Cerita Mesum Dengan Mertua Binal
By Blinger
—
Senin, 19 Februari 2018
—
Add Comment
—
Cerita Dewasa,
Cerita Lesbian,
Cerita Mesum,
Cerita Ngetot,
Cerita Sex
Pesonaceritaku.com - Cerita Mesum Dengan Mertua Binal - Berita tentang rencana acara perayaan tiga tahun meninggalnya almarhum ayah mertuaku yang disampaikan Rosyid kerabat istriku dari kampung, tidak terlalu mengagetkan. Karena saya dan istriku Marni telah memperhitungkan sebelumnya hingga telah merencanakan budget untuk keperluan kegiatan itu guna membantu ibu mertuaku. Namun yang membuatku terkejut, sebelum pulang Rosyid menyeretku dan berbisik memberitahu bahwa di kampung belakangan santer beredar gosip bahwa ibu mertuaku ada main dengan Barnas, tukang ojek warga setempat.
Cerita Mesum Dengan Mertua Binal
"Saya kira Barnas cuma mengincar duitnya Bude Amah (nama ibu mertuaku Salamah). Bude kan sudah renta, kurun sih Kang Barnas mau jika nggak ngincar uangnya," kata Rosyid, dikala saya mengirim ia keluar rumah dan tidak ada Marni di erat kami. Menurut Rosyid, dia menyampaikan itu supaya aku jangan terkejut jikalau mendengarnya. Juga dibutuhkan mampu mengingatkan ibu mertuaku.
Karena berdasarkan Rosyid, warga kampung sudah geregetan dan berencana menggerebeknya kalau sampai ketahuan. "Terima kasih informasinya Sid. Saya akan menjajal mengingatkan ibu jikalau ada ketika yang tepat. Saya nanti pulang sendiri ke kampung alasannya kehamilan Marni sudah hampir memasuki bulan ke sembilan," ujarku sebelum Rosyid pergi dengan sepeda motornya.
Kabar perselingkuhan ibu mertuaku dengan tukang ojek itulah yang membuatku banyak terdiam dalam bus yang membawaku dari Jakarta menuju ke desa di suatu kabupaten di Jawa Tengah. Seperti halnya Rosyid, saya juga tidak habis pikir kenapa ibu mertuaku hingga terlibat menduakan dengan Barnas. Sebagai bekas istri Sekdes dan termasuk orang berada di kampungnya, ibu mertuaku termasuk cerdik merawat diri di samping termasuk tidak mengecewakan bagus. Maka walaupun usianya sudah 52 tahun, masih nampak sisa-sisa kecantikannya. Wanita berkulit bersih itu juga bisa dikatakan masih menyimpan pesona untuk membangkitkan hasrat lelaki. Jadi tidak benar pikiran Rosyid bahwa ibu mertuaku tidak mempesona lagi bagi laki-laki. Bagian pantat dan busungan buah dadanya memang masih menantang. Aku tahu itu karena ibu mertuaku sering cuma mengenakan kutang dan menutup tubuhnya dengan balutan kain panjang ketika di dalam rumah. Bagian dari tubuh ibu mertuaku yang sudah kurang menawan hanya pada bagian perutnya. Seperti pada umumnya wanita seusia ia, perutnya telah tidak rata. Juga lipatan yang telah mulai timbul di bab leher dan kelopak matanya.
Namun untuk bab tubuh yang yang lain, sungguh masih bisa membuat jakunku turun naik. Kakinya yang panjang, betisnya masih membentuk bulir padi dengan paha yang mulus dan membulat kekar. Dadanya juga sungguh bahenol. Entah jikalau soal masih kenyal dan tidaknya. Aku sendiri suka ngiler sebab tetek istriku tak sebesar punya ibunya itu di samping kulit istriku tak secerah kulit ibunya. Pernah saat ibu berkunjung dan menginap beberapa lama di rumahku, saya hampir gelap mata. Saat itu Marni istriku gres melahirkan anak pertamanya. Ibu sengaja tiba dan tinggal cukup usang untuk mengambil alih tugas Marni mengelola dapur. Saat tinggal di rumahku, kebiasaan ibu mertuaku di desa yang cuma mengenakan kutang dan membalut tubuh bab bawah dengan kain panjang dikala di rumah, tetap dilakukannya. Alasannya, Jakarta sungguh panas sampai ia merasa lebih nyaman berbusana ala Tarzan mirip itu. Sebenarnya tidak ada problem, karena ibu mertuaku cuma berpakaian mirip itu dikala ada di dalam rumah.
Namun khusus bagiku saat itu jadi terasa menyiksa. Betapa tidak, sementara mesti berpuasa syahwat karena istri yang tidak mampu melayani selama 40 hari sesudah melahirkan sementara setiap dikala saya seolah disodori panorama menggiurkan performa ibu mertuaku. Apalgi ibu mertuaku tanpa merasa risi sering berpakaian setengah telanjang menunjukkan bab-bab tubuhnya yang masih merangsang di hadapanku. Bahkan kutang yang dipakainya kerap terlihat kekecilan hingga susunya yang besar tidak bisa muat sepenuhnya terbungkus kutang yang dipakainya. Aku jadi tersiksa, terpanggang oleh nafsu yang tak tersalurkan.
Aku bahkan pernah gelap mata dan hampir nekad. Malam itu, saat hendak buang air kecil ke kamar mandi, aku sempat berpapasan dengan ibu mertuaku yang juga baru dari kamar mandi. Namun yang menciptakan mataku melotot, dia keluar dari kamar mandi hampir bugil. Hanya mengenakan BH, sementara kain panjang yang umum dipakainya belum dilitkan di tubuhnya. Mungkin ia menerka siapa saja sudah tidur. Bahkan dengan santainya, sambil jalan digunakannya kain panjang itu untuk mengelap bagian bawah tubuhnya yang basah. Terutama di selangkangannya untuk mengelap memeknya yang baru tersiram air. "Ee..ee.. kau belum tidur Win?," katanya tergagap ketika menyadari kehadiranku. "Be.. be.. belum Bu. Saya mau ke kamar mandi dulu," ujarku sambil memelototi tubuh telanjangnya itu.
Ia jadi tersipu dikala merasa sorot mata menantunya terarah ke selangkangannya. Ia berusaha dengan susah-payah melilitkan kain panjangnya untuk menutupi bagian tubuhnya itu. Lalu bergegas menuju ke kamarnya. Namun sebelum masuk ke kamar dia sempat berpaling dan melempar senyum padaku. Senyum yang sangat sulit kuartikan. Jadilah malam itu menjadi malam yang sungguh menyiksa. Sebab kendati sepintas aku sempat menyaksikan kemulusan pahanya serta memeknya yang berjembut lebat serta pinggul dan pantatnya yang besar. Akibatnya kejantananku yang telah hampir setengah bulan tak mendapatkan penyaluran eksklusif berdiri mengacung dan tidak ingin ditidurkan. Kalau tidak menimbang bahwa dia adalah ibu dari wanita yang sekarang menjadi istriku dan nenek dari anakku, rasanya aku nyaris nekad mengetuk pintu kamarnya. Sebab dari senyumnya tampaknya dia memberi potensi .
Dan aku sangat percaya di usianya yang sudah 52 tahun beliau masih mempunyai kehendak untuk disentuh pria. Untuk meredakan ketegangan yang telah naik ke ubun-ubun, malam itu saya menyalurkan sendiri keinginan seksualku dengan beronani. Aku mengocok di kamar mandi sambil membayangkan nikmatnya meremasi tetek besar ibu mertuaku serta menancapkan kontolku ke lubang memeknya yang berbulu sangat lebat. Cerita soal ibu mertuaku yang terlibat perselingkuhan dengan tukang ojek, ternyata bukan isapan jempol. Itu kutahu sesudah hingga di kampungku. Aku mendapatkan kepastian itu dari Ridwan, temanku yang menjadi guru di salah satu Sekolah Dasar di kampungku. Aku memang sempat mampir ke rumahnya sebelum ke tempat tinggal ibu mertuaku.
"Kalau mungkin sesudah program peringatan almarhum ayah mertuamu, sebaiknya Bu Amah kau ajak saja ke Jakarta Win. Jadi tidak menjadi malu keluarga. Soalnya orang-orang sudah mulai menggunjingkan," kata ia ketika aku berpamitan. Kuakui saran Ridwan memang sangat tepat. Tetapi kalau ibu mertuaku menolak, rasanya sulit juga untuk memaksanya. Untuk berterus terperinci bahwa telah banyak warga kampung yang tahu bahwa ibu mertuaku berselingkuh dengan Barnas dan warga berniat menggerebeknya, ah rasanya sungguh tidak layak mengingat kedudukanku selaku menantu. Setelah berpikir keras dalam perjalanan ke tempat tinggal ibu mertuaku, kutemukan suatu solusi. Bahkan saat saya mulai mempertimbangkan langkah-langkah yang hendak kulakukan, tak terasa batang penisku jadi menegang. Hingga aku secepatnya bergegas supaya secepatnya sampai ke rumah dan tidak kemalaman.
Aku takut ibu mertuaku sudah tidur dan tidak bisa menjalankan siasatku. Ternyata ibu mertuaku belum tidur dan beliau sendiri yang membukakan saat aku mengetuk pintu. Seperti biasa setelah kucium tangannya, ibu eksklusif memelukku. Namun berbeda dari biasanya, pelukan ibu mertuaku yang lazimnya kusambut biasa-biasa saja tanpa perasaan kali ini sungguh kunikmati. Bahkan kudekap akrab hingga tubuhnya betul-betul merapat ke tubuhku. Seperti biasa beliau cuma memakai kutang dan melilitkan kain panjang di pinggangnya. Saat kupeluk buah dadanya terasa menekan lembut ke dadaku. Teteknya yang besar masih tidak mengecewakan kenyal, begitu aku membathin sambil tetap memeluknya.
Bahkan dengan sengaja aku sempat mengusap-usap punggungnya dan mukaku sengaja kudekatkan sampai pipiku dan pipinya saling melekat. Tidak hanya itu, saya yang memang punya planning tersendiri, sengaja mencoba memancing reaksinya. Puas merabai kehalusan kulit punggungnya, tanganku meliar turun. Ke pinggangnya dan terus ke bokongnya yang terbalut lilitan kain panjang. Tampaknya ibu mertuaku tidak memakai celana dalam. Karena tidak kurasakan adanya pakaian dalam yang dikenakan. Namun yang membuatku kian terangsang, pantat besar ibu mertuaku ternyata masih cukup liat dan padat. Ah, pantas saja Barnas mau menjadi pasangan selingkuhnya. Rupanya Barnas punya selera yang cantik juga pada badan perempuan, pikirku kembali membathin. Entah tidak menyadari atau menikmati yang tengah kulakukan, ibu mertuaku tidak memprotes ketika tanganku mulai meremasi bongkahan pantatnya.
Namun setelah beberapa usang kesudahannya ia bereaksi. "Uu... udah Win nggak lezat jikalau tertangkap tangan si mbok. Ia belum tidur, masih bersih-higienis di dapur," ungkapnya. "I.ii.. iya Bu. Maaf saya kangen banget sama ibu," "Marni dan Rafi nggak ikut Win?," kata ibu mertuaku. Kukatakan padanya kehamilan Marni telah masuk ke hitungan sembilan bulan dan Rafi sering rewel kalau berpergian jauh tanpa ibunya jadi mereka tidak ikut pulang. "Ohh... ya nggak apa-apa. Manto (adik istriku) juga katanya tidak mampu tiba. Dia hanya kirim wesel," ungkapnya lagi. Oleh ibu saya dikirim ke kamar yang umum kupakai bersama Marni saat mudik. Namun ketika ia menyuruhku mandi, kukatakan bahwa tubuhku agak meriang. "Oh.. agar si mbok ibu suruh merebus air untuk kau mandi semoga seger. Sudah kamu tiduran saja dahulu. Kalau mau nanti ibu pijitin dan dibalur dengan minyak dan bawang merah ditambah balsem gosok sehabis mandi biar hilang masuk anginnya,"
katanya sambil bergegas keluar dari kamar. Saat beliau melangkah pergi, kupandangi goyangan pantat besarnya yang tercetak oleh lilitan kain panjang yang dipakainya. Pantat yang masih padat dan liat. Perutnya memang mulai sedikit membuncit. Maklum sebab usianya telah tidak muda lagi. Namun dengan posturnya yang tinggi besar kekurangannya di bagian perut itu mampu tertutupi. Melihatnya gairahku semakin tak tertahan. Usai mandi dan makan malam, saya pamit pada ibu mertuaku untuk masuk kamar. Tetapi sambil jalan saya kembali berpura-pura seperti orang yang tengah tidak enak badan. Maksudku untuk mengingatkan ibu mertuaku perihal tawarannya untuk memijiti tubuhku. Dan benar saja, menyaksikan saya memegangi kepalaku yang bahu-membahu tidak sakit kepala ia langsung tanggap. "Oh ya mbok, tolong ambilkan minyak goreng, bawang merah dan balsem untuk memijit Nak Win. Sesudah itu si mbok tidur saja istirahat karena besok mesti siap-siap masak," perintah ibu mertuaku pada Mbok Dar, pembantu yang telah lama ikut keluarga istriku. Tidak lebih dari lima menit, ibu mertua menyusulku masuk kamar membawa piring kecil berisi minyak goreng, irisan bawang merah dan uang logam serta balsem gosok. "Katanya mau dipijit. Ayo buka kaos dan sarungnya.
Kalau dibiarkan mampu tambah parah masuk anginnya," ujarnya sehabis duduk di tepian ranjang kawasan saya tiduran. Saat itu aku cuma memakai celana dalam tipis di balik sarung yang kupakai. Maka sehabis sarung dan kaos kulepas, seperti halnya ibu mertuaku yang hanya memakai kutang dan membalut badan dengan kain panjang, tinggal celana dalam tipis yang masih menempel di tubuhku. Sepintas kulihat mata ibu mertuaku menatapi tonjolan yang tercetak di celana dalamku. Sejak memeluk dan meremas pantat ibu mertuaku serta mencicipi busungan buah dadanya menempel di dadaku, penisku memang mulai berdiri. Kuyakin batang kontolku itulah yang tengah menjadi perhatiannya. Boleh jadi ia mengagumi batang kontolku yang memang ukurannya tergolong panjang dan kekar.
Atau tengah membandingkan dengan milik Barnas? Kembali saya membatin. Ia memang tidak menatapi secara pribadi ke selangknganku. Tetapi sambil mencampurkan bawang merah, minyak dan balsem di piring untuk dibalurkan di tubuhku sebelum dipijat, sesekali ia mencuri pandang. Aku kian percaya bahwa gairahnya dalam urusan ranjang memang masih belum padam. Dan sebab lirikan mata ibu yang sering tertuju ke selangkanganku itulah saya menjadi kian berani melakukan siasat yang telah kurencanakan. "Bu sesungguhnya aku nggak meriang. Saya hanya ingin ngoborol berdua dengan ibu alasannya adalah kangen dan ada yang ingin disampaikan," ujarku akhirnya. Ibu mertuaku tampak kaget. Ia yang tadinya hendak membalurkan adonan balsem, minyak kelapa dan bawang merah ke dadaku diurungkannya dan menatapku penuh tanda tanya.
Bahkan terlihat makin panik ketika kukatakan bahwa yang ingin kuketahui yaitu soal keterkaitannya dengan Barnas, laki-laki yang berprofesi sebagai pengojek tergolong soal kegeraman masyarakat yang ingin menangkap lembap ibu dan selingkuhannya itu. Takut piring kecil berisi ramuan untuk urut yang dipegangnya tumpah alasannya adalah kekagetannya, segera kuambil alih. Sambil bangkit dari tidur, kuugenggam tangan ibu mertuaku sesudah piringnya kutaruh di meja kecil dekat tempat tidur. "Ibu ceritakan saja sejujurnya pada saya agar nanti jika hingga Marni tahu aku mampu membantu menerangkan dan memberinya pemahaman," kataku. "Jangan Win, tolong jangan. Jangan hingga Mirna tahu soal ini. Dia belum tahu kan?" Ibu mertuaku menghiba. Ia tampak makin cemas. "Belum Bu. Hanya saya yang tahu dari orang-orang. Makanya ibu ceritakan saja seluruhnya. Ibu benar-benar serius keterkaitannya dengan Barnas?" Setelah kudesak dan kuyakinkan bahwa aku tidak akan menceritakannya pada Marni, beliau kesannya bercerita. Menurutnya, beliau hingga berafiliasi dengan Barnas alasannya iseng dan kesepian. Setelah mencobanya sekali, berdasarkan pengukuhan ibu mertuaku, sebenarnya dia tidak bermaksud mengulangnya lagi. Takut menjadi gosip masyarakat.
Tetapi di setiap potensi Barnas sering tiba dan mendesak. Bahkan mengancam akan menceritakan kepada orang-orang jikalau ibu mertuaku tidak melayaninya. Hingga telah tiga kali terpaksa ibu mertuaku melayani Barnas. "Setelah bapaknya Marni tidak ada ibu sering kesepian Win. Sampai jadinya ibu khilaf," ungkapnya. "Kalau dengan Pak Lurah, hubungannya sejauh mana Bu," Aku mempertanyakan itu alasannya adalah selain dengan Barnas ada pula kabar miring yang kudengar dari teman di kampung, Pak Lurah juga sering bertandang ke tempat tinggal ibu mertuaku. Namun kabar miring itu ditepisnya tegas-tegas oleh ibu mertuaku. Ia mengakui beberapa kali Pak Lurah tiba ke tempat tinggal. Bahkan pernah mengajaknya untuk menikah siri atau menikah tidak resmi. Tetapi berdasarkan ibu mertuaku, beliau dengan tegas telah menolaknya sampai jadinya tidak pernah tiba lagi. "Ibu memang cantik dan sexy sih. Saya saja suka nggak tahan jika menyaksikan ibu," kataku menjajal memancing. "Huussh.. ngomong apa kau Win. Ibu kan telah bau tanah," "Eeh bener lho Bu.
Ingat nggak waktu saya memergoki ibu malam-malam keluar dari kamar mandi dan sempat menyaksikan i.. itunya Ibu?" Kuceritakan pada ibu mertuaku bahwa ketika itu saya benar-benar sungguh terangsang. Bahkan nyaris nekad menyusul ibu ke kamar. Namun karena takut ibu menolak, kesannya kuurungan. Hanya di kamar, sampai pagi aku tidak mampu tidur alasannya adalah hasrat yang tak terlampiaskan. Ibu tersenyum mendengar ceritaku. Menurutnya, ketika itu dia mempunyai perasaan serupa karena gairahnya juga lagi tinggi. "Kalau dikala itu kamu nekad masuk kemar niscaya kejadian deh," ungkapnya. Pengakuannya itu mendorongku bertindak nekad. Kulingkarkan tanganku ke pundaknya dan kukecup lembut pipi ibu mertuaku. Ia agak terkejut dengan tindakan nekadku itu tetapi tidak berupaya menolak. "Kalau begitu sekarang saja ya Bu. Saya pengin banget,' kataku berbisik di telinganya. "Ta.. ta.. tetapi Win," Tetapi ibu mertuaku tidak mampu melanjutkan kata-katanya alasannya mulutnya pribadi kusumbat dan kulumat dengan mulutku. Ia sempat gagap.
Namun dia yang mulanya cuma membisu atas serangan mendadak yang kulancarkan, kesannya memberi perlawanan saat lidahku mulai kujulurkan menyapu di seputar rongga mulutnya. Ia juga ikut melumat dan menghisap bibirku. Sambil terus melumat bibirnya, aku kian berani untuk bertindak lebih jauh. Kuremas teteknya yang masih terbungkus BH warna hitam. Namun alasannya kurang puas, tanganku merogoh untuk meremas pribadi gunung kembarnya. Payudaranya ternyata sudah agak kendur. Hanya ukurannya benar-benar mantap. Bahkan lebih besar dibanding susu Marni meski ia sedang mengandung. Putingnya juga besar dan menonjol. Aku jadi kian gemas untuk terus meremas dan memain-mainkan pentil-pentilnya. Ibu mertuaku menggelinjang dan mendesah. Bahkan tanpa kuminta dilepaskannya pengait pada BH yang dipakainya hingga penutup buah dadanya terlepas. Aku jadi semakin leluasa untuk terus meremasi teteknya.
"Tetek ibu udah kendor ya Win?" kata ibu mertuaku lirih. "Ah nggak. Tetek ibu besar dan mantep. Saya sangat suka tetek ibu. Ngegemesin banget," "Punya Marni juga besar kan?" "Tapi masih kalah besar di banding punya ibu ini," kataku sambil meremas gemas dan membuat ibu mertuaku memekik tertahan. Mertuaku yang semula pasif menyandar ke tubuhku sambil menikmati belaian dan remasan tanganku di teteknya, semakin terbangkitkan hasratnya.
Tangannya mulai menjalar dan menjamah kontolku. Mengelus dan meraba meski masih dari luar celana dalam yang kupakai. Mungkin beliau sudah kebelet ingin menggenggam dan menyaksikan penisku. Aku membantunya dengan memelorotkan celana dalamku. Benar saja, setelah terlepas ibu mertuaku eksklusif menjangkau batang zakarku. Mengelus kepala penisnya yang membonggol dan mengocok-ngocoknya perlahan batangnya. Tampaknya ia sungguh-sungguh jago untuk persoalan memanjakan pria. Bahkan biji-biji pelir kontolku diusap-usapnya perlahan. Sambil menikmati kocokannya, kulepas lilitan kain panjang yang membungkus badan ibu mertuaku. Tidak terlalu susah karena ia hanya melilitkan dan menggulungkannya di atas pusarnya. Sekali tarik eksklusif terlepas. Dugaanku tidak keliru. Ia tidak memakai celana dalam di balik kain panjang yang dipakainya. Wow memeknya terlihat sungguh membukit di antara kedua pangkal pahanya.
Aku yang telah dua bulan rahmat sebab perut Marni yang makin membesar balasan kehamilannya menjadi tidak tabah untuk secepatnya menyentuhnya. KUbaringkan badan ibu mertuaku lalu saya mengambil posisi berbaring dengan arah berlawanan. Maksudnya agar aku bisa leluasa menjangkau memeknya dan ibu tetap bisa bermain-main dengan kontolku. Bukan cuma tetek Marni yang kalah besar dengan milik ibunya. Dari sisi ukuran dan ketebalannya, memek mertuaku juga lebih unggul. Mantap dan menawarkan kehangatan yang menantang untuk direguk. Aku langsung mengecup dan mencerucupi inchi demi inchi organ vital milik ibu mertuaku. Menjilatinya mulai lipatan bab dalam pahanya sampai ke bab yang membukit dan ke celahnya yang hangat dan telah mulai basah. Ibu tidak mau kalah. Kurasakan biji-biji pelirku dijilati dan dicerucupi serta dikulumnya. Tubuhku mengejang menahan kenikmatan yang tengah diberikan ibu mertuaku. Meski harus setengah dipaksa, Marni memang sering mengulum penisku sebelum bersetubuh.
Namun yang dilaksanakan ibu mertuaku dengan mulutnya pada penisku sungguh menggetarkan. Kalau terlalu lama pertahananku bisa jebol dan KO sebelum dapat memberi kepuasan kepada ibu mertuaku. Aku tak mauibu mertuaku menyangsikan kejantananku. Apalagi di perselingkuhan pertama kami. Untuk mengimbangi permainannya, lidahku kubenamkan dalam-dalam di lubang memeknya dan mulai mencongkel-congkel itilnya. Tubuh ibu mertuaku tergetar saat ujung kelentitnya kukulum dan kuhisap-hisap dengan mulutku. Kudengar dia mulai mengerang tertahan. Ia membuka lebar-lebar pahanya dan menghentikan jilatan serta kulumannya pada kontolku. Rupanya ibu mulai menikmati permainan mulutku di liang sanggamanya. Itilnya makin menyembul keluar balasan pososi pahanya yang semakin mengangkang. Makin kuintensifkan fokus permainanku pada kelentitnya. Kukecupi, kuhisap dan kutarik-tarik itilnya dengan bibirku. "Aakkhhhh.... ssshh aahhhkkkhh lezat bangat Win. Kamu apakan itil ibu Win. Aakkkhh... aakhhhh... aaaaaahhhhh," Rintihan dan erangan ibu kian menjadi. Bahkan sesekali terlontar kata-kata jorok dari mulutnya. Bisa-bisa Mbok Darmi, pembantu ibu mertuaku yang tidur di belakang mendengar dan menaruh curiga. Maka langsung kutindih badan ibu dan kusumbat mulutnya dengan mulutku. Lalu dengan tanganku, kuarahkan kontolku ke liang sanggamanya.
Kugesek-gesekkan kepalanya di bibir luar memeknya dan kemudian kutekan. Akhirnya, ... ssleseeep.. bleeessss! Tubuh ibu mertuaku menggerinjal dikala batang penisku menerobos masuk di lubang memeknya. Ia memekik tertahan dan dicubitnya pantatku. "Ih.. jangan kenceng-kenceng nusuknya. Kontol kamu kegedean tahu...," kata ibu mertuaku namun tidak dalam nada marah. Seneng juga disanjung ibu bahwa ukuran penisku cukup gede. "Sama punya Barnas gede mana Bu?" Ibu rupanya kurang suka nama itu disebut. Ia agak merengut. "Membayangkan ibu disetubuhi Barnas saya cemburu Bu. Makanya aku pengin tahu," ujarku berbisik di telinganya. "Ibu tidak akan mengulang lagi Win. Ibu janji. Punya dia kalah jauh dibanding kontolmu. Memek ibu kayak nggak muat dimasuki kontolmu. Ah.. marem banget," jawabnya melegakan. Kembali ibu mendesah dan merintih dikala mulai kukocok lubang nikmatnya dengan penisku. Awalnya terdengar lirih.
Namun kian lama, saat ayunan dan hunjaman kontolku kian laju, kembali ia menjadi tak terkendali. Ia bukan cuma merintih namun mengerang-erang. Kata-kata joroknya juga ikut berhamburan. "Ah..sshh...aaahh terus Win.. ya.. ya terus coblos memek ibu. Ah..aaahhh... sshhh yummy banget kontolmu Win. Gede dan mantep banget.... aahhhh ....aaaooooohhhh.....ssshhhh," Celoteh dan erangannya membuatku makin kasar. Apalagi ketika ibu mulai mengimbangi dengan goyangan pinggulnya dan menciptakan batang kontolku serasa diremas-remas di lubang memeknya. Ternyata memeknya masih sungguh legit meski terasa sudah longgar dan kendur. Erangan ibu semakin keras dan tak terkendali, namun aku tak peduli. "Memek ibu juga lezat banget. Saya suka ngentot sama ibu. Sshhh.... aaahh.. yaa terus goyang bu... aahh.. ya. ya buu....aahsshhh," Berkali-kali hunjaman kontolku kusentakkan di lubang memek ibu mertuaku. Ia jadi membeliak-beliak dan bunyi erangannya makin kencang.
Goyangan pinggulnya juga terus berusaha mengimbangi kocokan kontolku di liang sanggamanya. Benar-benar lezat dan akil mengimbangi musuh mainnya. Bahkan, ini kelebihan lain yang tidak kutemukan pada diri Marni, memek ibu yang tadinya terasa longgar otot-otot yang ada di dalamnya sekarang seakan hidup. Ikut bergerak dan menghisap. Ini mungkin yang dinamakan memek empot ayam. Aku jadi ikut kesetanan. Sambil terus menyodok-nyodokkan kontolku di lubang vaginanya, pentil tetek kuhisap sekuatnya. Ibu mengerang sejadi-akhirnya. Saat itulah kedua kakinya melingkar ke pinggangku, membelit dan menekannya berpengaruh-kuat. Rupanya dia hendak mendapatkan puncak kenikmatannya. Makanya kusumbat lisan ibu dengan mulutku. Lidahnya kukulum dan kuhisap-hisap.
Akhirnya, sehabis kontolku serasa diperah cukup kencang, pertanahanku ikut jebol. Air maniku menyemprot cukup banyak di liang sanggamanya bercampur dengan cairan vaginanya yang juga membanjir. Tubuhku ambruk dan terkapar di segi wanita yang selama ini kuhormati sebagai ibu mertua. Entah berapa usang saya tertidur. Namun dikala bangun, ibu mertuaku telah tidak ada di ranjang tempat tidurku. Rupanya beliau sedang berada di daput menyebarkan teh panas untukku setelah membersihkan diri di kamar mandi. Seulas senyum menyembur di parasnya saat kami saling tatap sebelum aku masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

0 Response to "Cerita Mesum Dengan Mertua Binal"