728 x 90

Native bar

Dongeng Sex Dengan Cewek Pujaan Hati

 Cerita Sex Dengan Cewek Pujaan Hati - Bermula ketika untuk kesekian kalinya beliau saya ajak main ke rumah. Awalnya seperti umumnya kami cuman cium-ciuman saja. Cium pipi, cium bibir, hal lazimkami kerjakan. Entah setan apa yang melalui di benak kami.


Tangan kami mulai berani meraba-raba bab lain, sebetulnya tidak layak dikerjakan oleh dua insan yang belum menikah. Ketika tangan aku meraba payudaranya (kami masih berpakaian lengkap), dia sama sekali tidak menolak. Ini membuat aku sedikit lebih berani untuk meremas payudaranya sedikit lebih keras. Ternyata dia mencicipinya.

 Bermula ketika untuk kesekian kalinya dia saya ajak main ke rumah Cerita Sex Dengan Cewek Pujaan Hati
Cerita Sex Dengan Cewek Pujaan Hati

Saya menjajal untuk melakukannya lebih jauh lagi. Kali ini tangan aku perlahan-lahan saya arahkan kebagian selangkangannya. Dia masih tidak menolak. Saat itu beliau menggunakan celana panjang dari kain yang tipis, jadi saya bisa mencicipi lembutnya bibir kemaluannya.

Tanpa aku sadari tangannya juga telah mengelus-elus selangkangan aku. Mungkin sebab fikiran saya terlalu tegang, hingga-sampai aku kurang memperhatikannya. Kurang masuk nalar memang. Tapi itulah yang terjadi.

Kepasrahannya kian melambungkan kekurangajaran aku. Tangan aku mulai menyelinap ke balik pakaiannya. Saya kembali meremas-remas payudaranya. Kali ini langsung menyentuh permukaan kulitnya. Saya lakukan sambil mencium lehernya dengan lembut. Suara desahan lembut mulai terdengar dari bibirnya, disaat saya menyelipkan tangan saya ke balik celana dalamnya. Ada sedikit rasa ragu ketika meraba bibir kemaluannya secara langsung.

Saya kumpulkan segenap keberanian aku yang tersisa. Jari tengah aku, saya tekan bertahap dan perlahan ke penggalan kemaluannya. Saat itulah dia tersentak dan menahan tangan aku. Dia menatap mata aku.

“Jangan dimasukkan ya Mas”, katanya.

Saya cuma tersenyum dan mengangguk. Serta merta beliau mencium bibir aku. Sementara jari saya masih mengelus-elus bibir kemaluannya. Lendir yang membasahi dinding vagina perawan nya, mulai merembes sampai ke bibir kemaluannya.

Saya menjajal untuk memintanya untuk menyentuh dan memegang kemaluan saya. Ternyata dia tidak menolak. Terlihat jelas di raut mukanya, dia sedikit gugup dikala membuka rensleting celana saya. Dan seakan aib memandang paras saya saat dia mulai menggenggam kemaluan saya. Untuk meminimalisir ketegangannya aku mencium bibirnya.

Selama lebih dari setengah jam kami hanya berani melakukan itu-itu saja. Kemudian aku beranikan diri untuk mengajakknya menanggalkan semua busana. Dia tampakragu, dan hanya menunduk. Mungkin dia ingin menolak tapi takut menciptakan aku kecewa.

“Kamu bener berani tanggung jawab”, katanya lagi.

Saya termenung sejenak dan kemudian mengangguk. Padahal dalam hati, saya bertanya-tanya, benarkah saya bisa bertanggungjawab ? Dia menanyakannya sekali lagi. Dan saya mengiyakannya untuk kedua kalinya. Diapun mulai melepaskan kancing bajunya. Ketika saya membantunya, beliau menolak.

“Biar aku sendiri saja. Kamu lepas baju kamu.”, sahutnya.

Saya menurut saja. Dan tak usang kemudian, tak ada selembar benang pun pada badan kami. Telanjang bulat, walaupun ia masih menutupi payudaranya dengan tangan dan menyilangkan pahanya untuk menutupi kemaluannya. Saya memeluknya sambil berusaha menurunkan tangannya.

Dia berdasarkan, saat saya kembali meremas payudaranya dengan lembut. Kali ini tanpa diminta ia mau memegang kemaluan aku sambil mengelus-elusnya. Entah sebab terangsang atau alasannya adalah aku menyampaikan mau bertanggungjwab tadi, ia menuntun tangan aku untuk mengelus selangkangannya.

Agar beliau tidak merasa aib, aku terus mencumbunya. Dia mencicipinya sambil menekan jari saya ke bibir kemaluannya, yang saya rasakan kian lembap oleh lendir. Dia lalu merebahkan tubuhnya. Dan aku pun merebahkan tubuh saya di atas tubuhnya. Kami kembali bercumbu. Kali ini sedikit lebih liar.

Suara desahan terdengar lebih nyaring ketimbang sebelumnya, ketika saya mencubit clitorisnya. Ketika aku sudah tidak tahan lagi, aku mencoba “minta ijin” padanya untuk berbuat lebih jauh. Dia mengangguk sambil sedikit meregangkan pecahan pahanya.

Setelah “mendapatkan ijin”, saya menjajal memasukkan kemaluan saya ke liang vagina perawan nya. Tapi sulitnya luar biasa. Berkali-kali aku coba, tetapi potongan itu seakan-akan direkatkan oleh lem yang besar lengan berkuasa. Ujung kemaluan aku hingga sakit rasanya.

Dan ia pun meringis kesakitan, sambil sesekali memekik kecil, “Aduh. aduh”. Saya sedikit tidak tega juga. Saya hentikan sejenak usaha saya itu, sambil kembali mengelus bibir kemaluannya, agar sakitnya sedikit menyusut.

“Masih sakit ?”, tanya aku.
“Udah nggak begitu sakit.”, jawabnya.

Saya mencobanya lagi. Kali ini saya minta dia membuka bibir vagina perawan nya lebih lebar. Alamak, masih susah juga. Padahal kata teman-sahabat aku yang telah sering berhubungan sex, kalau sudah berair pasti mudah.

Kenyataannya ujung kemaluan saya hingga sakit gara-gara aku paksa masuk. Saya nyaris frustasi. Kemaluan saya mulai lemas lagi alasannya adalah saya menjadi kurang konsentrasi. Tiba-datang saya teringat bahwa saya pernah baca di majalah, ada jenis selaput dara yang sangat elastis dan relatif lebih tebal dibandingkan dengan yang wajar .

Kepercayaan diri saya mulai muncul lagi. Saya “merekomendasikan” padanya, pakai jari saja dulu. Maksud saya semoga agak lebar lubangnya. Dia baiklah saja. Walaupun aku sadar selaput dara itu justru akan robek alasannya adalah jari saya, bukan alasannya adalah kemaluan aku, cara itu tetap saya kerjakan. Dari pada kami (utamanya dia) kesakitan, lebih baik begini.

Mulanya aku hanya memakai jari kelingking. Dia hanya mendesah sambil menggigit bibirnya. Kemudian saya kerjakan dengan jari tengah, sambil menggerakkannya naik turun. Dia masih cuma mendesah.

Kemudian aku masukkan jari tengah dan telunjuk ke liang vagina perawan nya. Dia menjerit halus sambil menahan tangan aku semoga tidak masuk lebih dalam. Setelah dia melepaskan tangannya baru aku lanjutkan lagi dengan sangat perlahan.

Setelah percaya sudah cukup, …

…saya menjajal kembali memasukkan kemaluan aku ke liang vagina perawan nya. Saya menyibakkan bibir vagina perawan nya sementara ia mengarahkan kemaluan saya. Memang sedikit lebih gampang sekarang. Tapi tetap saja dia merintih kesakitan. Saya pun masih merasakan sakit. Kemaluan aku mirip diperas dengan sangat keras.

Setiap kali merasakan sakit (dan mungkin perih), ia menahan “laju” masuknya kemaluan saya. Saya pun cuma berani melakukannya dengan sangat amat perlahan. Hati saya betul-betul sangat tidak tega melihatnya merintih kesakitan. Tapi pada jadinya kemaluan aku bisa masuk semuanya.

Saat pertama kali sukses masuk, saya belum berani menariknya kembali. Kami hanya berciuman saja, biar rasa sakit itu reda dahulu. Setelah itu baru aku berani menggerakkan pinggul aku maju mundur, tetapi masih sangat pelan. Sementara tangannya tampak memegang akrab ujung bantal, sambil terpejam dan mengigit bibirnya.

Setelah beberapa usang, kami berganti posisi. Kali ini aku berada di bawah, sementara beliau duduk di atas saya. Dia saya minta menggerakan pinggulnya naik turun. Dia cuma berulang kali melakukannya. Dan berkata, “Aku nggak mampu”, sambil berguling ke samping aku. Saya memeluknya dan mengelus rambutnya serta mencium keningnya.

Kemudian kembali merapatkan tubuh saya ke atas tubuhnya. Saya memasukkan kembali kemaluan saya ke liang vagina perawan nya. Kali ini mudah sekali. Di dorong sedikit eksklusif bisa masuk. Dan beliau pun tidak lagi merintih kesakitan. Hanya mendesah halus.

Saya kembali menggerakkan pinggul saya maju mundur. Saya coba lebih singkat. Rasanya licin sekali. Saya merasakan diantara kemaluan kami sangat basah oleh lendir bercampur keringat. Saya terus melakukannya sambil mencium bibirnya.

Kali ini dia lebih erotis. Dia sangat suka menghisap-hisap pengecap saya, yang sengaja saya julurkan ke dalam mulutnya. Sementara tangannya tak henti-hentinya mengelus punggung dan pantat saya. Sesekali aku jilati puting susunya dengan lidah aku. Namun beliau lebih senang jikalau aku menghisap putingnya itu. Sebenarnya ketika itu aku kurang berkonsentrasi.

Pikiran aku masih terbagi. Saya masih berpikir semoga tidak menciptakan beliau kesakitan. Mungkin alasannya adalah itu saya bisa bertahan agak usang. Kalau tidak mungkin saya sudah mengalami ejakulasi.

Setelah cukup lama, datang-datang beliau menyentakkan pinggulnya ke atas sambil menekan pantat saya. Saya tidak tahu apakah dikala itu beliau mengalami orgasme atau tidak. Tapi yang jelas beliau menahan posisi itu cukup usang. Setelah itu ia bilang bahwa beliau kelelahan.

Saya pun mengerti, dan walaupun belum mengalami ejakulasi, aku mengeluarkan kemaluan saya dari liang vagina perawan nya, dan tidur terlentang di sampingnya. Sekilas aku lihat, di bibir kemaluannya ada lendir putih yang saat saya pegang terasa kental dan lengket, tetapi tidak kesat seperti halnya sperma.

Sepertinya dia tahu kalau aku belum puas (yah namanya juga kurang konsentrasi). Dia duduk di sebelah aku sambil kemudian menggenggam kemaluan saya. Perlahan-lahan beliau menggerakan tangannya naik turun.

Saya sungguh menikmati perlakuannya ini. Payudaranya kembali aku elus-elus. Sesekali saya permainkan putingnya denga jari. Kali ini saya tidak bisa bertahan lama. Ketika gerakan tangannya semakin cepat, saya mencicipi geli yang hebat di ujung kemaluan saya. Dan aku pun alhasil mengalami ejakulasi. Dia menampung sperma aku dengan telapak tangannya.

Kemudian membersihkan sisanya dengan tissue. Setelah mencuci tangan serta kamaluannya, ia kembali ke kamar dan mencium aku. Dia kemudian merebahkan kepalanya di dada saya. Sementara saya mengelus-elus rambutnya.

Saat membereskan kamar sebelum mengantarnya pulang, pandangan aku tertuju pada bekas tissue yang sebagian juga dipakai untuk membersihkan sisa lendir kemaluannya. Terlihat bercak-bercak merah tanda perawan pada beberapa lembar tissue. Tapi tidak banyak.

Saya memandangnya dan bertanya, “Masih berdarah nggak ?”
Dia menggeleng, dan menjawab, “Sudah nggak lagi, tadi telah saya cuci.”

Setelah itu saya mengantar ia pulang. Kalau tidak salah waktu itu sudah sekitar jam sembilan malam. Saat perjalanan kembali pulang, aku berpikir. Dia sudah mengorbankan miliknya yang paling berguna terhadap aku. Dia berkorban sebab ia percaya pada saya.

Belum pernah dalam hidup saya, ada orang yang sebegitu percayanya pada aku. Bahkan jauh melebihi kepercayaan orang bau tanah aku, yang lebih sering menawarkan uang belaka dibandingkan dengan suatu iktikad yang nrimo. Kepercayaan yang diberikannya yakni bantuan yang tak ternilai harganya.

0 Response to "Dongeng Sex Dengan Cewek Pujaan Hati"

sosial bar