728 x 90

Native bar

Dongeng Cukup Umur Memperkosa Gadis Sma

 Cerita Dewasa Memperkosa Gadis SMA - Setiap pagi di Sekolah Menengan Atas itu selalu diadakan mata pelajaran Olahraga dan Kesehatan. Seperti lazimnya Sekolah Menengan Atas yang lain, setiap mengadakannya pasti sebelumnya disertai pemanasan terlebih dahulu, dan pemanasan yang dimaksud di sini yaitu lari pagi. Setiap kali siswi-siswi itu lari saya ajak menumpang di mobilku yang pickup itu (jadi muat banyak penumpang) dan mereka tidak pernah menolak bahkan mereka senang.


 Setiap pagi di SMA itu selalu diadakan mata pelajaran Olahraga dan Kesehatan Cerita Dewasa Memperkosa Gadis SMA
Cerita Dewasa Memperkosa Gadis SMA

Lalu timbullah fikiran kotorku. Aku tahu bahwa ada cewek yang menurutku tidak mengecewakan sporty, cantik, elok dan juga bahenol dibandingkan sahabat-temannya yang lain. Sebut saja Widya (bukan nama bahwasanya). Widya tidak mengecewakan tinggi untuk gadis seumurnya, kulitnya mampu dibilang sawo matang, namun sungguh-sungguh terperinci dan keputih-putihan. Yang aku tahu Widya masih duduk di kelas 1 di SMA itu.

Aku sungguh-sungguh tidak tahan menyaksikan penampilannya yang sporty dan seksi setiap kali dia kelelahan lari dengan jarak yang lumayan jauh itu, ia terlihat sangat seksi dengan seragam kaus yang agak ketat, serta bagian bawahnya celana pendek sexy yang agak ketat juga. Aku melihat dengan sarat nafsu keringat yang membasahi menghiasi tubuhnya yang indah itu hingga tampakagak tembus pandang.

Singkat dongeng Widya aku bisiki, semoga pada hari Jumat nanti yang merupakan acara kelas Widya untuk berolah raga, beliau sengaja berlari sendiri jauh dari sobat-temannya lainnya dengan alasan nanti akan kubelikan es sirup dan juga untuk mengerjai teman-temannya supaya iri melihatnya naik kendaraan beroda empat sambil meminum es sirup. Widya setuju saja alasannya ia pikir mungkin dengan begitu ia akan mampu mengerjai teman-temannya yang lain (padahal membisu-membisu aku yang hendak mengerjainya habis-habisan).

Sehari sebelum hari H, aku mempersiapkan tempat dan perlengkapan untuk siswi lugu ini di antaranya minuman energi, obat tidur, tali pramuka seperlunya, lakban, dan spons beserta sprei untuk kasur. Mobil pickup-ku pun sebelumnya saya persiapkan sedemikian rupa sehingga ruang tengah betul-betul pas untuk spons beserta spreinya.

Hari Jumat pun tiba. Pada pukul 05:30 WIB pun aku berangkat dari rumah dan menunggu mangsa yang satu ini. Kebetulan aku telah mengetahui nomor HP-nya, sehingga saya tinggal missed call dia dari kejuhan dan ia langsung paham maksudku (agar ia tidak lupa dengan janjinya). Acara lari sudah dimulai dan tepat seperti dugaanku beliau telah berlari dengan meminimalkan kecepatan untuk menjauh dari sahabat-temannya yang lain (namun larinya menurutku sudah telanjur terlalu jauh sekitar 1 km, mungkin ini dimaksudkannya untuk menghindari pengawasan gurunya dari belakang) dan beliau juga sudah melihat mobilku dari kejauhan.

Aku pribadi menghampiri dan mengajaknya masuk ke mobilku. Dia pun masuk ke mobilku tanpa basa-busuk. Lalu aku memberinya es sirup yang sudah kujanjikan kepadanya (yang pastinya sudah kuberi obat tidur secukupnya). Dia bahkan hanya melihat sahabat-temannya di depan yang mendahuluinya dan sama sekali tidak menyaksikan ke belakang bila ada spon bersprei di sana, diapun saking hausnya pribadi meneguk es sirup yang aku sebelumnya sudah campur dengan obat tidur tadi.

Dia betul-betul telah keringatan sebab kelelahan lari sampai kian merangsangku untuk segera melumatnya. Keringatnya pun sudah tercetak di bajunya. Dia ingin semoga aku segera mempercepat mobil dan menghampiri sahabat-temannya untuk menarik hati mereka, namun saya menolaknya dengan argumentasi bahwa saya akan mengisi bensin dulu. Widya menurutinya alasannya di akrab sekolahnya memang ada tukang bensin pinggir jalan (sambil saya menunggu obat tidurnya bereaksi). Walau bensin mobilku bekerjsama belum habis namun saya terpaksa menuju ke tukang bensin itu juga.

Aku turun tetapi bukannya membeli bensin (alasannya adalah memang masih sarat ) namun malah membeli koran yang aku baca-baca sebentar di luar kendaraan beroda empat. Lalu aku mengeluarkan uang koran itu dan lalu masuk kembali ke mobil. Aku dapati Widya telah tertidur pulas, tetapi rupanya dia masih sempat mencampakkan bungkus es itu keluar mobil supaya tidak mengotori lantai mobilku. Untung saja kepalanya tidak terantuk benda keras di depannya atau barang yang lain alasannya beliau menempatkan tubuhnya di antara kursi depan dan pintu di sudut.

Aku pikir anak ini sudah tidak mampu berbuat apa-apa sampai langsung saja aku telentangkan ia di tempat yang sudah saya rencanakan sebelumnya. Hal pertama yang mesti saya kerjakan ialah menyumpal mulutnya dengan lakban agar beliau tidak mampu berteriak dikala tersadar nanti. Aku mulai melakukan mobilku dengan kencang ke daerah yang betul-betul sepi dari hingar bingar dan agak rindang. Beruntung dia belum bangun. Aku pun melanjutkan dengan menelanjanginya, melepas pakaiannya satu persatu. Aku melihat tubuhnya sungguh-sungguh seksi untuk gadis seusianya dan kulitnya yang sawo matang namun agak keputih-putihan itu benar benar mulus juga mengkilat mungkin alasannya adalah terlalu letih lari tadi.

Kuteruskan membuka BH-nya dan saya menyaksikan pemandangan dua gunung yang tidak mengecewakan bahenol untuk gadis seusianya, payudaranya benar-benar kencang. Lalu aku teruskan untuk membuka CD-nya yang putih tipis itu dan saya menerima panorama yang sungguh indah, sebuah vagina mungil dengan dihiasi bulu-bulu lembut yang tidak terlampau lebat. Batang kemaluanku telah mulai tidak bisa diajak berkompromi, maka saya cepat-cepat membuka seluruh pakaiannya kecuali sepatu sportnya yang berkaus kaki putih itu karena saya pikir dengan begitu dia akan terlihat betul-betul cantik dan sungguh merangsang untuk dinikmati. Lalu saya cepat-cepat mengikatnya dengan tali pramuka yang telah kupersiapkan sebelumnya.

Aku ikat kedua tangannya di belakang punggung dengan ikatan yang sungguh rapat sampai kedua tangannya menyiku. HP miliknya kuletakkan di kursi depan sebab takut terjadi sesuatu yang tidak dikehendaki. Lalu terakhir aku memotretnya habis-habisan dengan HP berkameraku. Kupotret seluruh tubuhnya dari depan, lalu saya balikkan tubuhnya kemudian memotretnya dari belakang. Untuk sementara tugasku kali ini sudah akhir dan aku tinggal menunggunya sadar, tetapi ia belum sadar juga, padahal obat tidur yang kuberikan tidak terlalu banyak. Ah peduli apa, pikirku. Walau beliau belum sadar juga tidak ada salahnya bila dicicil sedikit.

Aku mulai dari kedua payudaranya yang semenjak tadi seakan menghipnotisku untuk terus menatapnya. Aku mulai menghisapnya dengan garang, dan rasanya sungguh-sungguh lezat. Aku terus menghisap dan menjilati keduanya sambil sesekali saya gigit saking gemasnya. Dan di saat saya mengerjai kedua payudaranya beliau sedikit demi sedikit mulai terjaga. Kemudian saya menyaksikan ke arah jam tanganku yang memperlihatkan pukul 08:15 WIB, memiliki arti dia tadi tertidur sekitar 1 jam lebih.

Mata Widya langsung terbelalak keheranan alasannya adalah begitu bangkit dia eksklusif mendapatkan dirinya terikat tanpa pakaian di dalam kendaraan beroda empat. Dia mencoba berteriak dikala dia menerima dirinya dalam keadaan seperti itu, tetapi itu semua sama sekali hanya membuang-buang tenaganya saja alasannya adalah aku sudah menutup mulutnya dengan lakban.

"Eemmhh..!! Emmhh.. Mm.. Mmhh..!", Widya mencoba bersuara.
"Kamu damai aja Wid.. Gak ada yang bakalan denger meski kamu berteriak sekencang apa pun, mulutmu itu telah kubungkam dengan lakban dan di sini sungguh-sungguh sepi, paling paling yang mendengarmu cuma kambing sama ayam aja.. Ha.. Ha.., jadi seharusnya simpan tenagamu dan nikmati saja apa yang hendak terjadi sama kamu. Simpan tenagamu ya sayang.. Tugasmu masih banyak dan sama sekali belum dimulai", ujarku.

Widya menatapku dengan ketakutan, matanya memerah dan parasnya jadi semakin pucat. Tapi beliau tidak acuh ucapanku tadi, dan ia meronta semakin kuat.

"Eemmhh..!! Em..!! Mmhh..!! Mm!! Hmmhh..!!" Karena ucapanku tidak diindahkannya, aku eksklusif mengobok-obok vaginanya dengan kasar sambil mengancamnya..
"Ayo!! Teriak lebih keras lagi!! Dengan begitu saya mampu lebih berangasan lagi menghadapimu! Tugasmu masih banyak tahu!!"

Dia dengan sangat ketakutan mengangguk sambil mengucurkan air mata berbagai, lalu beliau menangis tersedu-sedu mungkin alasannya adalah vaginanya terasa sungguh kesakitan ketika kuperlakukan dengan bergairah tadi. Aku pun melanjutkan dengan menjilati vaginanya yang sudah aku obok-obok dengan tangan tadi sambil menghisap-hisap dengan ganasnya serta kucolok-colokkan lidahku di liang senggamanya. Rasanya benar-benar nikmat sekali, belum pernah aku mencicipi hal yang mirip ini sebelumnya. Widya hanya bisa menangis dan mengucurkan air mata. Aku jadi semakin terangsang untuk berbuat lebih ganas lagi. Tapi usang-kelamaan aku jadi ingin tahu apa yang mau diucapkannya sedari tadi dan aku membisikinya..

"Aku mau membuka lakban yang menutupi mulutmu asal kamu komitmen tidak akan berteriak, kalo coba-coba teriak aku kesepakatan akan membuatmu lebih menderita lagi!! Tahu!!" Nampaknya Widya merasa tidak mampu berbuat banyak lagi hingga beliau hanya mampu mengangguk saja.

Breet.., setelah saya membukanya, ia segera memaki-makiku..

"Om bener-bener bajingan!! Anjing kamu!! Kenapa Om perlakukan aku seperti ini!! Bajingaann!! Anjiing!!" Aku yang tidak terima menerima makian yang mirip itu hingga pribadi menamparnya!! Plaak!! Kemudian Widya membalasku dengan teriakan minta tolong.
"Toloong!! Toloong!! Toolong!!" Aku membiarkannya untuk menandakan bahwa di sana memang tidak ada seorang pun yang dapat mendengarnya.
"Nah, teriak lebih keras lagi!! Ayo!! Kita lihat siapa yang mampu mendengarmu!!"

Setelah lama sekali minta tolong sampai suaranya parau (mungkin alasannya capek) dan tidak menciptakan apa pun, kesannya Widya hanya bisa menangis tersedu-sedu dengan suara yang serak lalu dia berkata..

"Oomm.. Tolong lepaskan saya.. Pleeassse.. Apa salahku?? Kenapa aku diperlakukan seperti ini??"
"Kesalahanmu adalah alasannya adalah berani-beraninya kamu tampil merangsang di depanku selama ini ha.. ha.. ha.. Kamu tadi ngatain aku anjing kan!? Kita lihat kini siapa anjing yang bahu-membahu!! Lihat dan rasakan saja!!"Kemudian saya lepas semua pakaianku, lalu dengan kedua tanganku aku membuka kaki Widya lebar-lebar ke kanan dan ke kiri hingga betul-betul mengangkang dan terlihat benar vagina itu menjadi makin siap saji. Kemudian aku menancapkan batangku yang sedari tadi telah tidak bisa lagi diajak kompromi sedikit pun itu ke vaginanya. Mungkin karena kesakitan saking sempitnya, dia berteriak memelas..

"Ammpuun Oom.. Aku jangan diperkosa!! Nanti kalo aku hamil gimanaa!! Pleeassee!!"
"Itu urusanmu!! Yang saya tahu, kini kita akan bersenang-senang sepuasnya OK!!"

Sepertinya gerakan kakinya menjajal menutupi vaginanya yang telah tertancap sepertiga batangku dan tampaknya vaginanya juga tak maudiajak kompromi malah juga mencoba menutupinya sehingga batangku jadi terjepit. Aku yang menjadi agak jengkel lalu membuat kakinya lebih mengangkang lagi lalu dengan ganas kucoba menembus keperawanan Widya hingga dia pun berteriak keras sekali..

"Ooaahh!! Aahh!! Ampuunn Oom!! Sakiit.. Sakiit.. Aakkhh.. Mmaahh.. Iikkhh.. Ampuun oomm!! Aku bisa matii oomm!! Sakiitt!! Uoohh!! Toloong!! Mamaa!! Maamaa!!"

Nampaknya kalau Widya merasa kesakitan beliau selalu berteriak mengundang ibunya. Aku yang telah telanjur berair begini terus melanjutkannya saja dengan mencoba menerobos keperawanannya. Dan akhirnya, crrtt.., aku merasa baru saja seperti ada yang sesuatu yang sobek sampai Widya berteriak dan meronta sekuat tenaga.

Kulihat vaginanya dan ternyata benar, darah segar mengalir dengan derasnya. Aku cepat-cepat mengambil CD-nya untuk melap darah vaginanya supaya tidak mengotori spreiku. Kulihat juga verbal Widya yang terbuka sungguh lebar meronta-ronta dan tampak sangat menderita dengan kedua tangan yang masih terikat dekat di belakang dan pakaiannya yang mulai acak-acakan, apalagi ditambah dengan sepatu sport dan kaus kaki putihnya hingga semakin merangsangku untuk berbuat lebih ganas.

Kemudian aku menggenjotnya lagi dan kali ini dengan tanpa ampun lagi alasannya aku sudah sungguh-sungguh kesetanan. Kugenjot vagina Widya yang mulai licin itu dengan makin ganas. Tetapi kupikir ini masih terlalu sulit dijalankan, tetapi peduli setan, saya terus menggenjotnya semakin ganas dengan genjotan liarku, hingga-hingga suaranya terdengar, clep, clepp, clepp.., sementara Widya hanya mampu mengerang kesakitan.

Begitu seterusnya sampai bunyi teriakannya lebih serak dari yang sebelumnya, dan ternyata air mata Widya yang menangis tersedu-sedu sejak tadi belum habis juga malah makin deras sehingga membasahi payudaranya. Sambil menggenjotnya, aku menjilati air mata Widya itu, kemudian saya mengulum mulutnya yang sejak tadi menganga itu hingga ia sukar untuk bernapas sampai risikonya, crott.. Spermaku kukeluarkan di rahim gadis Sekolah Menengan Atas kelas 1 yang malang itu. Aku pun kemudian berkelojotan kenikmatan.

Entah mengapa, mungkin alasannya Widya capek lari ketika berolah raga tadi, ditambah dengan rontaan-rontaannya yang ahli dan payudara dan vaginanya yang kuhisap habis-habisan hingga membuatnya pingsan seperti orang mati saja. Mungkin alasannya tubuh Widya menindih kedua tangannya sendiri yang terikat ketat di belakang hingga membuat buah dadanya jadi membubung ke atas. Aku jadi berangasan lagi melihatnya sampai saya mengerjainya kembali selagi beliau pingsan. Kuhisap-hisap sambil sedikit kugigit dan menariknya ke atas saking gemasnya hingga akibatnya kedua payudaranya kini jadi memerah, namun aku tidak mempedulikannya sama sekali.

Kulihat jam tanganku, waktu sudah memperlihatkan pukul 12:05 WIB, memiliki arti aku tadi telah mengerjainya selama 4 jam, masuk akal jikalau ia kini pingsan, mungkin juga pada jam ini Widya sudah semestinya pulang sekolah alasannya adalah ini ialah hari Jumat, tapi peduli apa saya.

Aku menetapkan untuk beristirahat dahulu sambil minum minuman berenergi yang telah aku persiapkan dari rumah untuk memulihkan energiku yang sudah lumayan habis dan untuk mempersiapkan diri pada action berikutnya. Karena tali pramuka yang kubawa tidak cuma satu, aku pun merencanakan tali pramuka gres yang masih berbentuk gulungan rapi, putih mengkilat, sungguh ketat, tidak mengecewakan besar dan panjang karena yang saya beli adalah tali pramuka bermutu istimewa, tapi bukannya saya akan memakai tali pramuka yang gres itu untuk mengikatnya lebih jauh lagi, melainkan aku menggunakannya selaku tanda jikalau ia telah terjaga nantinya, pasti beliau akan meronta. Caranya yakni kumasukkan tali pramuka yang masih berbentuk gulungan itu ke dalam vaginanya dalam-dalam. Memang ini agak sukar kulakukan, mungkin karena ukuran vaginanya yang terlalu kecil itu, jadi terpaksa saya memuntir-muntirnya dahulu hingga alhasil masuk walaupun ujungnya masih terlihat sedikit, mungkin ini memang sudah mentok, pikirku.

Untuk sementara aku beristirahat dan mencoba untuk tidur di samping Widya. Aku tidak perlu cemas dengan hal-hal yang tidak diinginkan, karena tempat itu betul-betul sepi dan berada di bawah pohon besar yang rindang, lagipula tangan Widya telah terikat tidak berdaya, dan apabila Widya terbangun atau terjaga nanti beliau pasti akan meronta kesakitan alasannya adalah vaginanya yang sudah saya jejali dengan tali pramuka yang masih tergulung itu.

Lalu aku tertidur pulas di samping Widya. Aku tertidur hingga seperti orang mati saja sehingga ketika Widya tersadar duluan, aku hanya mendengar erangannya sambil memanggil-manggil mamanya. Aku pikir saya masih dalam kondisi berkhayal ketika mendengar suara siapa itu. Dan sehabis saya terbangun, saya baru sadar bahwa itu ialah bunyi Widya yang meronta kesakitan alasannya adalah tali pramuka yang menyumpal vaginanya. Aku cepat-cepat melihat jam tanganku, dan jam memberikan telah pukul 15:10 WIB, mempunyai arti saya dan Widya tadi sudah tertidur sekitar 3 jam.

"Aakkhh!! Eengghh!! Mmamaa!! Ahaakkhh!! Mamaa!!"
"Tenang aja Wid, di sini nggak ada yang bakalan denger terlebih Mama kamu, jadi simpan saja tenagamu alasannya tugasmu belum selesai".

Karena tenagaku telah pulih, aku secepatnya saja menuju sasaran yang belum pernah kujamah dari tadi yaitu anusnya. Sebelumnya aku mesti menciptakan tubuh Widya tertelungkup di dingklik paling belakang, tapi kakinya tetap berada di bawah ialah di spons bersprei itu. Tapi sayangnya sudut atau siku bangku mobilku yang paling belakang kurang pas mirip yang kuharapkan untuk posisi doggy style, adalah kepala Widya yang tertelungkup sudah mentok ke dingklik padahal vaginanya belum menjamah ujung atau siku kursi sehingga kupikir ini niscaya tidak akan mirip yang kuharapkan.

Maka kuangkat kepala Widya tengadah, sehingga muka Widya kini menghimpit rapat pada sandaran kursi, sampai-hingga erangannya terbungkam oleh sandaran bangku di mobilku, untungnya semua jok bangku di mobilku telah kubelikan yang bermutu anggun sehingga benar-benar empuk. Dan akibatnya posisinya telah kurasa pas untuk melakukan posisi doggy style. Setelah mendapatkan posisi yang tepat, pertama saya menjilati dan menusuk-nusuk anus Widya dengan lidahku dengan ganasnya dan rasanya benar-benar lezat sekali.

"Aduuhh!! Aahh!! Nghaa!! Aduduuhh!! Aakkhh!!"

Aku sama sekali tidak tahu mengapa Widya terlihat menderita sekali, padahal aku belum melaksanakan apa-apa, hanya sebatas menjilati sambil menusuk-nusuk anus Widya dengan lidahku. Dan aku gres teringat bahwa ternyata penyebabnya yakni gulungan tali pramuka yang masih bersarang di vagina Widya. Ah peduli apa saya, justru dengan beliau meronta-ronta seperti itu akan menciptakan nafsuku kian meledak, jadi aku biarkan saja tali pramuka yang masih tergulung rapi dan ketat itu bersarang di vaginanya.

Tanpa pikir panjang aku pribadi mengambil posisi untuk mengerjainya lagi. Pertama-tama aku menancapkan sepertiga batangku dahulu di anusnya. Karena anus Widya betul-betul kecil maka ini akan cukup sulit, pikirku. Tiba-tiba terdengar rontaan Widya meskipun kurang terperinci sebab terbekap jok kendaraan beroda empat.

"Ampuun oomm!! Mau diapakan saya!! Jangan di situ Oom!! Aku mampu mati!! Ampuun!! Ampuun!! Jangan Omm!!"

Tanpa peduli sedikit pun dengan apa yang diucapkan Widya, aku mulai kembali mencoba menerobos anus Widya. Kumasukkan (meskipun hanya bisa sepertiga yang masuk), kemudian aku keluarkan lagi, dan terus kulakukan itu sampai anus Widya menjadi sedikit licin dan longgar. Karena hasilnya saya agak jengkel dan bosan untuk menanti lebih usang lagi, maka kuterobos saja liang anus Widya dengan sekuat tenaga. Slackk!! Scrrct!!

"Uuookkhh!! Khaakkhh!! Ahhgghh!!", jerit Widya.

Widya tampak betul-betul menderita, dan aku juga sudah merasakan ada sesuatu yang sobek, maka saya teliti anusnya untuk memastikannya dan ternyata benar, darah segar telah mengucur deras dari liang anusnya. Aku kembali mengambil CD-nya untuk membersihkan darah dari anusnya. Darahnya betul-betul banyak, mungkin alasannya adalah liang anusnya terlalu kecil. Dan sesudah saya memutuskan liang anus Widya sudah terasa licin dan mulai nikmat untuk digarap, eksklusif saja kugenjot beliau dengan sodokan-sodokanku yang ganas. Widya hanya mampu menangis tersedu-sedu dan memohon untuk secepatnya dipulangkan ke rumahnya sebab mungkin orang tuanya sekarang sudah mulai mengkhawatirkan anak gadisnya yang belum pulang dari sekolah.

"Enngghh.. Enngghh.. Mngghh.. Enhgh.. Oom.. Sudah oomm.. Aku mohoon.. Aku pengen pulaang.. Aku pengen pulang Oom.. Heenngghh.. Engghh.."

Mendengar rintihannya yang terdengar serak dan sangat menderita itu mengakibatkan birahiku justru kian meledak, dan aku menggenjot anusnya dengan lebih ganas lagi sampai risikonya aku menyemburkan spermaku di dalam anus Widya. Aku tahu Widya niscaya sungguh menderita sekali alasannya selain dia gres saja kusodomi habis-habisan, juga tali pramuka yang masih bersarang di vaginanya, dan juga tali pramuka yang mengikat kedua tangannya di belakang (sampai kedua tangannya berbentuk siku) akan memperbesar siksaan yang harus dijalaninya demi memuaskan nafsu bejatku.Sambil beristirahat sebentar saya kembali membaringkan badan Widya yang sudah bermandi peluh itu hingga tampak mengkilap ke spons bersprei itu. Widya tidak henti-hentinya menangis, air matanya juga tidak henti-hentinya keluar. Tiba-tiba terdengar HP Widya berbunyi. Setelah aku lihat identitas pemanggilnya ternyata bertuliskan "Mama". Wah, saya pikir Mama-nya Widya telah mecemaskan anaknya yang belum pulang juga dari sekolahnya. Aku lalu menawarkan terhadap Widya siapa orang yang menjajal menghubunginya. Segera saja mata Widya terbelalak ketika mengetahui bahwa itu yakni Mama-nya hingga Widya berteriak sekuat tenaga.

"Maamaa!! Maammaa!! Tooloong saya Maa!! Maamaa!!"

Widya berteriak keras sekali berharap saya mau menyambungkan telepon untuknya, namun yang aku lakukan yakni justru menetapkan sambungan telepon itu di hadapannya.

"Bangsaatt!! Anjiing!! Bajingaann kamuu!! Bangsaat kamu!! Anjiing!!", maki Widya, lalu Widya kembali menangis.
"Ennghh.. Heennggh.. Kenapa kamu tega melakukan ini? Itu Mamakuu.. Heenggh.. Aku pengen pulaanng!! Mamaa!!"

Bukannya aku kasihan kepada Widya, aku malah mereply SMS ke Mama-nya yang terdiri dari, "Ma saya lagi bersenang-bahagia jadi jangan ganggu aku ya!!" Sebelum aku mengantarkan SMS itu ka Mama-nya saya perlihatkan dahulu isi SMS itu kepada Widya sampai kembali dia memakiku.

"Kamu bener-bener menjijikkan!! Terkutuk kau!! Bangsaat!!"

Aku kemudian menjilati air matanya yang terus bercucuran hingga bersih. Aku juga merapikan kedua kaus kakinya yang mulai merosot, juga tali sepatu sport-nya yang mulai awut-awutan hingga risikonya Widya kembali rapi dan merangsang untuk dinikmati.

Karena aku tidak mau ia keburu pingsan lagi padahal tugasnya memuaskanku belum akhir, aku memutuskan untuk mengocok batangku di dalam lisan Widya biar sperma yang nanti ditelannya bisa sedikit memberinya energi, lalu aku mengangkat kepalanya, memasukkan batangku ke mulutnya, dan menciptakan gerakan maju mundur berirama.

"Nymlhh!! Nymngmh!! Ghhkkh!! Nnymhkh!! Ghkmnh!!", gumam Widya ketika mulutnya kupaksa dimasuki batangku.

Melihat Widya yang menangis tersedu-sedu dan tampak sungguh menderita, nafsu birahiku kian memuncak, kemudian kupercepat saja tempo genjotanku hingga alhasil.., crott.. croott.. croot.. Akhirnya saya menyemburkan spermaku di dalam lisan Widya. Lalu aku cepat-cepat menutup ekspresi Widya dengan hati-hati semoga jangan hingga ada sperma yang dimuntahkannya lagi.

Widya malah menjajal memaksa memuntahkannya, sampai risikonya sebagian kecil spermaku berhasil dimuntahkannya lewat sela-sela tanganku. Aku tidak mau hal ini terjadi lagi sampai tangan kiriku berusaha menutupi mulutnya dan tangan kananku menjepit hidungnya sekuat tenaga biar tidak ada jalan baginya lagi untuk bernapas selain menelan spermaku. Dan kulihat tenggorokannya mirip menelan sesuatu.

Aku pikir ia akhirnyua sudah menelan spermaku semuanya. Kali ini Widya sungguh-sungguh mirip mabuk. Spermaku yang sedikit berceceran di mulutnya saya sapukan merata ke mukanya dengan impian agar ia merasa lebih fresh. Aku merasa kehausan juga, mungkin alasannya telah dari tadi berulang-ulang mengeluarkan sperma untuk pelacur kecilku ini. Aku jadi punya ilham konyol. Sebelumnya saya keluarkan dulu gulungan tali pramuka yang menyiksanya.

Widya lalu malah meronta dan badannya juga bergetar, mungkin alasannya adalah menahan pedih. Tali pramuka yang tadinya putih higienis itu sekarang sudah jadi berwarna agak gelap dan dipenuhi banyak darah dan cairan vagina. Aku menjilatinya sebentar dan, hmm.. rasanya benar benar enak.

"Wid, aku sekarang pengen kamu kencing!! Cepet!! Aku udah haus banget dari tadi ngerjain kamu!!", perintahku.
"Aa.. Aapa maksudmu!? Aku nggak mampu pipis sekaraang.. Aa.. Aaku.. Lagi nggak kebelet.."
"Ya udah kalo gitu saya bantu sini!!"
"Aa.. Apaa..!?" Aku lalu mengulum vaginanya dan menghisap-hisapnya serta tanganku menggelitikinya dengan keinginan beliau akan mengompol.
"Ahahaakhh!! Ahaahaahh!! Khaahaa!! Gelii!! Apa-apaan kamu!?"

Pemandangan yang tampak asing sebab beliau bisa setengah tertawa geli setengah menangis tersedu-sedu, sambil badannya bergetar mahir. Widya aku perlakukan seperti itu lama sekali sampai akibatnya ia mengompol juga meskipun cuma keluar sedikit-sedikit.

"Aakkhhaakhh!! Aakkhh!! Sakiit!!"

Aku tidak tahu pasti mengapa dia kesakitan padahal beliau cuma mengompol saja. Aku baru ingat bila saya tadi sudah mengobok-obok dan memerawani vagina Widya dengan cara yang garang hingga jikalau ia sekarang merintih kesakitan pastinya masuk akal. Tapi peduli apa saya. Kulanjutkan saja dengan menghisap dan menelan air seni gadis Sekolah Menengan Atas kelas 1 itu. Mungkin karena Widya mencicipi perih yang teramat sungguh, maka dia cuma mengeluarkan air kencing itu sedikit-sedikit sambil mengerang kesakitan.

Suara rintihannya jadi makin lemah mungkin alasannya adalah beliau kecapekan. Air seninya cuma keluar sedikit sehingga lama-kelamaan aku agak jengkel juga, kemudian saya menghisapnya saja dengan paksa. Hmm.. Ini benar-benar lezat sekali, lebih enak ketimbang teh celup manapun, pikirku, hahaha..

Rontaan Widya menjadi lebih panjang dan ia tampak lebih menderita ketimbang sebelumnya. Setelah saya pikir air seni Widya benar-benar sudah habis, aku sudahi saja permainan itu. Tiba-tiba HP Widya berbunyi lagi, dan setelah kulihat ternyata Mama-nya Widya yang mereply SMS-ku, "Bersenang-senang!? Apa maksudmu sayang!? Kenapa kamu bicara bernafsu gitu sama Mama!? Kamu sekarang ada dimana sayang!?"

Aku menawarkan SMS yang diantarkan Mamanya terhadap Widya. Mungkin alasannya adalah dipikir dirinya sudah tidak bisa berbuat banyak, Widya menanggapinya hanya dengan menangis tersedu-sedu sambil mengundang-manggil Mama-nya. Kemudian aku kembali mereply SMS tersebut, "Apa problem Mama dg perkataanku yg ksr!! Makanya jgn ganggu saya lg!! Aku ada belajar khusus dadakan, dan lokasinya ada di sorga dunia, mata pelajarannya adl ttg Kenikmatan Duniawi!! Jd Mama gak usah cemas dan skrg mending Mama tidur aja!! Aku msh hrs bljr lbh byk lg ttg mata pljrn ini!!"

Seperti tadi, sebelum saya mengantarkan SMS itu ke Mama-nya Widya, aku perlihatkan dulu SMS itu terhadap Widya. Mata Widya kembali terbelalak, lalu memakiku habis-habisan.

"Bangsaat kamu Zen!! Kamu bener-bener terkutuk!! Kamu bukan manusiaa!! Anjing kamuu!!"

Mungkin alasannya saking marahnya, Widya langsung memanggil namaku "Zen" dan bukan "Om" lagi. Tetapi saya sama sekali tidak peduli ucapannya, dan ia lalu menangis lagi.

Singkat dongeng, setelah itu aku kembali terus mengerjai Widya yang telah tampak seperti orang mabuk itu hingga bunyi rintihannya menjadi serak sekali. Ketika sedang asyik-asyiknya mengerjai siswi Sekolah Menengan Atas yang lugu dan malang itu, ternyata HP-nya berbunyi lagi, kulihat ternyata Mama-nya yang mencoba menghubungi Widya lagi yang kali ini kuabaikan. Ternyata Mama-nya Widya tidak mudah menyerah, beliau malah mengirim SMS lagi, "Sayang, pulang donk, ini kan sudah jam 5 sore & sudah mo maghrib sayang. Pulang ya sayang ya!? Mama kuatir banget sama kau sayang! Pulang ya sayang ya!?"

Aku terkejut juga, lalu saya melihat jam tanganku dan ternyata benar yang dibilang Mama-nya Widya, sekarang telah pukul 17:15 WIB. Mungkin karena keasyikan sekali di saat mengerjai badan Widya yang indah itu, aku hingga lupa waktu. Aku kembali membalas SMS Mama-nya Widya, "Iya Ma! Aku sgr plg! Cuma tinggal satu permainan, tunggu sebentar ya Ma!!"

Seperti sebelumnya, sebelum saya mengantarkan SMS ke Mama-nya, SMS itu kutunjukkan dahulu kepada Widya, dan mirip sebelumnya juga, Widya cuma bisa meresponsnya dengan meronta dan menangis. Kemudian saya memutuskan untuk mengakhiri permainan hingga di sini. Sebagai permainan terakhir, aku mengencingi Widya merata hingga nyaris ke seluruh tubuhnya, tetapi sebagian besar air seniku kutembakkan ke mukanya.

"Bangsatt!! Apa-apaan ini!! Anjing kamu Zen!! Akh! Udah Zen!! Ampuun!!"

Widya hanya bisa merespons permainan terakhirku dengan memaki-makiku. Aku tidak menyikapi makiannya, alasannya justru Widyalah yang sekarang tampak mirip seonggok daging hidup yang hina, pikirku. Mobilku jadi amis pesing juga jikalau begini caranya, pikirku, tapi sudahlah, toh ini juga air seniku sendiri. Kemudian tali yang mengikat ketat tangan Widya sejak dari pagi tadi kulepas, kemudian Widya membuka kedua tangannya secara berlahan-lahan dan dengan sedikit gemetaran, mungkin alasannya adalah terlalu lama dalam kondisi terikat dan ikatannya sangat kencang.

Kemudian sesudah itu langsung saja Widya kutarik keluar dari kendaraan beroda empat dalam kondisi telanjang lingkaran, yang menutupi tubuhnya tinggal kaus kaki beserta sepatu sportnya, alasannya adalah rencanaku semua busana Widya termasuk BH dan CD-nya yang telah berlumuran darah keperawanan Widya itu akan saya pakai untuk masturbasi nantinya termasuk juga foto-foto bugil Widya yang sudah kuambil sebelum beliau kuperkosa tadi.

Widya sungguh-sungguh nampak panik. Aku memberikan HP-nya kembali, sebab memang cuma HP yang ada di sakunya dan ia tidak menjinjing benda lain lagi mirip dompet atau lainnya-lain, dengan harapan ia mampu segera menghubungi Mama-nya untuk meminta pertolongan. Kemudian aku bergegas menutup pintu mobilku dan segera tancap gas tanpa menghiraukan Widya lagi. Daerah itu memang sangat sepi apalagi bila menjelang larut.

Sempat kulihat dari kaca spion, Widya eksklusif berlindung di bawah pohon yang rindang dan pribadi memakai HP-nya untuk mencari perlindungan. Tentunya untuk saat ini cuma HP-nyalah satu-satunya alat penentu keselamatan Widya, alasannya dengan keadaan Widya yang bertelanjang bundar mirip kini ini dia menjadi serba salah, jikalau ia mencari derma di daerah yang sepi seperti terhadap orang lain yang belum dikenalnya, mampu-mampu malah dia akan dimangsa laki-laki hidung belang selain aku. Aku bergegas meninggalkan tempat itu dengan kecepatan yang sungguh tinggi untuk secepatnya pulang ke tempat tinggal.

Pada keesokan harinya, saya tidak pernah lagi melintasi jalan di sekeliling sekolah Widya dan juga secepatnya mengganti nomor dan penampilan mobilku untuk menghindari pelacakan dari pihak berwajib.

0 Response to "Dongeng Cukup Umur Memperkosa Gadis Sma"

sosial bar