Cerita Asusila Dengan Janda
By Blinger
—
Senin, 12 Februari 2018
—
Add Comment
—
Cerita Dewasa,
Cerita Lesbian,
Cerita Mesum,
Cerita Ngetot,
Cerita Sex
Cerita Mesum Dengan Janda - Pada suatu siang sekitar jam 12-an saya berada di suatu toko buku Gramedia di Gatot Subroto untuk berbelanja majalah edisi khusus, yang katanya sih edisi terbatas. Hari itu aku mengenakan kaos t-shirt putih dan celana katun debu-debu.
Cerita Mesum Dengan Janda
Sebenarnya pecahan badanku sih lazimsaja, tinggi 170 cm berat 63 kg, tubuh cukup tegap, rambut cepak. Wajahku biasa saja, bahkan cenderung terkesan sangar. Agak kotak, hidung biasa, tidak mancung dan tidak pesek, mataku agak kecil senantiasa menatap dengan tajam, alisku tebal dan jidatku cukup pas deh. Jadi tidak ada yang istimewa denganku.
Saat itu keadaan di toko buku tersebut tidak ramai, walaupun dikala itu yakni jam makan siang, cuma ada sekitar 7-8 orang. Aku secepatnya mengunjungi rak bagian majalah. Nah, dikala saya hendak mengambil majalah tersebut ada tangan yang juga hendak mengambil majalah tersebut. Kami sempat saling merebut sesaat (sepersekian detik) dan kemudian saling melepaskan pegangan pada majalah tersebut sampai majalah tersebut jatuh ke lantai.
“Maaf..” kataku sambil memungut majalah tersebut dan memberikannya kepada orang tersebut yang ternyata yaitu seorang perempuan yang berumur sekitar 25 tahun (dan ternyata tebakanku salah, yang benar 36 tahun), berwajah lingkaran, bermata tajam (bahkan agak berani), tingginya sama denganku (menggunakan sepatu hak tinggi), dan dadanya cukup membusung. “Busyet! semok juga nih ibu-ibu”, pikirku.
“Nggak pa-pa kok, nyari majalah X juga yah.. aku sudah mencari ke mana-mana tapi nggak dapet”, katanya sambil tersenyum anggun.
“Yah, edisi ini katanya sih terbatas Mbak..”
“Kamu suka juga fotografi yah?”
“Nggak kok, cuma buat koleksi aja kok..”
Lalu kami berbicara banyak perihal fotografi hingga akhirnya,
“Mah, Mamah.. Ira sudah dapet komiknya, beli dua ya Mah”, potong seorang gadis cilik masih berseragam Sekolah Dasar.
“Sudah dapet Ra.. oh ya maaf ya Dik, Mbak duluan”, katanya sambil menggandeng anaknya.
Ya telah, nggak mampu majalah ya nggak pa-pa, aku lihat-lihat buku terbitan yang gres saja.
Sekitar setengah jam lalu ada yang menegurku.
“Hi, asyik amat baca bukunya”, tegur bunyi perempuan yang halus dan ternyata yang menegurku yaitu perempuan yang tadi pergi bersama anaknya. Rupanaya dia balik lagi, nggak bawa anaknya.
“Ada yang kelupaan Mbak?”
“Oh tidak.”
“Putrinya mana, Mbak?
“Les piano di tempat Tebet”
“Nggak dianter?
“Oh, supir yang nganter.”
Kemudian kami terlibat obrolan perihal fotografi, cukup lama kami mengatakan sampai kaki ini pegal dan ekspresi pun jadi haus.
Akhirnya mbak yang berjulukan Maya tersebut mengajakku makan fast food di lantai bawah. Aku duduk di bersahabat jendela dan Mbak Maya duduk di sampingku.
Harum wewangian dan tubuhnnya membuatku konak. Dan aku merasa, semakin lama ia semakin mendekatkan badannya padaku, aku juga mencicipi tubuhnya sungguh hangat.
Busyet dah, lengan kananku senantiasa bergesekan dengan lengan kirinya, tidak keras dan bergairah tapi sehalus mungkin. Kemudian, kutempelkan paha kananku pada paha kirinya, terus kunaik-turunkan tumitku sehingga pahaku menggesek-gesek dengan perlahan paha kirinya. Terlihat ia beberapa kali menelan ludah dan menggaruk-garukkan tangannya ke rambutnya. Wah beliau udah kena nih, pikirku. Akhirnya dia mengajakku pergi meninggalkan kedai makanan tersebut.
“Ke mana?” tanyaku.
“Terserah kau saja”, balasnya mesra.
“Kamu tahu nggak daerah yang privat yang yummy buat ngobrol”, kataku memberanikan diri, terus terang aja nih, maksudku sih motel.
“Aku tahu kawasan yang privat dan lezat buat ngobrol”, katanya sambil tersenyum.
Kami menggunakan taksi, dan di dalam taksi itu kami cuma berdiam diri kemudian kuberanikan untuk meremas-remas jemarinya dan dia pun membalasnya dengan cukup hot. Sambil meremas-remas kutaruh tanganku di atas pahanya, dan kugesek-gesekkan. Hawa badan kami meningkat dengan tajam, saya tidak tahu apakah sebab AC di taksi itu sungguh jelek apa nafsu kami telah sungguh tinggi.
Kami datang di suatu motel di kawasan kota dan pribadi memesan kamar standart. Kami masuk lift diantar oleh seorang room boy, dan di dalam lift tersebut aku memilih bangkit di belakang Mbak Maya yang bangkit sejajar dengan sang room boy. Kugesek-tabrakan dengan perlahan burungku ke pantat Mbak Maya, Mbak Maya pun memberi tanggapandengan menggoyang-goyangkan pantatnya berlawanan arah dengan gesekanku.
Ketika room boy meninggalkan kami di kamar, eksklusif kepeluk Mbak Maya dari belakang, kuremas-remas dadanya yang membusung dan kucium tengkuknya. “Mmhhh.. kamu badung sekali deh dari tadi.. hhm, saya sudah tidak tahan nih”, sambil dengan segera ia membuka bajunya dan dilanjutkan dengan membuka roknya. Ketika tangannya mencari reitsleting roknya, masih sempat-sempatnya tangannya meremas batanganku.
Dia secepatnya membalikkan tubuhnya, payudaranya yang berada di balik BH-nya sudah membusung. “Buka dong bajumu”, pintanya dengan sarat kemesraan. Dengan cepat kutarik kaosku ke atas, dan celanaku ke bawah. Dia sempat terbelalak saat melihat batang kemaluanku yang telah keluar dari CD-ku.
Kepala batangku cuma 1/2 cm dari pusar. Aku sih tak inginambil sakit kepala, segera kucium bibirnya yang tipis dan kulumat, segera terjadi peperangan pengecap yang cukup dahsyat sampai nafasku ngos-ngosan dibuatnya.
Sambil berciuman, kutarik kedua cup BH-nya ke atas (ini yaitu cara paling gampang membuka BH, tidak perlu mencari kaitannya). Dan bleggh.., payudaranya sungguh besar dan bulat, dengan puting yang kecil warnanya coklat dan tampakurat-uratnya kebiruan. Tangan kananku secepatnya memilin puting sebelah kiri dan tangan kiriku sibuk menurunkan CD-nya.
Ketika CD-nya telah mendekati lutut segera kuaktifkan jempol kaki kananku untuk menurunkan CD yang menggantung erat lututnya, dan bibirku terus turun lewat lehernya yang cukup jenjang. Nafas Mbak Maya semakin mendengus-dengus dan kedua tangannya meremas-remas buah pantatku dan kadang-kadang memencetnya.
Akhirnya mulutku hingga juga ke buah semangkanya. Gila, besar sekali.. ampun deh, kurasa BH-nya diimpor secara khusus kali. Kudorong tubuhnya secara perlahan sampai kami jadinya saling menindih di atas kasur yang cukup empuk. Segera kunikmati payudaranya dengan memakai tangan dan lidahku bergantian antara kiri dan kanan.
Setelah cukup puas, aku segera menurunkan ciumanku kian ke bawah, ketika ciumanku mencapai bab iga, Mbak Maya menggeliat-geliat, saya tidak tahu apakah ini alasannya efek ciumanku atau kedua tanganku yang memilin-milin putingnya yang sudah keras. Dan kian ke bawah terlihat bulu kemaluannya yang tercukur rapi, dan bacin khas perempuan yang sangat merangsang membuatku bergegas menuju liang senggamanya dan segera kujilat bagian atasnya berulang kali.
Kulihat Mbak Maya segera menghentak-hentakkan pinggulnya ketika saya memainkan klitorisnya. Dan sekarang tampakdengan terang klitorisnya yang kecil. Dengan rakus kujilat dengan keras dan cepat. Mbak Maya bergoyang (maju mundur) dengan segera, jadi target jilatanku nggak begitu sempurna, segera kutekan pinggulnya. Kujilat lagi dengan cepat dan sempurna, Mbak Maya ingin menggerak-gerakkan pinggulnya tapi tertahan. Tenaga pinggulnya hebat kuatnya.
Aku berusaha menahan dengan sekuat tenaga dan erangan Mbak Maya yang tadinya sayup-sayup sekarang menjadi keras dan liar. Dan kuhisap-hisap klitorisnya, dan aku merasa ada yang masuk ke dalam mulutku, segera kujepit diantara gigi atasku dan bibir bawahku dan secepatnya kugerak-gerakkan bibir bawahku ke kiri dan ke kanan sambil mempesona ke atas.
Mbak Maya menjerit-jerit keras dan tubuhnya melenting tinggi, aku sudah tidak kuasa untuk menahan pinggulnya yang bergerak melenting ke atas. Terasa liang kewanitaannya sungguh lembap oleh cairan kenikmatannya. Dan dengan secepatnya kupersiapkan batanganku, kuarahkan ke liang senggamanya dan, “Slebbb…” tidak masuk, cuma ujung batanganku saja yang melekat dan Mbak Maya merintih kesakitan.
“Pelan-pelan Ndi”, pintanya lemah.
“Ya deh Mbak”, dan kuulangi lagi, tidak masuk juga. Busyet nih cewek, sudah punya anak tapi masih kayak perawan begini. Segera kukorek cairan di dalam liang kewanitaannya untuk melumuri kepala kemaluanku, lalu perlahan-lahan namun pasti kudorong lagi senjataku.
“Aarrghh.. pelan Ndi..” Busyet padahal baru kepalanya saja, sudah sukar masuknya. Kutarik perlahan, dan kumasukan perlahan juga.
Pada hitungan ketiga, kutancap agak keras. “Arrhhghh…” Mbak Maya menjerit, terlihat air matanya meleleh di segi matanya.
“Kenapa Mbak, mau udahan dulu?” bisikku padda Mbak Maya sehabis melihatnya kesakitan.
“Jangan Ndi, terus aja”, balasnya manja.
Kemudian kumainkan maju mundur dan pada hitungan ketiga kutancap dengan keras. Yah, bibir kemaluannya ikut masuk ke dalam. Wah sakit juga, habis sampai bulu kemaluannya ikut masuk, bayangkan aja, bulu kemaluan kan kasar, terus menempel di batanganku dan dijepit oleh bibir kewanitaan Mbak Maya yang ketat sekali.
Dengan perjuangan tiga hitungan tersebut, balasannya mentok juga batanganku di dalam liang senggama Mbak Maya. Terus terperinci saja, usahaku ini sangat menguras tenaga, hal ini mampu dilihat dari keringatku yang mengalir sungguh deras.
Setelah Mbak Maya damai, secepatnya senjataku kugerakkan maju mundur dengan perlahan dan Mbak Maya mulai menikmatinya. Mulai ikut bergoyang dan suaranya mulai ikut mengalun bareng genjotanku. Akhirnya liang kewanitaan Mbak Maya mulai terasa licin dan rasa sakit yang diakibatkan oleh kasar dan lebatnya bulu kemaluannya sedikit berkurang dan bagiku ini ialah sungguh nikmat.
Baru sekitar 12 menitan menggenjot, datang-tiba beliau memelukku dengan kencang dan, “Auuwwww….”, jeritannya sangat keras, dan beberapa detik lalu beliau melepaskan pelukannya dan terbaring lemas.
“Istirahat dahulu Mbak”, tanyaku.
“Ya Ndi.. aku ingin istirahat, abis capek banget sich.. Tulang-tulang Mbak terasa mau lepas Ndi”, bisiknya dengan nada manja.
“Oke deh Mbak, kita lanjutkan nanti aja..”, balasku tak kalah mesranya.
“Ndi, kamu sering ya ginian sama wanita lain..”, pancing Mbak Maya.
“Ah nggak kok Mbak, gres kali ini”, jawabku berbohong.
“Tapi dari caramu tadi terlihat profesional Ndi, Kamu andal Ndi..
Sungguh perkasa”, puji Mbak Maya.
“Mbak juga jago, lubang surga Mbak sempit banget sich.., padahal kan Mbak udah punya anak”, balasku balik memuji.
“Ah kamu bisa aja, jikalau itu sich rahasia dapur”, balasnya manja.
Kamipun tertawa berdua sambil berpelukan.
Tak terasa karena letih, kami berdua tertidur pulas sambil berpelukan dan kami terkejut dikala terbangun, rupanya kami tertidur selama tiga jam. Kami pun melanjutkan permainan yang tertunda tadi. Kali ini permainan lebih buas dan liar, kami bercinta dengan beragam posisi. Dan yang lebih menyenangkan lagi, pada permainan tahap kedua ini kami tidak menemui kesulitan yang bermakna, karena selain kami sudah sama-sama berpengalaman, ternyata liang senggama Mbak Maya tidak sesempit yang pertama tadi, mungkin sebab sudah ditembus oleh senjataku yang hebat ini sehingga sekarang lancarlah senjataku memasuki liang sorganya.

0 Response to "Cerita Asusila Dengan Janda"