728 x 90

Native bar

Cerita Sex Sampaumur Gadis 14 Tahun

 Cerita Sex Dewasa Gadis 14 Tahun - ini yaitu pengalaman dari seorang teman dekatku yang terjadi sekitar 5 bulan yang kemudian. Aku sedikit galau menulis kisah ini alasannya biasanya aku menceritakan pengalamanku, tetapi kali ini aku mesti menceritakan pengalaman temanku. Oke, tanpa banyak bicara lagi, kumulai kisah yang kuberi judul “Petualangan Berlibur Ke Desa”.


 ini adalah pengalaman dari seorang teman dekatku yang terjadi sekitar  Cerita Sex Dewasa Gadis 14 Tahun
 Cerita Sex Dewasa Gadis 14 Tahun

Lima bulan yang kemudian, Jeff temanku mengajakku sedikit refreshing ke suatu desa yang kebetulan yaitu tempat Jeff bermain waktu kecil. Ayah Jeff seorang usahawan kaya yang sedikit memperhatikan soal alam bebas, kesudahannya beliau berbelanja ribuan hektar tanah yang lalu dijadikannya hutan karet. Bisnis sambil memelihara alam liar, katanya.

Jeff umumberlibur ke hutan karet ayahnya dan beliau biasa menginap di suatu rumah yang tampakbegitu glamor jika dibandingkan rumah-rumah masyarakatdi sekitarnya. Meski terkesan ada sedikit kesenjangan, tapi masyarakatdesa itu sama sekali tidak meletakkan kebencian atau iri hati pada keluarga Jeff karena keluarga itu cukup gemar memberi, bahkan ayah Jeff hanya mengambil keuntungan 25% dari hasil hutan karetnya, dan sisanya dibagikan pada penduduk yang ikut mengusahakan hutan karet itu.

Oke, cukup perkenalannya. Aku sendiri menyesal alasannya tidak bisa ikut dengan Jeff alasannya adalah ada sedikit keperluan dengan keluargaku. Tapi aku berjanji akan menyusul bila ada waktu. Jeff sedikit kecewa tetapi ia tetap pergi ke desa itu, sebut saja Desa Sukasari.
Hari-hari pertama dilalui Jeff dengan berleha-leha di rumahnya sambil menikmati udara segar pedesaan yang sungguh jarang ditemuinya di Bandung. Baru pada hari kelima Jeff keluar dari rumah, diantar oleh seorang bujangnya Jeff berlangsung-jalan menyaksikan-lihat sekeliling desa itu. Dia berhenti ketika dilihatnya seorang gadis, mungkin bertahun-tahun lebih muda darinya sedang menyapu di pekarangannya.

Rambutnya yang hitam terurai menutupi punggungnya. Kulitnya yang hitam elok mengkilat sebab keringat yang tertimpa sinar mentari. Jeff terpana, baru kali ini dilihatnya gadis desa yang begitu manis. Bujangnya tahu jika Jeff mengamati gadis itu, alasannya adalah itu ia mengatakan kalau gadis itu yakni anak salah seorang pekerja ayahnya. Umurnya sekitar 14 tahun, dan kini ayahnya sudah tiada. Dia tinggal dengan ibunya dan sering membantu mencari nafkah dengan mencucikan pakaian orang-orang desa yang lebih bisa.

Jeff merasa iba, tapi rasa ibanya eksklusif hilang berganti rasa tertarik ketika dipikirnya jika gadis itu pasti membutuhkan uang untuk biaya hidupnya. Kemudian berubah lagi perasaannya menjadi keinginan untuk mendekatinya ketika dilihatnya bila gadis itu cukup anggun dan manis. Tapi rasa ingin mendekati itu berganti seketika saat dilihatnya dada gadis itu yang agak terlalu besar untuk anak seusianya.

Segera saja setan bersarang di kepala Jeff. Dia mengeluarkan dompetnya, mengambil selembar duit bergambar Pak Harto dan menyuruh bujangnya memberikan duit itu pada gadis itu untuk mencuci bajunya. Bujangnya tidak menaruh curiga, beliau secepatnya memberikan uang itu pada gadis itu, dan tidak usang lalu gadis itu mengikutinya mendekati Jeff. Jeff memerintahkan bujangnya pulang, sedangkan beliau melanjutkan jalannya bersama gadis itu. Ditengoknya arloji di tangannya, gres pukul 4:00 sore, karena itu Jeff mengulur waktu. Setidaknya pukul 5:00 sore akan dilaksanakan rencananya.


Dia mengajukan pertanyaan dimana sungai yang airnya bening dan mampu dipakai mandi. Gadis itu mengantarkan Jeff ke sana. Cukup jauh juga, dan setiba di sana Jeff melepas semua pakaiannya dan pribadi masuk ke sungai itu. Dia meminta gadis itu mencuci pakaiannya, dan gadis itu berdasarkan meskipun agak malu-malu alasannya melihat Jeff berenang telanjang. Jeff sendiri telah sedikit sinting, entah setan apa yang merasuki kepalanya, yang terperinci saat dilihatnya arlojinya menawarkan pukul 5:00 sore, langsung dilakukan rencananya. Jeff keluar dari air, mendekati gadis yang sedang membersihkan pakaiannya dan berjongkok di sampingnya. Batang kemaluan di sela pangkal kaki Jeff sudah bangun dari tidurnya, dan tanpa tembakan perayaan Jeff langsung saja merangkul gadis itu sambil berupaya mencium leher gadis itu (sebut saja namanya Sali).
Gadis itu secepatnya berontak alasannya adalah terkejut, tetapi dekapan Jeff lebih kencang dari tenaganya. Jeff berhasil mencium leher gadis itu tapi begitu Jeff berusaha lebih gila lagi gadis itu mengancam akan berteriak. Jeff takut juga beliau digebuki penduduk desa itu, alasannya adalah itu segera ditutupnya verbal gadis itu, dan ia berbisik, “Jangan teriak, kalau kau mau melayaniku kuberi lebih dari sekedar lima puluh ribu, mungkin akan kuberi seratus ribu lagi, bagaimana?”
Gadis itu masih membisu, tetapi begitu Jeff mengeluarkan dua lembar duit Rp. 50.000-an yang sedikit basah alasannya adalah air sungai dan mengipas-ngipaskan di depan wajah Sali, balasannya dia mengangguk. Kapan lagi ia mampu mendapat uang Rp 150.000,- dalam sehari, begitu pikirnya. Jeff tersenyum senang sambil melepaskan tangannya dari ekspresi gadis itu. Tapi ketika beliau berupaya memegang dada Sali, gadis itu berbisik, “Jangan di sini, takut ketahuan orang lain.”


Jeff baiklah kata-kata gadis itu, karena itu diajaknya gadis itu ke hutan karet milik ayahnya. Jeff tahu persis jikalau sore-sore begini mustahil ada orang di sana. Singkat cerita, mereka hingga di sana, dan tanpa tunggu lama lagi Jeff secepatnya membuka bajunya yang berair, juga celananya. Dibentangkannya baju dan celananya di tanah, dan diciumnya Sali sekali lagi. Kali ini beliau tidak berontak. Jeff dengan mudah menyingkirkan pakaian gadis itu, dan tampakkedua gunung kembarnya yang tidak begitu besar tapi tidak mengecewakan juga untuk ukuran gadis 14 tahun. Jeff meremas keduanya sekaligus sambil terus melumat bibir gadis itu.

Sekitar 2 menit kemudian Jeff berbisik, “Aku nggak butuh patung, layani aku. Jangan cuma diam gitu aja!” Jeff kemudian mendorong kepala Sali ke bawah, dan menyuruhnya sedikit bermain dengan kejantanannya yang telah hampir meraih ukuran maksimal. Gadis itu bingung, maklum di desa mana ada film “bokep”. Jeff memerintahkan Sali menjilat “jamur ungu”-nya. Sali sedikit bimbang, namun balasannya dilakukannya juga.

Ternyata Sali cepat belajar, beberapa menit lalu Jeff telah dibuatnya keenakan dengan permainannya di selangkaan kakinya. Terpedo itu sudah mencapai ukuran optimal, dan Sali masih terus bermain dengan benda itu, mungkin asyik juga ia bermain dengan benda itu. Mulai dari mencium, menjilat dan balasannya mengulumnya sambil menggerakkan kepalanya maju-mundur dan sesekali menghisap benda itu.

Jeff cukup puas dengan permainan itu, dan saat dilihatnya langit mulai gelap, disuruhnya Sali duduk. Jeff meregangkan kaki gadis itu, terlihat bulu-bulu halus yang masih sangat jarang di sela-sela pahanya. Jeff memakai lidahnya untuk membasahi vagina Sali. Sali bergoyang-goyang kegelian, namun nampaknya beliau menimati permainan itu. Sekarang Jeff menggunakan jarinya untuk menggosok klitoris Sali yang masih kecil. Sali makin liar bergoyang-goyang menahan nikmat. Desahan mulai keluar dari mulutnya dan vaginanya berair karena lendir yang bercampur ludah Jeff.
Tidak lama kemudian Sali mendesah panjang, dan tubuhnya bergetar mahir. Lendir mengalir dari vaginanya yang merah segar. Jeff tahu Sali sudah meraih puncak, dan inilah peluangnya untuk menusukkan terpedonya ke kemaluan Sali. Dibukanya lebih lebar paha Sali, dan diarahkannyakepala kejantanannya ke vagina Sali. Sali sendiri masih memejamkan mata menikmati sisa-sisa orgasmenya. Tapi tiba-datang beliau menjerit tertahan saat Jeff memaksa terpedonya masuk ke lubang yang sempit itu. Sali kembali menjerit dikala kejantanan Jeff kian memaksa melesak masuk ke dalam. Jeff berupaya keras menembus pertahanan vagina Sali, tapi gres setengah dari barangnya yang masuk ke dalam.

Jeff meremas dada Sali sambil menciumnya. Dia berusaha menciptakan otot kemaluan Sali sedikit mengendur, dan ketika dirasakannya mulai mengendur, disodoknya sekuat tenaga kejantanannya ke dalam kemaluan Sali. Kali ini Sali menjerit cukup keras, dan terlihat air mata keluar dari balik kelopak matanya yang tertutup menahan nyeri. Jeff tidak menghiraukan, sekarang telah seluruhkejantanannya masuk, dan mulai digoyangkannya maju-mundur diiringi jeritan-jeritan kecil Sali. Vagina Sali sungguh sempir, alasannya adalah itu belum usang Jeff bermain telah hampir keluar maninya. Jeff mempercepat gerakannya, dan Sali semakin berpengaruh menjerit. Tentu saja vagina Sali yang masih 14 tahun itu terlalu kecil untuk kejantanan Jeff yang lumayan besar.


Belum tamat Jeff bermain, bunyi Sali tidak terdengar lagi, beliau pingsan karena tidak berpengaruh menahan nyeri. Jeff sendiri mengetahuinya, tapi ia tidak mau menghentikan permainannya, dikocoknya terus kemaluan Sali yang sedikit memar, dan akhirnya Jeff mendesah dalam sambil merapatkan tubuhnya ke tubuh mungil Sali. Setelah itu Jeff sempat mengocok vagina Sali lagi, dan saat nyaris meraih puncak kedua kalinya Sali berdiri dari pingsannya. Dia eksklusif menjerit-jerit dan beberapa dikala kemudian mereka meraih puncak hampir bersamaan. Jeff tampakpuas dan letih, dan dikala dicabutnya kejantanannya dari vagina Sali, terlihat maninya keluar lagi dari kemaluan Sali. Kental berwarna putih kekuningan yang bercampur darah keperawanan Sali.

Jeff mengajak Sali membersihkan diri, dan ketika selesai diberikannya dua lembar duit Rp. 50.000-an pada Sali. Sali sungguh berterima kasih, dan Jeff berpesan semoga jangan hingga hal itu diketahui orang lain. Sali mengangguk, namun Jeff secepatnya menegur Sali dikala diperhatikannya jalannya sedikit menegang menahan perih di kemaluannya. Sali berusaha berlangsung normal meskipun dirasakannya sakit di sela pahanya. Dia juga takut kalu orang-orang desa tahu jikalau ia telah memasarkan tubuhnya pada Jeff, namun tetap saja diambilnya resiko itu demi uang yang memang sungguh dia butuhkan.

Dua hari lalu aku datang menyusul Jeff, dan di sanalah Jeff menceritakan kisahnya itu. Aku jadi sedukit terangsang juga mendengar dongeng itu, dan rencananya saya akan mencobanya juga bila ada waktu, yang terperinci hari-hari selanjutnya benar-benar mengasyikkan untuk kami bertiga. Aku dan Jeff sama-sama terpuaskan, sedangkan Sali sungguh senang mendapat ratusan ribu uang walaupun beliau harus tersiksa hampir setiap dua malam sekali alasannya adalah saya dan Jeff secara bergilir dua hari sekali mencicipi tubuh mungilnya itu.

Dua ahad kami di sana, dan di hari terakhir aku dan Jeff menidurinya bergantian dalam satu malam. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya gadis berumur 14 tahun disetubuhi oleh dua laki-laki bergantian dalam satu malam, benar-benar hebat. Tapi satu hal yang kupuji dari Sali, dari hari-kehari vaginanya tetap saja sempit, dan itu yang menciptakan aku dan Jeff betah menidurinya. Aku juga mempersiapkan untuk mengajak Alf dan Lex sahabat baikku untuk ikut serta mencicipi kenikmatan itu, pastinya itu akan kuceritakan di kisah lain. Tunggu saja pengalaman kami berempat bersama Sali.

0 Response to "Cerita Sex Sampaumur Gadis 14 Tahun"

sosial bar