Cerita Asusila Memuaskan Ibu Rumah Tangga
By Blinger
—
Sabtu, 10 Februari 2018
—
Add Comment
—
Cerita Dewasa,
Cerita Lesbian,
Cerita Mesum,
Cerita Ngetot,
Cerita Sex
Cerita Mesum Memuaskan Ibu Rumah Tangga - Cerita ini berawal dari perkenalanku dengan seorang ibu rumah tangga, yang entah bagaimana ceitanya ibu rumah tangga tersebut mengetahui nomor cellulerku.
Siang itu ketika saya sedang menikmati masa istirahatku di kantin, tiba-tiba cellulerku berbunyi.
“Hallo, selamat siang Dandy” suara wanita yang manja terdengar.
“Hallo juga, siapa ya ini?” tanyaku serius.
Cerita Mesum Memuaskan Ibu Rumah Tangga
“Namaku Maya” kata wanita tersebut mengenalkan diri.
“Maaf, Mbak Maya tahu nomor HP aku darimana?” tanyaku menyelidik.
“Oya, aku temannya Via dan dari ia saya dapat nomor kamu” jelasnya.
“Ooo, Mbak Via” kataku datar.
Aku mengenang kembali kisahku sebelumnya yang berjudul Kisah bareng Ibu Muda. Via seorang sekretaris yang juga ikut ‘mewarnai’ kehidupan sex aku.
“Gimana khabar Mbak Via?” tanyaku.
“Baik, dia titip salam kangen sama kamu” terperinci Maya.
Sekitar 5 menit, kami berdua berbincang-bincang layaknya orang yang telah kenal usang. Suara Maya yang lembut dan manja, membuat aku menduga-nerka bagaimana bentuk fisik dari perempuan tersbut. Saat saya membayangkan bentuk fisiknya, Maya membuyarkan lamunanku.
“Hallo.. Dandy, kau masih disitu?” tanya Maya.
“Iya.. iya Mbak..” kataku nervous.
“Hayo mikir siapa, lagi mikirin Via ya?” tanyanya menggodaku.
“Nggak kok, malahan mikirin Mbak Maya tuh” celetukku.
“Masa sih.. Jadi GR nih” dengan suara yang menarik hati.
“Dandy, boleh kan kalau aku mau ketemu kau?” tanya Maya.
“Boleh aja Mbak.. Dengan senang hati” jawabku semangat.
“Oke deh, kita mau ketemuan dimana?” tanyanya semangat.
“Terserah Mbak deh, Dandy ngikut aja” jawabku pasrah.
“Oke deh, nanti sore aku tunggu kau di excelso di Tunjungan Plasa” katanya.
“Oke, hingga nanti Dandy.. Aku tunggu jan 18.00″ sambil berkata demikian, HP nya pribadi off.
Waktu memperlihatkan pukul 16.30, datang saatnya aku pulang kantor dan segera meluncur ke Tunjungan Plaza. Sebelumnya aku prepare di kantor, aku mandi dan membersihkan diri sehabis sepanjang hari saya melakukan pekerjaan . Untuk peralatan mandi, memang saban hari aku menenteng sebab memang saya sering olahraga sesudah jam kantor.
Tiba di TP, saya segera memarkir mobil starletku yang butut di lantai 3. Jam ditanganku memberikan pukul 18 kurang seperempat. Aku segera menuju ke excellso mirip yang dikatakan Maya.
Aku segera mengambil kawasan duduk disisi pagar kaca, sehingga aku bisa menyaksikan orang hilir mudik di area pertokoan terbesar di Surabaya ini. Saat mataku menyaksikan suasana di sekelilingku, bola mataku berhenti pada seorang wanita setengah baya yang duduk sendirian. Menurut tebakan aku, wanita ini berumur sekitar 35 tahun ke atas. Wajahnya yang lumayan putih, membuat saya tertegun. Mataku yang mulai bandel, berusaha menjelajahi panorama yang sungguh menggiurkan di depanku. Kakinya yang jenjang, ditambah dengan kepingan pahanya yang putih di balik rok mininya, menciptakan makin aku gemas. Dalam hatiku, wah betapa bahagianya aku jikalau orang tersebut ialah Maya yang menelepon aku siang tadi.
Disaat saya membayangkan sosok di depan mataku, tiba-datang perempuan itu berdiri dan menghampiri daerah dudukku. Dadaku berdegup kencang dikala ia betul-betul mengambil tempat duduk semeja dengan aku.
“Maaf, kau Dandy ya?” tanyanya sambil menatapku.
“Iy.. iyaa.. Kamu Maya?” tanyaku balik sambil bangkit.
Jarinya yang lentik menjamah tanganku untuk bersalaman dan darahku terasa mendesir saat tangannya yang halus meremas tanganku dengan halus.
“Silahkan duduk May” kataku sambil mempesona satu dingklik di depanku.
“Terima kasih” kata Maya sambil tersenyum.
“Dari tadi anda duduk disitu kok tidak eksklusif kesini?” tanyaku.
“Aku tadi sempat ragu, apakah kamu memang Dandy” jelasnya.
“Aku tadi juga berpikir, apakah wanita yang cakep ini kamu?” kataku sambil senyum.
Kami bercerita panjang lebar ihwal apapun yang mampu diceritakan, kadang-kadang kami berdua saling canda, saling menarik hati dan sesekali bicara yang ‘nyerempet’ ke arah sex. Lesung pipinya yang dalam, menambah tepat saja parasnya yang semakin matan.
Dari pembicaraan tersebut, terungkaplah jika Maya yakni seorang perempuan yang sedang tugas di Surabaya. Maya ialah seorang usahawan dan kebetulan selama 3 hari dinas di Surabaya.
“May, kau kenal Via dimana?” tanyaku mnyelidik.
“Via ialah teman chattingku di YM, aku dan via sering online bersama. Dan kami terbuka satu sama lain dalam hal apapun. Begitu juga untuk dongeng rumah tangga, bahkan duduk perkara sex sekalipun.” mulut mungil Maya menjelaskan dengan penuh semangat.
“OOo, begitu..” kataku sambil manggut-manggut.
“Ini adalah hari pertamaku di Surabaya dan aku bermaksud menginap 3 hari, hingga persoalan kantorku akhir” jelasnya tanpa aku tanya.
“Sebenarny tadi Via juga mau dateng namun alasannya adalah ada program keluarga, mungkin besok gres bisa dateng” jelasnya kembali.
“Memang Mbak Maya nginap dimana?” tanyaku.
“Kebetulan sama perwakilan kantor disini, di bookingin di Hotel E..” jelasnya.
“Mmm, emang Mbak sama sapa sih?” tanyaku menyelidik.
“Ya sendirilah, Dandy.. Makanya dikala itu saya tanya Via” kata Maya.
“Tanya apa?” tanyaku mengejar-ngejar .
“Apakah punya sahabat yang mampu temanin saya selama di Surabaya” kata Maya.
“Dan dari situlah saya tahu nomor celluler kamu” lanjutnya.
Tanpa terasa jam tanganku menawarkan pukul 21.15 wib, dan saya liat sekelilingku pertokoan mulai sepi alasannya adalah memang telah mau tutup.
“Dan.. Kamu mau anter aku balik ke hotel?” tanya Maya.
“Boleh, periode iya saya tega biarin Mbak Maya sendirian balik ke hotel” kataku.
Setelah dialog singkat, kami secepatnya menuju parkiran mobil dan segera meluncur ke Hotel E.. Yang tidak jauh dari sentra pertokoan Tunjungan Plasa.
Aku dan Maya bergegas menuju lift untuk naik ke lantai 3, dan sesampainya di kamar nomor 306, Maya memperlihatkan saya untuk masuk sejenak. Bau wewangian yang menggugah syaraf kelaki-lakianku serasa berontak saat saya berjalan di belakangnya.
“Silahkan duduk Dan, saya mau mandi dahulu” kata Maya sambil melempar tas kecilnya, diatas ranjang.
Mataku menyelidik, apakah benar Maya sendirian dalam kamar. Dan memang benar tampaknya ia sendirian. Aku lihat kopor kecilnya yang masih rapi, nampak cuma beberapa helai gaun yang berada di atas ranjang. Saat mataku masih asyik menjelajahi ruangan kamar Maya, datang-tiba sesosok badan yang jenjang dengan hanya mengenakan sehelai handuk yang menutupi tubuhnya yang montok.
“Dandy, saya minta tolong nih buangan airnya di bathup nggak mampu dibuang” kata Maya sambil tetap bangun di paras pintu kamar mandi.
Aku secepatnya berdiri dari dudukku dan berlangsung menuju kamar mandi. Ketika saya melalui badan Maya, mataku yang nakal sedikit mencuri pandang di belahan dada Maya yang terkesan menyembul keluar alasannya terhimpit ketatnya handuk yang menutupi tubuhnya. Aroma sabun lux kuning merasuk menusuk hidungku, aku segera menuju bathup yang dimaksud oleh Maya.
Aku memakai tangkai sendok untuk mencungkil karet epilog bathup yang memang rapat sekali. Aku berupaya membuka segera sebab fikiran kotor mulai menjejali otakku. Dan jadinya”sswaasshh..” suara air pribadi keluar dikala karet penutupnya sudah terlepas.
“Oke May.. Sudah terbuka nih, silahkan lanjutin mandinya” kataku sambil masih membelakangi badan Maya yang sedang berdiri di belakangku. Ketika saya membalikkan badanku, betapa kagetnya aku dengan panorama di depan mataku. Tubuh Maya tidak dibalut lagi oleh handuk putih yang menempel di tubuhnya tadi.
“Ma-Maaff.. Aku mau keluar May” kataku nervous.
Maya tidak menjawab dan bahkan tidak memberiku jalan. Wanita itu langsung berhamburan memeluk tubuhku, dan merangkul leherku dengan akrab.
“Dan, Via telah ceritakan kecanggihan permainan sex kau” aroma wangi mulutnya yang segar, membuat jantungku kian berdetak kencang.
“Mmm, anu Mbak.. Mungkin Via terlalu berlebihan” kataku.
“Berikan aku kenikmatan itu Dan..” sambil berkata demikian, bibir mungil Maya eksklusif mendarat di bibirku. Lidahnya yang liar serasa menggeliat mencari lidahku.
Lidahku yang telah mulai terpancing birahi, eksklusif menyambut keliaran pengecap Maya. Tanganku yang tadi cuma berdiam diri, kini saya beranikan memeluk tubuhnya yang sexy bagaikan Britney Spears. Aku merasakan dadanya yang semok mendesak dadaku yang bidang. Sesekali tanganku mulai makin berani menjelajahi pinggul Maya, pantatnya yang masih tampakkencang meskipun telah menginjak 35 tahun. Aku meremas pantatnya berkali-kali sehingga hal itu menciptakan nafsu Maya makin naik.
Bibirku yang sudah mulai marah dan terbawa birahiku yang mulai merangkak ke kepalaku. Lehernya yang jenjang menjadi target empuk bibirku yang mulai menari-nari di atasnya.
“Ooohh.. Dandy.. Geelli..” desah Maya.
Serangan bibirku makin menjadi di leher Maya, sehingga beliau hanya bisa merem melek mengikuti jilatan lidahku.
Setelah saya puas dilehernya, aku mulai menurunkan tubuhkan sehingga bibirku kini berhadapan dengan 2 buat bukit kembarnya yang masih ketat dan kencang. Aku semakin terbawa dalam ajaran birahi yang meledak-ledak, bibir Maya yang mulai terasuki nafsu birahinya sendiri mulai ganas melahap bibriku.
Jari jemarinya yang lentik, sepertinya terlatih untuk membuka semua kancing yang menempel di hem yang saya kenakan.
Disaat aku mulai telanjang dada, bibirnya mulai menjalar ke arah leherku dan sesaat kemudian bibirnya sudah mendarat pada dadaku. Jilatan lidahnya yang kian liar, tampaknya tidak mau menyisihkan sedikitpun dada bidangku.
Darahku mendesir mahir sampai menciptakan aku terangsang andal, dikala lidahnya menari di puntingku. Daerah yang paling sensitif di tubuhku, yang mampu menggugah nafsu birahiku secara sepontan.
“Ohh.. May.. Aaakh” aku merintih sambil menekan tengkuknya ke dada bidangku.
Maya betul-betul telah di kuasai oleh birahi yang tinggi, dan tanpa saya sadari ketika saya telah mencicipi kaki telah acuh taacuh. Ternyata Maya sudah melepas jeans yang saya pakai sebelumnya, sehingga kini aku cuma menganakan celana dalam saja.
Lidahnya kian lama semakin ke bawah dan sampailah lidahnya memainkan pusarku. Tangannya meremas kedua pantatku sehingga saya benar-benar terangsang andal.
Dengan gaya yang telah fasih, giginya berupaya mempesona celana dalamku dari depan. Kedua tanganya dengan mudah menarik CD ku dari belakang.
“Gila.. Pantes Via puas, habis penismu gede seperti ini” kata Maya memuji.
Adik kecilku yang tadi sudah ingin melepaskan diri dari belenggu CD yang membatasinya akibatnya bisa lepas. Aku menyaksikan kebawah dan menyaksikan Maya yang sedang terpana dengan besarnya penisku. Penisku bangun tegak sekali dan sesaat kemudian.
“Mmm.. Srup.. Srupp” lisan Maya yang mungil mulai mengulum batang penisku.
“Aakhh.. May.. Nikmmaat.. Sekkalii” rintihku.
Tanganku menekan dalam-dalam kepala belakang Maya, utnuk mempermudah bergerak maju mundur dan dikala penisku benar-benar terlean dalam lisan Maya, kenikmatan yang hebat saya rasakan ketika ujung penisku menthok pada dasar lisan Maya.
“Sss.. Maayy.. Uhh” aku mendesah kenikamatan.
Maya tidak mempedulikan desahan, rintihan dan eranganku, perempuan itu denagn buasnya mengulum, menjilat, mengocok dan mengoral batang kemaluanku.
Sampai aku tidak berpengaruh bangun.
Setelah Maya puas dengan aksinya, Maya bangun dari posisi pertama yang sebelumnya jongkok di bawah selangkangan aku. Kesempatan ini tidak aku sia-siakan untuk mendorong tubuhnya sehinga badan Maya terduduk di kloset. Aku eksklusif jongkok dan membuka kedua pahanya yang putih. Lubang vaginanya yang memerah dan disekelilingi rambut-rambut yang begitu lebat. Aroma wangi dari lubang kewanitaannya, menciptakan tubuhku berdesir mahir. Tanpa menunggu lama lagi, lidahku langsung aku julurkan ke permukaan bibir vagina.
Tanganku bereaksi untuk menyibak rambut yang tubuh disekitar selangkangannya untuk mempermudah aksiku menjilati vaginanya.
“Sss.. Dandyy.. Nikmaat sekali.. Ughh” rintih Maya.
Tubuhnya menggelinjang, sesekali diangkat menyingkir dari jilatan lidahku di ujung clitorisnya. Gerak badan Maya yang seringkali berputa-putar dan naik turun, menciptakan lidahku kian berani menghujam lebih dalam ke lubang vaginanya.
“Daanndy.. Gilaa banget pengecap kamu..” rintih Maya.
“Terus.. Sayang.. Jangan lepaskan..” pintanya.
Lidahku bergerak keluar masuk dalam lubang vaginanya, sesekali saya memancing clitorisnya untuk segera keluar dari persembunyiiannya.
Paha Maya dibuka lebar sekali sehingga membuat lebih mudah lidahku untuk menjilat, mengulum, dan sesekali menghisap dalam-dalam clitorisnya. Aku perhatikan Maya merem melek menikmati nakalnya lidahku dan sesekali aku perhatikanl, perempuan tersebut mengigit bibir bawahnya seakan menahan rasa nikmat yang bergejolak di hatinya.
“OOhh.. Dandy, saya nggak tahan.. Ugh..” rintihnya.
Semakin Maya merintih, mendesah dan mengerang, makin membuat nafsuku bergejolak. Sampai saya rasakan beberapa cairan yang terasa asin, dan saya semakin bernafsu untuk menjilatinya.
“Danddy.. Danddyy.. Ooogghh..” Maya merintih panjang.
Dibarengi dengan tubuhnya yang kejang-kejang, dan terasa pahanya menggapit kepalaku dengan kencang. Jari nya yang lentik meremas rambutkuyang sedikti gondrong.
Maya terpejam sejenak menikmati lelehnya cairan yang meluber dari lubang vaginanya, lidahku tiada henti menerima luapan cairan bening yang bau tersbut. Seakan-akan saya tidak acuh dengan orgasme yang didapat Maya pertama kalinya. Dan ketika saya rasakan cairan tersebut sudah bersih, saya membimbing tubuh Maya yang masih lemas. Aku mendekap badan Maya dari belakang, kami berdua menghadap cermin.
“Ohh.. Dandy..” Maya mendesah ketika lidahku mulai menyentuh bagian belakang telinganya. Tangannya menggapai leherku, dan tanganku sepontan meraih buah dadanya dari belakang. Dengan sentuhan yang sangat halus, pantatnya yang sintal bergerak memutar di gesekan batang kemaluanku yang dari tadi masih tegang. Jari telunjuk kananku bergerak menggesek clitoris Maya yang sduah mulai berair kemabli.
“Danddyy..” Maya kembali mendesah.
Peralahan saya mengangkat kaki kanan Maya dan saya sandarkan di wastafel kamar mandi. Sehingga Maya cuma bangkit dengan satu kaki saja, batang kemaluanku telah mulai mencari lubang kewanitaan Maya dan sekali hentak.
“Bleesst..” kepala penisku mengoyak vagina Maya.
“Aowww.. Giillaa.. Besaar sekali Dan.. Punya kau” Maya merintih.
Perlahan aku beregark maju mundur di lubang vagina Maya, sampai risikonya aku mencicipi cairan yang cukup di lubang vagina Maya. Sekali tekan “bless” seluruh batang kemaluanku masuk dalam lubang senggama Maya dan bersama dengan itu, tubuh Maya sedikit terangkat.
“Hekk.. Danndyy.. Nikmatt sekalii.. Oooh” Maya merintih kembali.
Gerakan maju mundur pinggulku menciptakan badan Maya menggelinjang jago dan sesekali memutar pinggulnya sehingga menjadikan kenikmatan yang hebat di batang kemaluanku.
“Danddy.. Jangan berhenti sayang.. Oogghh” pinta Maya.
Nampak jelas di cermin saya lihat wajahnya yang begitu menikmati tusukan batang kemaluanku makin menjadi. Aku merasakan sekali ujung penisku bergerak masuk sampai di ujung kemaluan Maya.
Wanita tersebut menggoyang kepalanya kekanan dan kekiri seirama dengan penisku yang menghujam dalam pada lubang kewanitaannya. Kedua tanganku meremas kedua bukit kembar Maya dan sesekali membantu pinggul Maya utnuk berputar-putar.
“Danddy.. Kamu.. Memang.. Jagoo.. Ooohh” tangan Maya bersandar di cermin sedangkan kepalanya bergerak ke atas kebawah, kesmaping kiri kanan seperti orang yang lagi triping.
Beberapa dikala lalu Maya mirip orang kesurupan dan ingin memcau birahinya sekencang mungkin. Aku berupaya mempermainkan birahinya, disaat Maya semakin liar. Tempo yang semula tinggi dengan impulsif aku kurangi sampai seperti gerakan lambat, sehingga centi demi centi batang kemaluanku terasa sekali mengoyak dinding vagina Maya.
“Danddy.. Terus.. Sayangg.. Jangan berhenti..” Maya meminta.
Permainanku tersebut betul-betul memancing birahi Maya untuk meraih kepuasan birahinya. Sesaat kemudian, Maya benar-benar tidak mampu mengontrol birahinya. Tubuhnya bergetar andal.
“Danddyy.. Aakuu.. Kelluuarr.. Aaakkhkhh.. Goyang sayang” rintih Maya.
Gerakan penisku mirip goyangan anisa bahar yang patah-patah, membuat birahi Maya semakin tak terkendali.
“Dann.. Ddy.. Aaammppunn” rintih Maya panjang.
Bersamaan dengan rintihan tersebut, aku menekan penisku dengan dalam sampai mentok dilangit-langit vagina Maya. Aku merasakan semburan cairan membasahi seluruh batang kemaluanku.
“Creek.. Crek.. Crek..” bunyi penisku masih bergerak keluar masuk di lubang vagina Maya. Aku makin tidak peduli dengan Maya yang sudah menerima kedua orgasmenya, sebab aku sendiri lagi berusaha untuk mencari kepuasan birahiku. Perlahan, saya turunkan kaki kanan Maya yang pada posisi pertama saya naikkan ke atas wastafel.
Posisi Maya, kini sedikit menungging dengan posisi bangun. Penisku yang masih tertancap pada lubang vaginanya eksklusif aku hujamkan kembali ke lubang vagina Maya.
“Ohh.. Dandyy.. kau.. memang.. ahli..” kata Maya sambil merintih.
Kedua telapak tanganku mencengkeram pinggul Maya dan menekan tubuhnya supaya penisku mampu lebih menusuk ke dalam lubang vaginanya.
“May.. vagina kamu memang asyik banget” pujiku.
“Kamu suka minum jamu ya kok masih seret?” tanyaku.
Maya hanya tersenyum dan kembali memejamkan matanya menikmati bacokan penisku yang tiada hentinya. Batang kemaluanku terasa dipijat oleh vagina Maya dan hal tersebut menjadikan kenikmatan yang luar biasa. Permainan sexku sungguh-sungguh bisa diterima Maya sebab ternyata perempuan tersebut bisa mengimbangi permainan aku.
Sampai kesannya saya tidak bisa menahan kenikmatan yang mulai tadi sudah mengoyak birahiku.
“May.. Aku mau.. Keluuar..” kataku mendesah.
“Aku juga sayang.. Oooh.. Nikmat terus.. Terus..” Maya merintih.
“Dandyy.. Keluarin didalam.. Aku ingin rasain semprotan kamu..” pinta Maya.
“Iya May.. Ooogh.. Akakhh..” rintihku.
Gerakan maju mundur dibelakang tubuh Maya makin kencang, makin cepat dan makin liar. Kami berdua berusaha meraih puncak bantu-membantu.
“Danddy.. Aku.. Aku.. Nggaak kkuaat.. Aaakhh” rintih Maya.
“Aku juga May.. Oohh.. Maayy” aku merintih.
“crut.. Crut.. Crut..” spermaku muncrat membanjiri vagina Maya.
Karena begitu banyaknya spermaku yang keluar, beberapa tetes sampai keluar dicelah vagina Maya. Setelah beberapa dikala kemudian maya membalikkan tubuhnya dan berhadapan dengan tubuhku.
“Dandy ternyata Via memang benar, kau mahir banget dalam persoalan sex. Kamu memang hebat” kata Maya merintih.
“Biasa aja kok Mbak, aku cuma melakukan sepenuh hatiku saja” kataku merendah.
“Kamu luar biasa..” Maya tidak meneruskan kata-katanya alasannya bibirnya yang mungil kembali menyerang bibirku yang masih terdiam.
Tanpa terasa kami berdua telah naik di dalam bathup, kami mandi bareng . Guyuran air di pancuran shower membuat tubuh Maya yang bahenol seperti bersinar diterpa cahaya lampu yang dipancarkan ke seluruh ruangan tersebut. Dengan halus, aku menuangkan sabun cair dari perlengkapan bag shop punya Maya. Aku mnggosok-gosokkan sabun ke seluruh badan Maya, sesekali jariku yang pembangkang memilin punting Maya.
“Ughh.. Danddy..” Maya merintih dan bergetar saat saya permainkan puntingnya yang memerah.
Untuk yang kesekian kalinya, kami berdua berburu kenikmatan. Dan entah telah berapa kali Maya seorang perempuan yang sedang butuh kehangatan mendapatkan orgasme. Kami memburu kenikmatan berkali-kali, kami berdua mengejar-ngejar birahinya yang tidak pernah kenyang.
Sampai akhirnya waktu telah memperlihatkan pukul 23.30 wib, dimana aku mesti secepatnya balik kerumah alasannya adalah celullerku berapa kali tadi berbunyi.

0 Response to "Cerita Asusila Memuaskan Ibu Rumah Tangga"