728 x 90

Native bar

Kisah Sex Ngentot Jablay

 Cerita Sex Ngentot Jablay - Setelah 10thn menjalani rmh tangga dan sudah dikaruniai 2 ank, pastinya kadang timbul kebosanan dalam rmh tangga, untunglah karna kehidupan kami yang terbuka, kami dapat menangani rasa bosan itu, tergolong dalam urusan seks pastinya.


thn menjalani rmh tangga dan telah dikaruniai   Cerita Sex Ngentot Jablay
 Cerita Sex Ngentot Jablay

awal dari segalanya ialah kisah dari istriku ketika akan tidur, yang menyampaikan bahwa evi tetangga depan rumah aq ternyata memiliki suami yang impoten, aq agak kagettidak menduga sama sekali, karna dilihat dari postur suaminya yang tinggi tegap rasanya tdk mungkin, memang yg aku tau mereka telah berumah tangga sekitar 5 tahun tetapi blm dikaruniai seorang anakpun,

“bener pah, td evi cerita sendiri sm mama” kata istriku seolah menjawab keraguanku,
“wah, kasian banget ya mah, jadi dia gak mampu mencapai kepuasan dong mah?” pancingku
“iya” sahut istriku singkat

fikiran aku kembali menerawang ke sosok yg diceritakan istriku, tetangga depan rumahku yang menurutku sungguh bagus dan seksi, saya suka melihatnya abad pagi dia sedang berolahraga di depan rumahku yang pastinya di dpn rumahku jg, kebetulan tempat tinggal aku berada di cluster yang cukup elite, sehingga tidak ada pagar disetiap rumah, dan jalanan mampu dijadikan kawasan olahraga, aku perkirakan tingginya 170an dan berat mungkin 60an, tinggi dan berisi, kadang dikala beliau olahraga pagi aku sering mencuri pandang pahanya yang putih dan mulus alasannya adalah cuma mengenakan celana pendek, pinggulnya yg besar sangat kontras dengan pinggangnya yang ramping, dan yang sering bikin saya pusing yaitu ia senantiasa mengenakan kaos tanpa lengan, sehingga ketika beliau mengangkat tangan aku dapat melihat tonjolan buah dadanya yg keliatannya begitu padat bergotang mengikuti gerakan tubuhnya.

Satu hal lagi yang menciptakan saya betah memandangnya adalah bulu ketiaknya yang lebat, ya lebat sekali, aku sendiri tidak mengetahui kenapa beliau tidak mencukur bulu ketiaknya, namun jujur aja saya justru paling berangasan saat melihat bulu ketiaknya yang hitam, kontras dengan tonjoilan buah dadanya yg sungguh putih mulus. namun ya saya hanya mampu menatap saja karna bagaimanapun juga ia ialah tetanggaku dan suaminya adalah sahabat aku. namun cerita istriku yang menyampaikan suaminya impoten jelas membuat aku menghayal gak karuan, dan entah pandangan baru dari mana, saya langsung bicara ke istriku yang keliatannya sudah mulai pulas.

“mah” panggilku pelan
“hem” istriku hanya menggunam saja
“gimana jikalau kita kerjain evi”
“hah?” istriku terkejut dan membuka matanya
“maksud papa?”
Aku agak ragu juga menyampaikannya, tetapi karna udah kadung juga alhasil aku ungkapkan juga ke istriku,

“ya, kita kerjain evi, hingga ia gak tahan menahan nafsunya”
“buat apa? dan gimana caranya?” uber istriku
lalu aku uraikan cara2 memancing birahi evi, bisa dengan seolah2 gak sengaja melihat, nbaik menyaksikan senjata saya atau ketika kau ml, istriku agak kagetjuga
apalagi sesudah saya uraikan tujuan risikonya saya menikmati tubuh evi, dia marah dan tersinggung
“papa telah asing ya, mentang2 mama telah gak menarik lagi!” ambek istriku
tapi untunglah sehabis saya beri klarifikasi bahwa saya cuma sekedar fun aja dan aku hanya mengungkapkan saja tanpa bermaksud memaksa mengiyakan rencanaku, istriku mulai melunak dan kesudahannya kata2 yang aku tunggu dari mulutnya terucap.

“oke deh pah, kayanya sih seru juga, namun inget jangan sampai kecantol, dan jangan ngurangin jatah mama” ancam istriku.
aku seneng banget dengernya, aku pribadi cium kening istriku. “so pasti dong mah, lagian selama ini kan mama sendiri yang gak mau tiap hari” sahutku.
“kan tidak mengecewakan buat ngisi hari kosong saat mama gak mau main” kataku bercanda
istriku cuma melongo cemberut manja.. mungkin juga membenarkan libidoku yang terlalu tinggi dan libidonya yang cenderung rendah.

keesokan paginya, kebetulan hari Sabtu , hari libur kerja, setelah kompromi dgn istriku, kami mengerjakan planning satu, pukul 5.30 pagi istriku keluar berolahraga dan pastinya berjumpa dengan evi, aku mengintip mereka dari jendela atas rumah aku dengan deg2an,

sehabis saya melihat mereka ngobrol serius, aku mulai melaksanakan aksiku, aku yakin istriku sedang membicarakan bahwa aku berangasan tinggi dan kadang tidak mampu melayani, dan sesuai skenario aku harus berjalan di jendela sehingga mereka menyaksikan aku dalam keadaan telanjang dengan senjata tegang, dan tidak sulit buatku alasannya sedari tadi menyaksikan evi berolahraga saja senjataku telah menegang kaku, saya buka celana pendekku hingga telanjang, senjataku bangkit menunjuk langit2, kemudian saya berjalan melewati jendela sambil menyampirkan handuk di pundakku seolah2 mau mandi, aku yakin mereka melihat dengan jelas sebab situasi pagi yang blm begitu jelas kontras dengan kondisi kamarku yang jelas benderang. tapi untuk memastikannya aku balik kembali berpura2 ada yang tertinggal dan lewat sekali lagi,

sesampai dikamar mandiku, aku secepatnya menyiram kepalaku yang panas akhir birahiku yang naik, hemm segarnya, ternyata siraman air acuh taacuh mampu menetralkan otakku yg panas.

Setelah mandi saya duduk diteras berteman secangkir kopi dan koran, aku menyaksikan mereka berdua masih mengobrol. Aku mengangguk ke evi yg kebetulan menyaksikan saya sbg mengambarkan menyapa, aku melihat roma merah diwajahnya, entah apa yg dibicarakan istriku dikala itu.
Masih dengan peluh bercucuran istriku yg masih keliatan seksi jg memperlihatkan jari jempolnya ke saya yang sedang asik baca koran, niscaya menerangkan bagus pikirku, aku segera menyusul istriku dan menanyakannya
“gimana mah?” kejarku
istriku cuma mesem aja,
” kok jadi papa yg nafsu sih” candanya
aku setengah malu juga, akhirnya istriku kisah juga, katanya tampang evi keliatan horny ketika dengar bahwa nafsu saya berlebihan, apalagi pas melihat aku lewat dengan senjata tegang di jendela, roman mukanya berganti.

“tampaknya evi sangat kasar pah” kata istriku.
“malah beliau bilang mama beruntung punya suami kaya papa, tidak seperti beliau yang hanya dipuaskan oleh jari2 suaminya aja”

“oh” aku hanya mengangguk setelah tahu begitu,
“trus, berikutnya gimana mah? ” pancing saya
“yah terserah papa aja, kan papa yg punya rencana”
aku melamun dengan seribu khayalan indah,
“ok deh, kita mikir dulu ya mah”

saya kembali melanjutkan membaca koran yg sempat tertunda, gres saja duduk aku menyaksikan suami evi berangkat kerja dengan mobilnya dan sempat menyapaku
“pak, lagi kalem nih, yuk berangkat pak” sapanya dekat
saya menjawab sapaannya dengan tersenyum dan lambaian tangan.
“pucuk dicinta ulam tiba” pikirku, ini yakni potensi besar, evi di rumah sendiri, tetapi gimana caranya? aku memutar otak, konsentrasiku tidak pada koran tapi mencari cara untuk memancing gairah evi dan menyetubuhinya, tapi gimana? gimana? gimana?

sedang asiknya mikir, tau2 orang yang saya khayalin ada di dpn mataku,
“wah, lagi nyantai nih pak, mbak yeni ada pak?” sapanya sambil menyebut nama istriku
“eh mbak evi, ada di dalam mbak, masuk aja” jawabku setengah gugup
evi melangkah memasuki rumahku, saya cuma memperhatikan pantatnya yang semok bergoyang seolah memanggilku untuk meremasnya.

aku kembali hanyut dengan pikiranku, tapi keberadaan evi di rumahku terang menciptakan saya secepatnya beranjak dari teras dan masuk ke rumah juga, aku ingin menyaksikan mereka, ternyata mereka sedang asik ngobrol di ruang tamu, obrolan mereka mendadak terhenti sesudah aku masuk,
“hayo, pagi2 telah ngegosip! niscaya lagi ngobrolin yg seru2 nih” candaku
mereka berdua cuma tersenyum.

aku segera masuk ke kamar dan merebahkan tubuhku, saya menatap langit2 kamar, dan jadinya mataku tertuju pada jendela kamar yang hordengnya terbuka, tentunya mereka bisa menyaksikan saya pikirku, karena di kamar posisinya lebih terperinci dari diruang tamu, tentunya mereka mampu melihat aku, walaupun aku tidak bisa menyaksikan mereka mengobrol?

reflek aku bangkit dari tempat tidur dan memindah sofa kesudut yg aku perkirakan mereka mampu melihat, lalu aku lepas celana pendekku dan mulai mengocok senjataku, ehmm sangat lezat, aku bayangkan evi sedang melihatku ngocok dan sedang horny, senjataku eksklusif kaku.
namun tiba2 saja pintu kamarku terbuka, istriku masuk dan eksklusif menutup kembali pintu kamar.
“pa, apa2an sih pagi2 udah ngocok, dari ruang tamu kan kelihatan” semprot istriku
“hah?, kala iya? tanyaku pura2 bego.

“evi sampai aib dan pulang tuh” cerocosnya lagi, saya cuma bengong,
mendengar evi pulang secara tiba-tiba gairahku jadi drop, aku kenakan kembali celanaku.

sampai siang aku sama sekali belum menemukan cara untuk memancingnya, hingga istriku pergi mau arisan aku hanya rebahan di kamar memikirkan cara untuk menikmati tubuh evi,
” niscaya lagi mikirin evi nih, melongo terus, awas ya bertindak sendiri tanpa mama” ancam istriku “mama mau arisan dahulu sebentar”
aku hanya mengangguk aja,

5 menit setelah istriku pergi, aku terbangun karna di dpn rumah terdengar suara gaduh, saya keluar dan melihat anakku yg laki bersama teman2nya ada di teras rumah evi dengan wajah ketakutan, aku secepatnya menghampirinya, dan ternyata bola yang dimainkan anakku dan teman2nya mengenai lampu taman rumah evi sampai pecah, aku secepatnya minta maaf ke evi dan berjanji akan menggantinya,
anakku dan teman2nya kusuruh bermain di lapangan yg agak jauh dari rumah,
“mbak evi, saya pamit dulu ya, mau beli lampu buat gantiin” pamitku
“eh gak usah pak, agar aja, namanya juga anak2, lagian aku ada lampu bekasnya yg dari developer di gudang, jikalau gak keberatan nanti tolong dipasang yang bekasnya aja”
saya lihat memang lampu yang pecah telah bukan tolok ukur dr developer, tapi otakku jd panas melihat cara bicaranya dengan senyumnya dan menciptakan aku horny sendiri.
“jika gitu mbak tolong ambil lampunya, nanti aku pasang” kataku
“wah saya gak sampe pak, tolong diambilin didalam” senyumnya.

peluang datang tanpa dijadwalkan, aku mengangguk mengikuti langkahnya, kemudian evi menandakan gudang diatas kamar mandinya, ternyata dia mempergunakan ruang kosong diatas kamar mandinya untuk gudang.
“wah tinggi mbak, saya gak sampe, mbak ada tangga?” tanyaku
“gak ada pak, bila pake dingklik sampe gak” tanyanya
“coba aja” kataku
evi berjalan ke dapur mengambil kursi, lambaian pinggulnya yang bundar seolah memanggilku untuk segera mencicipinya, walaupun tertutup rapat, namun saya bisa membayangkan kenikmatan di dalam dasternya.
lamunanku terputus sesudah evi meletakkan dingklik tepat didepanku, aku segera naik, namun ternyata tanganku masih tak hingga meraih handle pintu gudang,

“gak sampe mba” kataku
saya lihat evi agak kebingungan,
“dulu naruhnya gimana mbak? ” tanyaku
“dulu kan ada tukang yang naruh, mereka punya tangga”
“jika gitu saya pinjem tangga dulu ya mba sama tetangga”
aku secepatnya keluar mencari tunjangan tangga, tapi aku sudah merencanakan hal aneh, sehabis dapat bantuan tangga aluminium, aku ke tempat tinggal dahulu, aku lepaskan celana dalamku, sampai saya hanya mengenakan celana pendek berbahan kaos, aku kembali ke tempat tinggal evi dgn membawa tangga, akibatnya saya berhasil mengambil lampunya. dan langsung memasangnya, tetapi ternyata dudukan lampunya berlainan, lampu yang lama lebih besar, saya kembali ke dalam rumah dan mencari dudukan lampu yg lamanya, tp sudah aku acak2 semua tetapi tidak ketemu jg, aku turun dan memanggil evi, tetapi saya sama sekali tak melihatnya atau sahutannya saat kupanggil, “niscaya ada dikamar: pikirku “wah bisa gagal rencanaku memancingnya kalau evi dikamar terus”
saya secepatnya menuju kamarnya, tetapi sebelum mengetuknya niat isengku muncul, aku coba mengintip dari lubang kunci dan ternyata….

aku mampu pemandangan anggun, saya lihat evi sedang telanjang bundar di atas tempat tidurnya, jari2nya meremas buah dadanya sendiri, sedangkan tangan yang satunya menggesek2 klitorisnya, saya gemetar menahan nafsu, senjataku eksklusif membengkak dan mengeras, andai saja tangan aku yang meremas buah dadanya… sedang asik2nya mengkhayal tiba2 evi berabjak dari daerah tidurnya dan mengenakan pakaian kembali, mungkin dia inget ada tamu, aku segera lari dan pura2 mencari kegudang, senjataku yang masih tegang saya biarkan menonjol terang di celana pendekku yang tanpa cd.
“loh, nyari apalgi pak?” aku lihat muka evi memerah, beliau niscaya menyaksikan tonjolan besar di celanaku
“ini mbak, dudukannya lain dengan lampu yang pecah” saya turun dari tangga dan membuktikan kepadanya, aku pura2 tidak tahu kondisi celanaku, evi terlihat sedikit bingung saat bicara.
“jadi gimana ya pak? harus beli baru dong” suara evi terdengar serak, mungkin dia menahan nafsu melihat senjataku dibalik celana pendekku, apalagi dia tadi sedang masturbasi.

aku pura2 berfikir, padahal dalam hati aku bersorak karena telah 60% evi aku kuasai, tetapi bener sih saya lagi mikir, namun mikir gimana cara biar masuk dalam kamarnya dan menikmati tubuhnya yang begitu sempurna??

“kayanya dulu ada pak. coba aku yang cari” suara evi mengagetkan lamunanku, lalu dia menaiki tangga, dan sepertinya evi sengaja memancingku, saya dibawah jelas melihat paha gempalnya yang putih mulus tak bercela, dan ternyata evi sama sekali tidak mengenakan celana dalam, tapi tampaknya evi cuek aja, semakin usang diatas saya semakin tak tahan, senjataku sudah lembap oleh pelumas menandakan siap melakukan tugasnya,

sesudah beberapa menit mencari dan tidak ada juga, evi turun dari tangga, tapi naas buat dia ( Atau malah sengaja : beliau tergelincir dari anak tangga pertama, tidak tinggi namun tidak mengecewakan membuatbya hilang keseimbangan, saya reflek menangkap tubuhnya dan memeluknya dari belakang, hemmm sangat nikmat sekali, walaupun masih terhalang celana dalam ku dan dasternya namun senjataku dapat mencicipi kenyalnya pantat evi, dan saya yakin evi pun merasakan denyutan hangat dipantatnya, “makasih pak” evi tersipu aib dan akupun berkata maaf bersama-sama dgn ucapan makasihnya
“gak papa kok, tetapi kok tadi mirip ada yg ngeganjel dipantatku ya”?” tampaknya evi mulai berani, akupun membalasnya dgn gurauan,
“oh itu menandakan senjata siap melaksanakan tugas”
“peran apa nih?” evi makin terpancing
aku pun telah lupa kesepakatan dgn istriku yang ga boleh bertindak tanpa sepengetahuannya, saya telah dikuasai nafsu
“peran ini mbak!” kataku eksklusif merangkulnya dalam pelukanku
saya eksklusif melumat bibirnya dengan nafsu ternyata evipun dengan buas melumat bibirku juga, mungkin iapun menunggu keberanianku, ciuman kami panas membara, pengecap kami saling melilit mirip ular, tangan evi pribadi meremas senjataku, mungkin gres ini dia menyaksikan senjata yang tegang sehingga evi begitu liar meremasnya, saya balas meremas buah dadanya yang negitu kenyal, meskipun dari luar ali bisa pastiin bahwa evi tidak mengenakn bra, putingnya langsung mencuat, aku pilin pelan putingnya, tanganku yang satu meremas bongkahan pantatnya yang mulus, cumbuan kami makin panas bergelora
tapi tiba2

“sebentar mas!” evi berlari ke depan ternyata dia mengunci pintu depan, saya cuma bengong diundang dengan mas yang menunjukan keakraban
“sini mas!” ia memanggilku masuk kekamarnya
aku segera berlari kecil menuju kamarnya, evi langsung melepas dasternya, dia bugil tanpa sehelai benangpun di depan mataku. sungguh keindahan yang benar2 hebat, saya terpana sejenak menyaksikan putih mulusnya tubuh evi. bulu kemaluannya yang lebat menghitam kontras dengan kulitnya yg higienis. lekuk pinggangnya sungguh indah.
namun hanya sekejab saja aku terkesima, aku eksklusif melepas kaos dan celana pendekku, senjataku yang dari tadi mengeras menunjuk keatas, tapi ternyata saya kalah buas dengan evi. dia langsung berjongkok di depanku yang masih bangun dan melumat senjataku dengan rakusnya,

lidahnya yang lembut terasa hangat menggelitik penisku, mataku terpejam menikmati cumbuannya, sangat benar2 liar, mungkin karna evi selama ini tidak pernah menyaksikan senjata yang kaku dan keras, kadang beliau mengocoknya dengan segera, pemikiran kenikmatan menjalari seluruh tubuhku, saya segera menariknya keatas, lalu mencium bibirnya, nafasnya yang terasa wangi memompa semangatku untuk terus melumat bibirnya, aku dorong tubuhnya yang aduhai ke ranjangnya, aku mulai mengeluarkan jurusku, lidahku kini mejalari lehernya yang jenjang dan putih, tanganku aktif meremas2 buah dadanya lembut, putingnya yang masih kecil dan agak memerah aku pillin2, kini dari mataku hanya berjarak sekian cm ke bulu ketiaknya yang begitu lebat, saya hirup aromanya yang khas, sangat bacin. lidahku mulai menjalar ke ketiak dan melingkari buah dadanya yang benar2 kenyal,

dan saat lidahku yang hangat melumat putingnya evi kian mendesah tak karuan, rambutku habis dijambaknya, kepalaku terus ditekan ke buah dadanya. saya semakin semangat, tidak ada sejengkal tubuh evi yang luput dari sapuan lidahku, bahkan pinggul pantat dan pahanya juga, apalagi saat lidahku sampai di kemaluannya yang berbulu lebat, sesudah bersusah payah meminggirkan bulunya yang lebat, lidahku hingga juga ke klitorisnya, kemaluannya telah berair, aku lumat klitnya dengan lembut, evi semakin hanyut, tangannya meremas sprey membuktikan menahan nikmat yang saya berikan, lidahku sekarang masuk ke dalam lubang kemaluannya, saya makin asik dengan aroma kewanitaan evi yang begitu wangi dan memperbesar birahiku,
tapi sedang asik2nya aku mencumbu vaginanya, evi tiba2 bangun dan eksklusif mendorongku terlentang, lalu dengan sekali sentakan pantatnya yang lingkaran dan mulus pribadi berada diatas perutku, tangannya pribadi menuntun senjataku, lalu perlahan pantatnya turun, kepala kemaluanku mulai menyeruak masuk kedalam kemaluannya yang basah, tetapi meskipun lembap saya merasakan jepitan kemaluannya sangat ketat. mungkin karna selama ini cuma jari saja yang masuk kedalam vaginanya,

centi demi centi senjataku memasuki vaginanya bersama-sama dengan pantat evi yang turun, sampai hasilnya saya merasakan seluruh batang senjataku tertanam dalam vaginanya, sungguh pengalaman indah, aku merasakan lezat yang hebat dengan ketatnya vaginanya meremas otot2 senjataku, evi terdiam sejenak menikmati penuhnya senjataku dalam kemaluannya, tapi tak lama, pantatnya yang bahenl dan mulus nulaik bergoyang, kadang ke depan ke belakang, kadang keatas ke bawah, peluh telah bercucuran di badan kami, tanganku tidak tinggal membisu memperlihatkan rangsangan pada dua buah dadanya yang besar, dan goyangan pinggul evi kian usang semakin cepat dan tak beraturan, senjataku seperti diurut dengan lembut, saya menjajal menahan ejakulasiku sekuat mungkin, dan tak usang berselang, saya merasakan denyutan2 vagina evi di batang senjataku semakin menguat dan kesannya evi berteriak keras melepas orgasmenya, giginya menancap keras dibahuku…

evi orgasme, aku mencicipi hangat di batang senjataku, akibatnya tubuhnya yang sintal terlungkup diatas tubuhku, senjataku masih terbenam didalam kemaluannya,
aku biarkan ia sejenak menikmati sisa2 orgasmenya
setelah beberapa menit saya berbisik ditelinganya, “mba, eksklusif lanjut ya? saya tanggung nih”

evi tersenyum dan bangkit dari atas tubuhku, ia duduk dipinggir ranjang, “makasih ya mas, gres kali ini aku mengalami orgasme yang hebat” ia kembali melumat bibirku.aku yang masih terlentang menerima cumbuan evi yang kian liar, benar2 liar, seluruh tubuhku dijilatin dengan rakusnya, bahkan lidahnya yang nakal menguras dan menjilat putingku, sungguh nikmat, pemikiran daraku mirip mengalir dengan segera, risikonya saya ambil kontrol, dengan gaya konvensional saya kemabli memasukkan senjataku dalam kemaluannya, telah agak mudah tetapi tetap masih ketat menjepit senjataku, pantatku bergerak turun naik, sambil lidahku mengisap buah dadanya bergantian, saya liat tampang evi yang anggun memerah menunjukan birahinya kembali naik, saya atur tempo permainan, aku ingin sebisa mungkin memberikan kepuasan lebih kepadanya, entah telah berapa gaya yang saya lakukan, dan entah sudah berapa kali evi orgasme, saya tdk menghitungnya, saya hanya inget terakhir saya oake gaya doggy yang benar2 hebat, pantatnya yang besar memperlihatkan sensasi tersendiri dikala aku menggerakkan senjataku keluar masuk.

dan memang aku benar2 tak sanggup lagi menahan spermaku saat doggy, aku pacu sekencang mungkin, pantat evi yang kenyal bergoyang seirama dengan hentakanku,
tapi aku masih ingat satu kesadaran “mbak diluar atau didalam?” tanyaku parau terbawa nafsu sambil terus memompa senjataku

evipun menjawab dengan serak akibat nafsunya ” Didalam aja mas, saya lagi gak subur”
dan tak perlu waktu lama, selang beberapa detik setelah evi menjawab saya hentakan keras senjataku dalam vaginanya, seluruh tubuhku meregang kaku, anutan kenikmatan menuju penisku dan memeuntahkan laharnya dalam vagina evi, ada sekitar sepuluh kedutan nikmat saya tumpahkan kedalam vaginanya, sementara evi saya lihat menggigit sprey dihadapannya, mungkin iapun mengalami orgasme yg kesekian kalinya.

0 Response to "Kisah Sex Ngentot Jablay"

sosial bar