Kisah Asusila Dengan Hawa Nafsu
By Blinger
—
Selasa, 20 Februari 2018
—
Add Comment
—
Cerita Dewasa,
Cerita Lesbian,
Cerita Mesum,
Cerita Ngetot,
Cerita Sex
Pesonaceritaku.com - Cerita Mesum Dengan Hawa Nafsu - Singkat kisah, ketika hari pertama aku ketemu dengan teman kuliahku itu, rasanya kami langsung bersahabat alasannya adalah memang sewaktu kami sama-sama duduk di bangku kuliah, kami sungguh kompak dan sering tidur bersama di rumah kostku di kota Bone. Bahkan seringkali dia mentraktirku. “Nis, aku senang sekali bertemu denganmu dan memang telah lama kucari-cari, maukah kau mengingap barang sehari atau dua hari di rumahku?” katanya padaku sambil merangkulku dengan akrab sekali. Nama teman kuliahku itu ialah “Nasir”.
Cerita Mesum Dengan Hawa Nafsu
”Kita lihat saja nanti. Yang terperinci saya sangat bersukur kita bisa ketemu di daerah ini. Mungkin inilah namanya nasib baik, alasannya saya sama sekali tidak mengira bila kamu tinggal di kota Makassar ini” jawabku sambil membalas rangkulannya. Kami berangkulan cukup usang di sekeliling pasar sentral Makassar, tepatnya di daerah dagangcakar.
“Ayo kita ke rumah dulu Nis, nanti kita ngobrol panjang lebar di sana, sekaligus kuperkenalkan istriku” ajaknya sambil menuntunku naik ke mobil Feroza miliknya. Setelah kami tiba di halaman rumahnya, Nasir terlebih dahulu turun dan segera membuka pintu mobilnya di sebelah kiri lalu mempersilakan saya turun.
Aku sangat takjub menyaksikan rumah daerah tinggalnya yang berlantai dua. Lantai bawah dipakai selaku gudang dan kantor perusahaannya, sementara lantai atas digunakan selaku kawasan tinggal bersama istri. Aku hanya ikut di belakangnya.
“Inilah hasil usaha kami Nis selama beberapa tahun di Makassar” katanya sambil menawarkan tumpukan beras dan ruangan kantornya.
“Wah cukup jago kau Sir. Usahamu cukup lemayan. Kamu sungguh sukses dibanding aku yang belum terang sumber kehidupanku” kataku padanya.
“Lin, Lin, inilah sobat kuliahku dahulu yang pernah kuceritakan tempo hari. Kenalkan istri anggun aku” teriak Nasir mengundang istrinya dan pribadi kami dikenalkan.
“Alina”, kata istrinya menyebut namanya saat kusalami tangannya sambil ia tersenyum ramah dan manis seolah memberikan rasa kegembiraan.
“Anis”, kataku pula sambil membalas senyumannya.
Nampaknya Alina ini yaitu seorang istri yang baik hati, ramah dan selalu memelihara kecantikannya. Usianya kutaksir baru sekitar 25 tahun dengan tubuh sedikit langsing dan tinggi tubuh sekitar 145 cm serta berambut agak panjang.
Tangannya terasa hangat dan halus sekali. Setelah simpulan menyambutku, Alina lalu mempersilakanku duduk dan dia buru-buru masuk ke dalam seolah ada masalah penting di dalam.
Belum lama kami bincang-bincang seputar perjalanan usaha Nasir dan pertemuannya dengan Alina di Kota Makassar ini, dua cangkir kopi susu beserta kudapan manis-kudapan manis manis disuguhkan oleh Alina di atas meja yang ada di depan kami.
“Silakah Kak, dirasakan menu ala kadarnya” usul Alina menjamah langsung ke lubuk hatiku. Selain alasannya adalah senyuman manisnya, kelembutan suaranya, juga alasannya penampilan, keelokan dan sengatan busuk farfumnya yang harum itu.
Dalam hati kecilku menyampaikan, alangkah bahagia dan bahagianya Nasir mampu menerima istri seperti Alina ini. Seandainya saya juga mempunyai istri mirip beliau, niscaya aku tidak mampu ke mana-mana
“Eh, kok malah melamun. Ada duduk perkara apa Nis hingga termangu begitu? Apa yang mengganggu pikiranmu?” kata Nasir sambil memegang pundakku, sehingga saya sungguh terkejut dan tersentak.
“Ti.. Tidak ada problem apa-apa kok. Hanya aku merenungkan sejenak wacana konferensi kita hari ini. Kenapa mampu terjadi yah,” alasanku.
Alina hanya termenung mendengar kami bincang-bincang dengan suaminya, tapi sesekali beliau memandangiku dan menampakkan wajah cerianya.
“Sekarang giliranmu Nis dongeng perihal perjalanan hidupmu bersama istri sehabis semenjak tadi cuma aku yang bicara. Silahkan saja kisah panjang lebar mumpun hari ini aku tidak ada kegiatan di luar.
Lagi pula anggaplah hari ini adalah hari keistimewaan kita yang perlu dirayakan bareng . Bukankah begitu Lin..?” kata Nasir seolah cari derma dari istrinya dan waktunya siap dipakai khusus untukku.
“Ok, bila gitu aku akan utarakan sedikit perihal kehidupan rumah tanggaku, yang sungguh bertolak belakang dengan kehidupan rumah tangga kalian” ucapanku sambil memperbaiki dudukku di atas dingklik empuk itu.
“Maaf jikalau terpaksa kuungkapkan secara terus jelas. Sebenarnya kedatanganku di kota Makassar ini justru alasannya dipicu oleh problem rumah tanggaku. Aku selalu cekcok dan berkelahi dengan istriku gara-gara aku kesulitan mendapatkan lapangan kerja yang patut dan mempu menghidupi keluargaku.
Akhirnya kuputuskan untuk meninggalkan rumah guna mencari pekerjaan di kota ini. Eh.. Belum saya peroleh pekerjaan, tiba-tiba kita ketemu tadi sesudah dua hari saya ke sana ke mari. Mungkin pertemuan kita ini ada hikmahnya. Semoga saja konferensi kita ini merupakan jalan keluar untuk menangani kesulitan rumahtanggaku” Kisahku secara jujur pada Nasir dan istrinya.
Mendengar dongeng sedihku itu, Nasir dan istrinya tak mampu berkomentar dan nampak ikut murung, bahkan kami semua melamun sejenak. Lalu secara berbarengan lisan Nasir dan istrinya terbuka dan seolah ingin menyampaikan sesuatu, namun datang-datang mereka saling memandang dan menutup kembali mulutnya seolah mereka saling mengharap untuk memulai, tetapi malah mereka ketawa terbahak, yang membuatku heran dan memaksa juga ketawa.
“Begini Nis, mungkin pertemuan kita ini benar ada hikmahnya, alasannya adalah kebetulan sekali kami butuh sahabat mirip kau di rumah ini. Kami khan belum dikaruniai seorang anak, sehingga kami senantiasa kesepian.
Apalagi jikalau saya ke luar kota contohnya ke Bone, maka istriku terpaksa sendirian di rumah meskipun sekali-kali beliau mengundang kemanakannya untuk menemani selama aku tidak ada, namun aku tetap menghawatirkannya. Untuk itu, jikalau tidak memberatkan, saya kehendaki kamu tinggal bersamaku.
Anggaplah kamu sudah peroleh lapangan kerja baru selaku sumber mata pencaharianmu. Segala kebutuhan sehari-harimu, saya coba menanggung sesuai kemampuanku” kata Nasir bersungguh-sungguh yang sesekali diiyakan oleh istrinya.
“Maaf kawan, aku tidak mau menyibukkan dan membebanimu. Biarlah aku cari kerja di tempat lain saja dan..” Belum saya selesai bicara, datang-datang Nasir memangkas dan berkata..
“Kalau kamu tolak tawaranku ini berarti kau tidak menganggapku lagi selaku sobat. Kami lapang dada dan bermaksud baik padamu Nis” katanya.
“Tetapi,” Belum kuutarakan maksudku, datang-datang Alina juga ikut bicara..
“Benar Kak, kami sangat membutuhkan teman di rumah ini. Sudah lama hal ini kami pikirkan namun mungkin baru kali ini dipertemukan dengan orang yang tepat dan sesuai hati nurani. Apalagi Kak Anis ini memang sahabat lama Kak Nasir, sehingga kami tidak butuhragukan lagi.
Bahkan kami sungguh senan kalau Kak sekalian menjemput istrinya untuk tinggal bersama kita di rumah ini” ucapan Alina memberi dorongan kuat padaku.
“Kalau begitu, apa boleh buat. Terpaksa kuterima dengan senang hati, sekaligus kuucapkan terima kasih yang tak terhingga atas kebijaksanaan baiknya. Tapi sayangnya, saya tak memiliki keterampilan apa-apa untuk membantu kalian” kataku dengan pasrah.
Tiba-tiba Nasir dan Alina bersama-sama berdiri dan pribadi saling berpelukan, bahkan saling mengecup bibir selaku tanda kegembiraannya. Lalu Nasir melanjutkan rangkulannya padaku dan juga mengecup pipiku, sehingga aku sedikit aib dibuatnya.
“Terima kasih Nis atas kesediaanmu mendapatkan tawaranku supaya kau berbahagia dan tidak kesusahan apapun di rumah ini. Kami tak memerlukan keterampilanmu, melainkan kehadiranmu menemani kami di rumah ini.
Kami hanya butuh sobat bermain dan tukar fikiran, sebab tenaga kerjaku sudah cukup untuk menolong mengurus usahaku di luar. Kami ketika-waktu membutuhkan nasehatmu dan istriku pasti merasa terhibur dengan kehadiranmu menemani bila saya keluar rumah” katanya dengan sungguh bergembira dan bahagia mendengar persetujuanku.
Kurang lebih satu bulan lamanya kami seolah hanya diperlakukan selaku raja di rumah itu. Makanku diurus oleh Alina, daerah tidurku kerap kali juga dibersihkan olehnya, bahkan beliau meminta untuk mencuci pakaianku yang kotor tapi aku keberatan.
Selama waktu itu pula, saya telah dilengkapi dengan busana, bahkan kamar tidurku dibelikan TV 20 inch lengkap dengan VCD-nya. Aku sungguh aib dan merasa berutang kebijaksanaan pada mereka, sebab selain pakaian, akupun diberi duit tunai yang jumlahnya cukup besar bagiku, bahkan belakangan kuketahui bila ia juga terkadang kirim busana dan uang ke istri dan anak-anakku di Bone melalui kendaraan beroda empat.
Kami bertiga telah cukup erat dan hidup dalam satu rumah mirip kerabat kandung bersenda gurau, bercengkerama dan bergaul tanpa batas seolah tidak ada perbedaan status seperti majikan dan karyawannya.
Kebebasan pergaulanku dengan Alina memuncak ketika Nasir berangkat ke Sulawesi Tenggara selama beberapa hari untuk menenteng beras untuk di jual di sana sebab ada ajakan dari langgarannya.
Pada malam pertama keberangkatan Nasir, Alina nampak gembira sekali seolah tidak ada kekhawatiran apa-apa. Bahkan sempat mengatakan terhadap suaminya itu kalau dia tidak takut lagi ditinggalkan meskipun berbulan-bulan lamanya karena telah ada yang menjaganya, tetapi ucapannya itu dianggapnya selaku bentuk humor terhadap suaminya. Nasir pun nampak tidak ada kegalauan meninggalkan istrinya dengan argumentasi yang sama.
Malam itu kami (aku dan Alina) menonton bareng di ruang tamu sampai larut malam, alasannya adalah kami sambil tukar pengalaman, termasuk soal sebelum nikah dan latar belakang perkawinan kami masing-masing.
Sikap dan tingkah laris Alina sedikit berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Malam itu, Alina menciptakan kopi susu dan menyodorkanku bareng pisang susu, lalu kami nikmati bantu-membantu sambil nonton. Ia makan sambil berbaring di sampingku seolah dianggap lazimsaja. Sesekali ia membalikkan tubuhnya kepadaku sambil bercerita, namun aku akal-akalan bersikap biasa, walaupun ada keluhan gila di benakku.
“Nis, kamu tidak keberatan khan menemaniku nonton malam ini? Besok khan tidak ada yang mengusik kita sehingga kita bisa tidur siang sepuasnya?” tanya Alina datang-datang seolah dia tak mengantuk sedikitpun.
“Tidak kok Lin. Aku justru bahagia dan senang mampu nonton bersama majikanku” kataku sedikit menyanjungnya. Alina kemudian mencubitku dan..
“Wii de.. De, kok saya dibilangin majikan. Sebel aku mendengarnya. Ah, jangan ulang kata itu lagi deh, saya tak sudi dipanggil majikan” katanya.
“Hi.. Hi.. Hi, tidak salah khan. Maaf kalau tidak bahagia, aku cuma main-main. Lalu saya mesti panggil apa? Adik, Non, Nyonya atau apa?”
“Terserah dech, yang penting bukan majikan. Tapi saya lebih seneng jika kau mengundang saya adik” katanya santai.
“Oke jika begitu maunya. Aku akan panggil adik saja” kataku lagi.
Malam semakin larut. Tak satupun terdengar bunyi kecuali bunyi kami berdua dengan suara TV. Alina datang-tiba bangun dari pembaringannya.
“Nis, apa kamu sering nonton kaset VCD bareng istrimu?” tanya Alina dengan sedikit rendah suaranya seolah tak ingin didengar orang lain.
“Eng.. Pernah, tetapi sama-sama dengan orang lain juga alasannya kami nonton di rumahnya” jawabku menyembunyikan sikap keherananku atas pertanyaannya yang tiba-tiba dan sedikit aneh itu.
“Kamu ingat judulnya? Atau jalan ceritanya?” tanyanya lagi.
“Aku lupa judulnya, namun pemainnya adalah Rhoma Irama dan ceritanya adalah masalah percintaan” jawabku dengan akal-akalan bersikap biasa.
“Masih mau ngga kamu temani aku nonton film dari VCD? Kebetulan aku punya kaset VCD yang banyak. Judulnya macam-macam. Terserah yang mana Anis suka” tawarannya, namun aku sempat berfikir kalau Alina akan memutar film yang abnormal-asing, film orang cukup umur dan umumnya khusus ditonton oleh suami istri untuk membangkitkan gairahnya.
Setelah kupikir segala resiko, iktikad dan dosa, saya kemudian bikin alasan.
“Sebenarnya saya bahagia sekali, namun saya takut.. Eh.. Maaf aku sungguh ngantuk. Jika tidak keberatan, lain kali saja, niscaya kutemani” kataku sedikit bimbang dan takut alasanku salah. Tapi kesudahannya beliau terima meskipun tampaknya sedikit kecewa di parasnya dan kurang semangat.
“Baiklah jikalau memang kau telah ngantuk. Aku tidak mau sama sekali memaksamu, lagi pula saya sudah cukup senang dan bahagia kau bersedia menemaniku nonton hingga selarut ini.
Ayo kita masuk tidur” katanya sambil mematikan TV-nya, namun sebelum saya menutup pintu kamarku, aku menyaksikan sejenak dia sempat memperhatikanku, tetapi aku akal-akalan tidak menghiraukannya.
Di atas tempat tidurku, saya bingung dan resah mengambil keputusan tentang alasanku kalau besok atau lusa dia kembali mengajakku nonton film tersebut. Antara mau, aib dan rasa takut selalu menghantukiku.
Mungkin ia juga mengalami hal yang sama, sebab dari dalam kamarku selalu terdengar ada pintu kamar terbuka dan tertutup serta air di kamar mandi selalu kedengaran tertumpah.
Setelah kami makan malam bersama keesokan harinya, kami kembali nonton TV sama-sama di ruang tamu, tapi penampilan Alina kali ini agak lain dari lazimnya . Ia berpakaian serba tipis dan tercium wangi farfumnya yang harum menyengat hidup sepanjang ruang tamu itu.
Jantungku sempat berdebar dan hatiku bingung mencari argumentasi untuk menolak ajakannya itu, walaupun gejolak hati kecilku untuk mengikuti kemauannya lebih besar dari penolakanku. Belum aku sempat mendapatkan argumentasi sempurna, maka
“Nis, masih ingat janjimu tadi malam? Atau kamu telah ngantuk lagi?” pertanyaan Alina tiba-datang mengagetkanku.
“O, oohh yah, saya ingat. Nonton VCD khan? Tapi jangan yang seram-menakutkan donk filmnya, aku tak suka. Nanti aku mimpi jelek dan membuatku sakit, khan repot karenanya” jawabku mengingatkan untuk tidak memutar film porn.
“Kita liat aja permainannya. Kamu niscaya bahagia menyaksikannya, alasannya aku yakin kau belum pernah menontonnya, lagi pula ini film gres” kata Alina sambil menjangkau kotak yang berisi setumpuk kaset VCD lalu mempesona sekeping kaset yang paling di atas seolah beliau telah mempersiapkannya, kemudian memasukkan ke CD, kemudian mundur dua langkah dan duduk di sampingku menanti apa gerangan yang hendak muncul di layar TV tersebut.
Dag, dig, dug, getaran jantungku sangat keras menanti gambar yang mau tampil di layar TV. Mula-mula saya percaya bila filmnya adalah film yang dapat dipertontonkan secara umum alasannya gambar pertama yang muncul adalah dua orang gadis yang sedang berloma naik speed board atau sampan dan saling membalap di atas air sungat.
Namun dua menit kemudian, muncul pula dua orang laki-laki memburuhnya dengan naik kendaraan yang sama, karenanya keempatnya berjumpa di tepi sungai dan bergandengan tangan lalu masuk ke salah satu villa untuk bersantai bareng .
Tak lama lalu mereka berpasang-pasangan dan saling membuka pakaiannya, lalu saling merangkul, mencium dan seterusnya sebagaimana layaknya suami istri. Niat penolakanku tadi datang-tiba terlupakan dan terganti dengan niat kemauanku.
Kami tidak mampu mengeluarkan kata-kata, khususnya dikala kami menyaksikan dua pasang muda mudi bertelanjang bundar dan saling menjilati kemaluannya, bahkan saling mengadu alat yang paling vitalnya. Kami cuma bisa saling memandang dan tersenyum.
“Gimana Nis,? Asyik khan? Atau ganti lainnya saja yang lucu-lucu?” pancing Alina, namun aku tak menjawabnya, malah aku melenguh panjang.
“Apa kamu sering dan senang nonton film beginian bareng suamimu?” giliran aku mengajukan pertanyaan, tetapi Alina hanya menatapku tajam kemudian mengangguk.
“Hmmhh” kudengar suara nafas panjang Alina keluar dari mulutnya.
“Apa kau pernah praktekkan mirip di film itu Nis?” tanya Alina ketika salah seorang wanitanya sedang menungging kemudian laki-lakinya menghujamkan kontolnya dari belakang lalu mengocoknya dengan berpengaruh.
“Tidak, belum pernah” jawabku singkat sambil kembali bernafas panjang.
“Maukah kau mencobanya nanti?” tanya Alina dengan bunyi rendah.
“Dengan siapa, kami khan pisah dengan istri untuk sementara” kataku.
“Jika kamu berjumpa istrimu nanti atau perempuan lain misalnya” kata Alina.
“Yachh.. Kita liat saja nanti. Boleh juga kami coba nanti hahaha” kataku.
“Nis, apa malam ini kamu tidak ingin mencobanya?” Tanya Alina sambil sedikit merapatkan tubuhnya padaku. Saking rapatnya sehingga tubuhnya terasa hangatnya dan anyir harumnya.
“Dengan siapa? Apa dengan wanita di TV itu?” tanyaku memancing.
“Gimana bila dengan aku? Mumpung hanya kita berdua dan nggak bakal ada orang lain yang tahu. Mau khan?” Tanya Alina lebih terang lagi mengarah sambil menjamah tanganku, bahkan menyandarkan badannya ke badanku.
Sungguh saya terkejut dan jantungku seolah copot mendengar detail pertanyaannya itu, apalagi dia menyentuhku. Aku tidak bisa lagi berpikir apa-apa, melainkan menerima apa adanya malam itu.
Aku tidak akan mungkin mampu menolak dan mengecewakannya, terlebih saya sungguh menginginkannya, karena telah beberapa bulan aku tidak melakukan sex dengan istriku. Aku mencoba merapatkan badanku pula, kemudian mengelus tangannya dan merangkul punggungnya, sehingga terasa hangat sekali.
“Apa kau serius? Apa ini mimpi atau realita?” Tanyaku amat besar hati.
“Akan kubuktikan keseriusanku sekarang. Rasakan ini sayang” tiba-datang Alina melompat lalu mengangkangi kedua pahaku dan duduk di atasnya sambil memelukku, serta mencium pipi dan bibirku bertubi-tubi.
Tentu saya tidak bisa menyia-nyiakan peluang ini. Aku segera menyambutnya dan membalasnya dengan sikap dan tindakan yang serupa. Nampaknya Alina telah ingin secepatnya pertanda dengan melepas sarung yang dipakainya, namun saya belum mau membuka celana panjang yang kepakai malam itu.
Pergumulan kami dalam posisi duduk cukup lama, meskipun berkali-kali Alina memintaku untuk segera melepaskan celanaku, bahkan dia sendiri berulang kali berusaha membuka kancingnya, tetapi senantiasa saja kuminta semoga beliau bersabar dan secara perlahan-lahan alasannya adalah waktunya sangat panjang.
“Ayo Kak Nis, cepat sayang. Aku sudah tak tahan ingin membuktikannya” rayu Alina sambil melepas rangkulannya kemudian beliau tidur telentang di atas karpet bubuk-debu sambil menarik tanganku untuk menindihnya. Aku tidak tega membiarkan dia ingin tau terus, sehingga aku secepatnya menindihnya.
“Buka celana sayang. Cepat.. Aku telah kelelahan nih, ayo dong,” pintanya.
Akupun segera menuruti permintaannya dan melepas celana panjangku. Setelah itu, Alina menjepitkan ujung jari kakinya ke bab atas celana dalamku dan berupaya mendorongnya ke bawah, tetapi ia tak berhasil alasannya saya sengaja mengangkat punggungku tinggi-tinggi untuk menghindarinya.
Ketika aku menjajal menelisik baju daster yang dipakaianya ke atas lalu beliau sendiri melepaskannya, saya kaget alasannya tak kusangka jikalau ia sama sekali tidak pakai celana. Dalam hatiku bahwa mungkin dia memang sengaja siap-siap akan bersetubuh denganku malam itu.
Di bawah sinar lampu 10 W yang dibarengi dengan cahaya TV yang makin seru bermain bugil, aku sungguh terperinci menyaksikan suatu lubang yang dikelilingi daging semok nan putih mulus yang tidak ditumbuhi bulu selembar pun.
Tampak mencoloksuatu benda mungil seperti biji kacang di tengah-tengahnya. Rasanya cukup menantang dan mempertinggi birahiku, namun saya tetap berusaha mengendalikannya semoga aku bisa lebih usang bermain-main dengannya. Ia kini sudah bugil 100%, sehingga tampakbentuk tubuhnya yang langsing, putih mulus dan indah sekali dipandang.
“Ayo donk, tunggu apa lagi sayang. Jangan biarkan saya tersiksa mirip ini” pinta Alina tak pernah berhenti untuk segera menikmati puncaknya.
“Tenang sayang. Aku niscaya akan memuaskanmu malam ini, namun saya masih mau bermain-main lebih usang biar kita lebih banyak mencicipinya”kataku
Secara perlahan namun niscaya, ujung lidahku mulai menjamah tepi lubang kenikmatannya sehingga membuat pinggulnya bergerak-gerak dan berdesis.
“Nikmat khan jikalau begini?” tanyaku berbisik sambil menggerak-gerakkan lidahku ke kiri dan ke kanan lalu menekannya lebih dalam lagi sehingga Alina setengah berteriak dan mengangkat tinggi-tinggi pantatnya seolah beliau menyambut dan ingin memperdalam masuknya ujung lidahku.
Ia cuma mengangguk dan memperdengarkan bunyi desis dari mulutnya.
“Auhh.. Aakkhh.. Iihh.. Uhh.. Oohh.. Sstt” suara itu tak mampu dikurangi dikala saya gocok-gocokkan secara lebih dalam dan keras serta cepat keluar masuk ke lubang kemaluannya.
“Teruuss sayang, nikkmat ssekalii.. Aakhh.. Uuhh. Aku belum pernah mencicipi seperti ini sebelumnya” katanya dengan suara yang agak keras sambil mempesona-narik kepalaku biar lebih rapat lagi.
“Bagaimana? Sudah siap menyambut lidahku yang panjang lagi keras?” tanyaku sambil melepaskan seluruh pakaianku yang masih tersisa dan kamipun sama-sama bugil.
Persentuhan tubuhku tak sehelai benangpun yang melapisinya. Terasa hangatnya hawa yang keluar dari tubuh kami.
“Iiyah,. Dari tadi saya menunggu. Ayo,. Cepat” kata Alina terburu-buru sambil membuka lebar-lebar kedua pahanya, bahkan membuka lebar-lebar lubang vaginanya dengan mempesona kiri kanan kedua bibirnya untuk membuat lebih mudah jalannya kemaluanku masuk lebih dalam lagi.
Aku pun tak inginmenangguhkan -nunda lagi sebab memang aku sudah puas bermain lidah di mulut atas dan verbal bawahnya, terlebih keduanya sangat basah. Aku kemudian mengangkat kedua kakinya sampai bersandar ke bahuku kemudian berupaya menghujamkan ujung kemaluanku ke lubang vagina yang semenjak tadi menunggu itu. Ternyata tidak mampu kutembus sekaligus sesuai keinginanku. Ujung kulit penisku tertahan, padahal Alina sudah bukan perawan lagi.
“Ssaakiit ssediikit.., ppeelan-pelan sedikit” kata Alina dikala ujung penisku sedikit kutekan agak keras. Aku gerakkan ke kiri dan ke kanan tapi juga belum berhasil amblas.
Aku turunkan kedua kakinya kemudian meraih sebuah bantal dingklik yang di belakanku lalu kuganjalkan di bawah pinggulnya dan membuka lebar kedua pahanya kemudian kudorong penisku agak keras sehingga sudah mulai masuk setengahnya.
Alinapun merintih keras tetapi tidak berkata apa-apa, sehingga saya tak peduli, malah kian kutekan dan kudorong masuk hingga amblas seluruhnya. Setelah seluruh batang penisku terbenam semua, saya sejenak berhenti bergerak sebab capek dan melemaskan tubuhku di atas tubuh Alina yang juga membisu sambil bernafas panjang seolah baru kali ini menikmati betul persetubuhan.
Alina kembali menggerak-gerakkan pinggulnya dan akupun menyambutnya. Bahkan saya tarik maju mundur sedikit demi sedikit hingga jalannya agak cepat kemudian cepat sekali. Pinggul kami bergerak, bergoyang dan berputar seirama sehingga menimbulkan bunyi-bunyian yangberirama pula.
“Tahan sebentar” kataku sambil mengangkat kepala Alina tanpa mencabut penisku dari lubang vagina Alina sehingga kami dalam posisi duduk.
Kami saling merangkul dan menggerakkan pinggul, tetapi tidak lama alasannya terasa sukar. Lalu aku berbaring dan telentang sambil menawan kepada Alina mengikutiku, sehingga Alina berada di atasku. Kusarankan supaya ia menggoyang, mengocok dan memompa dengan keras lagi cepat.
Ia pun cukup memahami keinginanku sehingga kedua tangannya bertumpu di atas dadaku kemudian menghentakkan agak keras bolak balik pantatnya ke penisku, sehingga tampakkepalanya lemas dan seolah mau jatuh alasannya adalah gres kali itu ia melakukannya dengan posisi mirip itu.
Karena itu, kumaklumi bila dia cepat kecapekan dan segera menjatuhkan tubuhnya melekat ke atas tubuhku, walaupun pinggulnya masih tetap bergerak naik turun.
“Kamu mungkin sungguh kecapekan. Gimana jikalau ganti posisi?” kataku sambil mengangkat badan Alina dan melapas rangkulannya.
“Posisi bagaimana lagi? Aku telah beberapa kali merasa nikmat sekali” tanyanya heran seolah tidak tahu apa yang mau kulakukan, tetapi tetap ia ikuti permintaanku alasannya adalah beliau pun merasa sungguh lezat dan belum pernah mengalami permainan mirip itu sebelumnya.
“Terima saja permainanku. Aku akan tunjukkan beberapa pengalamanku”
“Yah.. Yah.. Cepat lakukan apa saja” katanya singkat.
Aku bangun lalu mengangkat tubuhnya dari belakang dan kutuntunnya sampai ia dalam posisi nungging. Setelah kubuka sedikit kedua pahanya dari belakan, saya lalu menghujamkan kembali ujung penisku ke lubangnya kemudian mengocok dengan keras dan cepat sehingga mengakibatkan suara dengan irama yang indah seiring dengan gerakanku.
Alina pun terengah-engah dan napasnya terputus-putus menerima kenikmatan itu. Posisi kami ini tak lama alasannya adalah Alina tak mampu menahan rasa capeknya berlutut sambil kupompa dari belakan. Karenanya, aku kembalikan ke posisi semula yakni tidur telentang dengan paha terbuka lebar kemudian kutindih dan kukocok dari depan, lalu kuangkat kedua kakinya bersandar ke bahuku.
Posisi inilah yang membuat permainan kami memuncak karena tak usang setelah itu, Alina berteriak-teriak sambil merangkul keras pinggangku dan mencakar-cakar punggungku. Bahkan sesekali menawan keras wajahku menempel ke wajahnya dan menggigitnya dengan gigitan kecil. Bersamaan dengan itu pula, saya mencicipi ada cairan hangat mulai menjalar di batang penisku, khususnya dikala terasa sekujur badan Alina gemetar.
Aku tetap berusaha untuk menyingkir dari pertemuan antara spermaku dengan sel telur Alina, tetapi telat, sebab baru aku mencoba mengangkat punggungku dan bermaksud menumpahkan di luar rahimnya, tapi Alina malah mengikatkan tangannya lebih erat seolah melarangku menumpahkan di luar yang akhirnya cairan kental dan hangat itu terpaksa tumpah semuanya di dalam rahim Alina.
Alina tampaknya tidak menyesal, malah sedikit ceria mendapatkannya, namun saya diliputi rasa takut kalau-jikalau jadi janin nantinya, yang akan membuatku malu dan relasi persahabatanku acak-acakan.
Setelah kami sama-sama mencapai puncak, puas dan menikmati persetubuhan yang sesungguhnya, kami kemudian tergeletak di atas karpet tanpa bantal. Layar TV telah berwarna biru karena pergulatan filmnya sejak tadi selesai.
Aku lihat jam dinding menawarkan pukul 12.00 malam tanpa terasa kami bermain kurang lebih 3 jam. Kami sama-sama termenung dan tak mampu berbicara apapun sampai tertidur lelap. Setelah terbangun jam 7.00 pagi di tempat itu, rasanya masih terasa kecapekan bercampur segar.
“Nis, kamu sungguh ahli. Aku belum pernah menerima kenikmatan dari suamiku selama ini seperti yang kamu berikan tadi malam” kata Alina saat dia juga terbangun pagi itu sambil merangkulku.
“Benar nih, jangan-jangan cuma gombal untuk menyenangkanku” tanyaku.
“Sumpah.. Terus terperinci suamiku lebih banyak menimbang-nimbang kesenangannya dan posisi mainnya cuma satu saja. Ia di atas dan saya di bawah. Kadang dia loyo sebelum kami apa-apa. Kontolnya pendek sekali sehingga tidak bisa memperlihatkan kenikmatan padaku mirip yang kami berikan.
Andai saja kau suamiku, pasti saya senang sekali dan selalu mau bersetubuh, bila perlu setiap hari dan setiap malam” paparnya seolah meratapi hubungannya dengan suaminya dan membandingkan denganku.
“Tidak boleh sayang. Itu namanya telah jodoh yang tidak bisa kita tolak. Kitapun berjodoh bersetubuh dengan cara selingkuh. Sudahlah. Yang penting kita telah mencicipinya dan akan terus menikmatinya” kataku sambil menenangkannya sekaligus mencium keningnya.
“Maukah kau terus menerus memberiku kenikmatan seperti tadi malam itu saat suamiku tak ada di rumah” tanyanya menuntut janjiku.
“Iyah, niscaya selama aman dan aku tinggal bersamamu. Masih banyak permainanku yang belum kutunjukkan” kataku berjanji akan mengulanginya
“Gimana bila istri dan anak-anakmu nanti tiba?” tanyanya cemas.
“Gampang dikontrol. Aku kan pembantumu, sehingga aku bisa senantiasa akrab denganmu tanpa kecurigaan istriku. Apalagi istriku pasti tak tahan tinggal di kota karena beliau telah sudah biasa di kampung bareng keluarganya namun yang kutakutkan jika kau hamil tanpa diakui suamimu” kataku.
“Aku tak bakal hamil, sebab saya akan menyantap pil KB sebelum bermain mirip yang kulakukan tadi malam, alasannya adalah memang telah kurencanakan” kara Alina terus terperinci.
Setelah kami bincang-bincang sambil tiduran di atas karpet, kami lalu ke kamar mandi masing-masing membersihkan diri lalu kami ke halaman rumah membersihkan sesudah sarapan pagi bareng .
Sejak dikala itu, kami nyaris setiap malam melakukannya, terutama dikala suami Alina tak ada di rumah, baik siang hari apalagi malam hari, bahkan beberapa kali kulakukan di kamarku dikala suami Alina masih tertidur di kamarnya, sebab Alina sendiri yang mendatangi kamarku saat sedang “haus”.
Entah hingga kapan hal ini akan berlangsung, namun yang terang hingga dikala ini kami masih selalu ingin melakukannya dan belum ada gejala kecurigaan dari suaminya dan dari istriku.

0 Response to "Kisah Asusila Dengan Hawa Nafsu"