Cerita Sex Ngentot Pelajar Smp Anak-Anak
By Blinger
—
Jumat, 16 Februari 2018
—
Add Comment
—
Cerita Dewasa,
Cerita Lesbian,
Cerita Mesum,
Cerita Ngetot,
Cerita Sex
Cerita Sex Ngentot Pelajar Sekolah Menengah Pertama Bawah Umur - Masa itu kala permulaan kenalanku, kurun permulaan naluri lelakiku bermain. Dan dia menjadi awal dari semua nafsu seks kala puber yang bergejolak. Cerita panas berikut menceritakan agresi seksku pada masa smp.
Namaku [ Sensor ], ketika saya Sekolah Menengah Pertama, aku tinggal dengan saudaraku di Jakarta, di rumah itu aku bersama tiga orang anak dari saudaraku itu yang usianya sebayaku kecuali Marlena si bungsu, gadis kecil yang masih kelas enam Sekolah Dasar.
Cerita Sex Ngentot Pelajar Sekolah Menengah Pertama
Setahun telah aku tinggal dengan mereka, di usia puber sepertiku, kian hari tubuh Marlena yang biasa kupanggil Lena, tampakkian bongsor saja, dengan kulitnya yang putih bersih semakin terlihat menggairahkan nafsuku. Maklumlah turunan dari ibunya yang bertubuh bongsor dan semok.
Setiap pulang sekolah aku selalu meluangkan waktu untuk ngobrol-ngobrol dengan Lena, sekedar untuk melihatnya dari erat, apalagi payudaranya mulai tampakbentuknya. Aku pun mulai mengincarnya, suatu dikala saya akan mendekatinya, pikirku.
Dihari selanjutnya ketika Marlena pulang dari sekolah eksklusif menuju ke kamar daerah cucian-cucian yang belum kering, alasannya di rumah lagi tidak ada orang, akupun mengikutinya. Aku berusaha semoga kedatanganku tidak mengagetkannya.
“Len…udah pulang..?” iya kak, sambil melepas sepatunya.
“Awas dong…mau ganti baju nih…!” katanya memohon.
“Iya..aku keluar deh..tetapi kalo udah ganti baju boleh masuk lagi ya…!” pintaku padanya.
“Iya…..boleh…” ungkapnya.
“Aku masuk ya…!” pintaku dari luar sambil membuka pintu. Wow..seperti bidadari Marlena memakai daster kecilnya yang bertali satu, jantungku berdegup kencang seakan tidak percaya akan panorama itu.
“Len…kau bagus sekali pakai baju itu..!” ungkapku jujur padanya.
“Masa sih..!” kata Marlena sambil berputar bergaya seperti peragawati.
“Aku boleh bilang sesuatu nggak Len…?” tanyaku agak ragu padanya.
“Mau bilang apaan sih kak…serius banget deh kayaknya…!” ungkap Marlena ingin tau.
“A..aku.. boleh peluk kau nggak..,sebentar aja…!” ungkapku memberanikan diri.
“Aku akad nggak ngapa-ngapain….sangat..!” janjiku padanya.
“Iiih…peluk gimana sih.., emang mau ngapain…, nggak mau ah…!” bantahnya.
“Sebentar….aja….ya…Len..” kembali saya membujuknya, jangan sampai ia jadi takut padaku.
“Ya udah cepetan ah…yang enggak-enggak aja sih…” ujarnya agak genit sambil bangun membelakangiku.
Tak kusia-siakan saya eksklusif memeluknya diri belakang, tanganku melingkar di tubuhnya yang kecil mulus, dan padat itu, kemudian tanganku kuletakkan di bagian perutnya, sambil ku usap-usap dengan perlahan.
Gila..kontolku pribadi berdenyut begitu menjamah pantat Marlena yang empuk dan bentuknya sedikit menungging menjamah ke arah kontolku. Langsung saja kugesek-gesekkan pelan-pelan di pantatnya itu.
“Iiih….diapain sih tuh…udah….ah…!” seru Marlena sambil berupaya melepaskan pelukanku.
“Aku terangsang Len…abis kau anggun sekali Len…!” ungkapku terus terang.
Marlena pun membalikkan badannya menghadapku, sambil menatapku penuh rasa penasaran.
“Anunya berdiri ya kak…?” tanya Marlena heran.
“Iya Len…aku terangsang sekali…” ungkapku sambil mengelus-elus celanaku yang menyembul alasannya adalah kontolku yang sudah tegang.
“Kamu mau lihat nggak Len…?” tanyaku padanya.
“Nggak ah…entar ada orang masuk lho…!” katanya polos.
“Kita kunci aja dahulu pintu gerbangnya ya…!” ungkapku, sambil beranjak mengunci pintu gerbang depan.
Sementara Marlena menungguku dengan sedikit salah tingkah di kamar itu.
Sekembali mengunci pintu gerbang depan, kulihat Marlena masih di kamar itu menunggu dengan malu-malu, namun juga penasaran.
“Ya udah saya buka ya…..?” ungkapku sambil menurunkan celana pendekku pelan-pelan.
Kulihat Marlena mengbuang muka pura-pura aib namun matanya sedikit melirik mencuri pandang ke arah kontolku yang sudah kembali ngaceng.
“Nih lihat….cepetan mumpung nggak ada orang…!” ungkapku pada Marlena sambil kuelus-elus kontolku di depannya. Marlena pun melihatnya dengan tersipu-sipu.
“Iiih ngapain sih…. Malu tahu…!” ungkapnya pura-pura.
“Ngapain malu Len…kan udah nggak ada orang…” kataku berdebar-debar.
“Mau pegang nggak….?” Ungkapku sambil mempesona tangan Marlena kutempelkan ke arah kontolku. Tampak muka Marlena mulai memerah sebab aib, namun ingin tau. Masih dalam pegangan tanganku, tangan Marlena kugenggamkan pada batang kontolku yang telah ngaceng itu, sengaja ku usap-usapkan pada kontolku, beliau pun mulai berani melihat ke arah kontolku.
“Iiiih…takut ah…gede banget sih…!” ujarnya, sambil mulai mengusap-ngusap kontolku, tanpa bimbinganku lagi.
“Aaaah…ooouw….terus Len…yummy banget…!” aku mulai merintih. Sementara Marlena sesuai permintaanku terus menggenggam kontolku sambil sesekali mengusap-usapkan tangannya turun naik pada batang kontolku, rasa penasarannya makin menjadi menyaksikan kontolku yang telah ngaceng itu.
“Aku boleh pegang-pegang kamu nggak Len…?” ungkapku sambil mulai mengusap-usap lengan Marlena, lalu bergeser mengusap-usap punggungnya, hingga akhirnya ku usap-usap dan kuremas-remas pantatnya dengan lembut. Marlena terlihat gundah atas tingkahku itu, di belum mengetahui apa maksud dari tindakanku terhadapnya itu, dengan sangat hati-hati rabaan tanganku pun mulai keseluruh bagian tubuhnya, hingga sesekali Marlena menggelinjang kegelian, saya berusaha untuk tidak terlihat bernafsu olehnya, supaya dia tidak kapok dan tidak menceritakan ulahku itu kepada orang tuanya.
“Gimana Len…….?” ungkapku padanya.
“Gimana apanya…!” jawab Marlena polos.
Aku kembali bangkit dan memeluk Marlena dari belakang, sementara celanaku sudah jatuh melorot ke lantai, sekalian saja kulepas. Marlena pun diam saja saat aku memeluknya, sentuhan lembut kontolku pada daster mini warna kembang-kembang merah yang digunakan Marlena membuatku kian bernafsu padanya. akupun terus menggesek-gesekkan batang kontolku di atas pantatnya itu. Sementara tangan Marlena terus menggenggam batang kontolku yang melekat di pantatnya, sesekali ia mengocoknya pelan-pelan.
Tak lama sesudah itu perlahan kuangkat daster tipis Marlena yang menutupi bab pantatnya itu, kemudian dengan hati-hati kutempelkan batang kontolku diatas pantat Marlena yang tidak tertutupi oleh daster tipinya lagi.
“Len….buka ya celana dalamnya….!” pintaku pelan, sambil membelai rambutnya yang terurai sebatas bahunya itu.
“Eeeh….mau ngapain sih….pake dibuka segala…?” tanyanya resah.
“Nggak apa-apa nanti juga kamu tahu… Lena damai aja…!” bujukku padanya agar beliau bersikap damai, sambil perlahan-lahan saya turunkan celana dalam Marlena.
“Tuh kan…..malu…periode nggak pake celana dalam sih…!” ungkapnya merengek padaku.
“Udah nggak apa-apa….kan nggak ada siapa-siapa..!” aku menenangkannya.
“Kamu kan udah pegang punyaku…kini aku pegang punyamu ya…Len..?” pintaku padanya, sambil mulai ku usap-usap memeknya yang masih higienis tanpa bulu itu.
“Ah..udah dong…geli nih…” ungkap Marlena, saat tanganku mengusap-usap selangkangan dan memeknya.
“Ya udah….punyaku aja yang ditempelin deket punyamu ya..!” ungkapku sambil menempelkan batang kontolku ditengah-tengah selangkangan Marlena tepat diatas lubang memeknya. Pelan-pelan kugesek-gesekkan batang kontolku itu di penggalan memek Marlena. Lama kelamaan memek Marlena mulai lembap, semakin licin terasa pada gesekkan batang kontolku di potongan memek Marlena, nafsu birahiku kian tinggi, darahku rasanya mengalir cepat keseluruh tubuhku, seiring dengan degup jantungku yang kian cepat.
Masih dalam posisi membelakangiku, aku meminta Marlena membungkukkan badannya ke depan biar aku lebih leluasa menempelkan batang kontolku di tengah-tengah selangkangannya. Marlena pun menuruti permintaanku tanpa rasa takut sedikitpun, rupanya kelembutan belaianku semenjak tadi dan segala permintaanku yang diucapkan dengan hati-hati tanpa paksaan terhadapnya, meyakinkan Marlena bahwa aku tidak mungkin menyakitinya.
“Terus kita mau ngapain nih…?” ungkap Marlena heran sambil menunggingkan pantatnya persis kearah kontolku yang tegang luar biasa. Kutarik daster tipisnya lalu kukocok-kocokkan pada batang kontolku yang sudah berair oleh cairan memek Marlena tadi. Lantas aku masukan kembali batang kontolku ketengah-tengah selangkangan Marlena, melekat tepat pada bagian memek Marlena, mulai kugesek-gesekan secara beraturan, cairan memek Marlena pun semakin membasahi batang kontolku.
“Aaah…Len…enaaaak….bangeet…!” aku merintih nikmat.
“Apa sih rasanya….emang lezat…ya…?” tanya Marlena, heran.
“Iya…Len…rapetin kakinya ya…!” pintaku padanya supaya merapatkan kedua pahanya.
Waw nikmatnya, kontolku terjepit di sela-sela selangkangan Marlena. Aku terus menggenjot kontolku disela-sela selangkangannya, sambil sesekali kusentuh-sentuhkan ke cuilan memeknya yang sudah berair.
“Ah geli nih…. udah belum sih…jangan usang-usang dong…!” pinta Marlena tidak mengerti adegan ini harus selsai bagaimana.
“Iya…Len… sebentar lagi ya…!” ungkapku sambil mempercepat genjotanku, tanganku meremas pantat Marlena dengan sarat nafsu.
Tiba-tiba terasa dorongan hebat pada batang kontolku seakan sebuah gunung yang hendak memuntahkan lahar panasnya.
“Aaaaakh…aaaoww…Leenn…aku mau keluaarr…crottt…crott…crottt.. oouhh…!” air maniku muncrat dan tumpah diselangkangan Marlena, sebagian menyemprot di potongan memeknya.
“Iiiih….jadi berair..nih…!” ungkap Marlena sambil mengusap air maniku diselangkangannya.
“Hangat…licin…ya…?” ungkapnya sambil malu-malu.
“Apaan sih ini….namanya..?” Marlena mengajukan pertanyaan padaku.
“Hmm…itu namanya air mani…Len…!” jelasku padanya.
Dipegangnya air mani yang berceceran di pahanya, kemudian ia cium baunya, sambil tersenyum. Aku pun memandang Marlena sambil melihat reaksinya sesudah melihat tingkahku padanya itu. Tapi untunglah Marlena tidak kaget atas tingkahku itu, hanya sedikit rasa ingin tahu saja yang tampakdari sikapnya itu.
Aku sungguh beruntung dengan kondisi di rumah itu sore itu yang sudah memberiku kesempatan untuk mendekati Marlena gadis kecil yang anggun.
Marlenapun menurunkan daster mininya sambil mengusapkannya ke selangkangannya yang belepotan dengan air maniku, kemudian dipakainya kembali celana dalamnya yang kulepas tadi.
“Len…makasih ya…udah mau pegang punyaku tadi…!” ungkapku pada Marlena yang masih terheran-heran atas ulahku tadi.
“Kamu nggak marahkan jika besok-besok aku pengen mirip ini lagi..?” pintaku pada Marlena.
“Iya…nggak apa-apa…asal jangan lagi ada orang aja..kan malu…!” ungkap Marlena polos.
Setelah itu Marlena pun bergegas mengambil tas sekolahnya berlalu ke dalam kamarnya, saya benar-benar merasa puas dengan kepolosannya tadi, pokoknya nanti aku akan bujuk ia untuk mirip itu lagi, jikalau perlu kuajari yang lebih dari itu

0 Response to "Cerita Sex Ngentot Pelajar Smp Anak-Anak"