728 x 90

Native bar

Cerita Remaja Perawan Amel

 Pesonaceritaku.com - Cerita Dewasa Perawan Amel - aku ialah seorang mahasiswa di salah satu sekolah tinggi tinggi di kota palembang.sekarang duduk di semester 7..aku tinggal di kawasan palembang tuntungan.tinggi saya 164 berat 60 kg dan dapat digolongkan gemuk.saya mempunyai tetangga nmaanya Amel seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di palembang dia mengambil jurusan kedokteran.


  saya adalah seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di kota palembang Cerita Dewasa Perawan Amel


Cerita Dewasa Perawan Amel


sudahlah lupakan siapa saya dan Amel.ini peristiwa terjadi setahun yang lalu begini ceritanya.pada hari sabtu pukul 14;30 saya bangkit didepan rumah aku kemudian aku diundang oleh Amel"bang kemarilah"kata Amel "ada apa Mel"jawabku 'kakak mampu bantu kami " kata Amel "bantu apa bila bisa pasti saya bantu"jawabku setelah itu saya diajak kedalam rumahnya dan didalam rumahnya talah ada dua orang temannya kemudian saya diperkenalkannya rini dan rina (samaran).

kemudian kami bercerita dan bercanda kemudian saya mengajukan pertanyaan "kalian mau minta bantu apa nih"kataku begini bang kami dapat tugas dari dosen mata kuliah anatomi.peran ini sungguh berat menurut kami ,kami mesti mempelajari anatomi lawan jenis kami"kata Amel sambil memberikan kertas yang berisi dafatar yang akan di periksa.alngkah terkejutnya saya begitu aku baca isi daftar tersebut adapun dafatar tersebut yakni tinggi berat panjang lengan panjang kaki ukuran penis ketika tegang dan mengambil sperma itu semua dikerjakan dalam keadaan telanjang.

"jadi aku mau kalian jadi kan objeknya ya,maaf ya ini perkerjaan ajaib"kataku "tolonglah bang"kata Amel di ikuti dengan kawan nya memohon biar aku bisa menolong pekerjaan mereka. 'pokoknya engggak "kataku 'kami kasih Rp 1 juta kaalu kakak mau"kata Amel "berapapun kalian kasih aku enggak mau'kataku.dalam hati bekerjsama saya mau dan aku bengong sejenak dan sambil berpikiri "ok saya mau tetapi dengan syrat"kataku 'syaratnya apa bang"kata mereka dengan semangat "syaratnya yaitu kalian memeriksaku satu persatu dan dalam kondisi telanjang"kataku "ah jangan lah bang,lainnya aja lah syaratnya"kata Amel "ini mungkin syarat terakhir bila kalian mau ok kita jalankan ,kalau enggak ya enggak jadi.syaratnya seperti tadi tetapi kalian enggak usah telanjang tetapi hanya pakai cd (celana dalam) saja,aib lah saya bila aku telanjang kalian enggak "kataku

kemudian mereka termenung sejanak dan berpikir dan entah apa yang dipikirkan mereka lalu "oklah bang dari pada tugas kami enggak tamat kami mau denngan syarat tersebut"kata Amel kemudian sehabis selesia negosiasi saya pun mandi kekamar mandinya dan masuk kekamar dengan hanya mengunakan handuk,mereka bertiga masih diluar kamar dan mengobrol entah apa yang mereka bincang kan lalu masuk Amel kekamar dengan menenteng peralatan yang diharapkan.kemudian Amel melepaskan satu persatu pakaiannya dan cuma cd putih yang melekat di badan Amel yang putih dan mulus tersebut.kemudian didekatinya saya dan tampakdengan terperinci dua buah bukit kenmbar yang besar(tinggi Amel 165 dan berat 60)dan ditengah tengahnya ada putingg berwarna kecoklatan.

kemudian dilakukanlah tugasnya mengukur tubuhku dan yang paling menegangkan adalah dikala mengukur penisku yang menegang kulihat dengan terperinci tampang Amel kemerah-merahan dikala memegang penisku.alangkah nikmatnya penis ini saat dipegang Amel wow serasa melayang.kemudian saatnya pengambilan sperma aku disuruh Amel untuk menelurkan sperma kemudian kuusahakan lah melaksanakan onani didepanya lalu serasa sulit.kemiudian "Mel payah nih keluarnya tolong dong keluari"kataku "gimana saya mampu bantu'kata Amel "tolonglah kamu kocok kan"kataku dengan berat hati lalu Amel melaksanakan apa yang aku perintahkan.

sudah 3 menit enggak keluar juga itu sperma.lalu aku cari lagi cara yang lain "Mel kau harus bantu dengan cara lain nih"kataku "cara lain gimana"kata Amel 'kamu mesti tidur telentang atau telungkup sama aja'kataku kemudian Amel tidurlah dengan cara telungkup.lalu badan indah itu aku tindih. kontolku sempurna disela pantanya yang woow tersebut lalu saya gesek-gesekkan ketengah pantatnya yang masih bercd putih tersebut dan datang-datang Amel membalikkan tubuhnya.wow 'didepan mataku tersaji buah dada yang indah dan badanku sudah menimpa tubuhnya kontolku sempurna diatas vagiannya yang masih terbalut cd.

lalu kuturunkan badanku sedikit aku enggak mau menghancurkan perawan anak tetangga yang beda agama.jadi kontolku sempurna dibawah vaginanya dan dijepit oleh dua paha mulusnya.woow dijepit pahanya aja begitu nikmat gimana lagi bila otot vaginanya menjepit penisku.bibirku menikmati puting dan buah dadanya yang indah.Amel mengerang kenikmatan"ahhhh.....ahhhh bang.......tiba-datang pusarku terasa basah wehhh ternyata Amel mengalami orgasme.

lalu kulanjutkan aksiku terhadap Amel dan akhinya "Mel aku mau keluar nih cepet Mel"kataku kemudian aku mengangkat tubuhku dari badan Amel dan Amel mengambil tabung yang sudah steril dan "cret....cret..'wow aku risikonya mengalami orgasme dan sehabis itu Amel lalu mengenakan pakaianya kemnali dengan cd yang masih basah oleh spermanya sendiri dan dengan terperinci terbayang vagina yang tebal tersebut terbaluti oleh cd.mungkin inilah pertama sekali aku melihat vagina wanita akil balig cukup akal meskipun sedikit samar-samar.

lalu Amel keluar dari kamar.kisah dengan rini dan rina akan aku saqmbung nanti.bagi perempuan yang ingin melakukan korelasi sex aku siap untuk melayani.hubungi denny_palembang@yahoo.com kirimkan biodata anda dan no telp/hp yang mampu dihubungi kerahasiaan anda akan terjamin

MahasisMel Kedokteran (2)
sehabis Amel keluar dari kamar kemudian masuk lah si rina.dengan membawa perlengkapan mirip Amel tadi.lalu beliau melepaskan pakaiannya satu-persatu saya yang tengah terbaring memperhatikan dengan serius saat dia melepaskan pakaiannya satu persatu Amel tidak elok dan mampu dibilang jeleklah tubuhnya agak kurus dan dadanya sepertinya turun tidak mirip Amel yang besar dan menantang.kemudian ia mendekatiku dan melaksanakan tugasnya seperti Amel tadi,saat ia menyelidiki tubuhku kuperhatikan parasnya mirip tidak senang dan sedikit cemberut apa semua cewek mirip ini sifatnya seperti ini dalam hati ku berkata.senjataku masih berdiri namun tidak setegang dikala diperiksa Amel mungkin perasaan senang dan tidak senang mempengaruhi keadaan senjataku.kemudian saatnya pengeluaran sperma sama seperi Amel tadi ku suruh ia mengocokkan senjataku alamak ternyata dia enggak mau lalu aku ancam "kalau kau enggak mau ya udah enggak usah aja aku kan enggak maksa kalian"kataku.eh ternyata beliau mau dan dilakaukannya lah eh dalam sekejap saja spermaku keluar.mungkin mampu dibilang waktu yang diharapkan Amel untuk memeriksaku hanya 1/3 dari waktu yang diharapkan Amel.entahlah mungkin senjataku sukar mungeluarkan pelurunya kalau menyaksikan cewek cantik bila cewek buruk dan sombong sebentar aja final.lalu rina mengenakan pakaiannya kembali dan keluar.
Kemudian masuklah Rini dengan senyum dan sambil menyapa"kini giliranku"katanya dengan semangat.mak ketika aku menyaksikan cewek mirip ini lihat semangatnya aja senjataku pribadi spot.lalu dilepaskannya pakaiannya satu persatu alamak indahnya bodi cewek ini dalam hatiku sambil menelan air liur tau enggak pembaca bagaimana ciri-ciri rini orangnya sedikit gemuk dan sintal dengan buah dada mungkin enggak cocock untuk bodi sepertinya buah dadanya besarlah saya enggak tau ukurannya tapi besarlah dan putih walau parasnya enggak manis (seperti cewek sunda)namun pantatnya mak molek kali dan saya bilang aja padat dan berisi.dapat anda bayangkan gimanalah dengan rambut sebahu dan penduduknya suka senyum meskipun aku baru kenal.kemudian di lakukanlah tugasnya mirip temannya tadi dikala persoalan ukur-mungukur tubuh dan menimbnang aku turun dari ranjang setelah itu saatnya pengeluaran sperma.saya tidur terlentang.lalau dia berkata "gimana nih bang saya mau mengambil sample sperma" aku menjawab ya terserahkamu lah gimana caranya.senjatku terus menegang alasannya suasananya mengasyikkan hatiku dan orangnya suka ketawa dikala menyelidiki.lalu rini duduk dipahaku woow terasa sekali daging empuknya menimpa paha lalu senjataku dikocoknya kemudian dikulumnya alamak geli kali rasanya.saya kira rini ini suka oral sek.
sesudah dikocok dan dikulumnya kemudian rini berhenti dan tiba-tiba melepaskan cd-nya wowwwwwww aku serasa enggak yakin menyaksikan itu benda dalam hatiku baru saekali ini aku memperhatikan dengan terperinci yang namanya 'barang setupuk"dengan sebuah daging kecil seperi kacang di palembang itu di sebut"itil"dan tiba datang dia menempelkan vaginanya di senjataku.tanpa pikir panjang lalu kubalikkan posisi beliau di bawah saya diatas lalu kukulum bibirnya mak dibalasnya dan senjataku kutekan-tekan kedalam senggamanya bibirku sehabis mengulum bibirnya beralih kegunung kembarnya wooooow kenyalnya terus kunikmati itu bibir dan kontolku telah mulai masuk kedalam vaginanya yang sempit sedikit demi sedikkit mulutku terus memikmait itu tetek dan datang-datang tetek itu terasa mengeras tidak seperti tadi yang begitu lembut dan putinmgnya berkilat kecoklatan dan lalu kedua kakinya mengapit kakiku dengan posisi saya di atas dan beliau dibawah dan tanganya denga erat memeluk tubuhku "ban..bang saya mau ....mau keluar "katanya "sebentar aku juga mau keluar"jawabku dikala hampir puncaknya aku cabut itu senjata dari vagina dan rini langsung mengambil tabung dan menampung spermaku didalam tabung itu.sesudah selesai rini bukanya mau keluar mak ia mencium bibrku dan terjadi lagilah persetubuhan tersebut sampai 3 kali dalam 45 menit.entah berapa banyak spermaku terbuah selama 1 jam setengah ketika diperiksa ketiga mahasisMel tersebut.
Posted by Kick Jimmy at 2:07 AM 5 comments:
Labels: Cerita Dewasa, Cerita Panas, Daun Muda
Nikmatnya Keperawanan Lani, Gadis Bandung
Pada tahun 1994 aku tercatat sebagai siswa gres pada SMUN 2 pada waktu itu sebagai siswa gres, yah.. program sekolahan umumsaja masuk pagi pulang sekitar jam 14:00 sampai pada balasannya aku dikenalkan oleh sahabat seorang gadis yang ternyata gadis itu yang bernama Lani yang bernama rani sekolah juga di akrab sekolah saya adalah di SMPN 3.

Ketika kami saling menjabat tangan, gadis itu yang bernama Lani yang berjulukan rani masih agak aib-aib, saya lihat juga gadis itu yang bernama Lani yang berjulukan rani tingginya cuma sekitar 158 cm dan memiliki dada yang memang kelihatan lebih besar dari anak seumurnya sekitar 34B (bila tidak salah umurnya 14 tahun), mempunyai muka yang bagus banget dan kulit meskipun tidak terlampau putih namun sungguh mulus, (sekedar gosip tinggi aku 165 cm dan umur waktu itu 16 tahun), saya berkata siapa namamu?, beliau jawab L---- (edited), setelah berkenalan balasannya kami saling memberikan nomor telepon masing-masing, besoknya sehabis saling telepon dan berkenalan kesudahannya kami berdua janjian keluar besok harinya jalan pertama sekaligus cinta pertama aku menciptakan saya deg-degan tetapi namanya lelaki yah..., jalan terus dong.

Akhirnya malam harinya sekitar jam 19.00 aku sudah berdiri didepan rumahnya sambil mengetuk pagarnya tidak lama sesudah itu L----muncul dari balik pintu sambil tersenyum manis sekali ia mengenakan kaos ketat dan rok yang kira-kira panjangnya hampir meraih lutut berwarna hitam.
Saya tanya, "Mana ortu kamu...", dia bilang jika di rumah itu beliau cuma tinggal bersama papanya dan pembantu, sedangkan jika kakaknya dan mamanya di kota lain.
"Oohh jawab saya," aku tanya lagi "Terus Papa kau mana?" ia jawab jikalau Papa lagi keluar ada rapat lain di hotel (papanya seorang pejabat kira-kira setingkat dengan wagub) jadi saat itu juga kami pribadi jalan naik motorku dan tanpa disuruhpun ia eksklusif memeluk dari belakang, penis saya selama jalan-jalan langsung tegang, habis dada beliau begitu kenyal terasa di belakangku seakan -akan memijit-mijit belakangku (motor waktu itu sungguh mendukung, adalah RGR).

Setelah keliling kota dan singgah makan di tempat makan kami pribadi pulang ke rumahnya sehabis tiba saya lihat rumahnya masih sepi mobil papanya belum datang. Tiba-tiba ia bilang "Masuk yuk!., Papa saya kayaknya belum tiba". Akhirnya sesudah menaruh motor saya pribadi mengikutinya dari belakang aku eksklusif menyaksikan pantatnya yang lenggaklenggok berjalan di depanku, aku lihat jam ternyata sudah pukul 21.30, setiba di dalam rumahnya saya lihat tidak ada orang saya bilang "Pembantu kamu mana?", ia bilang jikalau kamar pembantu itu terpisah dari bangunan utama rumah ini agak jauh ke belakang.
"oohh...", jawab saya.
Saya tanya lagi, "jadi bila sudah bukakan kamu pintu pembantu kamu langsung pergi ke belakang?", dia jawab iya.
"Terus Papa kau yang bukain siapa..."
"saya..." jawabnya.
"Kira-kira Papa kau pulang jam berapa sih...", tanya aku. Dia bilang paling cepat juga jam
24.00. (Langsung saja pikiranku ngeres banget)
Saya tanya lagi "Kamu memang mau jadi pacar saya...".
Dia bilang "Iya...".
Lalu aku bilang, "jikalau gitu sini dong erat-akrab aku...", belum hingga pantatnya duduk di kursi sebelahku, eksklusif aku tarik ke dalam pelukanku dan mengulum bibirnya, beliau kaget sekali tapi belum hingga ngomong apa-apa tanganku pribadi memegang payudaranya yang benar-benar besar itu sambil saya remas-remas dengan berpengaruh sekali (habis sudah kebelet) diapun mengeluh "Ohh.., oohh sakit". katanya.

Saya eksklusif mengulum telinganya sambil berbisik, "Tahan sedikit yah...", ia cuma mengangguk. Payudaranya saya remas dengan kedua tanganku sambil bibir aku jilati lehernya, lalu pindah ke bibirnya pribadi saya lumat-lumat bibirnya yang agak seksi itu, kamipun berpagutan saling membenamkan pengecap kami masing-masing. Penis aku pribadi aku rasakan menegang dengan kerasnya. Saya mengambil tangan kirinya dan menuntun memegang penisku dibalik celana aku, beliau hanya menurut saja, kemudian aku suruh untuk meremasnya. Begitu dia remas, aku pribadi mengeluh panjang, "Uuhh..., lezat sayang", kata aku. "Teruss...", dengan agak keras kedua tanganku langsung mengangkat kaos yang dia kenakan dan membenamkan paras saya di antara payudaranya, tetapi masih terhalang BH-nya saya jilati payudaranya sambil saya gigit-gigit kecil di sekitar payudaranya, "aahh..., aahh". Diapun mendesis panjang tanpa melepas BH-nya saya eksklusif mengangkat BH-nya sehingga BH-nya berada di atas payudaranya, sungguh panorama yang amat mengagumkan, ia memiliki payudara yang besar dan puting yang berwarna kemerahan dan menjulang keluar kira-kira 1/2 cm dan keras, (selama aku main cewek baruku tahu sekarang bahwa tidak semua perempuan nanti menyusui baru keluar putingnya). Saya jilat kedua payudaranya sambil aku gigit dengan keras putingnya. Dia pun mengeluh sambil sedikit murka. "Aahh..., sakkiitt...", namun saya tidak ambil sakit kepala tetap aku gigit dengan keras. Akhirnya diapun eksklusif bangun sambil sedikit melotot kepadaku.

Sekarang payudara beliau berada sempurna di depan muka aku. Sambil aku memandangi wajahnya yang sedikit murka, kedua tanganku langsung meremas kedua payudaranya dengan lembut. Diapun kembali mendesis, "Ahh..., aahh...", lalu aku tarik payudaranya erat ke paras aku sambil aku gigit pelan-pelan. Diapun memeluk kepala aku tapi tangannya saya tepiskan. Sekelebat mata aku menangkap bahwa pintu ruang tamunya belum tertutup saya pun menyuruh beliau untuk epilog pintunya, beliau pun mengangguk sambil berjalan kecil beliau pergi menutup pintu dengan mengendap-endap alasannya adalah bajunya tetap terangkat sambil menunjukkan kedua bukit kembarnya yang bikin hati semua orang akan lemas melihat payudara yang mirip itu.

Setelah mengunci pintu dia pun kembali berlangsung menuju aku. Saya pun eksklusif menyambutnya dengan memegang kembali kedua payudaranya dengan kedua tangan saya tetapi tetap dalam keadaan bangun saya jilati kembali payudaranya. Setelah puas verbal aku pun turun ke perutnya dan tangan saya pelan-pelan saya turunkan menuju liang senggamanya sambil terus menjilati perutnya sesekali mengisap puting payudaranya. Tangan sayapun menggosok-gosok selangkangannya langsung aku angkat pelan-pelan rok yang dia kenakan terlihatlah pahanya yang mulus sekali dan CD-nya yang berwarna putih saya remas-remas liang kewanitaannya dengan terburu buru, ia pun makin keras mendesis, "aahh..., aakkhh... ohh..., nikmat sekali...", dengan pelan-pelan aku turunkan cdnya sambil saya tunggu reaksinya namun ternyata beliau cuma diam saja, (datang-datang di kepala muncul tanda setan). Terlihatnya liang kewanitaannya yang ditumbuhi bulu-bulu tapi sangat sedikit. Sayapun menjilatinya dengan penuh nafsu, diapun makin berteriak, "Aakkhh..., akkhh..., lagi..., lagii..".

Setelah puas sayapun menyuruhnya duduk di lantai sambil saya membuka kancing celanaku dan saya turunkan sampai lutut terlihatlah CD-ku, aku tuntun tangannya untuk mengelus penis aku yang sudah sungguh tegang sehingga sepertinya mau loncat dari CD-ku. Diapun mengelusnya terus mulai memegang penis saya. Saya turunkan CD-ku maka penis aku langsung berkelebat keluar hampir mengenai mukanya. Diapun kaget sambil melotot menyaksikan penis aku yang memiliki ukuran lumayan besar (diameter 3 cm dan panjang kira-kira 15 cm) saya menyuruhnya untuk melepas kaos yang beliau kenakan dan roknya juga seperti dipangut beliau menurut saja apa yang aku suruh kerjakan. Dengan tergesa-gesa saya pun melepas semua baju saya dan celana aku lalu karena beliau duduk dilantai sedangkan aku dikursi, saya tuntun penis saya ke wajahnya beliau pun hanya melihatnya saja. Saya suruh untuk membuka mulutnya namun kayaknya ia sangsi.

Setengah memaksa, saya tarik kepalanya hasilnya penisku masuk juga kedalam mulutnya dengan perlahan dia mulai menjilati penis saya, pribadi aku teriak pelan, "Aakkhh..., aakkhh...", sambil ikut membantu dia memaju-mundurkan penis aku di dalam mulutnya. "aakk..., akk..., lezat sayyaangg...". Setelah agak lama karenanya aku suruh bangun dan melepaskan CD-nya namun muncul keraguan di parasnya sedikit gombal hasilnya CD dan BH-nya ia lepaskan juga maka telanjang bulatlah beliau depanku sambil bangun. Sayapun tak ingin ketinggalan saya pribadi bangkit dan eksklusif melepas CD-ya. Saya eksklusif menubruknya sambil menjilati parasnya dan tangan aku meremas -remas kedua payudaranya yang putingnya telah semakin tegang, diapun mendesis, "Aahh..., aahh..., aahh..., aahh", sewaktu tangan kananku saya turunkan ke liang kemaluannya dan memainkan jari-jariku di sana.

Setelah agak lama gres saya sadar bahwa jari saya sudah lembap. Saya pun menyuruhnya untuk membelakangiku dan aku siapkan penis aku. Saya genggam penis aku menuju liang senggamanya dari belakang. Saya sodok pelan -pelan tetapi tidak maumasuk-masuk aku sodok lagi terus hingga dia pun terdorong ke tembok tangannyapun berpangku pada tembok sambil mendengar beliau mendesis, "Aahh..., ssaayaa..,. ssaayaangg..., kaammuu...", sayapun terus menyodok dari belakang. Mungkin alasannya kering penis aku nggak mau masuk-masuk juga aku angkat penis aku kemudian saya ludahi tangan saya banyak-banyak dan aku oleskan pada kepala penis saya dan batangnya ia cuma memperhatikan dengan mata sayu sehabis itu. Saya genggam penis saya menuju liang senggamanya kembali. Pelan -pelan saya cari dulu lubangnya begitu saya sentuh lubang kemaluannya ia pun pribadi mendesis kembali, "Ahh..., aahh...", saya tuntun penis aku menuju lubang senggamanya itu tetapi saya rasakan baru masuk kepalanya saja diapun pribadi menegang tetapi saya sudah tidak peduli lagi. Dengan satu hentakan yang keras aku sodok berpengaruh-besar lengan berkuasa kemudian saya rasa penis aku mirip menyobek sesuatu maka eksklusif saja beliau berontak sambil berteriak setengah menangis, "Ssaakkiitt...". Saya rasakan penis aku sepertinya dijepit oleh beliau keras sekali hingga kejantanan saya terasa seperti lecet di dalam kewanitaannya. Saya lalu bertahan dalam posisi saya dan mulai kembali menyiuminya sambil berkata "Tahann.. sayang... cuman sebentar kok..."

Saya memegang kembali payudaranya dari belakang sambil saya remas-remas secara perlahan dan lisan saya menjilati belakangnya lalu lehernya telinganya dan semua yang mampu dijangkau oleh lisan saya agak lama. Kemudian ia mulai mendesis kembali menikmati ciuman aku dibadan dan remasan tangan saya di payudaranya, "Ahh..., aahh..., ahh..., kau sayang sama lakukan?" beliau berkata sambil melihat terhadap saya dengan tampang yang penuh pengharapan. Saya hanya menganggukkan kepala padahal saya lagi sedang menikmati penis saya di dalam liang kewanitaannya yang sungguh nikmat sekali seperti aku lagi berada di suatu tempat yang dinamakan surga. "Enak sayang?", kataku. Dia hanya mengangguk pelan sambil tetap mengeluarkan suara-suara kenikmatan, "Aahh..., aahh..." lalu aku mulai melakukan pekerjaan , aku tarik secara perlahan-lahan penis saya kemudian aku majukan lagi tarik lagi majukan lagi beliau pun makin keras mendesis, "Aahh..., ahh..., ahhkkhh..." akibatnya saat saya rasakan bahwa dia telah tidak kesakitan lagi saya pun mengeluar-masukkan penis saya dengan cepat ia pun semakin melenguh menikmati semua yang saya perbuat pada dirinya sambil terus-meremas payudaranya yang besar itu. Dia teriak "Sayaa mauu keeluuarr...". Sayapun berkata "aahhkkssaayyaanggkkuu...", saya eksklusif saja sodok dengan lebih keras lagi sampai -hingga saya rasakan menjamah dasar dari liang senggamanya tapi saya benar-benar kesetanan tidak menghiraukan lagi dengan bunyi-bunyi, "Ahh..., aahh..., ahh..., akkhh..., akkhh..., truss" eksklusif beliau bilang "Sayyaa kkeelluuaarr..., akkhh..., akhh...", tiba-datang beliau mau jatuh tetapi saya tahan dengan tangan aku. Saya pegangi pinggulnya dengan kedua tangan aku sambil aku kocok penis saya lebih cepat lagi, "Akkhh..., akkhh..., ssaayyaa mauu..., kkeelluuaarr..., akkhh...", pegangan aku di pinggulnya aku lepaskan dan eksklusif saja beliau terjatuh terkulai lemas.

Dari penis saya menyemprotlah air mani sebanyak-banyaknya, "Ccroott..., croott.., ccrroott..., akkhh..., akkhh...", saya menyaksikan air mani aku membasahi sebagian tubuhnya dan rambutnya, "Akhh..., thanks sayangkuu...", sambil berjongkok saya cium pipinya sambil saya suruh jilat lagi penisku. Diapun menjilatinya sampai higienis. Setelah itu saya bilang pakai pakaian kamu dengan malas dia bangun mengambil bajunya dan memakainya kembali.

Setelah kami berdua final aku mengecup bibirnya sambil berkata, "Saya pulang dahulu yah hingga besok sayang...!". Dia hanya mengangguk tidak berkata-kata lagi mungkin lemas mungkin nyesal tidak tahu ahh. Saya lihat jam aku telah menunjukkan jam 23.35, saya pulang dengan sejuta kenikmatan.
Posted by Kick Jimmy at 12:59 AM 2 comments:
Labels: Cerita Dewasa, Cerita Panas, Daun Muda
Bercinta Dengan Perawan Sekolah Menengah Pertama
Kring.. Kring.. HP-ku berbunyi. Saat itu aku berada di kantorku sedang membaca surat-surat dan dokumen yang barusan dibawa Lia, sekretarisku, untuk aku setujui. Kulihat di layar tampak suatu nomor telepon yang sudah kukenal.
“Hello.. Dita.. Apa kabar” sapaku.
“Hi.. Pak Robert.. Kok udah usang nih nggak kontak Dita”
“Iya habis sibuk sih” jawabku sambil terus menandatangani surat-surat di mejaku.
“Ini Pak Robert.. Ada barang manis nih..” terdengar bunyi Dita di seberang sana.
Dita ini memang adakala saya hubungi untuk menawarkan wanita untuk aku hidangkan pada tamu atau klienku. Memang kadang-kadang untuk menggolkan proposal, perlu adanya servis semacam itu. Terkadang lebih ampuh dibandingkan dengan memperlihatkan duit di bawah meja.
“Bagusnya gimana Dit?” tanyaku penasaran.
“Masih anak-anak Pak.. Baru 15 tahun. Kelas 3 Sekolah Menengah Pertama. Masih perawan”
Mendengar hal itu langsung senjataku berontak di sarangnya. Memang sering saya kencan dengan wanita manis, ABG atupun istri orang. Tetapi jarang-jarang aku menerima yang masih perawan seperti ini.
“Cantik nggak?” tanyaku
“Cantik dong Pak.. Tampangnya innocent banget. Bapak pasti suka deh..” rayu Mami Dita ini.
Setelah itu saya tanya lebih lanjut latar belakang gadis itu. Namanya Tari, anak keluarga ekonomi lemah yang perlu biaya untuk melanjutkan sekolahnya. Orang tuanya tidak mampu menyekolahkannya lagi setelah Sekolah Menengah Pertama nanti, sehingga sehabis dibujuk Dita, beliau mau melaksanakan hal ini.

“Minta berapa Dit? ” tanyaku
“Murah kok Pak.. hanya lima juta”
Wah.. Pikirku. Murah sekali.. Aku pernah dengar ada orang yang beli keperawanan hingga puluhan juta. Singkat kata, akupun oke dengan proposal Dita. Aku berjanji untuk menelponnya lagi setelah saya sampai di lokasi nanti.
“Lia.. Ke sini sebentar” kutelpon sekretarisku yang sexy itu. Tak lama Lia pun masuk ke ruanganku. Sambil tersenyum elok dia pun duduk di bangku di hadapanku.
“Ada apa Pak Robert?” tanyanya sambil menyilangkan kakinya memamerkan pahanya yang putih.
Belahan buah dadanya tampak ranum tampakdari balik blousenya yang agak tipis. Ingin rasanya aku nikmati dia dikala itu juga, tetapi saya lebih ingin menikmati perawan yang disediakan Dita. Toh masih ada hari esok untuk Lia, pikirku.
“Saya perlu duit lima juta untuk entertain klien. Tolong minta ke bagian keuangan ya” kataku.
“Baik Pak” jawabnya.
“Ada lagi yang bisa saya bantu Pak Robert..?” Lia berkata genit sambil menatapku menggoda.
“Nggak.. Mungkin lain kali Lia.. Saya sibuk banget nih” kataku akal-akalan.
Aku tak ingin staminaku habis sebelum bertempur dengan Tari, anak SMP itu. Liapun beranjak pergi dengan raut paras kecewa, dan tak lama dia kembali membawa uang yang aku minta beserta slip tanda terima untuk aku tandatangani.
“Nanti bila perlu lagi, panggil Lia ya Pak” katanya masih mengharap.
“Baik Lia.. Saya pergi dahulu sekarang. Jangan telepon aku kecuali ada emergency ya” jawabku sambil mengemasi laptopku.

Tak lama akupun sudah meluncur dengan Mercy kesayanganku menuju hotel di daerah Semanggi. Akupun cek in di hotel yang berdekatan dengan plaza yang gres dibangun di tempat itu. Setelah mendapatkan kunci akupun bergegas menuju kamar suite di hotel itu.
Setiba di kamar, kutelpon Dita untuk memberitahukan lokasiku. Dia berjanji untuk datang sekitar satu jam lagi. Sambil menunggu kunyalakan TV dan menonton siaran CNN di ruang tamu kamarku. Sedang asyik-asyiknya menyaksikan info perang di Irak tiba-tiba HP-ku berbunyi.
“Sialan Lia. Aku khan telah bilang jangan telepon.” pikirku sambil mengangkat telepon tanpa menyaksikan caller ID-nya.

“Halo. Pak Robert.. Ini Santi” kata suara di seberang sana. Santi ini yaitu istri dari Pak Arief, manajer keuangan di kantorku.
“Oh Santi.. Aku pikir sekretarisku. Ada apa San?”
“Nggak Pak Robert.. Cuma kangen aja. Pengin ketemu lagi nih Pak.. Aku pengin ulangi kejadian yang di pesta dahulu itu. Bisa ketemuan nggak Pak hari ini?”

“Wah.. Kalau hari ini nggak mampu San.. Aku sedang di tempat klien nih” jawabku mengelak.
“Khan ahad depan suamimu telah pergi.. Makara kita mampu puas deh nanti seharian” lanjutku.
“Habis Santi udah kangen banget Pak..” rengeknya.

“Sabar ya sayang.. Tinggal beberapa hari lagi kok” hiburku.
“OK deh.. Sorry jika mengusik ya Pak” katanya menyudahi pembicaraan.
Wah, ternyata ia telah tak sabar kepengin saya kencani, pikirku. Mungkin gres pertama ia berjumpa dengan pria jantan sepertiku di pesta perkawinan dulu. Kemudian aku telepon Lia untuk menanyakan kepastian kepergian Pak Arief ke Singapore, yang dijawab bahwa semuanya telah confirm dan Pak Arief akan berangkat tiga hari lagi.

Setelah satu jam setengah aku menanti, terdengar suara bel kamarku. Kubuka pintu kamarku dan terlihat Dita bareng seorang gadis belia, Tari.
“Maaf Pak Robert. Tadi Tari gres pulang dari latihan pramuka di sekolahnya” argumentasi Dita. Mungkin terlihat di wajahku bila saya kesal menunggu mereka.
“OK nggak apa.. Ayo masuk” kataku sambil mengamati Tari.
Hari itu ia mengenakan tanktop yang menawarkan bahunya yang putih mulus. Juga rok mini jeans yang dikenakan menambah bagus penampilannya. Tubuhnya termasuk bongsor untuk anak seusia dirinya. Dari balik tanktopnya tersembul buah dadanya yang gres tumbuh. Yang membuat saya kagum yaitu parasnya yang bagus dan terkesan innocent.

“Tari.. Ini Oom Robert” kata Dita memperkenalkanku padanya.
Kuulurkan tanganku dan disambutnya sambil berkata lirih, “Tari..”
Kemudian kami bertiga duduk di sofa, dengan Tari duduk disamping sedangkan Dita berhadapan denganku. Kurengkuh bahu Tari dengan tangan kiriku, sambil kuelus-elus sayang.
“Gimana Pak.. OK khan” Dita bertanya

“OK.. Kamu jemput lagi aja nanti” jawabku sambil mengelus dan meremas lengan Tari yang mulus itu gemas. Setelah itu Dita pamitan, tentu saja sehabis menerima pembayarannya.
“Kamu lapar nggak Tari? Kita pesan makanan dahulu yuk” saranku.
Dia hanya menganggukkan kepalanya. Sekarang memang sudah waktunya makan malam, dan saya tidak mau staminaku tidak prima hanya alasannya perutku yang lapar. Apalagi ternyata gadis yang dibawa Dita ini cantik sekali.
“Pesan apa?” tanyaku sambil memperlihatkan room service menu padanya.
“Nasi goreng aja Oom”
“Minumnya?”
“Minta susu boleh Oom?” jawabnya.
Langsung aja aku pesan beefsteak dan bir untukku, dan nasi goreng serta susu untuk Tari. Sambil menanti pesanan datang, kamipun menonton TV.

“Channelnya Tari ganti ya Oom” katanya sambil mengambil remote.
“Oh ya.. Oom juga bosen lihat perang terus” jawabku sambil mengagumi keindahan Tari.
Setelah beliau duduk, kuelus-elus rambutnya yang berpita dan panjangnya sebahu itu. Tari kemudian mengganti channel TV ke channel Disney. Rupanya dia suka menonton film kartun. Maklum masih anak-anak, pikirku.
“Kamu telah punya pacar?” tanyaku sehabis kami melamun beberapa saat.
“Belum Oom..”

“Kenapa?” tanyaku lagi
“Tari khan masih kecil..” katanya sambil terus menatap adegan kartun di TV.
Aku pun kian agresif mendengar jawabannya. Yah.. Akulah nantinya yang hendak menikmatimu untuk pertama kalinya he.. He.. Kuciumi pipinya sambil kuelus-elus pahanya. Tari nampak tak terbiasa dan bergerak agak mengelak . Pahanya yang putih mulus makin tersibak menampakkan panorama yang indah. Tanganku kemudian meraba dadanya yang gres berkembang itu. Kemudian kupegang wajahnya dan kucium bibirnya. Tampak sekali bahwa dia belum terlatih dalam hal seperti ini. Tanganku telah ingin melucuti tanktopnya ketika datang-tiba bel kamarku berbunyi.

“Room Service” terdengar bunyi di depan kamarku.
Akupun bangkit meninggalkan Tari untuk membuka pintu. Tampak ada perasaan lega di raut tampang Tari ketika aku beranjak pergi.
“Ada pesanan lagi Pak?” tanya petugas room service setelah menaruh makanan di meja.
“Nggak” jawabku
“Mungkin buat anaknya?” tanyanya lagi
“Mungkin nanti menyusul” kataku sambil menandatangani bill yang diserahkannya.
Aku geli juga mendengar si petugas menduga Tari yaitu anakku. Memang layak sih dilihat dari perbedaan umur kami.

Kamipun lalu menyantap makanan kami. Tari menikmati nasi goreng dan segelas susunya sambil terus menonton kartun kesayangannya.

“Mau buah Tari?” kataku sambil mengambil buah-buahan dari minibar.
“Nggak Oom.. Udah kenyang. Dibungkus aja boleh ya Oom.. Untuk adik di rumah” katanya.
Hm.. Benar-benar anggun ini anak, pikirku. Dalam hati saya kasihan juga pada beliau, tetapi saya tak mampu menahan nafsu birahiku untuk menikmati tubuhnya yang muda itu.
Aku makan satu buah apel dan kuberikan sisanya padanya. Diterimanya buah-buahan itu dan lalu dimasukkan dalam tasnya. Akupun kembali duduk disampingnya dan lalu kuambil remote dan kumatikan TVnya.

“Ayo sayang kita mulai ya..” kataku sambil menciumi pundaknya yang terbuka.
Aku lalu beralih menciumi bibirnya sambil tanganku meremas-remas dadanya. Tak ada response darinya. Ketika tangannya yang mungil aku letakkan di atas kemaluanku, dia diam saja.
“Kok diam saja sih!!” Bentakku.
“Oom.. Tari nggak pernah Oom.. Belum ngerti” jawabnya lirih ketakutan.
“Ya sudah sini kau..” kataku sambil beranjak ke meja dimana laptopku berada. Tari mengikutiku dari belakang. Langsung kusetel film BF yang aku simpan di dalam harddiskku.
“Ayo sini duduk Oom pangku” kataku.

Taripun duduk di atas pangkuanku sambil melihat adegan persetubuhan dimana seorang wanita bule cantik sedang dengan rakusnya mengulum kemaluan orang berkulit hitam.
Mata Tari terlihat kagum melihat adegan yang pasti gres pertama kalinya ia lihat itu. Sementara saya menciumi dan menjilati bahu dan lehernya yang jenjang dari belakang. Tangankupun telah masuk ke dalam tanktopnya dan meremas-remas buah dadanya yang masih tertutup BH itu. Kutarik ke atas cup BHnya sehingga tangankupun leluasa menjelajahi dan meremas buah dadanya yang mulai tumbuh itu. Kupilin perlahan puting dadanya yang mulai mengeras.

“Oom.. Jangan Oom.. Tari aib” katanya sambil menatap adegan di laptopku dimana si wanita bule sedang mengerang-erang lezat disetubuhi dari belakang.
“Nggak usah aib sayang” jawabku sambil agak memutar tubuhnya sehingga saya leluasa menikmati dadanya.
Kulumat buah dada yang baru berkembang itu dan kujilat kemudian kuisap putingnya yang kecil berwarna merah muda itu. Sementara tanganku yang satu telah merambah paha sampai tentang celana dalamnya.
“Pelan-pelan Oom.. Sakit” desahnya saat tanganku mengusap-usap kemaluannya setelah celana dalamnya saya sibak. Mulutku masih sibuk mencari kepuasan dari buah dada anak belia ini.
“Kamu anggun sekali Tari.. Ohh yeah..” kataku meracau sambil mengulum dan menjilati buah dadanya.
Tanganku mengelus-elus pundaknya yang jernih, sedangkan yang satunya sedang merambah kemaluan anak perawan ini. Kemaluanku tampak memberontak di dalam celanaku, bahkan telah mengeluarkan cairannya karena sudah sangat terangsang.

Kuturunkan Tari dari pangkuanku, dan akupun bangun didepannya. Kuciumi bibirnya dengan ganas sambil tanganku meremas-remas rambutnya.

“Emmhh.. Emmhh..” hanya itu yang terdengar dari mulut Tari.
Kumasukkan lidahku dan kujelajahi rongga mulutnya. Sementara kuraih tangan Tari dan kuletakkan ke kemaluanku yang sudah sungguh membengkak. Tetapi lagi-lagi beliau cuma membisu saja. Memang dasar bawah umur, belum tahu cara membuat puas lelaki, pikirku. Dengan agak kesal kutekan pundaknya sehingga ia berlutut di depanku. Dia agak berontak akan berdiri lagi.
“Ayo.. Berlutut!!” kataku sambil menarik rambutnya.
Tampak air mata Tari berlinang di sudut matanya. Dengan cepat aku lepas celana dan celana dalamku, sehingga kemaluanku bangkit dengan gagah di depannya.
“Ayo isap!!” perintahku pada Tari yang tampak panik melihat kemaluanku yang sebesar lengannya itu. Kugenggamkan tangannya pada kemaluanku itu.
“Ampun oomm.. Jangan Oom.. Besar sekali.. Nggak muat Oom” katanya mengiba-iba. Terasa tangannya bergetar memegang kemaluanku.

“Ayo!!” bentakku sambil mempesona rambutnya sehingga kemaluankupun menjamah wajahnya yang imut dan innocent itu.

Tampak Tari sambil menahan tangisnya membuka mulutnya dan akupun sambil berkacak pinggang menyorongkan kemaluanku padanya.
“Aahh.. Yes.. Make Daddy happy..” desahku dikala kemaluanku mulai memasuki mulutnya yang mungil. Akupun mengelus-elus rambutnya yang berpita itu dengan penuh kasih sayang dikala Tari mulai menghisapi kemaluanku.

“Ayo jilati batangnya.. Sayang” kataku sambil mengeluarkan kemaluanku dari mulutnya. Taripun mulai menjilati batang kemaluanku dengan perlahan.
“Ayo isap lagi” instruksiku lagi sambil tanganku mengangkat dagunya dan menyorongkan kemaluanku padanya.

Taripun mulai lagi mengulum kemaluanku, walaupun cuma ujungnya saja yang masuk ke dalam mulutnya. Kutekan kemaluanku ke dalam mulutnya sehingga hampir separuhnya masuk kedalam mulutnya. Tampak beliau tersedak ketika kemaluanku mengenai kerongkongannya. Dikeluarkannya kemaluanku untuk mengambil nafas, sementara saya tertawa geli melihatnya.

“Sudah. Oom.. Jangan lagi Oom” Tari memohon. Air matanya tampak menetes di pipinya
“Oom belum puas. Ayo lagi!!” bentakku sambil menjambak rambutnya, sehingga parasnya terdongak ke atas menatapku.

Taripun terisak menangis, namun lalu beliau kembali menjilati dan mengulum kemaluanku. Pemandangan di kamar hotel itu sangatlah indah menurutku. Seorang laki-laki dewasa dengan tubuh tinggi besar sedang berkacak pinggang, sementara seorang anak di anak-anak dengan paras tanpa dosa sedang mengulum kemaluannya.

Mungkin sekitar 15 hingga 20 menit aku ajari anak perawan itu cara untuk menawarkan kepuasan oral pada laki-laki. Setelah itu saya merasakan kemaluanku akan meledakkan cairan ejakulasinya.
“Buka mulutmu!!” perintahku pada Tari sambil mengeluarkan kemaluanku dari kulumannya.
Kemudian kukocok-kocok kemaluanku sebentar, dan lalu muncratlah cairan spermaku ke dalam mulutnya dan sebagian tentang wajahnya.

“Oh.. Yeahh.. Nikmat.. Kamu hebat Tari..” erangku saat orgasme.
“Ayo telan!!” perintahku lagi ketika melihat ia akan memuntahkan spermaku keluar.
Tampak beliau berusaha menelan spermaku, walaupun alasannya adalah jumlahnya yang banyak, sebagian meleleh keluar dari mulutnya. Diambilnya tisu dan dibersihkannya wajahnya sambil membetulkan pakaiannya sehingga rapi kembali. Dia pun kemudian mengambil dan meminum habis sisa susunya. Sementara saya pergi ke toilet untuk buang air kecil.

Sekembalinya saya dari toilet, tampak Tari sedang duduk bingung di sofa. Pandangan matanya terlihat kosong dan berkembang menjadi takut saat melihat aku menghampirinya. Aku tersenyum dan duduk disampingnya. Kembali kuelus-elus pundak dan tangannya.

“Omm.. Tari pengin pulang Oom.. Tari kecapekan..” katanya.
“Yach kau istirahat dulu aja sayang” jawabku sambil mencium pipinya.
Kamipun duduk melongo. Kusetel kembali TV yang masih menayangkan acara kartun kesukaannya itu. Kuusap-usap tubuhnya yang duduk di sampingku sambil sesekali kuciumi. Aku menanti sampai kejantananku berdiri kembali.

Aku beranjak ke meja dimana laptopku masih menayangkan adegan syur sejak tadi. Di layar sekarang seorang pria bule sedang dihisap kemaluannya oleh dua wanita bagus. Yang satu bule juga, sedangkan lainnya wanita Asia, jikalau tidak salah Asia Carrera namanya. Memang film bikinan Vivid ini anggun sehingga saya menyimpannya di harddiskku. Melihat adegan demi adegan di layar, kejantananku pun perlahan berdiri kembali. Kudatangi sofa dimana Tari berada. Tari terlihat gusar dikala aku berlutut di depannya.
“Aku ingin menikmati memekmu sayang” kataku sambil menyibakkan rok mininya. Kuciumi pahanya dan kujilati sampai mengenai celana dalamnya. Kemudian kulepas celana dalamnya itu sehingga vaginanya yang higienis tak berbulu itu terlihat mempesonaku.

“Jangan Oom.. Tolong Oom” kata Tari saat tanganku mulai meraba kemaluannya. Karena gemas, pribadi saya jilati dan isap vaginanya. Lidahku menari-nari dan kumasukkan ke dalam liangnya yang perawan itu.
“Uhh.. Ampun Oom..” erangnya saat aku mendapatkan klitorisnya dan pribadi kuhisap. Sementara tanganku naik ke atas meremas buah dadanya. Kupilin-pilin putingnya sehingga mulai mengeras. Sementara vaginanya pun sudah mengeluarkan lendir tanda beliau sudah siap untuk disetubuhi.
“Ayo kita lanjutkan di ranjang, elok..” kataku sambil merengkuh tubuhnya dan menggendongnya. Aku ciumi bibirnya sambil badannya tetap saya gendong menuju kamar tempat tidur.

Kurebahkan tubuhnya di ranjang, dan akupun mulai melucuti pakaianku. Tampak kemaluanku sudah kembali membesar ingin diberi kenikmatan oleh anak kecil ini. Tari terlihat memandangku dengan tatapan mengiba. Matanya menampakkan cemas menyaksikan ukuran kemaluanku.
Langsung kuterkam tubuhnya di ranjang dan kuciumi parasnya yang manis. Kubuka tanktopnya juga BHnya dan kulempar ke lantai. Langsung kusantap buah dadanya yang masih dalam era kemajuan itu, dan kujilati dan kuisapi putingnya hingga mengeras.

Lalu kubuka rok mininya, sehingga Taripun telah telanjang bundar pasrah di atas ranjang. Jariku kemudian menari merambah vaginanya dan mengusap-usap klitorisnya.
“Tolong jangan Oom.. Aduh.. Oom.. Jangan Oom.. Tari masih perawan Oom.” rengeknya. Aku menghentikan kegiatanku dan menatapnya
“Memangnya Bu Dita bilang apa?” tanyaku
“Katanya Tari nggak akan diperawani. Cuma dipegang dan diciumi aja” jawabnya terisak. Mendengar itu timbul perasaan iba alasannya ternyata beliau telah dibohongi oleh Dita.
“Ya sudah..
“Kataku.
“Kamu hisap lagi aja kontol Oom seperti tadi” perintahku.
Akupun lalu tidur telentang dan Taripun kutarik hingga wajahnya berada di depan kemaluanku yang sudah bangkit tegak. Kutekan kepalanya perlahan, hingga Taripun kembali memperlihatkan kenikmatan mulutnya pada kemaluanku. Tampak dari tatapanku, kepalanya naik turun menghisapi kemaluanku. Tangankupun mengelus-elus rambutnya sarat rasa sayang mirip rasa sayang bapak kepada anaknya.
“Ya terus.. Sayang” erangku menahan nikmat yang tiada tara.

Setelah beberapa menit, kutarik tubuhnya sehingga wajahnya sempurna berada diatas wajahku. Kuciumi bibirnya sambil tanganku meremas-remas pantatnya. Kemudian kubalikkan badannya, sehingga badanku yang tinggi besar menindih tubuh belianya. Kusedot puting buah dadanya dan kugigit-gigit sehingga menyebabkan bekas memerah.

Lalu kurenggangkan pahanya, dan kuarahkan kemaluanku ke vaginanya.
“Jangan Oom.. Ampun Oom.. Jangan.. Ampun..” rengek Tari ketika kemaluanku mulai menyentuh bibir vaginanya.

Aku tambah bernafsu saja mendengar rengekannya, dan kutekan kemaluanku sehingga mulai menerobos liang vagina perawannya. Terasa sesuatu menghalangi kemaluanku, yang niscaya yaitu selaput daranya
“Ahh.. Sakiitt..” jeritnya menahan tangis saat kutekan kemaluanku merobek selaput daranya.
Kutahan sebentar menikmati dikala saya mengambil keperawanan anak ini, lalu kugerakkan pantatku maju mundur menyetubuhinya.

“Ah.. Nikmat.. Ahh.. God.. Memekmu lezat Tari.” racauku
“Oh.. Ampun.. Sakit.. Udah Oom.. Ampun..” Tari merintih kesakitan sambil menangis.
“Yes.. You naughty girl.. Daddy must punish you.. Yeah..” saya kembali meracau kenikmatan.
Kugenjot terus kemaluanku, dan aku mencicipi nikmatnya jepitan vagina Tari yang sungguh sempit itu. Tampak air mata Tari meleleh membasahi pipinya, dan saat kugenjot kemaluanku tampak parasnya menyeringai menahan sakit.

Kemudian kutarik pahanya sehingga melingkari pinggangku, dan sambil duduk di ranjang kugenjot lagi vaginanya. Tanganku sibuk menjelajahi buah dadanya.
Bosan dengan posisi itu, kubalikkan badannya dan kusetubuhi dia dengan gaya “doggy style”. Sudah tak terdengar lagi rengekan Tari, cuma suara erangannya dan isak tangisnya yang memenuhi ruangan itu.
“Ahh.. Sakit Oom ampun..” rengeknya kembali saat rambutnya kutarik sehingga parasnya terdongak ke atas.
Sambil kusetubuhi tubuhnya, kadang kuciumi dan kugigiti pundak dan lehernya dari belakang, sambil tanganku memerah buah dadanya.
Setelah kurang lebih satu jam saya setubuhi beliau dengan berbagai macam posisi, akupun tak tahan untuk mengeluarkan cairan ejakulasiku. Kubalikkan badannya dan kugesek-gesekkan kemaluanku di dadanya. Kadang kugesek-gesekkan juga ke seluruh parasnya.

“Ahh.. Memang lezat perawan kamu Tari..” erangku sambil menumpahkan spermaku di dadanya.
Akupun kemudian bergegas menuju toilet untuk membersihkan diri. Kemaluanku pun kubersihkan dari sisa sperma bercampur darah perawan Tari. Sekembalinya saya dari toilet, kulihat Tari masih terbaring di ranjang sambil menangis terisak-isak. Kubiarkan saja ia di sana, karena aku sudah merasa puas dan merasa menjadi lebih muda sesudah mereguk kenikmatan dari anak itu.
Kuminum sisa birku, dan kutelepon Dita untuk menjemput Tari. Tak usang, Dita pun tiba.
“Gimana Pak Robert?” tanyanya tersenyum.

“Wah.. Puas.. Tuh anak lezat banget” kataku tertawa kecil.
“Syukurlah Pak Robert puas. Sengaja saya pilihin yang manis kok Pak” katanya lagi.
“Percaya deh sama Dita. Tuh anaknya masih di kamar”
Dita pun masuk ke kamar tidur sedangkan saya nonton TV di sofa. Lagi-lagi masih info perang di CNN. Sementara itu, terdengar Tari menangis di kamar sedangkan Dita berusaha menghiburnya. Setelah kurang lebih setengah jam, merekapun muncul dari dalam kamar tidur.

“Saya permisi dulu Pak Robert” pamit Dita.
“Oh ya Dit.., bila ada yang cantik lagi telepon ya. Untuk obat kekal muda.” jawabku sambil mengedipkan mataku.
“Beres Pak” jawabnya sambil menggandeng Tari keluar.
“Ini tasnya ketinggalan” kataku sambil menyerahkan tas Tari yang berisi buah-buahan untuk adiknya itu. Kuperhatikan mata Tari masih sembab, dan jalannya pun agak pincang dikala meninggalkan kamar hotelku.
Tak lama akupun cek out dari hotel. Dalam perjalanan pulang ke apartemenku, aku mampir di panti pijat langgananku. Tubuhku agak pegal setelah meniduri Tari tadi. Setelah dipijat, dan mandi air hangat, tubuhku terasa sungguh segar. Akupun bergegas pulang dengan mengendarai Mercy silver metalik kesayanganku. Tak lupa kusetel lagu Al Jarreau kesayanganku.

0 Response to "Cerita Remaja Perawan Amel"

sosial bar