728 x 90

Native bar

Dongeng Sex Bulan Madu

 Cerita Sex Bulan Madu - Pengalaman menawan ini kami alami di saat kami berbulan madu di Pulau Bali dan Lombok. Waktu itu sedang low session jadi kondisi tidak seramai bila sedang hari libur, di mana kami melakukan relasi seks di tepi pantai yang sepi sambil menciptakan film dokumentasi adegan kami tersebut, juga di saat kami di hotel kegiatan kami sempat diintip oleh seorang pegawai hotel. Saya dan Vonny bahagia sekali bereksperimen dalam melaksanakan korelasi seks, dari segala macam gaya, alat-alat bantu seks hingga menciptakan foto dan film kekerabatan seks kami


 Pengalaman menarik ini kami alami sewaktu kami berbulan madu di Pulau Bali dan Lombok  Cerita Sex Bulan Madu
 Cerita Sex Bulan Madu

Vonny istriku itu kukenal semenjak masih Sekolah Menengan Atas, beliau adik kelasku, hingga sesudah final kuliah beliau kesudahannya kunikahi. Sejak SMA kami telah sering melaksanakan korelasi seks, apalagi ketika kuliah, sebab kami berada di kota Malang walaupun tidak sekampus tetapi alasannya adalah tempat kostku yang bebas jadi kami sering melakukan relasi seks di kawasan kost. Sebenarnya kami juga mempunyai kisah yang mempesona ketika masih kuliah dulu, namun saya ingin menceritakan pengalaman yang satu ini dahulu.

Siang hari sekitar pukul 1.00, risikonya kami berdua sampai di Pulau Bali, dari airport kami di antar taksi untuk mencari hotel di kawasan Kuta, sejenak kami melepas letih, sesudah itu kami jalan-jalan di sepanjang jalan di Kuta, Vonny rupanya tertarik untuk membeli beberapa potong bikini untuk dipakai nanti di pantai. Model yang beliau beli sangat menggairahkan, kainnya tipis berwarna terperinci sampai bila digunakan lalu kena air, dipastikan apa yang dilapisinya akan terlihat dengan jelas, sengaja ia beli itu untuk membuat saya terangsang, kemudian ada celana yang cuma ada secungkup kain kecil untuk menutupi rambut kemaluannya, modelnya cuma bertali satu bagian belakangnya sampai cuilan pantatnya jelas bebas terlihat, begitu juga epilog dadanya hanya sekedar untuk menutupi puting buah dadanya, disamping itu banyak juga yang lain yang beliau beli, pokoknya modelnya yang merangsang.

Semalam kami di Bali, keesokan harinya kami menyeberang ke Pulau Lombok yang tentu saja lebih alami dibanding Bali. Sesampainya di Lombok kami masih mesti menyeberang ke Pulau kecil di sebelah Pulau lombok ialah di Gili Meno. Tempatnya sangat sesuai untuk berbulan madu, kami menempati sebuah cottage yang asri, setelah berkemas kami secepatnya menuju ke pantai untuk berenang, mula-mula Vonny masih mengenakan kaos rangkap untuk menutupi bikininya, sesampai di pantai yang berjarak sangat erat dengan hotel, kami mencari kawasan yang nikmat untuk berenang, kami menyaksikan sepasang bule yang sedang asyik bercumbu ria di pinggir pantai yang landai dan berpasir putih itu sehingga kami bisa melihat kalau mereka berdua dalam kondisi telanjang bulat.
"Von, kamu berani nggak mirip mereka itu", tanyaku.
"Berani aja, pokok ada kau aku mau aja", sahut Vonny.

Setelah mendapatkan kawasan yang sempurna secepatnya kami berdua berenang di air maritim yang jernih itu. Kulihat Vonny mengenakan bikini yang transparan hingga menampakkan bayang rambut kemaluannya di pangkal pahanya, di saat ia masuk ke air saya tidak dapat menahan nafsuku yang timbul melihat tubuh Vonny yang memakai bikini transparan itu. Payudaranya yang kencang menantang terang terlihat di balik bikininya, ujung payudaranya yang berwarna coklat kemerahan membayang terperinci terlihat. Segera saja penisku kerediri tegak menyaksikan pemandangan yang indah itu, segera kuabadikan dengan handycamku badan Vonny dari segala sudut dan segala lekuk tubuhnya.
"Von, kau lepasin aja bikinimu itu, kan sama aja kau seperti nggak make apa-apa jikalau kau pake bikini itu", sahutku.
"Enggak ah, aib saya", jawab Vonny.
"Malu ama siapa, kan nggak ada orang yang tahu di sini, kan sepi", sahutku.
Ia melihat sekelilingnya nggak ada orang kecuali sepasang bule yang sedang asyik main kuda-kudaan.
"Iya deh saya lepas ya", jawab Vonny.

Tak kusia-siakan ketika beliau melepas bikininya kurekam terus dengan handycam-ku hingga ia telanjang bundar di tepi pantai, kulepas sekalian celana renangku hingga penisku yang telah bangkit tegak tadi meloncat keluar seolah merasa bebas dari kurungannya. Tampak olehku badan telanjang Vonny. Rambut kemaluannya terlihat kontras sekali dengan kulit tubuhnya yang putih mulus, serta dua gumpalan buah dadanya yang tegak mengacung menciptakan nafsu ini menjadi berkobar. Ujung payudaranya yang berwarna coklat kemerahan itu tampak mengencang alasannya basah oleh air laut, ingin sekali kuremas-remas dan kuhisap ujung payudaranya itu. Kuabadikan semua tingkah laris Vonny yang telah telanjang lingkaran itu, ia bermain di air yang jernih sambil sekali-kali beliau menoleh ke kiri dan kanan menyaksikan jika jikalau ada yang melihat tubuhnya yang telanjang bundar itu. Ia berbaring telentang di pasir pantai dengan posisi kakinya mengangkang sampai tampak serpihan lubang vaginanya yang berwarna merah kehitaman itu, kurekam terus adegan ini sambil arah kamera kuarahkan ke bab vaginanya yang terbuka lebar itu. Tanganku yang satu sambil mengurut penisku yang telah bangun tegak sambil sesekali meraba dan meremasi payudara Vonny yang sudah mengencang itu.

Rupanya Vonny juga sudah mulai terangsang ketika kuraba vaginanya dan kumainkan clitorisnya, beliau kemudian meraih penisku dan mengocoknya perlahan sambil mendesah keenakkan, "Ughh..., Ninoo..., gelii, enakk...", sambil tangannya makin kencang mengocok penisku, alhasil kutaruh handycamnya di suatu daerah yang tepat semoga segala adegan kami mampu direkam dengan jelas, selintas terpikir olehku andai ada seseorang yang akan membantu untuk mengambil gambar dengan handycamku pasti akan lebih elok lagi alhasil. Kulihat ke arah pasangan bule itu, ternyata mereka juga sedang melakukan hubungan seks di pasir pantai, kulihat Vonny juga asyik menyaksikan adegan itu dan tangannya yang satu meremasi payudaranya sedang tangannya lainnya dengan dua jarinya terlihat telah berada di dalam vaginanya yang terlihat licin mengkilat karena cairan nafsunya tampaknya sudah membasahi liang vaginanya.

Kuhampiri Vonny yang telentang di atas pasir pantai itu secepatnya beliau menjangkau penisku dan mengarahkannya ke mulutnya yang mungil dan berikutnya bagai anak kecil yang sedang makan ice cream, dijilatinya seluruh batang penisku dari ujung kepala sampai ke buah penisku tak lupa dikulumnya sambil sesekali di sedot dengan berpengaruh. "Ufffffff lezat sekali Von..., terusin isapnya..., isap yang kenceng", karena sudah berdiri nafsunya, Vonny dengan kuat menguras ujung kepala penisku sambil sesekali menggunakan ujung lidahnya memainkan lubang kencingku, rasa yang ditimbulkan sangat lezat hingga ke ubun-ubun. Segera kubuat posisi yang memungkinkan saya bisa menjilati dan menghisap vagina Vonny yang telah terbuka itu, ketika kujilati clitorisnya dia menggelinjang kenikmatan sambil kepalaku di jepit dengan kedua belah pahanya, dia rupanya ingin supaya saya lebih lama menjilati vaginanya. Dengan dua jariku, jari tengah dan telunjuk kumasukkan ke dalam vaginanya dan mengocok dengan lembut sampai beliau terlihat mengerang-erang keenakkan, penisku di genggamnya bersahabat sambil terus menghisap-isap ujung penisku.

Cukup lama kami saling isap dan jilat hingga aku melihat ke arah pasangan bule itu dan ternyata mereka sedang menyaksikan adegan kami. Kukatakan pada Vonny jika kita sedang diperhatikan oleh pasangan bule itu.

"Biarin aja, semoga mereka terangsang melihat permainan seks kita".
Bukannya aib tetapi Vonny malah lebih ganas dan kasar dalam permainan ini. Kini posisiku telentang di pasir dan Vonny berada di antara ke dua pahaku yang telentang, ia terlihat begitu menikmati penisku yang kini telah berair terkena air liurnya, tak henti-hentinya ia mengisap dan menggigit kecil ujung penisku sehingga aku kelojotan mencicipi geli yang luar biasa, kurasakan desakan yang akan keluar dari penisku, secepatnya aja kutarik kepala Vonny agar ia melepaskan penisku dari mulutnya, dan sekarang kurebahkan beliau lalu kuhisap ujung payudaranya sebelah kanan sambil ujung yang satunya kumainkan dengan jariku, Vonny tampak menikmati permainan ini sambil tangannya sendiri memainkan ujung clitorisnya, kedua belah pahanya di buka lebar dan setengah diangkat biar lebih gampang dirinya memasukkan jarinya sendiri.

"Ninoo..., ayo masukin penismu di vaginaku dong..., aku udah kepengen nihh", pinta Vonny sambil mengarahkan penisku ke arah lubang vaginanya. Sambil dituntun tangannya kumasukkan ujung penisku ke lubang vaginanya. Vonny yang sepertinya memang telah kepingin dengan mengangkat pantatnya ia sengaja menciptakan supaya seluruh batang penisku masuk ke dalam vaginanya.

"Acchh..., uufffffhh", desah Vonny ketika seluruh penisku masuk ke dalam vaginanya. Kedua pahanya dilingkarkan di badanku supaya penisku tetap menancap di vaginanya, kutarik sedikit keluar lalu kumasukkan dalam-dalam, kutarik lagi kumasukkan lagi dengan ritme yang berirama menciptakan Vonny mengerang-erang keenakkan.

Kini dengan ritme yang lebih singkat kutekan-tekan sekuat tenaga sampai verbal Vonny menganga tanpa mampu mengucapkan sepatah katapun alasannya lezat yang ia rasakan menciptakan dia hanya mampu mengelinjang-gelinjang keenakan. Kulihat payudaranya bergerak naik turun seirama dengan kocokan penisku di vaginanya. "Niinnoo..., egghh..., aacchh..., aakuu pengen puass dahulu ya", pinta Vonny.
Tanpa kujawab beliau lalu sekarang berada di atas tubuhku, penisku yang bangkit tegak itu dituntunnya ke liang vaginanya, kemudian dengan jeritan kecil Vonny, "Aauu...".

Seluruh batang penisku sekarang amblas masuk ke dalam vagina Vonny yang kian licin itu, sekarang ia sepenuhnya bebas menguasai penisku, seperti orang naik kuda makin usang kian cepat gerakannya sambil tanganku meremas-remas kedua bukit payudaranya yang indah itu, ia ingin kedua payudaranya itu kuremas-remas dengan kuat cuma dengan begitu ia merasakan nikmat yang bahu-membahu, sekarang beliau tidak lagi bergaya mirip naik kuda, namun tetap seperti posisi semula cuma sekarang dia menggesek-gesekkan vaginanya maju mundur sambil dia meremasi sendiri payudaranya sampai kesannya ia terlihat mengejang-ngejang beberapa ketika sambil menggigit bibirnya dan matanya terpejam merasakan lezat yang tiada tara itu, jadinya beliau terkulai di atas tubuhku beberapa dikala.

Lalu dia kembali mengocok penisku dengan vaginanya, kurasakan sekarang vaginanya lebih seret dari yang tadi sehingga menambah kenikmatanku, segera kuminta supaya beliau berjongkok aja, posisi doggie style ialah posisi kegemaranku, secepatnya Vonny berjongkok sambil membuka lebar pahanya hingga kulihat dengan terperinci lubang kenikmatan itu terbuka di hadapanku, vaginanya sungguh merangsang sekali, rambutnya tidak terlalu lebat sampai seluruh bab dalam vaginanya dapat tampakdengan jelas.

Kini kepala penisku kuarahkan ke dalam lubang itu, dengan sekali dorongan, masuklah sebagian penisku ke dalam vagina Vonny. Vonny menjerit kecil ketika sebagian penisku masuk ke vaginanya, sekarang ia memundurkan pantatnya sampai amblaslah seluruh batang penisku ke dalam vagina Vonny. Dengan kuat kudesak-desak seluruh batang penisku dengan irama yang beraturan hingga Vonny merasa kegelian lagi. Sambil mendesis ia memintaku semoga jariku di masukkan ke dalam anusnya, kubasahi jari telunjukku dengan ludah dan sebagian lagi kubasahi pula lubang anusnya dengan air ludahku. Sambil terus menggoyang kumasukkan jari telunjukku ke anusnya hingga seluruh jariku masuk ke dalam anusnya, sambil kutekan ke bawah sampai kurasakan geseran penisku di dalam vagina Vonny, dia terlihat menikmati sekali permainan ini, berulangkali ia memintaku supaya lebih keras lagi goyangannya sambil beliau membuat gerakan maju mundur pantatnya.

"Uufffgghh..., Enak Vonn, vaginamu lezat banget, orang lain pasti pengen ngrasain vaginamu ini, soalnya lezat banget sih", Kataku.
"Iya dong, lain kali kita coba ya, mungkin orang lain niscaya udah keluar duluan sebelum saya puas", sahut Vonny.

"Bener..., kamu pengen coba penis orang lain?", tanyaku.
"Iya..., itu jika kau kasih ijin lho, tapi kamu mesti ada juga di situ melihat aku main ama orang lain", tanggapan itu kian membuatku terangsang hingga kupercepat kocokan penisku sambil menekan besar lengan berkuasa berpengaruh jariku yang ada di dalam anusnya, sampai balasannya kurasakan ada desakan yang besar lengan berkuasa yang mau memancar keluar dari penisku, rupanya Vonny juga mengerti jikalau saya mau keluar, kucabut keluar dan segera oleh Vonny diraihnya penisku dan segera beliau menghisap kuat penisku sampai akibatnya saya tak kuat lagi menahan rasa nikmat ini hingga hasilnya, "Cett..., crett.., crett", keluarlah cairan kenikmatanku, dengan lahap Vonny menghisap setiap tetes cairanku itu, lalu dengan lidahnya dia membersihkan ujung penisku sampai seluruh batang penisku mengkilat oleh air liurnya.

Apa yang kami lakukan itu ternyata di saksikan oleh sepasang bule tadi, bule cowoknya menghunus ibu jarinya dikala menyaksikan kami sekarang tergeletak capek di pasir pantai, kubalas dengan acungan jempol pula kemudian ia tertawa. Kuingat tadi handycam yang sejak tadi merekam adegan kami itu, kemudian secepatnya kuambil dan kusimpan film tadi sebagai kenang-kenangan yang indah. Dengan tetap telanjang lingkaran kami bermain di air sambil membersihkan diri dari pasir pantai yang melekat di seluruh tubuh kami, kami tetap di pantai itu sampai menunggu matahari terbenam, alasannya adalah dari pantai itu kami mampu menyaksikan indahnya kejadian alam itu, terlebih peristiwa yang baru kami alami tadi.

0 Response to "Dongeng Sex Bulan Madu"

sosial bar