gerbang nirwana dunia. Berbeda dengan tadi siang, kali ini beliau begitu romantis dan sarat perasaan melesakkan penisnya menyusuri liang sempit dan basahku sambil kami tetap berciuman bibir. Penisnya keluar masuk vaginaku pelan pelan, seakan ingin menikmati setiap detik dan setiap kenikmatan yang muncul, tangan beliaupun pelan meraba dan mengelus buah dadaku, tak ada kekerasan dalam irama permainannya. Lima menit berlalu dalam tempo romantis, satu persatu kulepas pakaiannya tanpa menghentikan permainan kami, lingerie masih menempel di tubuhku meskipun praktis tak karuan lagi letaknya.

Kami berubah posisi sehabis beliau akhirnya melepas lingerieku, menyisihkan stocking hitam dan sepatu, dari belakang sama sama bangkit menghadap cermin, aku dikocok masih dengan tempo lamban. Dari pantulan cermin mampu kulihat expresi kepuasannya ketika bercinta, dia selalu menyibakkan rambutku bila menghalangi wajahku dari cermin.

Kami seakan melihat adegan sex di layar cermin dengan peranan diri sendiri, mungkin ini memperbesar erotis beliau mampu melihat bagaimana meniduri gadis muda secantik aku. Sebaliknya dengan aku yang senantiasa menutup mata rapat rapat dikala ia menengadahkan wajahku ke arah cermin, aib aku melihat diriku sendiri sedang disetubuhi laki laki seusia Papaku, bahkan mungkin lebih bau tanah.
Tiba tiba Pak Usman menghentakku keras disusul denyutan besar lengan berkuasa dari kejantanannya memukul dinding dinding vaginaku, saya kaget, menggeliat dan menjerit, tak menduga dia menuntaskan dengan sentakan kuat seperti itu, membanjiri vaginaku dengan sperma hangatnya, tangannya mencengkeram buah dadaku dengan kuatnya, terasa sedikit sakit. Beberapa detik setelah itu kami melamun dalam posisi tetap kecuali tangannya yang beralih membelai punggung dan rambutku, beliau masih menikmati panorama kami di cermin.

“Kamu memang hot dan arif” katanya sambil mencabut kejantanannya.
Aku berbalik, kuraih kejantanannya yang mulai lemas kemudian kuusap usapkan ke tubuhku, saya tahu dari pengalaman bahwa banyak laki laki menyukai hal ini. “Bapak juga mahir, bisa lama seperti itu” jawabku menghibur dan memang untuk ukuran seusia dia bercinta 10 menit sudah ialah hal yang ahli, umumnya malah kurang dari 5 menit, cuma besar di nafsu saja.

Kami menghabiskan sore hingga malam dengan penuh gairah, Kulayani Pak Usman 2 babak lagi, meski masing masing tidak pernah lebih dari 10 menit, sebelum risikonya beliau meninggalkanku kembali ke istrinya lewat tengah malam.

“Besok pagi saya akan tiba sebelum kamu kembali ke Surabaya” pesannya sebelum meninggalkanku, aku hanya tersenyum mendengar kerakusannya.

Aku tak tahu bagaimana beliau menyingkir dari sorotan orang atas keberadaannya di hotel, tetapi aku yakin beliau telah biasa melakukan dan telah punya cara sendiri untuk menghindar. Sampai aku check out siang hari, ternyata ia tidak pernah datang menemuiku, entah apa yang terjadi, mungkin ada acara mendadak. Tak ada sesal sama sekali atas ketidak hadirannya, justru aku bersukur tak mesti melayani nafsu si tua itu lagi.
Selama melayani ia beberapa babak, dari siang hingga tengah malam, saya tak pernah menerima orgasme sekalipun, tetapi saya tak kecewa apalagi menyesalinya, toh semua itu bagian dari pekerjaanku. Orang suruhan GM-pun tak pernah nongol atau menelpon, akupun berangkat sendiri ke Cengkareng tanpa ada orang lagi yang memperhatikan seperti kemarin, apalagi tiket pulang pergi masih ditangan, jadi bukanlah persoalan besar bagiku. Yang penting semua pembayaran jasaku sudah ditransfer sebelum keberangkatanku ke Jakarta. Itulah insan, setelah akhir yang diinginkan pribadi melupakan lainnya.

0 Response to "Cerita Sex Di Hotel Vip"

sosial bar