Cerita Cukup Umur Peselingkuhan Sedarah
By Blinger
—
Kamis, 15 Februari 2018
—
Add Comment
—
Cerita Dewasa,
Cerita Lesbian,
Cerita Mesum,
Cerita Ngetot,
Cerita Sex
Cerita Dewasa Peselingkuhan SedaraH - Sejak aku divonnis dokter kandungan, tak boleh memiliki anak lagi, hatiku sangat sedih. Rupanya, Tuhan hanya menitipkan seoang anak saja yang kulahirkan. Rahimku, cuma boleh melahirkan seoang anak pria di rahimku.
Setelah aku sehat dan kembali dari rumah sakit menenteng bayiku, dan bayiku berusia 1 tahun, dengan lemmbut suamiku meminta izin untuk menikah lagi. Alasannya, baginya seorang anak tak mungkin. Dia mesti memiliki anak yang lain, laki-laki dan wanita. Dengan duka, saya "terpaksa" merelakan suamiku untuk menikah lagi.
Parakanku sudah tdiangkat, demi keselamatanku dan kesehatanku. Sejakl pernikahannya, ia jarang pulang ke tempat tinggal. Paling sekali dalam sepekan. Kini setelah usia anakku 15 tahun, suamiku justru tak pernh pulang ke rumah lagi.
Dia sudah memiliki 4 orang anak, tepatnya dua pasang dari isteri mudanya dan dua anak lagi dari isterinya yang ketiga. Aku mesti puas, mempunyai tiga buah toko yang serahkan atas namaku serta sebuah kendaraan beroda empat dan sebuah taksi selain sedikit deposito yang terus kutabung unutk ongkos kuliah anakku Irvan nanti. Irvan sendiri sudah tak perduli pada ayahnya.
Malah, jika ayahnya pulang, kelihatan Irvan tak erat dengannya. Aku tak mampu berbuat apa-apa. Semoga saja Irvan tidak berdosa pada ayahnya. Setiap malam Aku senantiasa mengeloni Irvan agar tubuhku tak kedinginan disiram oleh situasi hambar AC 2 PK di kamar tidurku. Irvan juga jikalau kedinginan, justru merapatkan tubuhnya ke tubuhku.
Irvan memang anak yang manja dan aku menyenanginya. Sudah menjadi kebiasaanku, bila saya tidur cuma menggunakan daster mini tanpa sehelai kain pun di balik daster miniku. Aku menikmati tidurku dengan udara dinginnya AC dan timpa selmut tebal yang lebar.
NIkmat sekali rasanya tidur memeluk anak semata wayangku, Irvan. Kusalurkan belai kasih sayangku padany. Hanya padanya yang aku sayangi. Sudah beberapa kali saya merasakan, buah dadanya diisap-isap oleh Irvan.
Aku mengelus-elus kepala Irvan dengan kelembutan dan kasih sayang. Tapi kali ini, tidak seperti lazimnya . Hisapan pda pentil teteku, terasa demikian indahnya. Terlebih sebelah tangan Irvan mengelus-elus bulu vaginaku. Oh... indah sekali. Aku membiarkannya. Toh dia anakku juga.
Biarlah, biar tidurnya membuahkan mimpi yang indah. Saat saya mencabut pentil tetekku dari mulut Irvan, dia mendesah. "Mamaaaaa..." Kuganti memasukkan pentil tetekku yang lain ke dalam mulutnya. Selalu begitu, hingga risikonya mulutnya terlepas dari tetekku dan saya menyelimutinya dan kami tertidur pulas.
Malam ini, aku justru sangat bernafsu. Aku ingin disetubuhi. Ah... Mampukah Irvan menyetubuhiku. Usianya gres 15 tahun. Masih Sekolah Menengah Pertama. Mampukah. Pertanyaan itu senantiasa bergumuldalam bathinku. Keesokan paginya, dikala Irvan pergi ke sekolah, aku membongkar lemari yang telah lama tak kurapikan.
Di lemari pakaia Irvan di kamarnya (walaudia tak pernah menyetubuhi kamarnya itu) saya melihat beberapa keping CD. Saat aku putar, ternyata semua nya film-film porno dengan berbagai posisi. Dadaku gemuruh. Apaah anakku sudah mengerti seks?.
Apakah ia telah mencobanya dengan perempuan lain? Atau dengan pelacur kah? Haruskah aku menanyakan ini pada anakku? Apakah jiwanya tidak terusik, jikalau saya mempertanyakannya? Dalam saya berpikir, kusimpulkan, semestinya kubiarkan dahulu dan saya akan menyelidikinya dengan sebaik-baiknya dengan setertutupmungkin.
Seusai Irvan melaksanakan PR-nya (Diseekolah Irvan memang anak berakal), beliau meniki kawasan tidur dan memasuki selimutku. Dia cium pipi kiri dan pipi kananku sembari membisikkan: Selamat malam... mama..." Biasanya aku menjawabnya dengan:"Selamat malam sayang...".
Tapi jika aku telah tertidur, biasanyaaku tak menjawabnya.Dadaku gemuruh, apaah malam ini saya mempertanyakan CD porno itu. Akhirnya saya membiarkan saja. Dan... Aku kembali mencicipi buah dadaku dikeluarkan dari balik dasterku yang mini dan tipis.
Irvan mengisapnya perlahan-lahan. Ah... kembali aku agresif. Terlebih kembali sebelah tangannya mengelus-elus bulu vaginaku. Sebuah jari-jarinya mulai mengelus klentitku. AKu mencicipi kenikmatan.
Kali ini, aku yakin Irvan tidak tidur. Aku merasakan dari nafasnya yang memburu. Aku membisu saja. Sampai jarinya memasuki lubang vaginaku dan mempermainkan jarinya di sana. Ingin rasanya saya mendesah, namun...
Aku tahu, Irvan menurunkan celananya, sampai bagian bawah tubuhnya sudah bertelanjang. Dengan sebelah kakinya, ia mengangkangkan kedua kakiku. Dan.... Irvan menaiki tubuhku denngan perlahan. Aku mencicipi penisnya mengeras. Berkali-kali ia menusukkan penis itu ke dalam vaginaku.
Irvan ternyata tidak mengenali, dimana lubang vagina. Brkali-kali gagal. Aku kasihan padanya, sebab hampir saja dia putus asa. Tanpa sadar, saya mengangkangkankedua kakiu lebih lebar. Saat penisnya menusuk bagian atas vaginaku, aku mengangkat pantatku dan perlahan penis itu memasuki ruang vaginaku.
Irvan menekannya. Vaginaku yang telah lembap, eksklusif menelan penisnya. Nampaknya Irvan belum mampu menangani keseimbangan dirinya. Dia pribadi menggenjotku dan mengisapi tetekku. Lalu crooot...croot...croooootttt, sprmanya menyemprot di dalam vaginaku.
Tubuhnya mengejang dan melemas beberapa ketika kemudian. Perlahan Irvan menuruni tubuhku. Aku belum hingga... namun aku tak mungkin berbuat apa-apa. Besok malamna, hal itu terjadi lagi. Terjadi lagi dan terjadi lagi. Setidaknya tiga kali dalam semingu. Irvan pun menjadi pria yang akil balig cukup akal.
Tak sedikit pun kami menyinggung peristiwa malam-malam itu. Kami hanya mengatakan tentang hal-hal lain saja. Sampai sebuah sore, aku sungguh-sungguh berangasan sekali. Ingin sekali disetubuhi. Saat berpapasan dengan Irvan aku mengelus penisnya dari luar celananya. Irvan membalas meremas pantatku.
Aku segera ke kamar dan membuka semua pakaianku, lalu merebahkan dri di atas daerah di tutupi selimut. Aku berharap, Irvan memasuki kamar tidurku. Belum sempat usai saya berharap, Irvan sudeah memasuki kamar tidurku. Di naik ke kamar tidurku dan menyingkap selimutku.
Melihat saya tertidur dengan telanjang lingkaran, Irvan pribadi melepas semua pakaiannya. Sampai bugil. Bibirku dan tetekku target terutama. AKu mengelus-elus kepalanya dan tubuhnya. Sampai karenanya saya menyeret tubuhnya menaiki tubuhku.
KUkangkangkan kedua kakiku dan menuntun penisnya menembus vaginaku. Nafsuku yang sudah memuncak, membuat kedua kakiku melingkar pada pinggangnya. Mulutnya masih rakus mengisapi dan menggigit kecil pentil tetekku.
Sampai risikonya, kami sama-sama menikmatinya dan melepas kenikmatan kami bersama. Seusai itu, kami sama-sama minum susu panas dan bercerita wacana hal-hal lain, seakan apa yang gres kami kerjakan, buka sebuah insiden.
Malamnya, seisai Irvan menjalankan PR-nya beliau mendatangiku yang lagi baca majalah perempuan di sofa. Tatapan matanya, kumengerti apa maunya. Walau sore tadi kami gres saja melakukannya. Kutuntun beliau duduk di lantai menghadapku.
Setelah dia duduk,aku membuka dasterku dan mengarahkan parasnya ke vaginaku. AKu berharap Irvan tau apa yang mesti beliau kerjakan, sesudah belajar dari CD pornonya. Benar saja, pengecap Irvan sudah bermain di vaginaku. Aku terus membaca majalah, seperti tak terjadi apa-apa.
AKu merasa nikmatr sekali. Lidahnya terus menguras-nyedot klentitku dan kedua tangannya mengelus-elus pinggangku. Sampa akibatnya aku menjepit kepalanya, karean aku akan orgasme. Irvan menghentikan jilatannya Dan aku melepaskan nikmatku.
Kemudia kedua kakiku kembali merenggang. AKu mencicipi Irvan menjilati basahnya vaginaku. Setelah puas, Irvan bangkir. Aku turun ke lantai. Kini irvan yang membuka celananya dan mempesona kepalaku agar mulutku merapat ke penisnya. Penis yang keras itu kujilati dengandiam.
Irvan menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa. Kepalaku ditangkapnya dan dileus-elusnya. Aku terus menjilatinya dan terus melahap penisnya, hingga spermanya memenuhi mulutku. Sampai jadinya wajar kembali dan kami duduk bersisian menyaksikan film lepas di TV.
Seusai nonton film, aku mengajaknya untuk tidur, karean besok ia mesti sekolah, dan aku harus mengusut pembukuan toko. "yuk tidur sayang," kataku.Irvan bangkit dan menggamit tanganku, kemudian kami tertidur pulas sampai pagi.
Siang itu, saya mendengar Irvan pulang sekolah dan diaminta makan. Kami sama-sama makan siang di meja makan. Usai makan siang, kami sama-sama mengangkat piring kotor dan sama-sama mencucinya di dapur. Irvan menceritakan guru baruya yang sangat disiplin dan terasa agak kejam.
Aku mendengarkan semua unek-unek dan dongeng anakku. Itu kebiasaanku, hingga risikonya aku harusmengetahui siap Irvan. Aku juga mulai menanyakan siapa pacarnya dan pernah pergi ke tempat pelacuran atau tidak.
Sebenarnya saya tahu Irvan tidak pernah pacaran dan tidak pernah kepelacuran dari diary-nya. Kami sama-sama menyusun piring dan melap piring hingga ke ring ke rak-nya, sembari kami terus bercerita. "Ma...besok Irvan diajak teman mendaki gunung...boleh engak,
Ma?" tanya Irvan meminta izinku sembari tangannya memasuku bagian atas dasterku dan mengelus tetekku. "Nanti jikalau sudah SMA saja ya sayang..." kataku sembari mengelus penis Irvan. "Berarti tahun depan dong, Ma," katanya sembari mengjilati leherku. "Oh... iya sayang.
Tahun depan" kataku pula sembari membelai penisnya dan melepas kancing celana biru sekolahnya dan melepas semua pakaiannya hingga Irvan telanjang bulat. "Kalau mama bilang gak boleh ya udah. Irvan gak ikut," katanya sembari melepaskan pula kancing dasterku hingga aku telanjang bulat.
Ya.. kami terus bercerita tenag sekolah Irvan dan kami sudah bertelanjangbulat bersama. "Sesekali kita wisata ke puncak yuk ma..." kata Irvan sembari menjilati leherku dan mengelus tetekku. Aku duduk di bangku kaman dan Irvan bangun di belakangku. Uh... anakku telah benar-benar sampaumur.
Dia ingin sekali bermesraan dan sungguh riomantis. "Kapan Irvan maunyake puncak?" kataku sembari menkmati jilatannya. Aku pun mulai menuntunnya semoga beradadi hadapanku. Irvan kubimbing untuk naik ke atas tubuhku. Kedua kakinya mengangkangi tubuhku dan bertumpu pada dingklik.
Panttanya telah berada di atas kedua pahaku dan saya memeluknya. Kuarahkan murnya untuk mengisap pentil tetekku. "Bagaimana kalau malam ini saja kita ke puncak sayang. Besok libur dan lusa sudah minggu. Kita di pucak dua malam," kataku sembari mengelus-elus rambutnya.
"Setuju ma. Kita bawa dua buah selimut ma," katanya mengubah isapan \nya dari tetekku yang satu ke tetekku yang lain. "Kenapa harus dua sayang. Satu saja.." kataku yang mencicipi bacokan penisnya yang mengeras di pangkal perutku.
"Selimutnya kita satukan biar kian tebal, supaya hangat ma. Dua selimut kita lapis dua," katanya. Dia mendongakkan parasnya dan memejamkan matanya, meminta semoga lidahku memasuki mulutnya. Aku membernya. Sluuupp... lidahku eksklusif diisapnya dengan lembut dan sebelah tangannya mengelus tetekku.
Tiba-tiba Irvan bangun dan amengarahkan penisnya ke mulutku. Aku menyambutnya. Saat penis itu berada dalam mulutku dan aku mulai menjilatinya dalam mata terpejam Irvan menyampaikan:"Rasanya kita langsung saja pergi ya ma. Sampai dipuncak belum sore.
Kita boleh jalan-jalan ke gunung yang bersahabat villa itu," katanya. Aku mengetahui maksudenya, supaya aku cepat menyelesaikan keinginannya dan kami segera berangkat. Cepat saya menjilati penisnya dan Irvan Meremas-remas rambutku dengan lembut.
Sampai alhasil, Irvan menekan kuat-kuat penisnya ke dalam mulutku dan meremas rambutku juga. Pada tekak mulutku, saya mencicipi hangatnya semprotan sperma Irvan beberapa kali. Kemudian di dudk kembali ke pangkuanku.
Di ciumnya pipiku kiri-kanan dan mengecup keningku. Uh... dewasanya Irvan. Au membalas mengecup keningnya dengan lembut. Irvan turun dari bangku, lalu memakaikan dasterku dan beliau pergi ke kamar mandi. Aku kekamar menyiapkan sesuatu yang mesti kami bawa.
Aku tak lupa menjinjing dua buah selimut dan busana yang mampu mebnghangatkan tubuhku. Semua siap. Mobil meluncur ke puncak, mengikuti liuknya jalan aspal yang hitam menembus kabut yang cuek. Kami datang pukul 15.00.
Setelah check in, kami eksklusif makan di restoran di tepi saw2ah dan memesan ikan mas goreng serta lapannya. Kami makan dengan lahap sekali. Dari sana kami menjalani jalan setapak menaik ke lereng bukit. Dari sana, saya menyaksikan suatu mobilo biru bau tanah,
Toyota Land Cruiser melintas jalan menuju villa yang tak jauh dari villa kami. Mobil suamiku, ayahnya Irvan. Pasti beliau dengan isteri mudanya atau dengan pelacur muda, bisik hatiku. Cepat kutarik Irvan biar dia tak menyaksikan ayahnya.
Aku terlambat, Irvan terlebih daulu menyaksikan kendaraan beroda empat yang dia kenal itu. Irvan meludah dan menyumpahi ayahnya:"Biadab !!!" Begitu bencinya beliau pada ayahnya. Aku cuma memeluknya dan mengelus-elus kepalanya. Kami meneruskan perjalanan.
Aku tidak mau suasana istirahat ini membuatnya jadi tak indah. Sebuah kursi yang dibuat dari bata yang disemen. Kami duduk berdampingan diatasnya menatap jauh ke bawah sana, ke hamparan sawah yang gres ditanami. Indah sekali. Irvan merebahkan kepalanya ke dadaku.
AKu tahu resah hatinya. Kuelus kepalanya dan kubelai belai. "Tak boleh menyalahkan siapapun dalam hiduap ini. Kita mesti menikmati hidup kita dengan tenanag dan damai serta ikhlas," kata kumengecup bibirnya.
Angin mulai berhembus sepoi-sepoi dan kabut sesekali menampar-nampar tampang kami. Irvan mulaui meremas tetekku, walau masih ditutupi oleh pakaianku dan bra. "Iya. Kita mesti hidup bahagia. Bahagia hanya untuk milik kita saja," katanya lalu mencium leherku.
"Kamu lihat petani itu? Mereka sungguh senang meniti hidupnya," kataku sembari mengelus-elus oenisnya dari balik celananya. Irvan berdiri, kemudian menuntunku beridir. Akua mengikutinya. Dia mengelus-elus pantatku dengan lembut.
"Lumpur-lumpur itu niscaya lembut sekali, Ma," katanya terus mengelus pantatku. Pasti Irvan terobsesi dengan anal seks, pikirku. Aku harus memberinya agar dia bahagia dan bahagia serta tak lari kemana-mana terlebih ke pelacur. Dia tak boleh menerimanya dari wanita jalang.
Kami mulai menuruni bukit setelah mobil Toyota biru itu hilang, mungkin ke dalam garasi villa. Irvan tetap memeluk pinggangku dan kami memesan duabotol teh. Kami meminumnya di tepi warung. "Wah... anaknyanya tampan sekali bu. Manja lagi," kata pemilik warung.
Aku tersenyum dan Irvanpun tak melepaskan pelukannya. Sifatnya memang manja sekali. "Senang ya bu, punya anak ganteng," kata pemilik warung itu lagi. Kembali saya tersenyum dan orang-orang yang berada di warung itu kelihatan iri menyaksikan kemesraanku dengan anakku.
Mereka niscaya tidak tau apa yang sedang kami rasakan. Keindahan yang bagaimana. Mereka tak tahu. Setelah mengeluarkan uang, kami menuruni bukit dan kembali ke villa. Angin kian kencang sore menjelang mahgrib itu.
Kami memesan dua gelas kopi susu panas dan membawanya ke dalam kamar. Setelah mengunci kamar, saya melapaskan semua pakaianku. Bukankah tadi Irvan mengelus-elus pantatku? BUkankah beliau ingin anal seks? Setelah aku bertelanjang bundar, aku mendekati Irvan dan melepaskan semua pakaiannya. Kulumasi penisnya pakai lotion.
Aku melumasi pula duburku dengan lotion. Di lantai saya menunggingkan tubuhku. Irvan mendatangiku. Kutuntun penisnya yang begitu cepat mengeras menusuk lubang duburku. Aku pernah mencicipi ini sekali dalam hidupku dikala saya baru menikah.
Sakit sekali rasanya. Dari temanku saya mengetahui, bila mau main dri dubur, harusmemakai pelumas, katanya. Kini aku ingin praktekkan pada Irvan Irvan mengarahkan ujung penisnya ke duburku. Kedua lututnya, tempatnya bertumpu. Perlahan...perlahan dan perlahan.
Aku merasakan bacokan itu dengan perlahan. Ah... Irvan, kau begitu bisa memberikaapa yang saya inginkan, bisik hatiku sendiri. Setiap kali aku merasa kesat, aku denga tanganku menambahi lumasan lotion ke batangnya. Aku mencicipi penis itu keluar-masukdalam duburku.
Kuarahkan sebelah tangan Irvan untuk mengelus-elus klentitku. Waw... nimat sekali. Di satu segi klentitku nikat disapu-sapu dan di segi lain, duburku dilintasi oleh penis yang keluar masuk sangat terorganisir. Tak ada bunyi apa pun yang terdengar. Sunyi sepi dan diam.
Hanya ada desau angin, desah nafas yang meburu dan sesekali ada bunyi burung kecil berkicau di luar sna, menuju sarangnya. Tubuh Irvan sudah menempel di punggungku. Sebelah tangannya mengelus-elus klentitku dan sebelah lagi meremas tetekku.
Lidahnya menjilati tengkukku dan dan leherku bergantian. Aku sangat beruntung mememiliki anak mirip Irvan. Dia laku-laki perkasa dan penuh kelembutan. Tapi... kenapa kali ini beliau begitu buas dan demikian binal? Tapi... Aku semakin menikmati kebuasan Irvan anak kandungku sendiri.
Buasnya Irvan, adalah buas yang sungguh santun dan sarat kasih. Aku telah tak mampu membendung nikmatku. AKu menjepit tangan Irvan yang masih mengelus klentitku jugamenjepit penisnyadengan duburku. Irvan mendesah-desah.
"Oh... oh....oooooohh..." Irvan menggigit bahuku dan mempermainkan lidahnya di sela-sela gigitannya. Dan remasan pada tetekku terasa begitu lezat sekali. Ooooooooooohhhh... desahnya dan saya pun menjerit.. Akhhhhhhhhhhhh.........
Lalu aku menelungkup di lantai karpet tak bisa lagi kedua lututku untuk bertumpu. Penis Irvan mengecil dan meluncur cepat keluar dari duburku. Irvan cepat membalikkan tubuhku. Langsung saya diselimutinya dan diamasuk ke dalam selimut, sembari mengecupi leherku dan pipiku.
Kami melamun, sampai desah nafas kami wajar . Irvan menuntunku duduk dan membimbingku duduk di kursi, kemudian melilit tubuhku dengan selimut hotel yang tersedia di atas kawasan tidur. Dia mendekatkan kopi susu ke mulutku. Aku meneguknya.
Kudengar ia mencuci penisnya, kemudian kembali mendekat padaku. Dia kecup pipiku dan menyampaikan:"Malam ini kita makan apa, Ma?" "Terserah Irvan saja sayang." "Setelah makan kita kemana, Ma?" beliau membelai pipiku dan mengecupnya lagi.
"Terserah Irvan saja sayang. Hari ini, ialah harinya Irvan. Mama ngikut saja apa maunya anak mama," kataku lembut. "OK, Ma. Hari ini haerinya Irvan. Besok hingga minggu, harinya mama. Malam ini kita di kamar saja.
Aku tak ingin ketemu dengan orang yang naik Toyota Biru itu," katanya geram. Nampaknya sarat dendam. Aku menghela nafas. Usai makan malam, kami kembali ke kamar dan eksklusif tidur di bawah dua selimut yang hangat dan berpelukan. Kami tidur sampai pukul 09.00 pagi baru terbangun.
Cerita Sex Sedarah Aku Selingkuh Dan Diam-Diam Kami Bercinta Bikin Hot kan....Atau masih kurang ? Kalian mampu Intip Cerita Dewasa Ngesex Horny Aku Ketagihan Menjadi Budak Seks Dan Intip Juga koleksi cerita lainya, Selamat Membaca Sobat.
dongeng cukup umur sedarah dengan mama,kumpulan dongeng dewasa terbaru 2016,kisah sampaumur sedarah terbaru,kumpulan cerita mesum sedarah,dongeng birahi sedarah,cerita seks sedarah terbaru,cerita ngentot ibu dan anak,dongeng cukup umur bergambar,kisah ngentot pembantu,kumpulan dongeng panas dewasa,kumpulan dongeng seks bergambar,kisah seks akil balig cukup akal,smu bandung ngentot d semak2,foto cewek ngentot,dongeng seks ibu dan anak,cerita seks indonesia terbaru,kumpulan dongeng seks indonesia,dongeng ibu bimbing anak setubuh,kisah sedarah ibu dan anak,ibu main dgn anak kandung,cerita cukup umur mama dan anak,kumpulan cerita akil balig cukup akal terbaru,cerita sek melayu terkini,cerita perselingkuhan sedarah dengan ayah,kisah faktual perselingkuhan dengan tetangga,kisah seks bergambar paling baru,dongeng birahi pembantu,kisah ngentot sama pembantu,kisah seks bergambar modern,kisah seks sedarah bergambar dengan ibu,cerita sampaumur ngentot pembantu,kisah panas pembantu nafsu,dongeng Esex kulum memek pembantu,dongeng sex sedarah,Cerita Mesum sedarah dengan adik,Cerita esek sedarah dengan abang,Cerita sex anal Dukun cabul dengan tante ,Cerita hot ngesex dukun cabul,Cerita panas terlaris.Cerita Esex Di rumah sakit.

0 Response to "Cerita Cukup Umur Peselingkuhan Sedarah"