728 x 90

Native bar

Cerita Sex Dikala Hujan Turun

 Cerita Sex Saat Hujan Turun - Sebelumnya aku akan memberitahu bahwa cerita ini terjadi sebelum aku mengenal lebih dalam soal internet. Hanya luarnya saja. Ketika itu saya masih kursus di sebuah forum sebut saja ITK (bukan universitas). Saat itu aku masih belum begitu kenal dengan internet, dan aku masih dalam taraf pemula dan gres sampai dalam soal hardware. Sejak berkenalan dengan seorang teman di ITK aku mulai mengenal apa itu internet. Dan saya suka sekali pergi ke warnet dan hampir tiap hari saya berada di sana. Semakin usang aku suka sekali ber-chatting ria hingga suka lupa waktu dan pulang malam hari.


  Sebelumnya saya akan memberitahu bahwa cerita ini terjadi sebelum saya mengenal lebih dal Cerita Sex Saat Hujan Turun
Cerita Sex Saat Hujan Turun

Pada hari sabtu, saya seperti biasa suka nongkrong di warnet mulai jam 18:00, dan aku langsung menganalisa e-mail. Setelah simpulan saya suka browsing sambil chat. Pada ketika itu hujan deras mengguyur seisi kota dibarengi angin. Pada dikala saya berbelanja minuman (di dalam warnet), aku menyaksikan dua orang gadis yang memasuki warnet. Mereka terlihat berair kuyup sebab kehujanan, dan saat itu mereka mengenakan kaos warna putih dan biru (cewek yang satunya), dan celana pendek. Dari balik kaos putih basah itu aku bisa melihat suatu BH warna merah muda, juga sepasang payudara molek agak besar. Saya kembali ke meja dan menyaksikan mereka berdua menempati meja di depan aku. Sambil menanti tanggapan dari chat, saya mencuri pandang pada dua gadis itu. Semakin lama aku lihat saya tidak bisa fokus, mungkin karena cara duduk mereka yang cuma mengenakan celana pendek itu, sehingga tampakpaha putih mulus dan juga sepasang buah dada dalam BH yang tercetak terang akhir baju yang berair.

Pada jam 20:00, listrik di warnet itu padam. Para penjaga warnet tampaksibuk menginformasikan bahwa listrik akan secepatnya menyala dan meminta supaya netter tabah. Tetapi 30 menit berlalu dan tidak ada gejala bahwa listrik akan menyala sehingga sebagian netter merasa tidak sabar dan pulang. Sedangkan saya masih di dalam warnet dan ingin ikut pulang, namun aku tidak mampu alasannya adalah di luar hujan masih deras dan saya hanya menjinjing motor. Begitu juga dengan 2 gadis di depan aku, mereka sudah membayar uang sewa dan tidak mampu pulang alasannya adalah hujan masih deras. Mereka cuma bisa duduk di sofa yang disediakan pihak warnet (sofa yang dipakai untuk netter apabila warnet sudah sarat dan netter bersedia menunggu), wajah mereka tampak gusar terlihat samar-samar balasan emergency light yang terlampau kecil, mungkin alasannya telah malam dan takut tidak bisa pulang.

Melihat peristiwa itu aku tidak tega juga, terlebih hawa menjadi hambar akibat angin yang masuk dari lubang angin di atas pintu. Saya pun mendekati mereka dan duduk di sofa. Ternyata mereka enak juga diajak ngobrol, dari situ aku mengetahui nama mereka ialah, Tuti (baju putih) dan Erni (baju biru). Lagi yummy-enaknya ngobrol kami dikejutkan oleh seorang cewek yang masuk ke dalam sambil terburu-buru. Dari para penjaga yang saya kenal, cewek tadi yakni pemilik warnet. Saya agak terkejut alasannya pemilik warnet ini ternyata masih muda sekitar 25 tahun, cantik dan sexy. Cewek tadi memerintahkan para penjaga pulang karena listrik tidak akan nyala sampai besok pagi.

Setelah semua penjaga pulang, cewek tadi menghampiri kami.
"Dik, Adik bertiga di sini dahulu aja, kan di luar masih hujan, sekalian nemenin Mbak ya.." kata cewek yang punya nama Riyas ini. Kemudian berjalan ke depan dan menurunkan rolling door.
"Saya bantu Mbak," kataku.

"Oh, nggak usah repot-repot.." jawabnya. Tapi saya tetap membantunya, kan telah di beri daerah berteduh. Setelah selesai saya menyisihkan satu pintu kecil biar jikalau hujan reda aku mampu lihat.
"Ditutup saja Dik, cuek di sini.." kata Riyas, dan saya menutup pintu itu. Entah setan mana yang lewat di depanku, otak ini eksklusif berpikir apa yang mau terjadi jikalau ada tiga cewek dan satu pria dalam sebuah ruangan yang tertutup tanpa orang lain yang dapat melihat apa yang sedang terjadi di dalam. Aku kembali duduk di sofa sambil mengobrol dengan mereka bertiga jadi kini ada empat orang yang tidak tahu akan berbuat apa dalam keremangan selain berbicara.
"Sebentar ya Dik, aku ke atas dulu, ganti baju.." kata Riyas.
Aku bertanya dengan nada menyelidik, "Mbak tinggal di sini ya?"
"Iya, eh kalian di atas aja yuk semoga lebih kalem, lagian baterai lampu sudah mau habis, ya.." katanya.

Kami bertiga mengikuti Mbak Riyas ke atas. Warnet itu terdapat di sebuah ruko berlantai tiga, lantai satu digunakan untuk warnet, lantai dua dipakai untuk gudang dan daerah istirahat penjaga, lantai tiga inilah rumah Riyas. Menaiki tangga ke lantai tiga, terdapat sebuah pintu yang mau menghentikan kita apabila pintu tidak dibuka, sesudah masuk kami tidak merasa berada di suatu ruko tetapi di rumah mewah yang besar, kami disuruh duduk di ruang tamu. Riyas bilang beliau akan mandi dan menyalakan suatu notebook biar kami bertiga tidak bosan menunggu beliau mandi.

Ternyata notebook itu tidak memiliki game yang mampu menciptakan kami senang. Tapi saya sempat menyaksikan shortcut bertuliskan sumber kisah (saat itu masih sumber cerita.zip), aku menerka ini yaitu permainan, ketika kubuka ternyata isinya yaitu dongeng yang menciptakan ardikku bangkit. Tuti dan Erni pun agak aib menyaksikan dongeng-cerita itu. Tapi yang menciptakan aku tidak tahan adalah mereka tidak memperbolehkan aku menutup acara itu dan mereka tetap membaca dongeng itu hingga habis. Aku pun hanya bisa terbengong melihat mereka berada di kiri dan kananku. Setelah simpulan membaca, Tuti merapatkan duduknya dan saya bisa merasakan benda kenyal melekat di lengan kananku. Erni pun mulai menggosokkan telapak tangannya ke paha kiriku. Sambil mereka menyaksikan kisah lainnya, saya mencicipi sakit di dalam celanaku. Aku telah tidak mampu fokus pada dongeng itu, mereka kian menjadi-jadi, bahkan Tuti membuka kaosnya dengan argumentasi merasa panas, sedangkan Erni membuka kaosnya dengan argumentasi kaosnya lembap dan takut masuk angin. Aku merasa panas juga menyaksikan tubuh mereka, sambil membetulkan posisi adik, aku menyampaikan bila hawanya memang panas dan aku membuka baju juga.

Kini tangan mereka berdua dirangkulkan di tengkukku, saya makin panas sebab lenganku merasa ada dua benda kenyal yang menghimpit tubuhku dari kiri dan kanan. Akhirnya jebol juga dogma ini, aku meletakkan notebook itu di meja di depanku dan aku menciumi Tuti dengan nafsu yang sudah memuncak, Tuti pun tak ingin kalah sama seranganku, dia membalas dengan liar. Sedangkan Erni sibuk menciumi dan menjilati dadaku. Tangan kiriku kulingkarkan pada Erni dan mulai meremas buah dada yang masih tertutup BH itu, sedangkan tangan kananku kulingkarkan di tubuh Tuti dan memasukkan ke dalam BH dan meremas buah dadanya. Erni mulai membuka celanaku dan menghisap penis yang sudah tegang itu.

"Ouhh.. mmhh.. yahh.." saya mulai menikmati jilatan Erni pada kepala penisku. Tuti pun jongkok di depanku dan menjilat telurku. Aku cuma bisa pasrah melihat dan menikmati permainan mereka berdua. Kemudian Riyas keluar dari kamar dengan selembar handuk menutupi badan, beliau mempesona meja di depanku agar ada cukup tempat untuk bermain. Riyas berlutut sambil membuka celana Tuti. Setelah celana Tuti lepas, beliau mulai menghisap vagina Tuti. "Ooohh.. Ssshh.. ahh.." Tuti mendesah. Tak lama lalu Tuti membalikkan tubuhnya dan kini posisi Riyas dan Tuti menjadi "69". Aku pun telah tak tahan lagi, segera kuangkat Erni dan membaringkannya di lantai dan membuka celananya. Setelah terbuka saya langsung menghisap vagina yang sedang merah itu. "Auuhh.. Ooohh.. Sayang.." desahan Erni semakin membuatku bergairah.

Dengan secepatnya saya mengarahkan penisku ke vagina Erni, dan mulai menusukkan secara perlahan. Erni merasa kesakitan dan mendorong dadaku, aku menghentikan penisku yang baru masuk kepalanya itu. Selang agak lama Erni mulai menawan pinggangku semoga memasukkan penis ke vaginanya, sesudah masuk semua aku menarik perlahan-lahan dan memasukkannya kembali secara perlahan-lahan. "Ahh.. ayo Sayang.. ohh.. cepat.." Aku pun mulai mempercepat gerakanku. Dari tempatku tampakTuti dan Riyas saling menggesek-gesekkan vagina mereka. "Auuhh.. oouuhh.. iyahh.. yahh.. sshh.. hh.." desahan Erni menjelma teriakan histeris sarat nafsu.

Tak usang kemudian Erni mencapai orgasme, tetapi saya terus menikamkan penis ke arah vagina Erni. "Gantian donk, saya juga pingin nih.." kata Tuti sambil menciumi bibir Erni. Aku pun mempesona penisku dan mengarahkan ke vagina Tuti sesudah dia telentang. Ketika penisku masuk, vaginanya terasa licin sekali dan gampang sekali untuk masuk, rupanya ia telah mengalami orgasme bersama Riyas. Tampaklah Erni dan Riyas tertidur di lantai sambil berpelukan. Sedangkan aku terus menggenjot badan Tuti hingga akhirnya Tuti telah meraih puncak dan aku mencicipi akan ada sesuatu yang akan keluar. "Aahh.." bunyi yang keluar dari mulutku dan Tuti. Akhirnya kami berempat tertidur dan pulang pada esok paginya. Setelah insiden itu saya tidak pernah bertemu dengan Tuti dan Erni. Riyas kini sudah menikah dan tetap tinggal di ruko itu. Sedangkan saya masih sibuk dengan masalah kerja dan tidak pernah ke warnet itu lagi alasannya adalah telah ada sambungan internet di rumahku.

TAMAT.

0 Response to "Cerita Sex Dikala Hujan Turun"

sosial bar