Cerita Ngentot Bidan Terbaru
By Blinger
—
Selasa, 13 Februari 2018
—
Add Comment
—
Cerita Dewasa,
Cerita Lesbian,
Cerita Mesum,
Cerita Ngetot,
Cerita Sex
Cerita Ngentot Bidan Terbaru - Namaku Hendri, aku bekerja di sebuah kantor BUMN. Aku telah menikah selama 3 tahun dengan istriku. Walau kami belum dikaruniai anak, kami sungguh bahagia karena istriku yakni orang yang arif sekali menyenagkan suami. Sepertinya tidak ada habisnya sensasi, gaya, dan teknik yang istriku peragakan setiap kami bergulat di ranjang. Aku 7 tahun lebih tua dari istriku yang sekarang berusia 28 tahun.
Beberapa waktu kemudian, rumah kami makin berwarna ketika adik bungsu istriku yang kuliah kedokteran di salah satu akademi tinggi negeri tengah mengerjakan Coass di salah satu Rumah Sakit negeri yang kebetulan berada erat dengan rumah kami. Umurnya masih sangat muda sekitar 22 tahun, ia termasuk mahasiswi yang pandai sebab dapat menyelesaikan studi tepat pada waktunya.
Jika dilihat dari parasnya, dia lebih elok dari istriku, ditambah parasnya yang teduh dan keibuan. Walaupun tubuhnya aku taksir tidak semenarik badan istriku namun masih diatas rata-rata perempuan kebanyakan. Perbedaan lainnya, jka istriku senang berpakaian seksi dan menarik musuh jenisnya, apalagi ditunjang dengan badan yang sangat aduhai. Adik dari istriku ini malah sebaliknya, dia menutupi kecantikannya dengan pakaian yang sangat longgar dan jilbab yang lebar. DItambah manset dan kaus kaki sehingga saya cuma bisa menyaksikan wajahnya yang putih bersih dan telapak tangannya. Bahkn setiap saya ada di rumah ia tidak melepaskan jilbab dan kaoskakinya walau barang sebentar. Namanya Nurul Annisa gadis cantik itu.
Kami lalui hari dengan wajar, aku mampu berangkat apalagi dulu dengan mengantarkan istriku ke kantornya. Sedangkan Annisa terbiasa berangkat terakhir sebab letak Rumah Sakit yang tidak terlalu jauh dari rumah kami. Walau dalam hati saya menyimpan ketertarikan pada Annisa. Aku semakin berangasan saat melihat tingkahnya yang sopan, murah senyum, dan lenggok pinggulnya ketika berjalan walau saya percaya bukan maksud ia untuk melaksanakan itu. Inner beauty yang terpancar ditambah bakat keayuan den kemolekan tubuhnya selalu beliau jaga dengan baik. Katanya cuma untuk suaminya saja, bahkan ia tidak mau pacaran walau saya yakin niscaya banyak pria yang menginginkannya. Jilbabnya yang lebar itu tidak mampu menutupi lekukan dadanya yang membusung. Jika istriku berukuran 38 B aku taksir besar tetek adik istriku itu sekitar 36 B. Tingginya yang semampai nyaris meraih 165 cm ditunjang badan yang tidak kurus juga tidak gemuk menciptakan mata laki-laki manapun niscaya akan tertegun. Apalagi kalau dirumah aku sering melihatnya cuma menggunakan daster saja walau tampang dan kakinya tidak mampu saya lihat, namun saya mampu membayangkan bagaimana tubuhnya.
Terkadang saat aku bergulat dengan istriku aku membayangkan sedang melakukan dengan Annisa, sikapnya yang tertutup pada laki-laki dan senantiasa menutup tubuhnya kian membuatku penasaran. Hanya saja saya masih menghargainya sebagai adik dari istriku, dan sikapnya yang mempertahankan diri. Gayanya dan sikapnya yang renyah membuat siapapun jadi tidak sungkan untuk mengenalnya lebih dekat denganna walau dia tetap menjaga jarak.
Suatu hari, sepulang kantor saya membuka DVD Blue Film yang baru saya pinjam dari sobat kantorku, Blue Film yang aku tonton degan menggunakan komputer cukup manis dimana Film tersebut tidak terlampau vulgar dan seronok yang menciptakan orang jijik. Itu membangkitkan gairahku, kudekati istriku yang sedang menonton tivi di ruang tengah, saya mulai mencumbunya dan dia pun membalas cumbuanku, datang-tiba ku dengar pindu depan terbuka, niscaya Annisa gumamku.
"Tumben jam 9 baru datang Nis?" Tanya istriku,
"Iya mbak, tadi praktik bedah dahulu. O ya mas, boleh kan aku pakai ruang kerjanya, saya mau buat laporan" lanjut Nisa.
"Silahkan aja, pakai sebabasnya dan jangan canggung disini" ujarku sambil menahan birahi yang gres saja naik.
"Terima kasih ya mas" ucapnya.
Setelah Nisa masuk kamar kamipun segera melanjutkan kegiatan kami dan pindah ke dalam kamar kami. Pergumulanpun semain seru alasannya adalah istriku mulai mengeluarkan jurus-jurus barunya. Tapi tidak butuhku ceritakan alasannya bukan ini inti dongeng yang akan saya ceritakan. Setelah kami puas kamipun tertidur.
Aku terbangun sekitar pukul 1 dini hari, ku lihat istrku masih terlelap kecapekan tanpa seheli benangpun disebelahku. Aku keluar kamar untuk mengambil air minum dan memeriksa keadaan rumah. Kulihat sekilas Annisa masih di ruang kerjaku dan masih didepan komputer, setelah kupastikan semua pintu terkunci dan saya mengambil segelas air. AKu mulai amati Annisa yang tampaknya tidak mengetahuoi keberadaanku. Aku puji kecantikanya dalm hati. matanya yang lentik, bibirnya yang tipis dan menawan. Namun...tiba-tiba aku melihat sesuatu yang ganjil. Mata Annisa masih memandangi layar komputer saat itu, tetapi tangannya mulai menyusup dibalik jilbabnya. Dari pergerakan tangan yang tertutup jilbabnya itu aku tahu apa yang beliau lakukan. Dia meremas-remas teteknya sendiri, ku lihat matanya setengah terpejam bibirnya terbuka. mungkin dia sedang mencicipi sensasi yang gres beliau rasakan.
"mhh..uuhhhmmm...aaahhh...." ku dengar desahan samar dari mulutnya, saya segera bergegas ke kamar untuk mengambil Handhone ku dan secepatnya merekam insiden langka ini.
Tangan kanan Annisa masih terus meraba teteknya, kini rabaannya makin keras dan bergairah. Tidak hanya itu saya lihat sepintas tangannya melepas kancing daster bab atasnya, dan aku yakin beliau memasukkan tangannya ke dalam teteknya. Kejadian itu terus aku rekam.
Sesekali Annisa melengguh "uuhh...aahhh...mhh.....oohh..." matanya terus terpejam, bibir bawahnya dia gigit, kerap kali kepalanya tergeleng ke kanan dan ke kiri.
Ternyata tidak tamat disitu, tangan kirinya mulai menuju ke selangkangannya, beliau meraba memeknya sendiri dari luar dasternya. ku lihat jari tengahnya terus menggosok bab tengah memeknya, aku zoom kamera HPku, dan menyaksikan secara close up apa yang sedang beliau lakukan. Annisa mulai menawan dasternya ke atas, walau masih menggunkan kaus kaki mulai tampakbetis atasnya yang sungguh putih, sedikit-demi sedikit daster tersebut tertarik ke atas oleh tangan kiri Annisa. Pahanya yang putih mulus mulai tersingkap, Kontolku mulai tegang melihat pemandangan itu. Sampai risikonya tangannya berhenti ketika daster mulai sampai di bagian perutnya. Dan terpampanglan ceana dalam anisa yang berwarna putih. Tangan kiri Annisa terus bergerak masuk ke dalam celana dalamnya. Ku lihat tangannya terus bergerak-gerak diantara selangkangannya. Desahannya semkin menjadi, rangsangan yang sangat hebat menciptakan ia tidak mencicipi keberadaanku.
"Auuuuww...oohh....ahhh....eehhhmmm...yyaaahhh " racaunya.
Sunggh pemandangan yang belum pernah saya lihat seorang wanita berjilbab yang tengah bermasturbasi tanpa melepaskan jilbabnya. Dulu saat kuliah aku pernah mengintip anak ibu kosku yang melakukan itu, tapi itu kurang menantang sebab anak ibu kos ku itu sering mengumbar auratnya dan punya affair dengan salah satu teman kosku. Tapi ini panorama yang berlawanan dan sungguh luar biasa.
Gerakan tangan kiri Anissa diselagkangannya semakin cepat, dan remasan tangan kanannya di tetek semakin berpengaruh. Ingin rasanya aku membantunya, namun masih sibuk merekam dengan kamera handphoneku. Sesaat kemudian saya lihat ia mulai menghentikan aktifitasnya, nafasnya naik turun terstruktur, matana masih terpejam, tetapi aku tidak tahu apakah ia sudah meraih puncak kenikamatan atau belum sebab aku tidak mendengar jeritan yang biasanya menjadi ciri perempuan ketika orgasme. Sebelum ia sadar saya segera bergegas menuju kamarku, dan mulai mereview kembali dari HPku apa yang baru saya saksikan tadi. Tanpa sadar aku melakukannya sambil beronani, sampai orgasme berulang kali. Aku gres menyadari DVD Blue Film yang baru saya pinjam tadi, ternyata masih tertinggal dalam komputerku, aku yakin tadi tanpa atau dengan sengaja dia melihatnya. Aku percaya sebab dalam DVD itu ada adegan perempuan yang melakukan masturbasi, mungkin beliau mengikutinya.
Keesokan paginya, semua tampaknya umumdan nampak masuk akal, istriku masih sibuk berdandan, maklum dandannya mampu hingga 2 jam sendiri. Aku mengawali sarapan tanpa menunggu istriku, lalu ku lihat Annisa sudah rapih dan keluar dari kamarnya. Dia sungguh cantik dengan dandanannya yang sederhana, cuma berbalut bedak tipis dan lip glose secukupnya. Tapi ini adalah pemandangan mengagumkan, perempuan yang apa adanya aku lihat menjadi jauh lebih elok dibandingkan yang ber-make up. Jilbab warna pink dipadu kemeja putih dan rok panjang warna senada dengan jilbabnya membuat dia semakin bagus. Diapun tanpa merasakan apapun memulai sarapan paginya.
Aku membuka dialog pagi itu "Gimana Nis? laporannya selesai semalam?",
"Sudah final mas, terima kasih ya ruangan dan komputernya" katanya damai.
"Ngerjain laporan atau ngerjain yang yang lain?" sindirku.
Annisa eksklusif bengong dan menghentikan kegiatannya yang sedang mengambil nasi dari rice cooker. Wajah putihnya mulai bersemu merah, mungkin dia mulai menyadari saya melihat apa yang dilakukannya.
"Tenang saja, kita kan sama-sama akil balig cukup akal, tahu sama tahu lah dan aku pun tidak akan ceritakan ini ke kakakmu" ujarku sambil ku perlihatkan hasil rekaman di HPku.
Wajah Annisa semakin tegang, keringat mulai membasahi wajahnya, tak sepatah katapun keluar dari mulutnya, saya tahu ia sedang galau, aib, dan mungkin takut juga.
"Mungkin lain kali kalau mau jangan sendiri, aku siap membantu kamu sampai kau puas" Bisikku.
Tanpa menjawab ia pribadi beranjak dari kursinya dan menyambar tasnya, tanpa mengucapkan sepatah katapun, yang saya tahu matanya yang berbicara, matana nampak mulai penuh dibasahi air mata yang akan meloncat keluar.
Malamnya, aku berlaku seperti biasa mirip tidak terjadi apapun. Sedangkan Annisa seperti agak sungkan dan kaku setiap berjumpa denganku.
"Pah, tidur yuk, mamah dah ngantuk banget nich",
"Ya telah tidur aja dulu, nanti papah menyusul".
Setelah kulihat istriku sudah tertidur lelap, aku beranikan diri mendekati kamar Annisa, yang nampaknya masih menyala terang, tampaknya dia masih mencar ilmu. Tok...tok...tok... aku mengetuk pintu kamarnya.
"Siapa?" sahutnya dari dalam, dikala ia buka pintu kamarnya, saya secepatnya mendorong pintu itu sehingga Nisa agak tersungkur kebelakang. Aku kunci dari dalam pintu kamarnya,
"Mass....mas mau apa? keluar dari kamarku",
"Kamarmu? apa kau lupa kamu tinggal dimana?" sahutku agak tinggi, dia termenung.
"Kamu mau videomu tersebar kemana-mana? bahkan wajahmu close up di video itu, siapa pun akan menyaksikan apa yang kamu kerjakan",
"A...apa mau mas?" ucapnya terbata.
"Aku cuma mau kamu memuaskanku malam ini...",
"Ja...jangan mas, saya masih perawan, aku kerjakan apa saja asal bukan melakukan itu",
"Buka!" perintahku saat kontolku sempurna berada di hadapan parasnya.
Dia mulai membuka celana pendek yang aku kenakan sampai ke lutut, Nisa agak terperangah meihat kontolku yang mulai tegang dan begitu menonjol seakan celana dalamku tidak mampu memuatnya.
Dengan bergetar tangannya menurunkan celana dalamku dan kemudian menurunkannya hingga ke lutut. Tampak sekarang dihadapannya kontolku yang sudah tegak mengacung bagaikan suatu tombak yang siap dihujamkan. Tampak ragu beliau meraih kontolku dengan sambil menundukkan kepalanya. Akupun menjangkau tangannya yang halus, dan menyentuhkannya ke kontolku, rasanya sungguh tenteram, dimana kulit lembutnya menyentuh kontolku yang telah mengeras, kuat, otot-otot yang keluar menambah kesan sangar. Wajahnya tertunduk dan mulai tersedu, tapi aku tak menghiraukan, aku maju mundurkan tangannya, sampai beberapa ketika aku tak perlu menuntunnya alasannya tangannya telah faham apa yang harus dilakukannya. Nisa pun mulai berani mengoptimalkan wajahnya dan memandang kontolku. Tak berapa ketika aku mencicipi sesuatu yang ingin melesak dari dalam tubuhku, sampai balasannya...
"aahh....."saya melengguh diikuti keluarnya sperma dari kontolku.
"aaaauuwww...." Nisa tersentak kaget saat spermaku keluar.
Karena beliau berada sempurna didepan kontolku, muncratan spermaku tentang parasnya, matanya, hidungnya, bibirnya dan sebagian lagi ke jilbabnya. Aku tersenyum puas lalu ku lewati Nisa yang masih terpaku.
Esoknya aku melakukan hal yang serupa. kali ini, saya tidak butuhmembentak dan memerintahkan, Nisa telah mengetahui apa yang mesti beliau lakukan. Walau agak ragu, dia mulai berani menurunkan celanaku sendiri, sampai celana dalamku, dan mengawali belaian lembut pada kontolku. dia tidak malu dan canggung mirip kemarin walu masih nampak muka takut dan terpaksa melakukan itu. Aku memegang tangan kanannya, sambil membiarkan tangan kirinya tetap menggenggam kontolku yang nyaris tak tergenggam tangan mungilnya karena dameternya yang nyaris mencapai 7 cm. AKu renggangkan telapak tangannya dan saya tuntun melakukan gerakan mengusap pada ujung kontolku, telapak tangannya mengusap dengan melakukan gerakan memutar di ujung kontolku seperti yang sering istriku lakukan. Hal ini memberiku sensasi yang lebih, terlebih yang melakukan adalah seorang perempuan yang polos perihal seks, alim dan senantiasa berjilbab, menjaga dirinya dan menutupi tubuhnya. sebuah sensasi yang sungguh hebat. Aku kembali mencapai puncak dan memuntahkannya diwajahnya. Kegiatan itu sering kami lakukan tanpa sepengetahuan istriku sampai sementara waktu lamanya.
Pagi ini saya baru sampai dari kantor karena mendapat giliran piket, alasannya adalah itu siang ini saya mendapat libur. Sampai di rumah situasi wajar setiap pagi mirip yang sudah menjadi rutinitas. Istriku telah siap berangkat ke kantor, dan taksipun telah menunggunya diluar. "Pah saya berangkat dulu ya.." sambil menciumku, tubuhnya indah dibalut blazer ketat dan rok yang sangat pendek, ahh...itu panorama biasa.
"Mah...sekalian kunci ya pintunya" ujarku,
"Nanti saja, Nisa belum berangkat, supaya beliau saja yang kunci pintu..." ungkapnya sambil berlalu.
"Hah..nisa masih di rumah..padahal lazimnya dia telah berangkat pagi-pagi sekali" bisikku.
"Kreeekkk...blak" kulihat intu kamar yang dibuka dan kemudian di tutup, ku lihat nisa mengenakan jilbab warna putih hingga dibawah sikunya, gamis pink warna kesukaannya dan rok putih manset dan kaos kaki putih pun telah menghiasi lengan dan kakinya. Dia terperanjat melihatku telah di dalam, beliau pribadi menundukkan parasnya dan bergegas menuju pintu.
"Nggak makan duli nis?" sahutku memecah keheningan,
"Ngga mas..di RS aja, ngga lezat telah terlambat..." sambil terus menundukan parasnya dan berlalu.
"Eii...ttt...mau kemana? kalem dahulu di sini",
"Jangan mas...aku udah telat ke RS, nanti residentku murka" sahutnya ketakutan,
"Apa peduliku...!", pribadi muncul niat di pikiranku,
"Kamu mau video itu tersebar? kamu ingat? kau tingga di rumah siapa? akan tinggal makan, tidur tinggal tidur...", wajahnya semakin memerah sangat terang karena kulitnya yang putih tidak dapat menutupinya.
"Kamu juga harus punya pengorbanan..." kemudian aku duduk di sofa depan TV yang umum kami gunakan untuk menonton, saya masih berkemeja lengkap.
"sini...duduk didepanku", beliau pribadi mengetahui perintahku, wajahnya masih tertunduk, dan sama sekali tidak melihatku.
Tanpa di suruh dia eksklusif membuka ikat pinggangku, lalu celanaku dan menurunkannya hingga ke mata kaki. Ahh...pemandangan yang sungguh tak ingin aku lewatkan, berdua dengan wnaita manis di rumah, dan yang paling penting, kami tidak melakukannya sembunyi-sembunyi di kamar, namun di ruang tengah yang sangat luas, aku kian terobsesi. Tanpa di suruh, nisa pribadi mulai menggerak-gerakkan tangannya mengocok batang kontolku yang mulai tegak. berapa dikala lalu,
"berhenti...aku telah bosan dengan cara itu, ganti dengan cara lain!!",
"Cara gimana mas...aku ngga ngerti" ambil terus tertunduk pasrah.
"dengan lisan kau....kini", aku lihat tubuhnya menyikapi dengan sangat terkejut perintahku, hal yang tidak pernah sama sekali dia bayangkan.
"kian lama kau melakukannya...semakin terlambat hingga RS..."bentakku.
Nisa pun mulai menuruti perintahku, didekatkan bibirnya yang mungil itu ke kontolku, dikala bibirnya yang lembut, hangat dan lembap oleh lipglose itu melekat ujung kontolku, aku mencicipi sensasi yang luar biasa. Cara menciumnya pun sungguh gila, alasannya ia tidak pernah melakukannya sama sekali, namun aku biarkan alasannya adalah di situ seninya, menyaksikan perempuan alim yang masih polos melakukan oral sex. Aku tertawa dalam hati, dan menikmati apa yang ada di hadapanku. Mungkin sudah insting, ciumannya mulai mengitari seluruh kontolku, bahkan sesekali dia basahi dengan lidahnya. Dia melakukannya dengan mata yang selalu terpejam, kuberanikan memegang punggungnya, aku rasakan detak jantungnya berdebar sangat keras sampai ke punggung.
"ahh...nikmati sekali nisa sayang....terus sayang...kulum semuanya...mirip kau mengulum permen lolipop dikala kamu kecil dahulu" ujarku sambil mulai berani mengusap dan membelai jilbabnya.
Dengan ragu nisa memasukkan kontolku ke rongga mulutnya, aku tidak tinggal diam saya secepatnya mendorong kepalanya semakin masuk, sehingga ia tahu apa yang harus ia lakukan....Tangaku mulai berani menyusup ke balik jilbabnya, dan memperoleh sebuah gundukan yang sangatlembut terbalut bra,
"mhh...hanya 34B namun lembut dan idah sekali" desisku. Nisa terperangah, dan langsung tangannya mem****g tanganku dan menjauhkannya dari dadanya.
"Diam!!!" bentakku. Dia termangu, dan matanya mulai meneteskan air mata.
Lalu tangan kananku memegang bagian belakang kepalanya dan memaju mundurkan kepalanya, sehingga bibirnya yang lembut beradu dengan lapisan kulit kontolku, saya mencicipi sensasi yng sangat hebat dan tidak pernah saya dapatkan. tangan kiriku kembali bergerilya di dadanya, kali ini tidak ada perlawanan, bahkan saat aku mulai meremas teteknya yang lembut. Aku merasakan putingnya makin mengeras, tanda ia mulai terangsang dan menikmatinya. Sampai beberapa saat kesannya
"aaahh...aauuww..." Aku mengejang, dan saat itu juga muncullah lahar putih hangat dari ujung kemaluanku.
Nisa kaget bukan kepalang, ia berupaya mengeluarkan kontolku dari mulutnya, tetapi itu sia-sia alasannya tangan kananku menahannya. Akhirnya spermaku muntah di rongga mulutnya.....dia cuma bisa tergugu dan diam dengan verbal yang masih mengemut kontolku. saat ku cabut, speraku meleleh dari bibirnya yang manis, dan diapun memuntahkannya...ahhh...indah sekali. beliau eksklusif berlari ke wastafel untuk memntuahkan apa yang gres ditelannya. dia meludah terus menerus, sambil terus senggukan menahan tangis. Lalu dia pun masuk ke kamar. saya masih menikmati ejakulasi terindah yang pernah saya rasakan, sambil tetap duduk di sofa tengah.
Tak berapa lama, nisa keluar dari kamarnya, dengan jilbab dan gamis yang gres, mungkin alasannya adalah kusut dan terkena cipratan spermaku. Walaupun tetap dengan muka menunduk, tai beliau mulai berupaya bersikap biasa, dan berani mencairan suasana.
"Mas...aku berankat dahulu",
"Iya...hati-hati ya...rahasiamu aman denganku".
Malam harinya saya bergulat hebat dengan istriku sampai saya terlelap. Sebenarnya aku ingin sekali secepatnya mempunyai buah hati, namun itu belum terjadi, ya sekarang sih aku puas-puasin dulu dengan istri. Saking terlelapnya saya tidak tahu kapan Nisa datang. Jam 2 dini hari aku terbangun lagi, dan seperti biasanya saya mengambil minum di kulkas.
Ku lihat kamar nisa masih terperinci, "mhh...rajin sekali belajarnya", lalu ku ketuk pintu kamarnya, libidoku pun mulai naik lagi.
"Nis...buka pintunya" ujarku.
"I...iya mas...", agak lama dia membuka pintunya sebab umumnya ia mengenakan jilbabnya dulu sebelum menemuiku.
"belum tidur ya?",
"Belum mas, masih ada peran...mhh...boleh saya pinjam lagi komputernya mas?",
"Tentu saja boleh...tetapi kamu tahu syaratnya bukan?", beliau melongo...mungkin gundah, ia tahu arah pertanyaanku, tetapi ia tidak ingin melakukannya.
Mungkin tidak ada pilihan lagi, saat itu juga beliau secepatnya mengerjakan tugasnya, anehnya kali ini ia sangat buas mengulum kontolku, beliau seperti sudah lihai dengan tugasnya, "ah...mungkin ia mencontoh dari DVD BF yang dulu ia tonton di komputerku", "mulutnya terus membasahi kontolku, terus melaksanakan gerakan mengurut dan merangsang biar kontolku secepatnya mengeluarkan lahar putihnya. Pemandangan yang luar biasa, dengan daster yang lebar dan mengenakan jilbab kaos putih ang sangat lebar. Dan beliau pun hanya diam saat dua tanganky menyelinap dibalik jilbabnya dan mulai meremas teteknya. Aku amati mukanya mulai memerah, kadang nafasnya tertahan dan mulai memburu. DIa tarangsang...saya percaya sekali, beliau juga insan yang punya keinginan. Sesaat kemdian kontolku mulai bergetar dan segera melesakkan lahar putihnya, Nisa kaget dan impulsif mengeluarkan kontolku dari mulutnya, aku tidak dapat menahannya sebab tanganku sedang sibuk meremas teteknya. Seketika spermaku menyembur di wajahnya, perihal matanya, bibirnya, dan pipinya yang merona merah.
"Ahhh...." saya terkejut mendengar kata itu keluar dari bibirnya.
"bersihkan!" serta merta bibir dan lidahnya membersihkan sperma yang masih menempel di kontolku.
Akhirnya, kegiatan ini sering saya kerjakan, walaupun tetap aku paksa, namun ia sudah tidak canggung untuk melakukannya. Bahkan, beliau kian lihai semoga membuatku segera ejakulasi. Mungkin itu beliau dapatkan dari pelajaran di kuliahnya, beliau tahu titik rangsang yang paling sensitif.

0 Response to "Cerita Ngentot Bidan Terbaru"