Dongeng Sex Mesum Dengan Anak Manja
By Blinger
—
Kamis, 15 Februari 2018
—
Add Comment
—
Cerita Dewasa,
Cerita Lesbian,
Cerita Mesum,
Cerita Ngetot,
Cerita Sex
Cerita Sex Mesum Dengan Anak Manja - Aku memang terlahir dari keluarga yang cukup berada. Aku anak laki-laki satu-satuya. Dan juga anak bungsu. Dua kakakku perempuan seluruhnya. Dan jarak usia antara kami cukup jauh juga. Antara lima dan enam tahun. Karena anak bungsu dan juga satu-satunya lelaki, terperinci sekali jika aku sangat dimanja. Apa saja yang saya kehendaki, pasti dikabulkan. Seluruh kasih sayang tertumpah padaku. Sejak kecil saya selalu dimanja, sehingga sampai besarpun saya seringkali masih suka minta dikeloni. Aku suka bila tidur sambil memeluk Ibu, Mbak Lisa atau Mbak Indri.
Cerita Sex Mesum Dengan Anak Manja
Pernah aku menangis semalaman dan mengurung diri di dalam kamar hanya karena Mbak Indri menikah. Aku tidak rela Mbak Indri jadi milik orang lain. Aku benci dengan suaminya. Aku benci dengan semua orang yang senang melihat Mbak Indri diambil orang lain. Setengah mati Ayah dan Ibu membujuk serta menghiburku.
Bahkan Mbak Indri prospektif macam-macam agar saya tidak terus menangis. Memang tingkahku tidak ubahnya seorang anak balita. Tangisanku gres berhenti setelah Ayah berjanji akan membelikanku motor. Padahal saya sudab punya kendaraan beroda empat. Tapi memang sudah usang saya ingin dibelikan motor. Hanya saja Ayah belum mampu membelikannya. Kalau mengenang kejadian itu memang menggelikan sekali. Bahkan saya sampai tertawa sendiri. Habis lucu sih.., Soalnya waktu Mbak Indri menikah, umurku sudab dua puluh satu tahun. Hampir lupa, Saat ini aku masih kuliah. Dan kebetulan sekali aku kuliah di salah satu akademi tinggi swasta yang cukup keren. Di kampus, sebetulnya ada seorang gadis yang perhatiannya padaku begitu besar sekali. Tapi saya sama sekali tidak kesengsem padanya.
Dan aku senantiasa menganggapnya sebagai sobat lazimsaja. Padahal banyak teman-temanku, khususnya yang perjaka bilang jika gadis itu meletakkan hati padaku. Sebut saja namanya Linda. Punya wajab elok, kulit yang putih mirip kapas, tubuh yang ramping dan padat berisi serta dada yang membusung dengan ukuran cukup besar. Sebenarnya banyak pemuda yang meletakkan hati dan menginginkan cintanya. Tapi Linda malah meletakkan hati padaku.
Sedangkan aku sendiri sama sekali tidak peduli, tetap menganggapnya cuma sobat biasa saja. Tapi Linda tampaknya juga tidak acuh. Perhatiannya padaku malah kian bertambah besar saja. Bahkan dia sering main ke rumahku, Ayah dan Ibu juga senang dan berharap Linda mampu jadi kekasihku. Begitu juga dengan Mbak Lisa, sangat cocok sekali dengan Linda Tapi saya tetap tidak tertarik padanya. Apalagi sampai jatuh cinta. Anehnya, hampir semua sahabat menyampaikan kalau saya sudah pacaran dengan Linda, Padahal aku merasa tidak pernah pacaran dengannya. Hubunganku dengan Linda memang dekat sekali, walaupun tidak bisa dibilang berpacaran. Seperti biasanya, setiap hari Sabtu sore saya selalu mengajak Bobby, anjing pudel kesayanganku jalan-jalan mengelilingi Monas. Perlu diketahui, saya mendapatkan anjing itu dan Mas Herman, suaminya Mbak Indri. Karena pemberiannya itu saya jadi menyukai Mas Herman.
Padahal tadinya saya benci sekali, alasannya menganggap Mas Herman sudah merebut Mbak Indri dan sisiku. Aku memang mudah sekali disogok. Apalagi oleh sesuatu yang aku senangi. Karena perilaku dan tingkah laris sehari-hariku masih, dan saya belum bisa bersikap atau berpikir secara cukup umur. Tanpa diduga sama sekali, saya berjumpa dengan Linda. Tapi beliau tidak sendiri. Linda bersama Mamanya yang usianya mungkin sebaya dengan Ibuku. Aku tidak canggung lagi, alasannya adalah memang sudah saling mengenal. Dan aku selalu memanggilnya Tante Maya. "Bagus sekali anjingnya..", piji Tante Maya. "Iya, Tante. diberi sama Mas Herman", sahutku bangga. "Siapa namanya?" tanya Tante Maya lagi. "Bobby", sahutku tetap dengan nada besar hati. Tante Maya meminjamnya sebentar untuk berjalan-jalan. Karena terus-menerus memuji dan membuatku bangga, dengan hati dipenuhi pujian aku meminjaminya. Sementara Tante Maya pergi menenteng Bobby, aku dan Linda duduk di dingklik taman akrab patung Pangeran Diponegoro yang menunggang kuda dengan gagah. Tidak banyak yang kami obrolkan, alasannya adalah Tante Maya sudah kembali lagi dan memperlihatkan Bobby padaku sambil terus-menerus memuji.
Membuat dadaku jadi berbunga dan padat seperti mau meledak. Aku memang paling suka jika dipuji. Oh, ya.., Nanti malam kamu tiba..", ujar Tante Maya sebelum pergi. "Ke rumah..?", tanyaku menentukan. "Iya." "Memangnya ada apa?" tanyaku lagi. "Linda ulang tahun. Tapi nggak mau dirayakan. Katanya hanya mau merayakannya sama kau", kata Tante Maya Iangsung memberi tahu. "Kok Linda nggak bilang sih..?", aku mendengus sambil menatap Linda yang jadi memerah wajahnya. Linda hanya membisu saja. "Jangan lupa jam tujuh malam, ya.." kata Tante Maya mengingatkan. "Iya, Tante", sahutku. Dan memang sempurna jam tujuh malam saya tiba ke rumah Linda. Suasananya sepi-sepi saja. Tidak terlihat ada pesta. Tapi saya disambut Linda yang menggunakan baju seperti mau pergi ke pesta saja. Tante Maya dan Oom Joko juga berpakaian mirip mau pesta. Tapi tidak tampakada seorangpun tamu di rumah ini kecuali aku sendiri. Dan memang benar, ternyata Linda berulang tahun malam ini. Dan cuma kami berempat saja yang merayakannya. Perlu dimengerti jika Linda yakni anak tunggal di dalam keluarga ini. Tapi Linda tidak manja dan bisa berdikari. Acara ulang tahunnya biasa-umumsaja.
Tidak ada yang istimewa. Selesai makan malam, Linda membawaku ke balkon rumahnya yang menghadap eksklusif ke halaman belakang. Entah disengaja atau tidak, Linda membiarkan sebelah pahanya tersingkap. Tapi aku tidak peduli dengan paha yang indah padat dan putih terbuka cukup lebar itu. Bahkan saya tetap tidak menghiraukan meskipun Linda menggeser duduknya sampai hampir merapat denganku. Keharuman yang tersebar dari tubuhnya tidak membuatku bergeming. Linda mengambil tanganku dan menggenggamnya. Bahkan beliau meremas-remas jari tanganku. Tapi aku diam saja, malah memandang wajahnya yang manis dan begitu akrab sekali dengan wajahku. Begitu dekatnya sehingga aku mampu merasakan kehangatan hembusan napasnya menerpa kulit wajahku. Tapi tetap saja saya tidak merasakan sesuatu. Dan datang-datang saja Linda mencium bibirku. Sesaat aku tersentak kaget, tidak menduga bila Linda akan seberani itu. Aku menatapnya dengan tajam. Tapi Linda malah membalasnya dengan sinar mata yang dikala itu sungguh susah ku artikan.
"Kenapa kau menciumku..?" tanyaku polos. "Aku mencintaimu", sahut Linda agak ditekan nada suaranya. "Cinta..?" saya mendesis tidak mengerti. Entah kenapa Linda tersenyum. Dia mempesona tanganku dan menaruh di atas pahanya yang tersingkap Cukup lebar. Meskipun malam itu Linda mengenakan rok yang panjang, tapi belahannya hampir sampai ke pinggul. Sehingga pahanya jadi terbuka cukup lebar. Aku mencicipi betapa halusnya kulit paha gadis ini. Tapi sama sekali aku tidak mencicipi apa-apa. Dan sikapku tetap dingin meskipun Linda sudah melingkarkan tangannya ke leherku. Semakin akrab saja jarak muka kami. Bahkan tubuhku dengan badan Linda sudah nyaris tidak ada jarak lagi.
Kembali Linda mencium bibirku. Kali ini bukan cuma mengecup, tetapi ia melumat dan mengulumnya dengan penuhl gairah. Sedangkan saya tetap diam, tidak menawarkan reaksi apa-apa. Linda melepaskan pagutannya dan menatapku, Seakan tidak percaya jika aku sama sekali tidak bisa apa-apa. "Kenapa diam saja..?" tanya Linda merasa kecewa atau menyesal dikarenakan telah menyayangi laki-laki sepertiku. Tapi tidak.., Linda tidak menampakkan ketidakpuasan atau penyesalan Justru beliau membuatkan senyuman yang begitu indah dan cantik sekali. Dia masih melingkarkan tangannya ke leherku. Bahkan beliau menekan dadanya yang membusung padat ke dadaku. Terasa padat dan kenyal dadanya. Seperti ada denyutan yang hangat. Tapi saya tidak tahu dan sama sekali tidak merasakan apa-apa meskipun Linda menekan dadanya cukup besar lengan berkuasa ke dadaku. Seakan Linda berusaha untuk menghidupkan gairah kejantananku. Tapi sama Sekali saya tidak mampu apa-apa. Bahkan beliau menekan dadanya yang membusung padat ke dadaku. "Memangnya aku harus bagaimana?" saya malah balik bertanya. "Ohh..", Linda mengeluh panjang. Dia seakan gres betul-betul menyadari bila aku bukan hanya tidak pernah pacaran, namun masih sungguh polos sekali.
Linda kembali mencium dan melumat bibirku. Tapi sebelumnya ia memberitahu jika saya mesti membalasnya dengan cara-cara yang tidak layak untuk disebutkan. Aku coba untuk menuruti keinginannya tanpa ada perasaan apa-apa. "Ke kamarku, yuk..", bisik Linda mengajak. "Mau apa ke kamar?", tanyaku tidak mengetahui. "Sudah jangan banyak tanya. Ayo..", ajak Linda setengah memaksa. "Tapi apa nanti Mama dan Papa kau tidak murka, Lin?", tanyaku masih tetap tidak memahami keinginannya. Linda tidak menyahuti, malah bangun dan menawan tanganku. Memang saya seperti anak kecil, menurut saja dibawa ke dalam kamar gadis ini. Bahkan aku tidak protes dikala Linda mengunci pintu kamar dan melepaskan bajuku.
Bukan cuma itu saja, ia juga melepaskan celanaku hingga yang tersisa tinggal sepotong celana dalam saja Sedikitpun aku tidak merasa malu, alasannya adalah sudah biasa aku cuma menggunakan celana dalam saja jikalau di rumah. Linda memandangi tubuhku dan kepala hingga ke kaki. Dia tersenyum-senyum. Tapi saya tidak tahu apa arti semuanya itu. Lalu beliau menuntun dan membawanya ke pembaringan. Linda mulai menciumi paras dan leherku. Terasa begitu hangat sekali hembusan napasnya. "Linda.." Aku tersentak ketika Linda melucuti pakaiannya sendiri, sampai cuma pakaian dalam saja yang tersisa melekat di tubuhnya. Kedua bola mataku sampai membeliak lebar. Untuk pertama kalinya, saya melihat sosok tubuh tepat seorang perempuan dalam kondisi tanpa busana. Entah kenapa, tiba-tiba saja dadaku berdebar menggemuruh Dan ada suatu perasaan ajaib yang datang-tiba saja menyelinap di dalam hatiku. Sesuatu yang sama sekali saya tidak tahu apa namanya, Bahkan seumur hidup, belum pernah merasakannya. Debaran di dalam dadaku makin keras dan menggemuruh dikala Linda memeluk dan menciumi wajah serta leherku. Kehangatan tubuhnya begitu terasa sekali.
Dan aku berdasarkan saja dikala dimintanya berbaring. Linda ikut berbaring di sampingku. Jari-jari tangannya menjalar menjelajahi sekujur tubuhku. Dan ia tidak berhenti menciumi bibir, muka, leher serta dadaku yang bidang dan sedikit berbulu. Tergesa-gesa Linda melepaskan epilog terakhir yang melekat di tubuhnya. sehingga tidak ada selembar benangpun yang masih melekat di sana. Saat itu pandangan mataku jadi nanar dan berkunang-kunang. Bahkan kepalaku terasa pening dan berdenyut memandang tubuh yang polos dan indah itu. Begitu rapat sekali tubuhnya ke tubuhku, sehingga saya bisa merasakan kehangatan dan kehalusan kulitnya.
Tapi saya masih tetap membisu, tidak tahu apa yang harus kulakukan. Linda mengambil tanganku dan meletakkan di dadanya yang membusung padat dan kenyal. Dia membisikkan sesuatu, tapi aku tidak mengetahui dengan permintaannya. Sabar sekali beliau menuntun jari-jari tanganku untuk meremas dan memainkan bagian atas dadanya yang berwarna coklat kemerahan. Tiba-tiba saja Linda. menjambak rambutku, dan membenamkan Wajahku ke dadanya. Tentu saja saya jadi gelagapan karena tidak bisa bernapas. Aku ingin mengangkatnya, tetapi Linda malah menekan dan terus membenamkan wajahku ke tengah dadanya. Saat itu saya mencicipi sebelah tangan Linda menjalar ke bagian bawah perutku. "Okh..?!". Aku tersentak kaget setengah mati, saat datang-datang mencicipi jari-jari tangan Limda menyusup masuk ke balik celana dalamku yang tipis, dan.. "Linda, apa yang kau lakukan..?" tanyaku tidak mengerti, sambil mengangkat wajahku dari dadanya. Linda tidak menjawab. Dia malah tersenyum. Sementara perasaan hatiku kian tidak menentu.
Dan saya mencicipi bila bab tubuhku yang vital menjadi tegang, keras dan berdenyut serasa hendak meledak. Sedangkan Linda malah menggenggam dan meremas-remas, membuatku mendesis dan merintih dengan aneka macam macam perasaan berkecamuk menjadi satu. Tapi aku hanya diam saja, tidak tahu apa yang harus kulakukan. Linda kembali menghujani muka, leher dan dadaku yang sedikit berbulu dengan ciuman-ciumannya yang hangat dan penuh gairah membara. Memang Linda begitu aktif sekali, berupaya membangkitkan gairahku dengan banyak sekali macam cara. Berulang kali beliau menuntun tanganku ke dadanya yang sekarang sudan polos. "Ayo dong, jangan membisu saja..", bisik Linda disela-sela tarikan napasnya yang memburu. "Aku.., Apa yang harus kulakukan?" tanyaku tidak mengetahui. "Cium dan peluk aku..", bisik Linda. Aku berupaya untuk menuruti semua keinginannya. Tapi kelihatannya Linda masih belum puas.
Dan dia semakin aktif merangsang gairahku. Sementara bagian bawah tubuhku semakin menegang serta berdenyut. Entah berapa kali ia membisikkan kata di telingaku dengan suara tertahan balasan hembusan napasnya yang mengejar seperti lokomotif tua. Tapi aku sama sekali tidak memahami dengan apa yang d ibisikkannya. Waktu itu saya sungguh-sungguh terbelakang dan tidak tahu apa-apa. Walau sudah berupaya melaksanakan apa saja yaang dimintanya. Sementara itu Linda sudah menjepit pinggangku dengan sepasang pahanya yang putih mulus. Linda berada sempurna di atas tubuhku, sehingga saya bisa melihat seluruh lekuk tubuhnya dengan terang sekali. Entah kenapa tiba-datang sekujur tubuhku menggelelar saat penisku datang-datang menjamah sesuatu yang lembab, hangat, dan agak lembap. Namun datang-tiba saja Linda memekik, dan memandang bab penisku. Seakan-akan beliau tidak yakin dengan apa yang ada di depan matanya.
Sedangkan saya sama sekali tidak mengerti. PadahaI waktu itu Linda sudah dipengaruhi gejolak membara dengan tubuh polos tanpa sehelai benangpun menempel di tubuhnya. "Kau..", desis Linda terputus suaranya. "Ada apa, Lin?" tanyaku polos.
"Ohh..", Linda mengeluhh panjang sambil menggelimpangkan tubuhnya ke samping. Bahkan dia pribadi turun dari pembaringan, dan menyambar pakaiannya yang berantakan di lantai. Sambil memandangiku yang masih terbaring dalam keaadaan polos, Linda mengenakan lagi pakaiannya. Waktu itu aku melihat ada kekecewaan tersirat di dalam sorot matanya. Tapi saya tidak tahu apa yang membuatnya kecewa. "Ada apa, Lin?", tanyaku tidak mengerti perubahan sikapnya yang begitu tiba-datang. "Tidak.., tidak ada apa-apa, sahut Linda sambil merapihkan pakaiannya. Aku bangkit dan duduk di segi pembaringan. Memandangi Linda yang telah rapi berpakaian. Aku memang tidak memahami dengan kekecewannya. Linda memang layak kecewa, alasannya adalah alat kejantananku mendadak saja layu. Padahal tadi Linda telah hampir membawaku mendaki ke puncak kenikmatan TAMAT

0 Response to "Dongeng Sex Mesum Dengan Anak Manja"