Kisah Sex Cukup Umur Ngentot Wanita Hamil
By Blinger
—
Selasa, 13 Februari 2018
—
Add Comment
—
Cerita Dewasa,
Cerita Lesbian,
Cerita Mesum,
Cerita Ngetot,
Cerita Sex
Cerita Sex Dewasa Ngentot Wanita Hamil - Aku yakni seorang direktur muda yang baru diangkat menjadi manajer di suatu perusahaan swasta di Surabaya. Sebut saja namaku Aldi, tinggi 175 cm kata orang saya seperti pemain badminton Ricky S. Kisah ini terjadi hampir setahun yang kemudian. Umurku dikala itu 30 tahun. Aku sudah beristri dan beranak 2, berumur 3 tahun dan yang bungsu baru 1 bulan. Isteri dan anakku masih tinggal di Malang alasannya adalah ketika melahirkan anak kedua tinggal di rumah orang tuanya dan belum pulang ke Surabaya.
Cerita Sex Dewasa Ngentot Wanita Hamil
Kisah ini terjadi saat pulang dari kerja lembur sekitar pukul 11:00 malam. Dengan kendaraan beroda empat Baleno kesayanganku, saya menyusuri Jalan di tempat perumahan elit yang mulai sepi karena kebetulan hujan gerimis. Ditengah perjalanan saya menyaksikan wanita setengah baya bangun di bawah pohon di pinggir jalan. Aku merasa kasihan lalu aku menghentikan kendaraan beroda empat dan menghampirinya.
Aku mengajukan pertanyaan, “Ibu sedang menunggu apa?”
Dia memandangku agak curiga tapi lalu tersenyum. Dalam hati saya memuji, Manis juga ibu ini meskipun umurnya nampaknya di atasku sekitar 34 -36 tahun kalau digambarkan mirip artis Misye Arsita dan dikala itu perutnya agak membuncit kecil kelihatan sedang hamil muda.
“Kalau ke manukan naik angkot apa ya Dik?”
“Wah jam segini sudah habis Bu angkotnya, Gimana kalo saya antar?”
Dia kelihatan bangga. “Apa tidak merepotkan?”
“Kebetulan rumah saya juga satu arah dari sini, mari naik!”
Setelah ia ikut mobilku, Ibu itu bercerita bahwa beliau berasal dari Jawa Tengah, ia sedang mencari suaminya yang kebetulan gres 2 ahad kerja selaku sopir bis jurusan Semarang-Surabaya, keperluannya ke sini hendak mengabarkan jika anaknya yang pertama yang berumur 15 tahun kecelakaan dan dirawat di rumah sakit sehingga butuh uang untuk perawatan anaknya. Kebetulan alamat yang di tulis oleh suaminya tidak ada nomer teleponnya.
Sesampainya di alamat yang dituju kami berhenti. Setelah di depan rumah dikala akan mengetuk pintu ternyata pintunya masih digembok, kemudian kami bertanya pada tetangga sebelah yang kebetulan satu profesi.
“Suami Ibu paling cepat 2 hari lagi pulangnya. Baru saja sore tadi bisnya berangkat ke Semarang. Kebetulan kami satu PO.”
Kemudian kami permisi pergi. Kelihatan di dalam kendaraan beroda empat dia duka sekali.
“Terus kini Ibu mau ke mana?” tanyaku.
“Sebenarnya saya pengin pulang namun.. pasti saya nanti di marahi mertua saya kalau pulang dengan tangan kosong, lagian uang saya juga telah nggak cukup untuk pulang.”
“Begini saja, Ibu kan rumahnya jauh, kelelahan kan baru nyampek trus pulang lagi.. apalagi kelihatanya ibu sedang hamil, berapa bulan?”
“Empat bulan ini Dik, trus aku harus gimana?”
“Dalam dua hari ini Ibu tinggal saja di rumah aku, kan nggak jauh dari manukan nanti sesudah dua hari ibu aku antar ke sini lagi, gimana?”
“Yah terserah adik saja yang penting saya bisa istirahat malam ini.”
“Oh ya, boleh kenalan.. nama Ibu siapa dan usianya sekarang berapa?”
“Panggil saja saya Mbak Menik, dan kini aku 35 tahun.”
Malam itu, ia kusuruh tidur di kamar samping yang lazimnya digunakan untuk kamar tamu yang akan menginap. Rumahku berisikan 3 kamar, kamar depan kupakai sendiri dan isteriku, sedang yang belakang untuk anakku yang pertama. Malam itu aku tidur nyenyak sekali, kebetulan malam sabtu dan di kantorku hanya berlaku 5 hari kerja jadi sabtu dan ahad aku libur. Sebenarnya aku ingin pergi ke Malang tapi karena ada tamu, kutangguhkan kepergianku minggu depan.
Sekitar jam 8 pagi saya berdiri, kulihat sudah ada kopi yang sudah agak dingin di meja makan serta beberapa kudapan manis di piring. Mungkinkah ibu itu yang menyajikan semua ini. Lalu sesudah kuteguk kopi itu aku bergegas ke kamar mandi untuk cuci muka dan kencing. Karena agak ngantuk saya kurang memantau apa yang terjadi, dikala saya selesai kencing aku tidak sadar bila di bathup Mbak Menik sedang telanjang dan berendam di dalamnya. Matanya melotot menyaksikan kemaluanku yang menjulur bebas, saat saya membalik ke samping aku terkejut dan sempat terkesima menyaksikan badan telanjang Mbak Menik, tubuh yang kuning langsat dan mulus itu tampakmengkilat alasannya adalah basah oleh air dan buah dadanya.. wow besar juga ternyata, 36B. Pasti empunya ajaib seks. Lalu mataku berpindah ke sekitar pusarnya, di atas liang senggamanya tumbuh bulu kemaluannya yang lebat. Tak sadar kemaluanku tegak berdiri dan aku lupa jikalau belum mengancingkan celana, Dan Mbak Menik sempat tertegun melihat kejantananku yang tidak mengecewakan besar, panjangnya 17 cm namun lalu.. “Aouuww, Dik itunyaa!” kata Mbak Menik sambil menutup buah dadanya dengan tangan serta mengapitkan kakinya. Aku baru sadar kemudian buru-buru keluar.
Di kamar aku masih membayangkan keindahan badan Mbak Menik. Andai saja aku bisa menikmati tubuh itu… saya malah berpikiran ngeres alasannya adalah memang telah usang aku tidak menerima jatah dari isteriku, ditambah lagi suasana di rumah itu cuma kami berdua. Lalu timbul niat isengku untuk mengintip lagi ke kamar mandi, ternyata ia sudah keluar lalu kucari ke kamarnya. Saat di depan pintu samar-samar saya mendengar ada suara rintihan dari dalam kamar samping, kebetulan nako jendela kamar itu terbuka lalu kusibakkan tirainya perlahan-lahan. Sungguh pemandangan yang amat syur. Kulihat Mbak Menik sedang masturbasi, kelihatan sambil berbaring di ranjang beliau masih telanjang bundar, kakinya dikangkangkan lebar, tangan kirinya meremas liang kewanitaannya sambil jarinya dimasukkan ke dalam lubang senggamanya, sedang tangan kanannya meremas buah dadanya bergantian. Sesekali pantatnya diangkat tinggi sambil mulutnya mendesis seperti orang kepedasan, wajahnya kelihatan memerah dengan mata terpejam.
“Ouuuhh… Hhhmm… Ssstt…” Aku kian penasaran ingin melihat dari dekat, lalu kubuka pintu kamarnya pelan- pelan tanpa bunyi aku berjingkat masuk. Aku makin terkesima melihat panorama yang merangsang birahi itu. Samar-samar kudengar dia menyebut namaku, “Ouhhh Aldiii.. Sss Ahhh..” Ternyata beliau sedang membayangkan bersetubuh denganku, kebetulan sekali rasanya saya sudah tidak tahan lagi ingin secepatnya menikmati tubuhnya yang mulus walau perutnya agak membuncit, justru menambah nafsuku. Lalu pelan-pelan kulepaskan pakaianku satu-persatu sampai aku telanjang bundar. Batang kemaluanku telah sungguh tegang, kemudian tanpa suara aku menghampiri Mbak Menik, kuikuti gerakan tangannya meremasi buah dadanya. Dia tersentak kaget lalu mempesona selimut dan menutupi tubuhnya.
\ “Sedang apa Anda di sini!, tolong keluar!” katanya agak nervous.
“Mbak nggak usah ketakutan.. kita sama-sama butuh.. sama-sama kesepian, kenapa tidak kita salurkan bersama,” kataku merajuk sambil terus berusaha mendekatinya tapi ia terus menghindar.
“Ingat Dik, saya sudah bersuami dan beranak tiga,” Dia terus menghiba.
“Mbak, aku juga sudah beristri dan punya anak, tetapi bila kini terus terang saya sungguh terpesona oleh Mbak.. Nggak ada orang lain di sini.. hanya kita berdua.. niscaya nggak ada yang tahu.. Ayolah aku akan memuaskan Mbak, aku komitmen nggak akan menyakiti Mbak, kita kerjakan atas dasar suka sama suka dan sama-sama butuh, mari Mbak!”
“Tapi aku sekarang sedang hamil, Dik.. kumohon jangan,” pintanya terus.
Aku cuma tersenyum, “Saya dengar tadi samar-samar Mbak menyebut namaku, berarti Mbak juga inginkan aku.. jujur saja.” Dan saya berhasil menyambar selimutnya, lalu dengan segera kutarik dia dan kujatuhkan di atas ranjang dan secepat kilat kutubruk tubuhnya, dan wajahnya kuhujani ciuman tetapi ia terus meronta sambil berupaya menghindardari ciumanku. Segera tanganku beroperasi di dadanya. Buah dadanya yang tidak mengecewakan besar itu jadi garapan tanganku yang mulai nakal.
“Ouughh jangaan Diik.. Kumohon lepaskaan..” rintihnya.
Tanganku yang lain menjalari daerah kewanitaannya, bulu-bulu lebatnya telah kulewati dan tanganku jadinya sampai di liang senggamanya, terasa telah basah. Lalu kugesek-gesek klirotisnya dan kurojok-rojok dinding kemaluannya, terasa hangat dan lembab penuh dengan cairan mani. “Uhhh… ssss..” Akhirnya dia mulai pasrah tanpa perlawanan. Nafasnya mulai tersengal-sengal. “Yaahhh… Ohhh… Jangaaann Diik, Jangan lepaskan, terusss…” Gerakan Mbak Menik semakin liar, dia mulai membalas ciumanku bibirku dan bibirnya saling berpagutan. Aku senang, sekarang dia mulai menikmati permainan ini. Tangannya meluncur ke bawah dan berupaya menggapai laras panjangku, kubiarkan tangannya menggenggamnya dan mengocoknya. Aku semakin beringas kemudian kusedot puting susunya dan sesekali menjilati buah dadanya yang masih kencang meskipun telah menyusui tiga anaknya. “Yahh… teruuuss, enaakkk…” katanya sambil menggelinjang.
Kemudian aku berdiri, kulebarkan kakinya dan kutekuk ke atas. Aku semakin agresif menyaksikan liang kewanitaannya yang merah mengkilat. Dengan rakus kujilati bibir kewanitaan Mbak Menik. “Aaahh.. Ohhh.. enaakkk Diik.. Yaakh.. teruusss..” Kemudian lidahku kujulurkan ke dalam dan kutelan habis cairan maninya. Sekitar bulu kemaluannya juga tak luput dari daerah jamahan lidahku maka sekarang kelihatan rapi mirip habis disisir. Klirotisnya terlihat merah merekah, memperbesar gairahku untuk menggagahinya. “Sudaahhh Dikk.. sekarang.. ayolah kini.. masukkan.. aku sudah nggak tahan..” pinta Mbak Menik. Tanpa buang waktu lagi kukangkangkan kedua kakinya sehingga liang kewanitaannya kelihatan terbuka. Kemudian kuarahkan batang kejantananku ke lubang senggamanya dan agak sempit rupanya atau mungkin alasannya adalah diameter kemaluanku yang terlalu lebar.
“Pelan-pelan Dik, punya kamu besar sekali.. ahhh…” Dia menjerit saat kumasukkan seluruh batang kemaluanku hingga saya merasakan mentok sampai dasar rahimnya. Lalu kutarik dan kumasukkan lagi, usang-lama kupompa makin cepat. “Oughhh.. Ahhh.. Ahhh.. Ahhh..” Mbak Menik mengerang tak beraturan, tangannya menawan kain sprei, sepertinya ia menikmati betul permainanku. Bibirnya terlihat meracau dan merintih, saya kian kasar, dimataku ia ketika itu adalah wanita yang haus dan minta dipuaskan, tanpa berpikir saya sedang meniduri istri orang apalagi dia sedang hamil.
“Ouuhh Diik.. Mbak mau kelu.. aaahhh…” Dia menjerit sambil tangannya mendekap erat punggungku. Kurasakan, “Seerrr… serrr..” ada cairan hangat yang membasahi kejantananku yang sedang tertanam di dalam kemaluannya. Dia mengalami orgasme yang pertama. Aku kemudian menawan lepas batang kejantananku dari kemaluannya. Aku belum mendapat orgasme. Kemudian aku memintanya untuk doggy style. Dia lalu menungging, kakinya dilebarkan. Perlahan-lahan kumasukkan lagi batang kebanggaanku dan, “Sleeep..” batang itu mulai masuk hingga seluruhnya amblas kemudian kugenjot maju mundur. Mbak Menik menggoyangkan pinggulnya mengimbangi gerakan batang kejantananku. “Gimaa.. Mbaak, enak kan?” kataku sambil mempercepat gerakanku. “Yahhh.. ennakk.. Dik punyaa kamu enak banget.. Aahhh.. Aaah.. Uuuhh.. Aaahh.. ehhh..” Dia semakin bergoyang liar seperti orang kesurupan. Tanganku menggapai buah dadanya yang menggantung indah dan bergoyang bersamaan dengan perutnya yang membuncit. Buah dada itu kuremas-remas serta kupilin putingnya. Akhirnya Aku merasa hingga ke titik puncak, dan ternyata dia juga menerima orgasme lagi. “Creeett.. croottt.. serrr..” spermaku menyemprot di dalam rahimnya serempak dengan maninya yang keluar lagi.
Kemudian kami ambruk bersamaan di ranjang. Aku berbaring, di sebelah kulihat Mbak Menik dengan paras sarat keringat tersenyum puas kepadaku.
“Terima kasih Dik, saya sangat puas dengan permainanmu,” katanya.
“Mbak, sesudah istirahat bolehkah aku minta lagi?” tanyaku.
“Sebenarnya aku juga masih pengin, tapi kita sarapan dulu lalu kita teruskan lagi.”
Akhirnya selama 2 hari sabtu dan minggu saya tidak keluar rumah, menikmati tubuh bahenol Mbak Menik yang sedang hamil 4 bulan. Berbagai gaya kupraktekkan dengannya dan kulakukan di kamar mandi, di dapur dan di meja makan bahkan sempat di halaman belakang alasannya rumahku dikelilingi tembok. Di tanah kubentangkan tikar dan kugumuli ia sepuasnya. Pada istriku kutelepon jika saya ada peran luar kota selama 2 hari, pulangnya hari Senin. Mbak Menik bilang selama 2 hari itu ia betul-betul merasakan seks yang bergotong-royong tidak mirip dikala ia bersetubuh dengan suaminya yang asal sabung kemudian KO. Dan Dia berjanji jika sedang mendatangi suaminya, beliau akan meluangkan meneleponku untuk minta jatah dariku.
Minggu malam kuantarkan ia ke kost suaminya tetapi hanya sampai ujung gang dan tidak lupa kuberi ia uang sebesar Rp 500.000,- sebagai bantuanku pada anaknya yang sedang di rumah sakit. Setelah istriku balik ke tempat tinggal, dia menghubungiku melalui telepon di kantor dan ketemu di terminal. Kami melaksanakan persetubuhan disalah satu hotel murah di Surabaya atau kadang di Pantai Kenjeran kalau malam hari. Hingga kehamilannya menginjak usia 7 bulan kami berhenti, hingga kini dia belum memberi kabar, jikalau dijumlah anaknya sudah lahir dan berusia 6 bulan.

0 Response to "Kisah Sex Cukup Umur Ngentot Wanita Hamil"