Dongeng Sex Cukup Umur Pns
By Blinger
—
Sabtu, 10 Februari 2018
—
Add Comment
—
Cerita Dewasa,
Cerita Lesbian,
Cerita Mesum,
Cerita Ngetot,
Cerita Sex
Cerita Sex Dewasa PNS - Perkenalkan Namaku Agus seorang PNS, untuk kerahasiaan aku tidak akan menuliskan tahun terjadinya peristiwa ini dan nama orisinil. Namun kisah ini ialah benar adanya. Bulan November saya mengikuti prajabatan PNS, yah tak ada yang kukenal di prajabatan ini, sebab itu aku berupaya untuk mencari teman sebanyak-banyaknya. Pagi itu adalah jam pertama, aku duduk di kursi kelas bagian tengah, kulirik kiri dan kanan.
Cerita Sex Dewasa PNS
“Nama saya Ni Ketut Dede Ariyani, saya guru tari Bali, nama kamu siapa? kok ngeliatin terus sih?”
Aku jadi salah tingkah, lalu aku menjawab,
“Maaf ya mbok tut, nama aku Agus, abis ga ada yang diketahui sih…”
“Sekarang kan udah kenal,emang umur kau berapa? kok manggil mbok”
“25 mbok, emang kenapa?”
“oh, emang bener kamu manggil aku mbok, umur saya 28.”
“Oh…”
Meskipun beliau bilang umurnya 28 namun dia tidak tampaksetua itu, perawakannya lebih pendek dari aku dan badannya sintal. Sejak perkenalan itu kami sering ngobrol berdua pada waktu prajabatan selama 2 ahad itu, smsan dan telpon-telponan, dia juga sering ditengok sama pemuda yang serupa temen-temen aku diundang raksasa, Dede bilang sih itu tunangannya, saya kesel juga tapi apa daya saya hanya bisa senyum, tapi memang pada waktu itu saya belum merasakan apa-apa.
Pada waktu sehari sebelum penutupan dia bilang begini,
“Gus, nanti abis penutupan kita jalan-jalan yuk!?”
“ayuk”, kataku dengan bahagia hati, “emang mau kemana mbok?”
“yah, ke bioskop atau kemana gitu.”
“oke..”
ketika itu datang, saya dah siap-siap untuk penutupan dan tak lupa aku menenteng pakaian ganti, begitu akhir penutupan kami pergi ke bioskop, kami nonton dan sengaja memilih bangku paling pinggir, entah kenapa aku mulai berpikiran kotor, lalu saya memeluk ia, beliau tidak menolak. Lalu saya beranikan diri untuk mencium ia, ia malah menyambut ciumanku dengan hangat. Kami berciuman lama sekali, aku melumat bibirnya dengan penuh nafsu, setelah beberapa menit beliau berkata,
“ternyata perasaan gak mampu bohong ya.”
“iya…”
Aku tak ragu lagi untuk memeluk dan menciumnya bahkan aku berani memegang payudaranya dari dalam bajunya sementara beliau juga memegang dadaku, kesannya kami final nonton film kemudian saya berkata,
“De..putusin cowok kamu ya, trus nikah ma saya.”
“Ga mampu gus, saya ma beliau dah lebih dari pacaran kami dah lazimbegituan, tinggal dibantenin aja kami dah jadi suami istri…”
Aku kecewa dan marah tetapi ga bisa apa-apa, hasilnya aku bilang,
“Terserah.”
Aku tidak pernah ngehubungi dia selama beberapa hari, alhasil aku berpikir normal aku mustahil masuk ke dalam kehidupannya, yah… saya akhirnya menelepon ia lagi dan kami ngobrol seperti lazimtanpa ada persoalan lagi dan pada sebuah ketika ia mengajak saya makan di ayam wong Solo.
Aku sebagai orang yang lebih miskin dari ia terang tidak menolak. Kami pergi kesana terus kami memesan meja di daerah bebas rokok yang sepi dan tertutup.
Setelah final makan, saya dan ia yang duduk bersebelahan menumpahkan rasa kangen. Kami saling mencium, saling melumat dan saling memegang. Aku berkata padanya,
“De, saya pingin buat cupang di leher kamu.”
“Coba aja!”
Aku mencoba menghisap lehernya untuk menciptakan cupang namun gagal, dia kemudian tertawa sambil berkata,
“He… he… he… bukan gitu caranya, nih saya contohin”, dia mulai beraksi. Entah bagaimana caranya beliau mengisap, yang terperinci rasanya saya melayang-layang, aku cuma mendesah,
“Ah… ah…”
“Tuh kan, dah merah”, kata ia sambil menunjuk leher saya.
“Dasar… De, kita pulang yuk.”
“ayuk.”
Dede kemudian mengeluarkan uang makanan sementara aku langsung menuju mobilnya. Sesampai di rumah, pikiranku berantakan alasannya adalah cupang itu, saya pribadi nge-sms ia,
“De… saya kepingin cupangnya bukan di leher, saya pingin di dada, saya juga pingin buat cupang di dada kau.”
Aku kira dia marah, namun dia malah ngebalas,
“Gus, aku sayang ma kamu, jikalau kau buat cupang di dadaku boleh kok, selain itu selaku tanda sayang aku, saya pingin 3d.”
“Apaan tuh 3d?”, balasku.
“Diputer, Dijilat trus Dicelupin.”
“Hah!! Beneran? Atau becanda nih?”
“beneran, masak saya coba-coba.”
“Kapan kau mau? Tapi aku belum pernah lho sayang, apa mesti pake pengaman?”
“Aku pinginnya ga pake, namun jika kau ragu lebih baik pake aja, waktunya nanti aja bila ada peluang, gimana?”
“Oke deh, met istirahat ya sayang…”
“Istirahat apaan aku kan harus nari di Hotel sayang, nanti bila saya ga balas memiliki arti aku masih sibuk atau ada si dia sama aku.”
“Ya deh, met kerja ya sayang.”
Yah, ini ialah agenda harian ia, dia ialah seorang penari Bali dan kadang dia nari di hotel kadang malah sampai ke luar negeri.
Lama aku menanti waktu itu, risikonya saya mendapat potensi pelatihan 4 hari. Tetapi alasannya budi panitia training itu hanya 3 hari. Berarti aku hanya punya waktu 1 hari. Aku pribadi nge-sms dia,
“De… besok ga ngajarkan? Kita lakukan rencana kita yuk?”
“ayuk, nanti saya jemput dimana?”
“Jemput aku ditempat pembinaan di Jalan Hayam wuruk.”
“Oke!”
Besoknya saya telah menanti beliau di kawasan training. Beberapa menit lalu ia tiba. Aku langsung naik ke mobilnya dan ganti baju di dalamnya. Aku yang udah nafsu kemudian bilang,
“Kita mau kemana? ayuk”, Dede memakai baju yang agak ngepres di badannya, sementara di bab bawah beliau hanya mengenakan kain pantai, ketika aku lirik ternyata dia tidak mengunnakan apa-apa selain kain pantai dan pastinya cd.
“Jangan gitu, kita makan dulu yuk…”
Kami lalu makan, berikutnya kami menuju bungalow di Kuta, tetapi sebelumnya kami sudah membeli makan siang apalagi dahulu.
Sesampainya di kamar bungalow, dia kemudian menutup pintu, saya yang udah nafsu pribadi menyerbunya. Dia kemudian berkata,
“Ga jadi ah…”
“Trus kita ngapain kesini?”
“ngobrol sambil tiduran.”
“Enak aja”, aku eksklusif menyerbu ia berusaha melepas bajunya dan kain pantainya, lalu ia bilang,
“Sabar dong sayang.” Dede lalu mematikan lampu, lalu menutup korden yang tadi belum tertutup, saya memang udah nafsu liat kemolekan dia jadi ga mengamati itu. Akhirnya saya menyerbu ia, kali ini aku tidak menemuka perlawanan mempunyai arti, dia udah siap. Aku mencium ia dengan nafsu, kemudian melepas bajunya dan kain pantainya, tubuhnya kini hanya ditutupi BH dan CD. Dia lalu bilang,
“Gus… Aku pernah dioperasi di payudara dahulu ada tonjolannya.”
BHnya saya lepas kemudian saya menciumi payudaranya dengan lembut,
“ehm… ehm…”
“Gus… ka… mu… be….bbener lembut… ah ah ahh..”
Desahannya membuat saya agresif, lalu saya melepas bajuku dan celana ku sehingga saya telanjang di depan beliau, CD diapun kulepas, dia lalu berkata,
“Gus… pake kondom dulu ya sayang…”
Dia lalu memakaikan aku kondom, aku yang masih awam langsung saja memasukkan punyaku ke dalam vaginanya. Beberapa menit lalu saya udah keluar, yah karena saya belum pengalaman, ia melepas kondomku dan berkata,
“Ga apa-apa kan baru pertama.”
Belum berapa menit nafsuku naik lagi. Aku pribadi menjamah payudaranya, kali ini beliau lebih akil dia kemudian berkata,
“Gus… sekarang kamu di bawah ya, saya yang di atas.”
aku rebah di bawah, beliau pelan-pelan memasukkan penisku ke vaginanya,
“uh… lezat sekali…”, saya mendesah.
Diapun mendesah,
“Ah… ah… nikmat sekali….ah… ah…”
Goyangannya betul-betul hebat, aku hingga merem melek, bodynya yang sintal bergoyang di atasku, saya memegang payudaranya sambil sesekali menciumnya,
“ah… lezat sekali rasanya”, ditengah-tengah kenikmatan itu tiba-datang dia mengejang dan melepaskan vaginanya sambil terengah-engah.
“Aku belum keluar kok dah akhir De?”
“Cape… dan kayanya dah keluar Gus.”
Aku eksklusif menindihnya dan memasukkan penisku ke vaginanya dan mengocoknya dengan cepat alasannya adalah tanggung pkirku, balasannya,
“ah…”
Spermaku tumpah, saya langsung mempesona penis ku keluar dan eksklusif mengeluarka spermaku di perutnya. Dede kemudian berkata,
“Sekarang gantian, aku yang belum keluar nih.”
“Yah…”
Aku kemudian memasukkan jariku ke vaginanya dan mengocoknya.
“ah..ah…ah…ah…”, Dede mendesah keras.
“gimana De, enak kan?”
“enak banget… ah…ah… ah…”
Tiba-datang ia memeluk aku dekat sekali sambil mencium dada aku sampai cupang.
Kamipun tertidur, dan sorenya pulang.
Kami masih kontak beberapa minggu, hingga ada satu peristiwa buruk yang aku dan beliau alami. Kami nonton di bioskop berdua dan disudut seperti biasa, selanjutnya kami berciuman, lalu tanganku bergerilya ke selangkangannya, tangan beliau pun juga sama. Aku memasukkan tanganku ke vaginanya dan tangannya juga mulai mengocok penisku
“Ah… ah… ah…” Desahan kami berdua berirama.
Akhirnya tanganku terasa basah dan dia mengejang… Aku sama sekali belum keluar namun film keburu selesai. Di perjalanan pulang alhasil kami ribut, sebab dia ingin pisah dariku dan kembali ke tunangannya. Aku berusaha membela diri tetapi dia telah berketetapan.
Akhirnya kami berpisah dan saya tidak pernah berjumpa dengan ia hingga kesannya beliau menikah dengan tunangannya yang juga penari

0 Response to "Dongeng Sex Cukup Umur Pns"