Dongeng Sex Ngetot Polwan
By Blinger
—
Selasa, 13 Februari 2018
—
Add Comment
—
Cerita Dewasa,
Cerita Lesbian,
Cerita Mesum,
Cerita Ngetot,
Cerita Sex
Cerita Sex Ngetot Polwan - Bripda Handayani, 20 tahun, ialah seorang anggota Bintara Polwan yang gres dilantik beberapa bulan yang kemudian dan masih Perawan. Handayani atau sering dipanggil Yani itu memiliki wajah yang cukup elok, berkulit putih dengan bibir yang merah merekah, tubuhnya kelihatan agak berisi dan sekal. Orang-orang di sekitarnya pun menilai wajahnya mirip dengan artis Desy Ratnasari.
Cerita Sex Ngetot Polwan
Banyak orang menyayangkan dirinya yang lebih menentukan profesi selaku seorang polisi wanita dibandingkan dengan menjadi artis atau seorang foto versi. Maklumlah, dengan penampilannya yang bagus itu Handayani memiliki modal yang cukup untuk berprofesi sebagai seorang foto versi atau artis sinetron.
Tinggi badannya 168 cm dan ukuran bra 36B, menciptakan penampilannya semakin menggairahkan, apalagi dikala beliau mengenakan baju seragam dinas Polwan dengan baju dan rok seragam coklatnya yang berukuran ketat hingga-hingga garis celana dalamnya pun terlihat terang menembus dan mempercantik kedua buah pantatnya yang sekal. Karena ukuran roknya yang ketat, sehingga saat ia berjalan goyangan pantatnya terlihat aduhai. Semua laki-laki yang berpikiran pembangkang pastilah ingin merasakan tubuhnya.
Pada suatu malam setelah lembur, sekitar jam 10 malam ia berlangsung sendirian meninggalkan kantor untuk pulang menuju ke mess yang kebetulan cuma berjarak sekitar 600 meter dari Markas Polda tempatnya berdinas. Dia mencicipi badannya amat letih akhir seharian kerja ditambah lembur tadi, sekujur tubuhnya pun terasa lengket-lengket sebab keringat yang juga membasahi seragam dinas yang dikenakannya.
Dengan berjalan agak lambat, sekarang tibalah Handayani pada suatu jalan pintas menuju ke mess yang sekarang tinggal berjarak 100 meter itu, tetapi jalan tersebut agak sunyi dan gelap. Tiba-datang tanpa disadarinya, sebuah kendaraan beroda empat Kijang berkaca gelap memotong jalan dan berhenti di depannya. Belum lagi hilang rasa kagetnya, sekonyong-konyong keluar seorang cowok bertubuhkekar dari pintu belakang dan eksklusif menyeret Bripda Handayani yang tidak sempat memberikan perlawanan itu masuk ke dalam kendaraan beroda empat tersebut, dan kendaraan beroda empat itu lalu eksklusif tancap gas dalam-dalam meninggalkan lokasi.
Di dalam kendaraan beroda empat tersebut ada empat orang laki-laki. Bripda Handayani diancam untuk tidak berteriak dan bertindak macam-macam, sementara mobil terus melaju dengan segera. Handayani yang masih terbengong-melamun pun didudukkan di bab tengah, diapit 2 orang laki-laki. Sementara kendaraan beroda empat melaju, mereka berupaya meremas-remas pahanya. Tangan kedua laki-laki tersebut mulai bergantian mengusap-usap kedua paha mulus Handayani.
Naluri polisi Handayani kini bangun dan berontak. Namun belum lagi berbuat banyak, datang-datang laki-laki yang duduk di belakangnya memukul kepala Handayani berulang kali hingga jadinya Handayani pun mengakhiri perlawanannya dan pingsan.
Kedua tangan Bripda Handayani diikat ke belakang dengan tali tambang sampai dadanya yang molek dan masih dilapisi seragam Polwan itu mencuat ke depan. Sementara itu selama dalam perjalanan kedua orang laki-laki yang mengapitnya itu memanfaatkan potensi dengan berangasan menyelisik rok seragamnya Handayani sampai sepinggang. Setelah itu kedua belah kakinya dibentangkan lebar-labar ke kiri dan kanan sampai risikonya tangan-tangan badung kedua laki-laki tersebut dengan leluasa menyeruak ke dalam celana dalam Handayani, lalu dengan agresif mengusap-ngusap kemaluan Bripda Handayani.
Akhirnya sampailah mereka di sebuah rumah besar yang sudah lama tidak ditempati di sebuah tempat sepi. Mobil eksklusif masuk ke dalam dan garasi pribadi ditutup rapat-rapat. Kemudian Handayani yang masih pingsan itu pribadi digotong oleh dua orang yang tadi mengapitnya masuk ke dalam rumah tersebut. Rumah tersebut kelihatan sekali tidak terawat dan kosong, tetapi di tengah-tengahnya terdapat satu sofa besar yang sudah lusuh.
Ternyata di sana telah menunggu kurang lebih sekitar lima orang laki-laki lagi, jadi total di sana ada sekitar sembilan orang laki-laki. Mereka semua berperangai sangar, badan mereka rata-rata dipenuhi oleh tatto dan lusuh tidak terawat, tampaknya mereka jarang mandi.
Bripda Handayani kemudian didudukkan di suatu bangku sofa panjang di antara mereka.
“Waw betapa cantiknya Polwan ini.” guman beberapa lelaki yang menyambut kedatangan rombongan penculik itu sambil memandangi badan lunglai Handayani.
Tiba-datang salah seorang dari mereka berujar memerintah, “Jon.., ambilin air..!”
Seseorang berjulukan Joni secepatnya keluar ruangan dan tidak lama lalu masuk dengan seember air.
“Ini Frans..,” ujar Joni.
Frans yang bertubuhtegap dan berambut gondrong itu bangkit dan menyiramkan air pelan-pelan ke wajah Bripda Handayani.
Beberapa ketika kemudian, saat sadar Polwan cantik itu tampaksungguh terkejut melihat situasi di depannya, “Kamu…” katanya seraya menggerakkan tubuhnya, dan dia sadar jika tangannya terikat dekat.
Kali ini Frans tersenyum, senyum kemenangan.
“Mau apa kau..!” Bripda Handayani mengajukan pertanyaan setengah menghardik terhadap Frans.
“Jangan macam-macam ya, saya anggota polisi..!” lanjutnya lagi.
Frans cuma tersenyum, “Silakan saja teriak, nggak bakal ada yang dengar kok. Ini rumah jauh dari mana-mana.” kata Frans.
“Asal tau aja, begitu masalah gue di Polda waktu itu beres, elo udah jadi incaran gue nomer satu.” sambungnya.
Sadar akan posisinya yang terjepit, keputusasaan pun mulai tampakdi wajah Polwan itu, wajahnya yang cantik telah mulai terlihat memelas memohon iba. Namun kebencian di hati Frans masih belum padam, apalagi-lebih ia masih ingat ketika Bripda Handayani membekuknya saat dia beraksi melakukan pencopetan di dalam suatu pasar. Namun karena bukti yang kurang, ketika diproses di Polda Frans pun risikonya dibebaskan. Hal inilah yang membuat Frans mendendam dan bertindak nekat mirip ini.
Memang di kelompok dunia kriminal nama Frans cukup terkenal. Pria yang berusia 40-an tahun itu sering keluar masuk penjara lantaran banyak sekali tindak kriminal yang sudah dibuatnya. Tindakannya mirip mencopet di pasar, merampok usahawan, membunuh sesama penjahat. Kejahatan terakhir yang belum semat terlacak oleh polisi yang dia lakukan beberapa hari yang lalu ialah merampok dan memperkosa korbannya, yakni seorang ibu muda yang berusia sekitar 25 tahun, istri dari seorang pengusaha muda yang kaya raya. Ibu itu sendirian di rumahnya yang besar dan glamor alasannya ditinggal suaminya untuk urusan bisnis di Singapura.
“Ampun Mas, maafkan saya, saya waktu itu terpaksa bersikap begitu.” katanya seolah membela diri.
“Ha.. ha.. ha…” Frans tertawa lepas dan serentak laki-laki yang lainnya pun ikut tertawa sambil mengejek Bripda Handayani yang duduk terkulai lemas.
“Hei Polwan goblok, gue ini kepala preman sini tau! Elo nangkep gue sama aja bunuh diri!” ujar Frans sambil mengelus-elus dagunya.
“Sekarang elo musti bayar mahal atas tindakan elo itu, dan gue mau kasih elo pelajaran agar elo tau siapa gue.” sambungnya.
Bripda Handayani pun tertunduk lemas seolah ia meratapi tindakan yang sudah diambilnya dahulu, airmatanya pun mulai berlinang membasahi parasnya yang cantik itu.
Tiba-datang, “BUKK..” sebuah pukulan telak menghantam pipi kanannya, menciptakan badan Handayani terlontar ke belakang seraya menjerit. Seorang laki-laki berkepala gundul sudah menghajar pipinya, dan “BUKK” sekali lagi suatu pukulan dari si botak memukul perut Handayani dan membuat badannya meringkuk menahan rasa sakit di perutnya.
“Aduh.., ampun Bang.. ampunn..,” ujar Handayani dengan suara melemah dan memelas.
Frans sambil melepaskan baju yang dikenakannya berjalan mendekati Handayani, badannya yang hitam dan kekar itu semakin terlihat angker dengan banyaknya tatto yang menghiasi sekujur badannya.
“Udah Yon, sekarang gue mau action.” ujar Frans sambil mendorong Yonas si kepala Botak yang menghajar Handayani tadi.
Tidak perduli dengan pembelaan diri Handayani, Frans dengan kasarnya menyingkapkan rok seragam Polwan Handayani ke atas hingga kedua paha mulus Handayani terlihat jelas, juga celana dalam putihnya.
Handayani menatap Frans dengan ketakutan, “Jangan, jangan Mas…” ucapnya memelas seakan tahu hal yang lebih jelek akan menimpa dirinya.
Kemudian, dengan bernafsu ditariknya celana dalam Handayani sehingga bagian bawah badan Handayani telanjang. Kini terlihat gundukan kemaluan Handayani yang ditumbuhi bulu-bulu halus yang tidak begitu lebat, sementara itu Handayani menangis terisak-isak.
Para lelaki yang berada di sekeliling Frans itu pun pada bengong termangu melihat indahnya kemaluan Polwan itu. Untuk sementara ini mereka hanya mampu melihat ketua mereka mengerjai sang Polwan itu untuk melampiaskan dendamnya. Kini Frans memposisikan kepalanya sempurna di hadapan selangkangan Handayani yang nampak mengeliat-geliat panik. Tanpa mencampakkan waktu, direntangkannya kedua kaki Handayani sampai selangkangannya agak sedikit terbuka, dan setelah itu dilumatnya kemaluan Handayani dengan bibir Frans.
Dengan rakus bibir dan pengecap Frans mengulum, menjilat-jilat lubang vagina Handayani. Badan Handayani pun menggeliat-geliat kerenanya, matanya terpejam, keringat mulai banjir membasahi baju seragam Polwannya, dan rintihan-rintihannya pun mulai keluar dari bibirnya akibat ganasnya serangan bibir Frans di kemaluannya, “Iihh.. iihh.. hhmmh..”
Tidak tahan melihat itu, Joni dan seorang yang bernama Fredi yang berdiri di samping pribadi meremas-meremas payudara Handayani yang masih terbungkus seragam itu. Bripda Handayani sesekali nampak berusaha meronta, tetapi hal itu kian meningkatkan nafsu Frans. Jari-jari Frans juga meraba secara liar kawasan liang kemaluan yang sudah banjir oleh cairan kewanitaannya dan air liur Frans. Jari telunjuknya mengorek dan berputar-putar dengan lincah dan sekali-sekali mencoba menusuk-nusuk.
“Aakkh.. Ooughh…” Bripda Handayani kian keras mengerang-ngerang.
Setelah puas dengan selangkangan Handayani, sekarang Frans bergeser ke atas ke arah tampang Handayani. Dan kini giliran bibir merah Handayani yang dilumat oleh bibir Frans. Sama dikala melumat kemaluan Handayani, sekarang bibir Handayani pun dilumat dengan rakusnya, dicium, dikulum dan memainkan lidahnya di dalam rongga verbal Handayani.
“Hmmph.. mmph.. hhmmp..” Handayani hanya dapat memejamkan mata dan mendesah-desah alasannya mulutnya terus diserbu oleh bibir Frans.
Bunyi decakan dan kecupan makin keras terdengar, air liur mereka pun meleleh menetes-netes. Sesekali Frans menjilat-jilat dan menghisap-hisap leher jenjang Handayani.
“It?s showtime..!” teriak Frans yang disambut oleh kegembiraan sobat-temannya.
Kini Frans yang telah puas berciuman bangkit di hadapan Bripda Handayani yang napasnya terengah-engah balasan gempuran Frans tadi, matanya masih terpejam dan kepalanya menoleh ke kiri seolah membuang tampang dari pandangan Frans. Frans pun membuka celana jeans lusuhnya sampai akibatnya telanjang bundar. Kemaluannya yang berskala besar telah bangun tegak mengacung siap menelan mangsa.
Kini Frans meluruskan posisi badan Handayani dan merentangkan kembali kedua kakinya hingga selangkangannya terkuak sedikit kemudian mengangkat kedua kaki itu serta menekuk hingga bab paha kedua kaki itu menempel di dada Handayani. Hingga kemaluan Handayani yang berwarna kemerahan itu kini menganga seolah siap menerima serangan. Tangis Handayani semakin keras, badannya terasa gemetaran, ia tahu akan apa-apa yang secepatnya terjadi pada dirinya.
Frans pun mulai menindih badan Handayani, tangan kanannya menahan kaki Handayani, sementara tangan kirinya memegangi batang kemaluannya membimbing mengarahkan ke lubang vagina Handayani yang telah menganga.
“Ouuhh.. aah.. ampuunn.. Mass..!” rintih Handayani.
Badan Handayani menegang keras ketika dinikmati olehnya suatu benda keras dan tumpul berusaha melesak masuk ke dalam lubang vaginanya.
“Aaakkh..!” Handayani mejerit keras, matanya mendelik, badannya mengejang keras saat Frans dengan kasarnya menghujamkan batang kemaluannya ke dalam lubang vagina Handayani dan melesakkan secara perlahan ke dalam lubang vagina Handayani yang masih kencang dan rapat itu.
Keringat pun kembali membasahi seragam Polwan yang masih dikenakannya itu. Badannya semakin menegang dan mengejan keras diikuti lolongan ketika kemaluan Frans sukses menembus selaput dara yang menjadi kehormatan para gadis itu.
Setelah berhasil menanamkan seluruh batang kemaluannya di dalam lubang vagina Handayani, Frans mulai menggenjotnya mulai dengan irama perlahan-lahan hingga cepat. Darah segar pun mulai mengalir dari sela-sela kemaluan Handayani yang sedang disusupi kemaluan Frans itu. Dengan irama cepat Frans mulai menggenjot badan Handayani, rintihan Handayani pun makin teratur dan berirama mengikuti irama gerakan Frans.
“Ooh.. oh.. oohh..!” badannya terguncang-guncang keras dan terbanting-banting akhir kerasnya genjotan Frans yang kian agresif.
Setelah beberapa menit lalu tubuh Frans menegang, kedua tangannya semakin dekat mencengkram kepala Handayani, dan akhirnya dibarengi erangan kenikmatan Frans berejakulasi di rahim Bripda Handayani. Sperma yang dikeluarkannya cukup banyak sampai meluber keluar. Bripda Handayani cuma dapat pasrah memandang tampang Frans dengan panik dan kembali memejamkan mata disaat Frans bergidik untuk menyemburkan sisa spermanya sebelum balasannya terkulai lemas di atas tubuh Handayani.
Tangis Handayani pun kembali merebak, ia nampak sangat shock. Badan Frans yang terkulai di atas tubuh Handayani pun terguncang-guncang kesudahannya alasannya adalah isakan tangisan dari Handayani.
“Gimana rasanya Sayang..? Nikmat kan..?” ujar Frans sambil membelai-belai rambut Handayani.
Beberapa dikala lamanya Frans menikmati keayuan muka Handayani sambil membelai-belai rambut dan wajah Handayani yang masih merintih-rintih dan menangis itu, sementara kemaluannya masih tertancap di dalam lubang vagina Handayani.
“Makanya jangan main-main sama gue lagi ya Sayang..!” sambung Frans sambil bangkit dan mencabut kemaluannya dari vagina Handayani.
“Ayo siapa yang hendak maju, sekarang gil…” ujar Frans kapada sobat-temannya.
Belum lagi Frans tamat bicara, Fredi sedari tadi di sampingnya telah langsung mengambil posisi di depan Handayani yang masih lemas terkulai di dingklik sofa. Beberapa orang yang tadinya maju kini mereka mundur lagi, alasannya adalah memang Fredi ialah orang kedua dalam geng ini.
Fredi yang berumur 38 tahun dan berperawakan sedang ini segera melepaskan celana jeans kumalnya, dan kemudian naik ke atas sofa serta berlutut tepat di atas dada Handayani. Kemaluannya yang telah membesar dan tidak kalah gaharnya dengan kemaluan Frans sekarang tepat mengarah di depan muka Handayani. Handayani pun kembali membuang paras sambil memejamkan matanya. Fredi mulai memaksa Handayani untuk mengoral batang kejantanannya. Tangannya yang keras segera menjangkau kepala Handayani dan menghadapkan parasnya ke depan kemaluannya.
Setelah itu kemudian Fredi memaksakan batang kejantanannya masuk ke dalam lisan Handayani hingga masuk hingga pangkal penis dan sepasang buah zakar bergelantungan di depan bibir Handayani, yang kelagapan sebab mulutnya sekarang disumpal oleh kemaluan Fredi yang besar itu. Fredi mulai mengocokkan batang penisnya di dalam lisan Handayani yang megap-megap alasannya kekurangan oksigen. Dipompanya kemaluannya keluar masuk dangan cepat hingga buah zakarnya menghantam-mukul dagu Handayani.
Bunyi berkecipak karena ukiran bibir Handayani dan batang penis yang sedang dikulumnya tidak dapat dihindarkan lagi. Hal ini membuat Fredi yang sedang mengerjainya makin bergairah dan makin mempercepat gerakan pinggulnya yang sempurna berada di depan paras Handayani. Batang penisnya juga kian cepat keluar masuk di lisan Handayani, dan sesekali membuat Handayani tersedak dan ingin muntah.
Lima menit lamanya batang penis Fredi sudah dikulumnya dan membuat Handayani makin lemas dan pucat. Akhirnya badan Fredi pun mengejan keras dan Fredi menumpahkan spermanya di rongga ekspresi Handayani. Hal ini menciptakan Handayani tersetak dan terkejut , ingin memuntahkannya keluar namun pegangan tangan Fredi di kepalanya sangat keras sekali, sehingga dengan terpaksa Handayani menelan sebagian besar sperma itu.
“Aaah..,” Fredi pun mendesah lega sambil merebahkan badannya ke samping tubuh Handayani.
Segera Handayani meludah dan menjajal memuntahkan sperma dari rongga mulutnya yang nampak dipenuhi oleh cairan lendir putih itu. Belum lagi menumpahkan semuanya, datang-datang badannya sudah ditindih oleh Yonas yang dari tadi juga berada di samping.
“Ouuh..,” Handayani mendesah akhir ditimpa oleh badan Yonas yang ternyata telah telanjang bulat itu.
Kini dengan kasarnya Yonas melucuti baju seragam Polwan yang masih dikenakan Handayani itu. Tetapi alasannya adalah kedua tangan Handayani masih diikat ke belakang, maka yang terbuka cuma bagian dadanya saja.
Setelah itu dengan kasarnya Yonas mempesona BH yang dikenakan Handayani dan menyembullah kedua buah payudara indah milik Handayani itu. Pemandangan itu segera saja memanggil decak takjub dari para laki-laki itu.
“Aah.. udah Mass.. ampuunn..!” dengan suara yang lemah dan lirih Handayani menjajal untuk meminta belas kasihan dari para pemerkosanya.
Rupanya hal ini tidak membuahkan hasil sama sekali, terbukti Yonas dengan rakusnya pribadi melahap kedua bukit kembar payudara Handayani yang molek itu. Diremas-remas, dikulum dan dihisap-hisapnya kedua payudara indah itu sampai warnanya berubah menjadi kemerah-merahan dan mulai membesar.
Setelah puas mengerjai bab payudara itu, sekarang Yonas mulai akan meniduri Handayani.
“Aaakkhh…” kembali terdengar rintihan Handayani dimana pada dikala itu Yonas sudah berhasil menanamkan kemaluannya di dalam vagina Handayani.
Mata Handayani kembali terbelalak, tubuhnya kembali menegang dan mengeras merasakan lubang kemaluannya kembali disumpal oleh batang kejantanan lelaki pemerkosanya.
Tanpa mencampakkan waktu lagi, Yonas pribadi menggenjot memompakan kemaluannya di dalam kemaluan Handayani. Kembali Handayani cuma dapat merintih-rintih seiring dengan irama gerakan persetubuhan itu.
“Aaahh.. aahh.. oohh.. ahh.. ohh..!”
Selang beberapa menit lalu Yonas pun kesudahannya berejakulasi di rahim Handayani. Yonas pun juga tumbang menyusul Frans dan Fredi setelah mencicipi kenikmatan berejakulasi di rahim Handayani. Kini giliran seseorang yang juga tidak kalah bermuka berangasan, seseorang yang bernama Martinus, badannya tegap dan besar serta berotot, kepalanya plontos, kulitnya gelap, penampilannya khas dari daerah timur Indonesia. Usianya sekitar 35 tahun.
Nampak Martinus yang agak santai mulai mencopot bajunya satu persatu hingga telanjang lingkaran, kemaluannya yang belum disunat itu pun telah mengacung besar sekali. Handayani yang masih kepayahan cuma mampu menatap dengan paras yang sendu, seolah airmatanya telah habis terkuras. Kini hanya tinggal senggukan-senggukan kecil yang keluar dari mulutnya, nafasnya masih terengah-engah gara-gara digenjot oleh Yonas tadi.
Setelah itu beliau mendekati Handayani dan menawan tubuhnya dari sofa sampai terjatuh ke lantai. Cengkraman tangannya berpengaruh sekali. Kini beliau membalikkan tubuh Handayani sampai telungkup, setelah itu kedua tangan kekarnya memegang pinggul Handayani dan menariknya hingga posisi Handayani kini menungging. Jantung Handayani pun berdebar-debar menanti akan apa yang mau terjadi pada dirinya.
Dan, “Aakkhh.. ja.. jangan di situu.., ough..!” tiba-datang Handayani menjerit keras, matanya terbelalak dan badannya kembali menegang keras.
Ternyata Martinus berupaya menanamkan batang kejantanannya di lubang anus Handayani. Martinus dengan santainya menjajal melesakkan kejantanannya perlahan-lahan ke dalam lubang anus Handayani.
“Aaakh.. aahh.. sakit.. ahh..!” Handayani meraung-raung kesakitan, badannya kian mengejang.
Dan alhasil Martinus bernapas lega disaat seluruh kemaluannya sukses tertanam di lubang anus Handayani. Kini mulailah dia menyodomi Handayani dengan kedua tangan memeganggi pinggul Handayani. Dia mulai memaju-mundurkan kemaluannya mulai dari irama pelan kemudian kencang sehingga membuat badan Handayani tersodok-sodok dengan kencangnya.
“Aahh.. aahh.. aah.. oohh.. sudah… oohh.. ampun.. saakiit.. ooh..!” begitulah rintihan Handayani hingga akhirnya Martinus berejakulasi dan menyemburkan spermanya ke dalam lubang dubur Handayani yang juga telah mengalami pendarahan itu.
Akan tetapi belum lagi habis sperma yang dikeluarkan oleh Martinus di lubang dubur Handayani, dengan gerakan cepat Martinus membalikkan badan Handayani yang masih mengejan kesakitan hingga telentang. Martinus rupanya belum merasakan kepuasan, dan ia tanamkan lagi kejantannya ke dalam lubang vagina Handayani.
“Oouuff.., aahh..!” Handayani kembali merintih dikala kemaluan Martinus menusuk dengan keras lubang vaginanya.
Langsung Martinus kembali menggenjot tubuh lemah itu dengan keras dan garang sampai-hingga membanting-banting tubuh Handayani membentur-bentur lantai.
“Ouh.. oohh.. ohh..!” Handayani merintih-rintih dengan mata terpejam.
Dan kesudahannya beberapa menit lalu Martinus berejakulasi kembali, yang kali ini di rongga vagina Handayani. Begitu badan Martinus ambruk, kini giliran seseorang lagi yang telah antri di belakang untuk menikmati badan Polwan yang malang ini.
“Giliran gua. Gue dendam sama yang namanya polisi..!” ujar Jack.
Jack, begitulah orang ini sering dipangil, ia yakni residivis keluaran gres yang gres berusia 18 tahun, tetapi tidaklah kalah sangar dengan Frans atau yang yang lain yang telah berusia 30 hingga 40-an tahun itu. Kejahatannya juga tidak kalah angker, terakhir ia sendirian merampok seorang mahasisiwi yang gres pulang kuliah malam dan lalu memperkosanya.
Jack memungut topi pet Polwan milik Handayani dan mengenakan ke kepala Handayani yang sekarang seluruh badan lemasnya mulai gemetaran akhir menahan rasa sakit dan pedih di selangkangannya itu. Setelah itu tanpa tidak yakin Jack memasukkan penisnya eksklusif menembus vagina Handayani, tetapi Handayani hanya merintih kecil alasannya adalah terlalu banyak rasa sakit yang dideritanya. Dan kini seolah semua rasa sakit itu hilang.
Beberapa menit lamanya Jack memompa badan Handayani yang lemah itu. Badan Handayani hanya tersentak-sentak lemah seperti seonggokan daging tanpa tulang. Akhirnya kembali rahim Handayani yang nampak kepayahan itu dibanjiri lagi oleh sperma. Setelah Jack sebagai orang kelima yang memperkosa Handayani tadi, kini empat orang yang yang lain mulai mendekat.
Mereka ialah anggota muda dari geng ini, usia mereka juga masih muda. Ada yang baru berusia 15 tahun dan ada pula yang berusia 17 tahun. Namun tampilan mereka tidak kalah seram dengan para seniornya, aksi mereka berempat beberapa hari yang kemudian ialah memperkosa seorang gadis cantik berusia 15 tahun, siswi SMU yang baru pulang sekolah. Gadis anggun yang juga berprofesi sebagai foto versi pada suatu majalah sampaumur itu mereka culik dan mereka gilir ramai-ramai di suatu rumah kosong hingga pingsan. Tidak lupa sesudah mereka puas, mereka pun menjarah dompet, HP, jam tangan serta kalung milik sang gadis malang tadi.
Rata-rata dari mereka yang dari tadi hanya menjadi penonton telah tidak mampu menahan nafsu, dan mulailah mereka meniduri Handayani satu persatu. Dibuatnya tubuh Polwan itu menjadi mainan mereka. Orang keenam yang menyetubuhi Handayani berejakulasi di rahim Handayani. Namun pada ketika orang ke tujuh yang memilih untuk menyodomi Handayani, tiba-datang Handayani yang sudah kepayahan tadi pingsan.
Setelah orang ketujuh tadi berejakulasi di lubang dubur Handayani, kini orang ke delapan dan ke sembilan berpesta di tubuh Handayani yang telah pingsan itu, mereka masing-masing menyemprotkan sperma mereka di rahim dan muka Handayani serta ada juga yang berejakulasi di lisan Handayani.
Setelah keempat orang tadi puas, rupanya penderitan Handayani belumlah usai. Frans dan Martinus kembali bangkit dan mereka satu persatu kembali meyetubuhi badan Handayani dan sperma mereka berdua kembali tumpah di rahimnya. Kini semuanya telah menikmati badan Bripda Handayani sang Polwan yang bagus itu.
Tidak terasa waktu telah menawarkan pukul 4 pagi, para anggota muda itu diperintah Frans untuk melepas tali yang dari tadi mengikat tangan Handayani. Kemudian mereka disuruh mengenakan dan merapikan seluruh seragam Polwan ke tubuh Handayani, hingga hasilnya Handayani komplit kembali mengenakan seragam Polwannya walau dalam kondisi pingsan.
Setelah itu Frans, Martinus dan Yonas menggotong tubuh Handayani ke mobil Kijang. Mereka bertiga menenteng badan Handayani kembali ke tempatnya diambil tadi malam. Namun selama dalam perjalanan, datang-tiba nafsu Yonas kembali bangkit, ia pun mengambil potensi terakhir ini untuk kembali memperkosa badan Handayani sebanyak dua kali. Dia kesannya berejakulasi di ekspresi dan di rahim Handayani beberapa meter sebelum hingga pada tujuan. Frans dan Martinus yang duduk di depan hanya mampu memaklumi, karena nafsu sex Yonas memang besar sekali.
Setelah baju seragam Polwan Handayani dirapikan kembali, tubuh lunglai Bripda Handayani dicampakkan begitu saja di pinggir jalan yang sepi di daerah dimana Handayani tadi diciduk. Tanpa dikenali oleh Frans dan Martinus, Yonas diam-membisu rupanya menyimpan celana dalam berwarna putih milik Handayani, dan menjadikannya sebagai kenang-kenangan.
Setelah itu mereka pun meluncur ke rumah kosong tadi untuk menjemput kawanan geng mereka yang masih berada di sana. Kemudian mereka bersembilan pribadi meluncur menuju ke pelabuhan guna menumpang sebuah kapal barang untuk melakukan perjalanan jauh. Mereka pun berharap pada ketika sepasukan polisi mulai melacak keberadaan mereka, mereka telah damai dalam pelayaran menuju ke sebuah pulau di wilayah timur Indonesia

0 Response to "Dongeng Sex Ngetot Polwan"