728 x 90

Native bar

Cerita Mesum Dengan Istri Sekdes

 Cerita Mesum Dengan Istri SekDes - Kejadian ini kualami saat saya kuliah kerja faktual di salah satu desa terpencil di Jawa Tengah. Aku menginap di rumah Sekretaris Desa tersebut, telah berumur, sekitar 60 tahun, namun isterinya masih muda, sekitar 25 tahun, sebut saja Mbak Is. "Ada apa Dik Agus?" tanyanya dengan bunyi lembut. "Anu Mbak, nggak. Lihat celana pendek aku nggak,


  Kejadian ini kualami ketika aku kuliah kerja nyata di salah satu desa terpencil di Jawa T Cerita Mesum Dengan Istri SekDes

 Cerita Mesum Dengan Istri SekDes

Mbak.." "Baru dicuci. Ditumpukan itu barangkali, coba saja dicari sendiri Dik Agus," jawabnya sambil memperlihatkan onggokan cucian. Sementara aku mengaduk-aduk cucian, dia mengeringkan rambutnya dengan handuk. Tentu saja payudara dan kemaluannya, walaupun dari samping, cukup jelas terlihat olehku. Mulanya aku agak tidak yummy, namun sebab Mbak Is bersikap dingin, maka aku pun nekad memandang secara langsung pamandangan itu dengan berani. "Tubuh Mbak Is, masih singset ya," pujiku mesra. "Ah, Dik Agus bisa aja," katanya dengan tenang, tetapi lalu beliau tersentak,

"Eh, kok liat-liat Mbak, kan saru," bisik Mbak Is membuyarkan lamunanku. "Habis, rejeki kan tidak bisa dibiarkan," kataku nyengir. "Uh, dasar.." lalu beliau cepat-cepat mamakai busana. Jam 8 malam, alasannya tidak ada hiburan TV, dan situasi sudah sangat sepi, aku pergi tidur. Pak Sekdes kebetulan sedang menginap di rumah isteri tuanya. Lampu minyak tempel kuredupkan, dan bersiap untuk memejamkan mata. Tiba-datang ada orang masuk ke kamarku. Setelah kuamati bayangan itu ternyata Mbak Is. "Dik Agus belum tidur ya," sapanya mesra. "Belum mbak," sahutku. "Mbak Is kedingingan nih, nggak bisa tidur," balasnya dan duduk di tepi tempat tidurku. "Tidur di sini saja Mbak," ajakku sarat birahi. "Nggak apa-apa nih," balasnya dengan senyum menarik hati. "Nggak," bisikku.

"Tapi jangan macam-macam ya," katanya sambil tertawa genit. Kugeser tubuhku ke kanan menunjukkan ruang bagi Mbak Is berbaring di sampingku. Mulutku terkunci lagi, alasannya adalah gejolak yang sungguh mahir berkecamuk di dalam dada ini ketika beliau merebahkan tubuhnya di sampingku. Bau parfumnya membuatku kian bergejolak. "Dik Agus telah pernah menyaksikan perempuan telanjang nggak," alhasil Mbak Is membuka percakapan. "Belum, jikalau bawah umur sering, eh maksud aku baru sekali, lihat Mbak tadi.." "Apa Mbak masih singset sih?, khan Dik Agus bilang begitu tadi," tanyanya manja. "Iya betul Mbak, betul, mirip di gambar porno saja," jawabku. "Dik Agus punya foto begituan."

 "Punya, sebentar ya saya ambilkan.." Kuambil majalah berwarna klasifikasi triple X, kubesarkan lampu minyak di dinding. "Dik Agus dapat dari mana majalah ini," sambil mendapatkan majalah yang kuberikan. "Serem.." komentarnya, tetapi matanya terus memandang gambar orang sedang senggama. Pada gambar lain tampak adegan 69, dimana saling menjilati kemaluan lawannya. "Mbak pernah ngisep barangnya Bapak, nggak," tanyaku dengan berani. "Ah, Dik Agus ada-ada saja, jijik ah," jawabnya pura-pura aib. "Enak Mbak, seperti ngisep kemaluan, khan enak," kataku lagi meyakinkan ."Memangnya Dik Agus pernah?" sambil menatap wajahku dalam-dalam, menyebabkan aku gagap. "Belum, kisah sahabat-teman saya yang sudah kimpoi.

Mbak mau disun kemaluannya," pancingku pembangkang. "Ah Dik Agus ini ada-ada saja, aib ah," Sambil tangannya menyingkirkan tangan saya yang sudah melingkar di perutnya. Tapi tanganku kembali merangkul tubuhnya, kali ini agak ke atas bersahabat dengan buah dadanya.

 "Emang Bapak nggak pernah ngesun barangnya Mbak?" tanyaku. "Ah, Bapak kan telah renta, nggak mau yang macem-macem," dialog yang makin mempunyai kecenderungan ini menimbulkan kemaluanku kian mengeras, sehingga celanaku terasa semakin sempit. Aku terus mencari nalar supaya malam itu tidak terbuang tidak berguna. Belum sempat aku mendapatkan caranya, tiba-datang dia mempesona tanganku ke atas sehingga menjamah buah dadanya yang bahenol.

Aku segera bereaksi dan mulailah mengelus-elus buah dadanya. Kulihat wajahnya telah berganti, nafasnya memburu, kusingkap gaun tidurnya ke atas, dan dia membiarkannya bahkan melepasnya sendiri. Dan lalu melepas BH-nya, sehingga buah dada montoknya yang tadi siang kulihat, sekarang dapat kusentuh, kuelus-elus dan kupencet-pencet kekenyalan buah dadanya. Mbak Is kembali berbaring, bibirnya menyambut dengan hangat saat kucium Mbak Is. Sambil berciuman tanganku bergerilya, hingga di sekitar kamaluannya. Kuelus pahanya dan akibatnya kemaluannya dari luar celana dalamnya. Mbak Is kian liar mempermainkan bibirnya dan lidahnya, melumat habis bibirku. Kuselipkan jariku melalui samping celana dalamnya meraih liang senggamanya, ternyata sudah lembap kuyup. Bersamaan dengan itu, ia raih pula kemaluanku. Kubantu membuka celanaku dan semua yang menempel di bajuku. Dengan kencang beliau terus memegang kemaluanku, seakan sudah mengakibatkan haknya dan tak mau melepaskannya. Sementara aku terus mencium semua permukaan kulitnya.

Sampai pada bukit kembarnya, kuisap, kusedot dan kujilati puncaknya hingga membuatnya semakin memburu nafasnya. Begitu kuteruskan jelajahanku ke bawah lepaslah pegangan di kemaluanku, hingga dipusar dan terus ke bawah sampailah di selangkangannya. Kulebarkan pahanya, tetapi ia menahannya."Jangan ah, malu," sambil merapatkan pahanya dan menutupi kemaluannya dengan tangannya.Aku terus menciumi pahanya, menjilati dan mengecupnya. Lama-lama kian ke dalam pahanya. Mbak Is mulai merenggangkan kakinya, kubuka pelan-pelan pahanya. Pelan-pelan pula beliau mau membukanya. Sampai akhirnya rela juga mengangkangkan pahanya dengan lebar, sehingga membuatku memiliki ruang yang terperinci untuk melihat pahanya yang putih mulus. Tubuhnya menegang dan pinggulnya diangkatnya tinggi-tinggi. Beberapa detik lalu terkulailah beliau. Mbak Is, awalnya menahan bokongku, biar kemaluanku tetap terselit di lipatan kemaluannya.

Tetapi alasannya tenaganya sudah habis, lepas juga kemaluannya dan kukocok dengan cepat sehingga muncratlah di atas perutnya yang indah. Mbak Is dengan takjub melihat kejadian muncratnya spermaku. Lalu tersenyum cantik. "Kok nggak dikelaurin di dalam," tanyanya. "Nanti kau hamil," jawabku mesra. "Paling Bapak juga nggak tahu bila itu anakmu," jawabnya dengan enteng. Sejak ketika itu aku jadi jarang pulang, dikala hari Sabtu dan Minggu kupergunakan mencuri-curi waktu biar bisa bermain dengannya. Apalagi kalau sedang sepi. Misalnya tidak ada cukup waktu untuk melaksanakan senggama, maka ia saya suruh saja mengocok sampai keluar.

Sejak itu tampaknya Mbak Is makin ceria saja. Sampai final waktu KKN-ku, aku tidak kurang melaksanakan senggama secara tepat sebanyak delapan kali. Tanpa ada seorangpun yang tahu dan curiga. Dan ternyata ini menjinjing berkah lain, yang paling menonjol yaitu cara Mbak Is dalam melayani suaminya yang tampaknya berlebihan.

0 Response to "Cerita Mesum Dengan Istri Sekdes"

sosial bar