Dongeng Mesum Dengan Paman Perawan Ku Hilang
By Blinger
—
Kamis, 15 Februari 2018
—
Add Comment
—
Cerita Dewasa,
Cerita Lesbian,
Cerita Mesum,
Cerita Ngetot,
Cerita Sex
Cerita Mesum Dengan Paman Perawan Ku Hilang - Aku telah mulai mampu melalaikan kejadian yang kulihat antara Mbak Ningsih dengan Pakdheku alasannya kesibukanku mempersiapkan EBTA. Begitu EBTA akhir aku mendapatkan piknik sambil menunggu pengumuman. Saat itu waktuku lebih banyak kuluangkan di rumah membersihkan rumah dan menyetrika serta menolong Mbak Ningsih mengolah makanan. Suatu hari, saya mesti berada sendirian di rumah dengan Pakdhe.
Cerita Mesum Dengan Paman Perawan Ku Hilang
Kusiram seluruh tubuhku dengan air hambar biar rasa gerahku hilang. Apa yang kulakukan ternyata cukup membantu. Tubuhku merasa segar sekali. Lalu kigosok seluruh tubuhku dengan sabun. Rasa aneh itu kembali menyerang diriku, apalagi dikala saya menyabuni daerah selangkanganku yang baru mulai ditumbuhi rambut satu-satu. Aku merasa ada dorongan birahi yang begitu kencang. Aku tidak tahu mengapa ini terjadi. Tiba-tiba anganku melayang pada apa yang kulihat beberapa hari yang kemudian dikala Mbak Ningsih dan Pakdhe Marto bergulat di kamarku.Cepat-cepat kubuang anggapan itu jauh-jauh dan segera menyelesaikan program mandi pagiku. Hanya dengan badan terbalut handuk, saya lari masuk kamarku. Aku senantiasa berubah pakaian di kamarku sambil mematut-matut diriku di depan cermin sambil memperhatikan seluruh tubuhku yang mulai berganti. Bulu-bulu kemaluan telah mulai tumbuh di gundukan bukit kemaluanku. Dadaku yang dulu rata kini mulai tumbuh dengan puting yang sebesar kacang kedelai dengan warna merah muda. Pinggulku mulai tumbuh membengkak.
Kata orang aku seksi dan mempesona. Apalagi tinggi badanku sudah mencapai 160 cm. Aku sendiri senantiasa betah berlama-lama di depan cermin dengan melenggak-lenggokkan tubuhku memandang dari segala segi dan mengagumi tubuhku. Aku sangat bangga dengan tubuhku. Baru saja saya mengunci pintu kamarku saya dikejutkan dengan pelukan tangan yang kokoh menyergapku. Aku tidak sempat menjerit karena tiba-datang sosok yang memelukku eksklusif membekap mulutku dengan tangannya yang kokoh. Belum hilang terkejutku, handuk yang melilit tubuhku ditarik seseorang dan jatuh teronggok ke lantai. Aku sungguh-sungguh bugil tanpa sehelai kainpun menutupi tubuhku. Kembali rasa abnormal yang menyerangku kian menggelora. Ada dorongan hasrat yang menggebu-gebu dalam diriku. Aku tak bisa meronta dan menjerit! Tangan yang kokoh dan berbulu tetap membekap mulutku sementara tangan satu lagi memeluk tubuh telanjangku. Mataku semakin nanar mendapatkan perlakuan seperti itu. Apalagi kurasakan sentuhan kulit tubuh telanjang menempel hangat di punggungku. Pantatku yang telanjang terasa menekan suatu benda panjang melingkar dan keras di balik kain tipis. Aku makin tak bisa menahan gejolak liar yang mulai berdiri dalam diriku ketika sapuan-sapuan lidah panas mulai menyerbu tengkukku. Aku menggelinjang kegelian dan melenguh. Lidah itu makin liar bergerak menyusuri leherku.. pundakku.. Lalu turun ke bawah ke sepanjang tulang punggungku.
Aku makin menggelinjang. Lidah itu terus merayap ke bawah dan pinggangku mulai dijilati. Kakiku serasa lemah tak bertenaga. Aku cuma pasrah ketika tubuhku didorong ke daerah tidurku dan dijatuhkan hingga aku tengkurap di daerah tidurku. Tubuhku kemudian ditindih oleh sesosok tubuh yang sangat berat. Kakiku mulai memberontak liar karena geli. Apalagi lidah itu dengan rakus mulai menjilati pinggulku. Pantatku terangkat dikala ekspresi berkumis itu mulai menggigiti buah pantatku dengan gemas. Pantatku terangkat-angkat liar saat pengecap panas itu mulai menyusup ke dalam celah-celah bongkahan pantatku dan mulai menjilati lubang anusku. Aku betul-betul mirip melayang mengawang. Aku belum tahu siapa yang memelukku dari belakang dan menggerayangi seluruh tubuhku. Aku cuma bisa mencicipi dengusan napas panas yang menghembus di bongkahan pantatku ketika lidah itu mulai menjilati lubang anusku. Aku tercekik terkejut ketika tubuhku dibalik sampai telentang telanjang lingkaran di kasurku. Ternyata orang yang sedari tadi menggumuliku yakni Pakdhe Mitro, orang yang selama ini kuanggap selaku pengganti orang tuaku. Aku tak tak mampu berteriak alasannya mulutku pribadi dibekap dengan bibirnya. Lidahku didorong dorong dan digelitik. Aku terangsang hebat. Apalagi sejak minum teh tadi tubuhku terasa agak asing. Seolah-olah ada dorongan menghentak-hentak yang menuntut pemenuhan. Tubuhku menggelinjang saat tangan kekar dan agak garang mulai meraba dan meremas kedua payudaraku yang gres mulai berkembang.
Lalu kedua kakiku dipentangkan oleh Pakdhe Mitro lebar-lebar, kemudian Pakdhe menindih tubuhku yang sudah telanjang bundar di antara kedua pahaku yang terkangkang. Aku merasa ada benda keras seperti tongkat yang menekan ketat ke bukit kemaluanku di balik kain sarung yang dikenakan Pakdhe. Mulut dan lidah Pakdhe tak henti-hentinya menjilat dan melumat setiap jengkal bagian tubuhku. Dari mulutku, bibir Pakdhe bergeser menjilati seluruh batang leherku, kemudian turun ke dua belah payudaraku. Tubuhku makin menggerinjal ketika lidah dan ekspresi Pakdhe dengan rakusnya melumat kedua puting payudaraku yang gres sebesar kacang kedelai. Disedotnya payudaraku sampai hampir seluruhnya masuk ke dalam lisan Pakdhe Mitro. Aku sangat terangsang dan telah tidak bisa berpikir jernih. Ada sesuatu yang mulai menggelora dan mendesak-desak di perut bab bawahku. Lidah Pakdhe terus merayap semakin ke bawah. Perutku menjadi sasaran jilatan lidahnya. Tubuhku makin menggelinjang andal. Akal sehatku sudah sungguh-sungguh hilang. Kobaran napsu telah menjeratku. Pantatku terangkat tanpa dapat kucegah ketika pengecap Pakdhe terus merayap dan menjliati gundukan bukit kemaluan di selangkanganku yang mulai ditumbuhi rambut-rambut halus. Aku merasa kegelian yang amat sungguh menggelitik selangkanganku.
Tubuhku serasa mengawang di antara kawasan kosong saat lidah Pakdhe mulai menyelusup ke dalam bukit kemaluanku dan menggelitik kelentitku. Lubang kemaluanku semakin berdenyut-denyut tergesek gesek lidahnya yang panas. Aku cuma mampu menggigit bibirku sendiri menahan rasa geli yang menggelitik selangkanganku. Tubuhku kian melayang dan mirip terkena pedoman listrik yang maha dahsyat. Aku tak bisa lagi menahan gelora napsu yang semakin mendesak di dalam perutku. Pantatku terangkat mirip menyongsong tampang Pakdhe yang menekan bukit kemaluanku. Lalu tubuhku seperti terhempas ke daerah kosong. Aku merasakan ada sesuatu yang meledak di dalam perut bagian bawahku. Tubuhku menggelepar dan tanpa sadar kujepit kepala Pakdhe dengan kedua kakiku untuk menekannya lebih ketat menempel selangkanganku. Belum sempat saya menertibkan napas datang-datang mulutku sudah disodori batang kemaluan Pakdhe Mitro yang tanpa kutahu semenjak kapan sudah melepas sarungnya dan sudah telanjang bulat mengangkangi wajahku. Batang kemaluannya yang besar, hitam panjang dan terlihat mengkilat mengacung di depan wajahku mirip hendak menggebukku jikalau aku menolak menciuminya. Dengan rasa jijik saya terpaksa menjulurkan lidahku dan mulai menjilati ujung topi bajanya yang mengkilat. Aku nyaris muntah dikala lidahku menyentuh cairan lendir yang sedikit keluar dari lubang kemaluan Pakdhe.
Namun jepitan kedua paha Pakdhe di sisi wajahku tidak memberiku potensi lain. Aku hanya mampu pasrah dengan tetap menjilati batang kemaluan Pakdhe. Lalu dengan paksa Pakdhe membuka mulutku dan menjejalkan batang kemaluannya ke dalam mulutku. Aku menjadi gelagapan karena sukar bernapas. Batang kemaluannya yang besar menyanggupi mulutku yang masih kecil. Kudengar Pakdhe menggumam tanpa terang apa yang diucapkannya. Pantatnya digerak-gerakannya sampai batang kemaluannya yang masuk ke dalam mulutku mulai bergerak keluar masuk di dalam mulutku. Aku hampir tersedak ketika ujung kemaluan Pakdhe menjamah-nyentuh kerongkonganku. Aku hanya mampu melotot alasannya adalah nyaris tersedak. Tanpa sadar kedua tanganku mencengkeram pantat Pakdhe Mitro. Setelah puas “mengerjai” mulutku dengan batang kemaluannya, Pakdhe memindah tubuhnya dan menindihku lagi dengan posisi sejajar. Kedua pahaku dikuaknya dan dengan tangannya, dicucukannya batang kemaluannya ke arah bukit kemaluanku. Aku merasa geli dikala ujung kemaluan Pakdhe mulai menggesek-gesek pintu lubang kemaluanku yang telah lembap. Dari rasa geli dan lezat, datang-datang saya merasa perih di selangkanganku saat Pakdhe mulai menurunkan pantatnya sehingga batang kemaluannya mulai menerobos ke dalam lubang kemaluanku yang masih perawan.
Aku merintih kesakitan dan air mataku mulai mengalir. Aku terjaga akan bahaya! Namun telat. Pakdhe yang telah sangat kasar sudah tidak mungkin mau berhenti. Ia hanya sejenak menghentikan gerakannya. Ia merayuku dan menyampaikan kalau sakitku cuma sebentar dan berubah rasa nikmat yang tidak terkira. Pakdhe menawan pantatnya ke atas hingga batang kemaluannya yang terjepit di dalam lubang kemaluanku tertarik keluar. Gesekan batang kemaluannya yang besar di dalam dinding lubang kemaluanku menimbulkan rasa nikmat seperti apa yang dikatakannya. Aku mulai dapat menikmati rasa lezat itu. Ini mungkin sebab dampak teh yang kuminum sehingga saya benar-benar belum sadar akan ancaman yang kuhadapi. Yang kuinginkan cuma satu adalah menuntaskan gejolak yang meledak-ledak dalam diriku. Aku kembali merintih kesakitan ketika Pakdhe mulai menekan pantatnya lagi yang membuat batang kemaluannya menerobos lebih dalam ke dalam lubang kemaluanku.
Lagi-lagi Pakdhe membisikiku kalau rasa sakit itu akan hilang dengan sendirinya. Ia menawan lagi pantatnya. Benar.. Rasa sakit itu berubah nikmat ketika batang kemaluannya ditarik keluar hingga hanya ujung kepalanya saja yang masih terjepit dalam lubang kemaluanku. Lubang kemaluanku yang telah sungguh licin sungguh menolong pergerakan batang kemaluan Pakdhe dalam jepitan lubang kemaluanku. Detik-detik berlalu dan sedikit-demi sedikit batang kemaluan Pakdhe meneronos kian dalam ke dalam lubang kemaluanku. Pakdhe terus menarik dan mendorong pantatnya dengan pelan dan terorganisir. Hingga suatu ketika saya menggigit bibirku keras-keras dikala selangkanganku terasa perih sekali. Selangkanganku terasa robek ketika Pakdhe menekan pantatnya hingga batang kemaluannya nyaris masuk separuh ke dalam lubang kemaluanku. Aku sempat menjerit menahan sakit yang amat sangat di selangkanganku. Pakdhe secepatnya menghentikan gerakannya dan memberiku potensi untuk bernapas. Aku merasa lega saat Pakdhe menghentikan gerakannya. Kini saya mampu mencicipi lubang kemaluanku seperti terganjal benda keras dan hangat. Benda itu berdenyut-denyut dalam jepitan lubang kemaluanku. Kembali rasa sakit yang tadi menyentakku berangsur mulai hilang tergantikan rasa nikmat ketika batang kemaluan Pakdhe yang semakin tanpa hambatan mulai bergerak lagi keluar masuk dalam jepitan lubang kemaluanku. Rasa lezat terus berkembangsehingga tanpa sadar saya menggoyangkan pantatku untuk segera meraih kenikmatan yang lebih banyak lagi.
Aku seperti ajaib. Rasa sakit itu telah betul-betul hilang tergantikan rasa lezat yang sungguh-sungguh memabukkan. Pakdhe makin bersemangat mengayunkan pantatnya menghunjamkan batang kemaluannya. Empat kali mendorong kemudian didiamkan dan diputar kemudian ditarik lagi. Tanpa sadar pantatku terangkat ketika Pakdhe menarik pantatnya. Berkali-kali Pakdhe mengulang gerakannya hingga perutku terasa kejang. Tubuhku mulai melayang. Tanganku kian berpengaruh mencengkeram punggung Pakdhe untuk mencoba menahan kenikmatan yang mulai menerjangku. Pakdhe semakin berpengaruh mengayunkan pantatnya diiringi geramannya yang kudengar bergemuruh di telingaku. Mataku semakin membeliak menahan desakan yang kian dahsyat di perut bagian bawahku. Aku hampir menjerit dikala ada sesuatu yang kurasa pecah di dalam sana. Namun bibir Pakdhe yang datang-datang melumat bibirku menghentikan teriakanku. Pakdhe melumat dengan rakus kedua belah bibirku. Aku merasa tubuhku seperti terhempas di awan. Tubuhku mengejat-ngejat ketika saya meraih puncak pendakian yang melelahkan. Pakdhe yang bibirnya masih melumat bibirku pun mulai berkelojotan di atas perutku. Lalu beliau menggeram dengan dahsyat.. Dan alhasil kurasakan ada semburan cairan hangat yang menyembur dari batang kemaluan Pakdhe yang terjepit dalam lubang kemaluanku. Batang kemaluannya berkedut-kedut dalam jepitan lubang kemaluanku. Tubuh Pakdhe masih bergerak dengan liar selama beberapa ketika lalu ambruk menindihku. Napas ku cuma tinggal satu-satu. Napas Pakdhe pun kudengar menggemuruh di telingaku. Air mataku mengalir dikala kusadari semuanya telah terlambat bagiku. Kegadisanku telah terenggut oleh Pakdhe. Orang yang selama ini kuanggap sebagai pengganti ayahku. Lalu dengan lembut Pakdhe mengusap air mataku dan berjanji akan menyayangiku sepanjang sisa hidupnya. Aku menjadi agak terhibur dengan perkataannya.
Sejak kegadisanku hilang, saya menjadi pendiam. Keceriaan yang selama ini menjadi ciri khasku seperti hilang sirna. Aku menjadi sungguh berganti. Selangkanganku masih terasa sakit sampai beberapa hari sehabis kejadian itu. Mbak Ningsih yang selama ini sangat memperhatikanku sangat heran menyaksikan pergeseran yang terjadi pada diriku. Akhirnya saya mengaku terus terperinci kepada Mbak Ningsih perihal peristiwa yang menimpaku. Ia hanya menghela napas merasa prihatin akan petaka yang kualami. Kira-kira satu bulan sejak saya dinodai Pakdheku, Mbak Ningsih minta pamit kepadaku dan juga Pakdheku. Mbak Ningsih sehabis lulus SMK diterima bekerja di suatu perusahaan swasta di tempat Malang dan pindah ke Malang. Sehingga sejak saat itu aku yang baru masuk SMU harus tinggal berdua saja dengan Pakdhe. Suatu hari, kira-kira seminggu sejak kepergian Mbak Ningsih, saat itu aku sedang mencuci pakaianku dan pakaian Pakdhe. Hari itu sekolahku libur sebab tanggal merah jadi saya higienis-bersih rumah. Pakdhe mirip umumnya membereskan tanaman di halaman depan yang telah mulai tumbuh tidak terencana. Setelah kuselesaikan cucianku dan kujemur, saya berniat mandi. Baru saja mau menutup pintu kamar mandi, datang-datang tangan Pakdhe mengganjal pintu kamar mandi dan menyerobot masuk. Aku tidak sempat berteriak karena tiba-tiba Pakdhe telah memelukku. Tubuhnya yang hanya tertutup celana kolor dan telah berair sarat keringat memelukku erat-akrab.
Aku tidak berani berteriak alasannya adalah diancam bila tak inginmelayani nafsunya aku akan diusir dari rumah itu dan tidak didanai sekolahku. Aku merasa cemas sekali dengan ancamannya hingga dengan air mata yang kutahan saya pasrah akan apa yang dikerjakan Pakdhe padaku. Tangan Pakdhe dengan cekatan melucuti dasterku, bra-ku lalu celana dalamku hingga aku sungguh-sungguh bugil. Tanpa mencampakkan waktu Pakdhe secepatnya melepas kolornya dan telanjang lingkaran. Batang kemaluannya yang berwarna hitam kecoklatan masih mengkerut dan menggantung lunglai. Kemudian Pakdhe duduk di tepi bak mandi keramik dengan kaki yang terbuka. Ditariknya tubuh telanjangku ke dalam pelukannya dan dilumatnya bibirku dengan rakusnya. Mulutku masih tertutup ketika pengecap Pakdhe mulai mencoba menerobos masuk ke dalam mulutku. Karena tidak tahan dengan sapuan-sapuan lidahnya yang mendesak-desak bibirku, risikonya bibirku pun terbuka. Pakdhe segera menyusupkan lidahnya ke dalam mulutku dan mendorong-dorong lidahku.
Mula-mula aku diam saja, tetapi lama-kelamaan saya jadi terangsang juga. Apalagi batang kemaluan Pakdhe yang tadinya mengkerut perlahan-lahan mulai mengembang dan mengganjal perutku. Aku mulai bereaksi. Lidahku tanpa sadar membalas dorongan pengecap Pakdhe. Tubuhku mulai menggerinjal dalam pelukan Pakdhe dikala tangan Pakdhe mulai menggerayangi buah pantatku. Tangan Pakdhe dengan gemas meremas dan memijat buah pantatku kemudian ditariknya tubuhku hingga kian ketat lengket dalam pelukannya. Setelah puas memainkan lidahnya dalam mulutku, tangan Pakdhe menekan kepalaku sampai aku disuruhnya berlutut di depan selangkangannya. Batang kemaluannya yang telah keras nampak mengacung tegak di depan wajahku. Ditariknya wajahku ke selangkangannya dan disuruhnya mulutku menciumi batang kemaluannya itu. Dengan agak risi saya terpaksa membuka mulutku dan mulai menciumi batang kemaluannya yang telah mengeluarkan sedikit cairan. Kepalaku didorong maju mundur oleh tangan Pakdhe yang mencengkeram rambutku sampai batang kemaluannya mulai bergeser keluar masuk dalam mulutku. Kerongkonganku tersodok-sodok ujung kepala kemaluan Pakdhe yang keluar masuk dalam mulutku.
Kudengar napas Pakdhe mulai menggebu. Batang kemaluannya makin mengeras dalam kuluman mulutku. Mungkin alasannya tak tahan, Pakdhe secepatnya mempesona tubuhku agar bangkit kemudian mendudukanku di segi kolam mandi. Mulutnya secepatnya mencecar payudaraku kanan dan kiri silih berubah. Aku menggelinjang andal manakala mulut Pakdhe dengan rakusnya mempermainkan kedua puting payudaraku. Tangan Pakdhe pun tak tinggal membisu. Tangannya mulai merayap ke selangkanganku yang terbuka lebar dan mulai meremas gundukan bukit kemaluanku. Aku hingga megap-megap menerima rangsangan mirip itu. Aku makin tersiksa oleh gejolak nafsu. Mulut Pakdhe kemudian merayap menyusuri perutku dan mulai menjilati gundukan bukit kemaluanku. Dikuakkanya kedua bibir kemaluanku dengan jari-jarinya lalu disusupkannya lidahnya ke dalam lubang kemaluanku. Tubuhku yang duduk di segi kolam mandi nyaris saja terjatuh sebab menggelinjang ketika lidah Pakdhe mulai menggesek-gesek dinding lubang kemaluanku. Tanpa sadar tanganku mencengkeram rambut Pakdhe dan menekankan kepalanya biar lebih ketat menekan bukit kemaluanku. Aku kian belingsatan menahan rangsangan yang diberikan Pakdhe di selangkanganku. Tanpa sadar mulutku mendesis-desis dan dudukku bergeser tak karuan. Perutku mulai mengejang menahan desakan gejolak yang meledak-ledak.
Tubuhku terasa mulai mengawang dan persepsi mataku nanar. Akhirnya dengan diiringi rintihan panjang saya mencapai orgasmeku. Belum sempat saya mengendalikan napas tiba-tiba Pakdhe telah berdiri di hadapanku. Batang kemaluannya yang keras dicocokkan ke bibir kemaluanku dan digesek-gesekkannya ujung kepala kemaluannya ke bibir kemaluanku yang telah lembap dan licin. Aku menggelinjang lagi dikala benda hangat itu mulai menerobos masuk ke dalam bibir kemaluanku. Bibir Pakdhe Mitro dengan rakusnya mulai melumat bibirku sambil mendorong pantatnya sampai batang kemaluannya makin melesak ke dalam jepitan bibir kemaluanku. Aku masih duduk di bibir bak mandi sementara Pakdhe Mitro menggenjot lubang kemaluanku sambil berdiri. Mungkin karena kesusahan bergerak, dicabutnya batang kemaluannya dari jepitan bibir kemaluanku. Tubuhku lalu diturunkan dari bibir kolam mandi dan dibaliknya hingga aku bangun dengan tangan bertumpu kolam mandi. Lalu Pakdhe menempatkan diri di belakangku dan mulai mencoba memasukan batang kemaluannya ke dalam bibir kemaluanku dari celah bongkahan pantatku. Punggungku didorong Pakdhe agar sedikit membungkuk hingga setengah menungging. Dipentangkanya kedua kakiku lebar-lebar lalu dicucukannya batang kemaluannya ke gundukan bukit kemaluanku. Setelah arahnya tepat, Pakdhe mulai mendorong pantatnya hingga kembali batang kemaluannya menerobos masuk dalam jepitan bibir kemaluanku. Kembali saya mulai merasa ada suatu benda hangat menyeruak ke dalam lubang kemaluanku.
Dinding-dinding lubang kemaluanka serasa dikilik-kilik. Batang kemaluan Pakdhe yang terjepit ketat dalam lubang kemaluanku berdenyut-denyut. Pakdhe yang napasnya mulai memburu makin besar lengan berkuasa mengayunkan pantatnya maju mundur sampai goresan batang kemaluannya pada dinding lubang kemaluanku kian cepat. Pinggulku yang dipegang Pakdhe terasa agak sakit alasannya adalah jari-jari Pakdhe mulai mencengkeram. Pinggulku ditarik dan didorong oleh tangan berpengaruh Pakdhe seiring dengan ayunan pantatnya. Tubuhku mulai terhentak dan aku mulai limbung. Kembali aku merasa terbang karena desakan gejolak yang meledak-ledak. Pakdhe semakin berpengaruh mengayunkan pantatnya dan napasnya makin menderu. Pantatku yang ditarik dan didorong Pakdhe maju mundur makin cepat bergerak. Cengkeraman jari-jari Pakdhe semakin terasa di pinggulku. Gerakan ayunan pantat Pakdhe kian tak terkendali. Tak lama kemudian saya kembali meraih orgasmeku. Pakdhe pun kukira mencapai puncak kenikmatannya sebab aku merasa ada semburan cairan hangat yang menyemprot dari batang kemaluan Pakdhe ke dalam lubang kemaluanku dengan diiringi geraman yang keluar dari lisan Pakdhe. Pakdhe tetap membiarkan batang kemaluannya terjepit dalam lubang kemaluanku selama beberapa ketika. Napasnya yang mulai terstruktur terasa hangat menerpa kulit pipiku. Tulang kemaluannya menekan kuat di bukit buah pantatku. Aku merasa sedikit geli karena rambut kemaluan Pakdhe menempel ketat dan menggesek buah pantatku. Batang kemaluan Pakdhe yang masih keras terasa berdenyut-denyut dalam jepitan lubang kemaluanku. Setelah menyemprotkan sisa-sisa air maninya batang itu mulai mengendur dan terlepas dengan sendirinya. Tubuhku telah terasa lemas tak bertenaga. Aku cuma memejamkan mata alasannya lemas dan malu karena untuk kedua kalinya saya sukses digagahi Pakdheku sendiri. Aku membiarkan saja ketika Pakdhe memandikanku mirip bayi. Tangannya yang kuat menyabuni seluruh lekuk tubuhku.
Tubuhku kembali menggerinjal saat tangannya yang kuat mulai menyabuni payudaraku yang gres mulai tumbuh. Putingku yang mencuat dipermainkannya dengan gemas. Tubuhku makin menggelinjang ketika tangannya mulai menyentuh perutku lalu meluncur turun dan mulai menyabuni gundukan bukit kemaluanku yang gres mulai ditumbuhi rambut satu-satu. Jari-jarinya menyisir celah sempit di tengah gundukan bukit kemaluanku dan berlama-usang menyabuni kawasan itu. Aku tak berani memandang Pakdhe dikala beliau mengangsurkan sabun ke tanganku dan menyuruhku menyabuninya. Dengan agak kaku tanganku mulai menyabuni punggung Pakdhe yang kekar. Tanganku bergerak sampai seluruh punggung Pakdhe kugosok merata dengan sabun. Lalu Pakdhe membalikkan tubuhnya menghadapku. Tangannya mengelus-elus kedua payudaraku sementara saya disuruhnya menyabuni badan bab depannya. Tanganku bergerak dari dada terus turun ke arah perut. Napas Pakdhe mulai mengejar-ngejar dikala tanganku yang dilumuri busa sabun mulai menggosok bagian bawah perutnya. Batang kemaluannya yang tadi kendur telah mulai mengembang. Tanganku yang agak ragu dipegang Pakdhe dan diarahkan untuk menyabuni tempat kemaluan Pakdhe. Rambut kemaluannya sangat lebat tumbuh di pangkal batang kemaluannya yang mulai berdiri setengah tegak dan mengeras. Lucu sekali tampaknya mirip pistol tetapi “gombyok”. Ya!! Kelihatannya seperti pistol gombyok!! Seperti pistol tetapi lebat ditumbuhi rambut atau gombyok!!
Pakdhe yang sudah mulai terangsang segera menyuruhku menuntaskan acara saling memandikan. Hanya dengan berbalut handuk, tubuhku yang masih agak berair ditariknya dari kamar mandi dan diseret masuk ke kamar Pakdhe. Pakdhe pun hanya mengenakan kolornya yang tadi dipakainya hingga batang kemaluannya yang telah setengah keras terlihat membusung di balik kolor seragamnya. Baru saja pintu ditutup, tubuhku sudah pribadi disergapnya. Diloloskannya handuk yang melilit tubuhku sampai aku telanjang bulat. Pakdhe secepatnya melepas kolornya dan bugil dihadapanku. Mulut Pakdhe segera menyergap bibirku dan melumatnya dengan rakus. Kedua payudaraku secepatnya menjadi bulan-bulanan remasan tangannya sampai tubuhku menggelinjang dalam dekapannya. Tanganku secepatnya dibimbing Pakdhe dan dipegangkannya ke batang kemaluannya yang sudah semakin mengembang. Bibir Pakdhe yang rakus meulai bergeser turun dari bibirku ke dagu, lidahnya menjilat-jilat daguku terus turun ke leherku hingga saya kian menggelinjang alasannya kumisnya yang pendek dan garang menggaruk-garuk batang leherku. Aku kian mendesis alasannya sekarang bibir Pakdhe telah mulai melumat kedua puting payudaraku kanan dan kiri secara bergantian. Tanganku secara tak sadar bergerak mengurut dan meremas “pistol gombyok” Pakdhe. Napas Pakdhe pun semakin menderu dan kian keras menghembus di kedua payudaraku. Jilatannya kian liar di seluruh bukit payudaraku tanpa terlewatkan sejengkalpun. Batang kemaluan Pakdhe yang semakin keras mulai berdenyut-denyut dalam genggaman tanganku. Sementara tangan Pakdhe mulai bergerak liar menyusuri penggungku dan turun ke bawah lalu berhenti di kedua pantatku dan meremas-remas kedua buah pantatku dengan gemasnya. Aku sungguh terangsang. Ya.. Mungkin daerah kelemahanku yakni pada buah pantatku dan pada kedua puting payudaraku. Tubuhku telah mulai mengawang dan telah pasrah bersandar dalam pelukan Pakdhe. Mengetahui bila tubuhku telah tersandar sepenuhnya dalam pelukannya, Pakdhe secepatnya mendorong tubuhku ke kasurnya hingga aku berbaring telentang. Ditindihnya tubuh telanjangku oleh badan kekar Pakdhe. Dibentangkannya kedua kakiku lebar-lebar dan saya kembali digumuli Pakdheku. Lidah Pakdhe kembali menyerbu bibirku kemudian bergeser ke leherku. “Pistol gombyok” Pakdhe yang sudah sangat keras mengganjal di perut bab bawahku. Rambut kemaluannya yang gombyok sungguh terasa menggesek-gesek perutku menjadikan rasa geli. Lidah Pakdhe menjilat-jilat seluruh batang leherku sampai aku mendesis-desis kegelian.
Tubuhku makin menggelinjang menahan geli dikala lidahnya mulai bergeser turun dan menyapu-nyapu sekeliling bukit payudaraku di sekeliling putingku. Tubuhku makin menggerinjal dikala pengecap Pakdhe yang panas mulai menyapu-nyapu puting payudaraku. Tubuhku serasa kian terbang. Lidah Pakdhe terus bergeser ke bawah. Pusarku dijilatnya dengan rakus lalu lidahnya mulai bergerak turun ke perut bagian bawahku. Otot-otot perutku terasa seperti ditarik-tarik saat bibir Pakdhe menyedot-nyedot daerah sekitar perut bab bawahku di atas pangkal pahaku. Geli sekali rasanya, terlebih kumisnya yang pendek dan bernafsu menyeruduk-nyeruduk kulit perutku yang halus. Pakdhe lalu membalik tubuhnya. Wajahnya menghadap selangkanganku sementara “pistol gombyok”nya dihadapkan ke wajahku. Diturunkannya pantatnya sampai batang kemaluannya menempel bibirku. Dibimbingnya “pistol gombyok”nya ke mulutku. Aku tahu saya mesti membuka mulutku menyambut “pistol gombyok” Pakdhe yang dijejalkan ke dalam mulutku. Dengan terpaksa saya mulai mengulum “pistol gombyok” Pakdhe dan menjilati seluruh ujung topi bajanya yang mengkilat. Tubuhku terhentak saat lisan Pakdhe mulai melumat bibir kemaluanku. Kedua tangannya menarik kedua bibir lubang kemaluanku dan membukanya lebar-lebar lalu lidahnya yang panas didorong keluar masuk kedalam lubang kemaluanku. Aku makin mendesis-desis menahan lezat. Napas Pakdhe yang kian menggebu sungguh terasa meniup-niup lubang kemaluanku yang terbuka lebar. Tanpa sadar pantatku terangkat ke atas seolah menyambut dorongan lidah Pakdhe yang menggesek-gesek kelentitku. Gerakan lidahnya yang liar seolah membuatku semakin ajaib. Tanpa mampu kucegah lagi, mulutku merintih dan mendesis menahan gejolak kenikmatan yang meledak-ledak.
Batang kemaluan Pakdhe yang menyumpal mulutku tak bisa menahan desisan yang keluar dari mulutku. Mataku kembali nanar. Perutku terasa kejang.. Dorongan gejolak liar yang mendesak di perut bab bawahku telah nyaris tak dapat kutahan lagi. Lalu dengan diiringi rintihan panjang tubuhku menggelepar dan berkelojotan mirip ayam disembelih. Tubuhku kemudian melayang dan terhempas di tempat kosong. Akhirnya tubuhku melamun beberapa saat. Aku telah mencapai orgasme yang ke sekian di pagi itu. Tubuhku terasa lemas tak bertenaga. Aku hanya pasrah ketika Pakdhe yang sudah mencabut batang kemaluannya dari kuluman mulutku bangun dan duduk di segi pembaringan mengangkat tubuhku dan mendudukanku di pangkuannya. Tubuhku dihadapkannya ke dirinya dan kakiku dipentangkannya sampai aku terduduk mengangkang dipangkuannya dengan saling berhadapan. Kemudian tangan Pakdhe mengarahkan batang kemaluannya ke celah bukit kemaluan di selangkanganku. Bless!! Aku terhenyak dikala pantatku diturunkan dan ada sebuah benda keras dan hangat mengganjal di lubang kemaluanku. Nikmat sekali rasanya. Seluruh dinding lubang kemaluanku terasa berdenyut-denyut. Kelentitiku yang sudah membesar tergesek nikmat pada pangkal batang kemaluan Pakdhe. Lain sekali rasanya bersetubuh dengan posisi begini. Aku merasa sangat terangsang! Kelentitku serasa tergesek sarat pada batang kemaluan Pakdhe. Dengan dibantu kedua tangan Pakdhe yang menyangga kedua buah pantatku tubuhku bergerak naik turun di pangkuan Pakdhe. Payudaraku yang baru berkembang bergetar bergoyang-goyang seiring dengan naik turunnya tubuhku di pangkuan Pakdhe. Batang kemaluan Pakdhe yang menancap ketat dalam jepitan lubang kemaluanku terasa menggesek lezat seluruh dinding lubang kemaluanku yang terus berdenyut-denyut meremas apa saja yang menyumpalnya. Tubuhku terasa menggigil bergetar dikala ekspresi Pakdhe tak tinggal membisu. Mulut Pakdhe dengan rakusnya melumat kedua puting payudaraku bergantian. Mulutnya menyedot buah dadaku sepenuhnya. Gerakanku menjadi makin liar. Desakan gejolak birahi kian mendesak. Aku mempercepat gerakanku naik turun dengan diselingi sedikit memutar saat seluruh batang kemaluan Pakdhe masuk hingga ke pangkalnya ke dalam jepitan lubang kemaluanku. Karena tak tahan lagi tanpa sadar kudorong badan Pakdhe sampai terbaring telentang di kasur dengan kedua kaki menjuntai ke lantai. Tubuhku yang tadi di pangku Pakdhe menjadi duduk mirip seorang joki yang sedang naik kuda balap berpacu dalam birahi dengan menduduki Pakdhe yang berbaring telentang. Gerakanku kian bebas. Dengan tangan bertumpu pada dada Pakdhe yang bidang saya terus menggerakan pantatku memutar dan maju mundur.
Kelentitiku makin ketat tergesek batang kemaluan Pakdhe. Tanga Pakdhe yang memegang kedua pantatku kian ketat mencengkeram dan menolong mempercepat gerakanku. Aku merasa tubuhku kembali mulai mengawang. Gerakanku semakin tak terkendali. Mataku mulai membeliak dan mulutku menceracau tak karuan. Puncak pendakian kian akrab.. Kian erat.. Dan jadinya dengan merintih panjang tubuhku berkejat-kejat seperti sedang terkena ajaran listrik. Lubang kemaluanku berdenyut-denyut saat ada sesuatu yang pecah di dalam sana.. Tubuhku berkejat-kejat beberapa dikala lalu ambruk di atas perut Pakdhe. Aku sungguh-sungguh tak bertenaga. Ya akhir pistol gombyok Pakdhe aku meraih orgasme yang kesekian kalinya. Luar biasa Pakdhe ku ini. Walaupun sudah tua namun bisa menciptakan aku yang masih ABG begini bertekuk lutut. Pakdhe yang rupanya belum meraih orgasme secepatnya membalikkan tubuhku dengan tanpa melepaskan batang kemaluannya yang masih menancap dalam jepitan lubang kemaluanku. Sekarang tubuhku yang telentang gantian digenjot Pakdhe. Aku yang telah tak bertenaga hanya pasrah. Pakdhe dengan semangat juang terus menggenjot selangkanganku dengan tusukan-tusukan batang kemaluannya. Pistol gombyoknya tanpa ampun menghajar lubang kemaluanku. Perlahan-lahan napsuku mulai bangkit lagi menerima tusukan-bacokan pistol gombyok Pakdhe. Dengan sisa-sisa tenaga yang masih ada saya berusaha menyambut setiap tusukan pistol gombyok dengan menggoyangkan pantatku ke kanan dan kiri. Napas Pakdhe kian memburu dan terdengar menggemuruh menghembus ke payudaraku yang dilumat bibir rakus Pakdhe. Genjotan Pakdhe semakin kuat dan bertubi-tubi. Desakan gejolak yang mendesak dalam tubuhku semakin menguat. Aku sudah nyaris tak kuat lagi menahan desakan itu.
Tubuhku kembali mengejang. Pantatku terangkat dan dengan merintih panjang aku meraih puncak pendakian yang sungguh bikin capek. Tubuhku terhempas di daerah kosong dan persepsi mataku semakin nanar. Aku merasa betapa di saat-dikala itu tubuh Pakdhe yang menindih perutku mulai bergetar. Mulutnya menggeram dahsyat dan pantatnya menekan besar lengan berkuasa-besar lengan berkuasa menghunjamkan pistol gombyoknya ke dalam jepitan lubang kemaluanku. Tubuh Pakdhe berkejat-kejat kemudian aku merasa ada semprotan cairan hangat menyiram di dalam lubang kemaluanku. Ada rasa berdesir menyergapku dikala semprotan itu menyembur ke liang rahimku. Tubuh Pakdhe tersentak-sentak kemudian ambruk di atas perutku. Sungguh bikin capek pergumulan di pagi itu. Akhirnya saya tertidur alasannya terlalu lelah. Pagi itu Pakdhe betul-betul melampiaskan seluruh hasratnya pada tubuhku. Dari pagi hingga malam saya tidak dibiarkannya mengenakan busana utuh. Aku disetubuhi berkali-kali hari itu sampai selangkanganku terasa ngilu alasannya digenjot Pakdhe. Sejak kepergian Mbak Ningsih saya menjadi pelampiasan napsu Pakdhe.
Minimal satu kali dalam satu minggu Pakdhe pasti minta jatah dariku. Selama tiga tahun saya menjadi budak napsu pistol gombyok Pakdhe sampai aku lulus SMU. Tiga tahun saya mesti menjalani kehidupan selaku sasaran tembak “pistol gombyok” Pakdhe. Ternyata hal seperti itu dialami juga oleh Mbak Ningsih. Dia bercerita kalau dahulu pertama kali diperawani Pakdhe dirinya tidak sadar. Untuk berikutnya ia juga diancam tidak akan didanai sekolah dan diusir jikalau tidak mau menyanggupi cita-cita Pakdhe. Lalu sesudah aku lulus, atas kebaikan Mbak Ningsih aku kuliah di salah satu PTS di kota Solo. Untuk menambah biaya alasannya tidak mau terlalu memberatkan Mbak Ningsih saya menggeluti ke dunia pelacuran. Ya.. Akhirnya saya menjadi pelacur untuk membiayai kuliahku. Aku berjanji akan berhenti dari dunia ini sesudah aku memiliki cukup bekal.

0 Response to "Dongeng Mesum Dengan Paman Perawan Ku Hilang"