Cerita Sampaumur Di Perkosa Menantu
By Blinger
—
Minggu, 18 Februari 2018
—
Add Comment
—
Cerita Dewasa,
Cerita Lesbian,
Cerita Mesum,
Cerita Ngetot,
Cerita Sex
Pesonaceritaku.com - Cerita Dewasa Di Perkosa Menantu - Berdiri di depan pintu rumahku, menantu permpuanku, Mirna, mendekatkan kepalanya ke arahku dan berbisik, “Kalau Ayah mau… aku nggak menolak.” Dia memberiku suatu kecupan ringan di pipi, dan berbalik lalu berjalan menyusul suami dan anaknya yang telah lebih dulu menuju ke mobil. Yoyok menempatkan bayinya pada dudukan bayi itu, dan seperti lazimnya , dia terlalu jauh untuk mendengar apa yang dibisikkan istrinya tercintanya kepada Ayah kandungnya.
Cerita Dewasa Di Perkosa Menantu
Mirna melenggang di jalan kecil depan rumah dengan riangnya bagai seorang gadis akil balig cukup akal yang menarik hati. Yoyok tak mengenali ini juga, ini semua dilaksanakan istrinya hanya untukku…
Mungkin kalian menerka saya terlalu mengada-ada soal ini, namun kenyataannya apa yang Mirna lakukan ini tidak cuma sekali ini saja. Dan sejak aku tak terlalu kagetlagi, aku merasa ada sesuatu yang hilang jika beliau tidak melakukannya ketika berkunjung ke rumahku. Aku merasa ada getaran pada penisku, dan selaku seorang lalaki lazimyang masih normal, pikiran ‘andaikan…A?a,?a"? yang wajar menurutku selalu hadir di benakku.
Mirna yakni seorang wanita yang berbadan mungil, tetapi meskipun begitu ukuran tubuhnya tersebut tak bisa menutupi pesona seksualnya. Sosoknya terlihat tepat dalam ukurannya sendiri. Dia mempunyai rambut hitam pekat yang dipotong sebahu, ia sering mengikatnya dengan bandana.
Dia mempunyai energi dan keuletan yang sepengetahuanku tak dimiliki orang lain. Sebuah keindahan nan manis kalau ingin mendiskripsikannya. Dia senantiasa sibuk, senantiasa terlihat seakan dikejar waktu tetapi tetap selalu terlihat anggun. Dia masuk dalam kehidupan keluarga kami semenjak dua tahun kemudian, tetapi dengan segera telah terlihat sebagai anggota keluarga kami sekian lamanya.
Yoyok bertemu dengannya ketika masih kuliah di tahun pertama. Mirna gres saja lulus SMU, mendaftar di kampus yang sama dan ikut kegiatan orientasi mahasiswa baru. Kebetulan Yoyok yang bertugas sebagai pengawas dalam kelompoknya Mirna. Seperti yang sering mereka bilang, cinta pada pandangan pertama.
Mereka menikah di usia yang terbilang muda, Yoyok 23 tahun dan Mirna 19 tahun. Setahun lalu bayi pertama mereka lahir. Aku ingat waktu itu kebahagian terasa sangat menyelimuti keluarga kami. Suasana saat itu kian membuat kami akrab. Mirna memiliki selera humor yang sungguh manis, senantiasa tersenyum riang, dan juga menyukai bola. Dia sering terlihat bercanda dengan Yoyok, mereka betul-betul pasangan serasi. Dia senantiasa memberi semangat pada Yoyok yang memang memerlukan hal itu.
Yoyok dan Mirna sering berkunjung kemari, menjinjing serta bayi meraka. Mereka telah mengontrak rumah sendiri, walaupun tak terlalu besar.
Aku pikir mereka merasa bila saya membutuhkan seorang sahabat, sebab saya seorang laki-laki tua yang akan merasa kesepian jika mereka tak sering berkunjung. Disamping itu, saya memang sendirian di rumah tuaku yang besar, dan saya yakin mereka suka bila berada disini, dibandingkan rumah kontrakannya yang sempit.
Ibunya Yoyok telah meninggal alasannya adalah kanker sebelum Mirna masuk dalam kehidupan kami. Sebenarnya, tanpa mereka, aku sungguh-sungguh akan jadi orang tua yang kesepian. Aku masih sungguh merindukan isteriku, dan jika saya terlalu menyesali itu, aku pikir, kesepian itu akan memakanku. Tapi pekerjaanku di perkebunan serta kunjungan mereka, sudah menyibukkanku. Terlalu sibuk untuk sekedar patah hati, dan terlalu sibuk untuk mencari perempuan untuk mengisi sisa hidupku lagi. Aku tak terlalu memusingkan kerinduanku pada sosok wanita. Tak terlalu.
Bayi mereka lahir, dan menjadi penerus keturunan keluarga kami. Kami sangat menyayanginya. Dan kehidupan terus berlangsung, Yoyok melanjutkan pendidikannya untuk gelar MBA, dan Mirna melakukan pekerjaan sebagai Teller di sebuah Bank swasta.
Kunjungan mereka padaku tak berganti sedikitpun, cuma bedanya kini mereka sering menjinjing beberapa bingkisan juga. Tentu saja, diasamping itu juga perlengkapan bayi, beberapa popok, mainan dan masakan bayi.
Beberapa bulan lalu Mirna dan bayi mereka tiba ketika Yoyok masih di kelasnya. Dia duduk disana menggendong bayinya di lengannya. Dia sedang berupaya untuk menidurkan bayinya. Aku tak tahu caranya, tapi panorama itu entah bagaimana telah menggelitik kehidupan seksualku.
“Ngomong-omong… kapan Ayah akan secepatnya menikah lagi?” beliau bertanya dengan getaran pada suaranya.
“Aku tak tahu. Aku nampaknya belum terlalu membutuhkan kehadiran seorang perempuan dalam hidupku. Lagipula, saya telah memiliki kalian yang menemaniku.”
“Aku tidak bicara tentang sobat. Aku sedang bicara soal seks.” matanya mengedip kearahku dikala dia bicara.
“Apa?”
“Ayah tahu, seks.” dia nyaris saja tertawa kini. “Ketika seorang laki-laki dan perempuan telah telanjang dan memainkan bagiannya masin-masing?”
“Ya, aku tahu seks,” aku membela diri. “Lagipula kau pikir darimana suamimu berasal?”
“Yah, aku hanya khawatir jikalau Ayah telah melupakannya. Maksudku, apa Ayah tak merindukan hal itu?”
“Terima kasih atas perhatianmu, namun saya telah terlalu tua untuk hal seperti itu.”
“Hei! Lelaki tak pernah jenuh dengan hal itu. Setidaknya begitulah dengan putramu.”
“Anakku jauh lebih muda dariku, dan beliau memiliki seorang istri yang cantik.”
“Terima kasih, namun saya masih tetap menganggap Ayah membutuhkannya,” dia menekankan suaranya pada kata ‘Ayah’.
“Terima kasih sudah ngobrol,” kataku, masih terdengar sengit. Ada sedikit jeda pada perbincangan itu, saat beliau masih menekan kehidupan seksualku. Aku pikir bukanlah urusannya untuk mencampuri hal itu meskipun kadang saya membayangkannya juga.
Dia pandang bayinya, yang jadinya tertidur, dan memberinya sebuah senyuman diam-diam, tampaknya mereka berdua akan mengembangkan suatu belakang layar besar. Masih memandangnya, namun ia mengatakan padaku, “Kalau Ayah mau… saya nggak menolak.”
“Apa!!!?”
“Aku serius.” Mirna menatapku. “Kalau Ayah menginginkan aku… Ayah adalah seorang lelaki yang tampan. Ayah memerlukan seks. Disamping itu, saya bersedia, kan?”
Aku pikir beliau sedang bercanda. Tapi perempuan yang menarik hati ini tidak sedang main-main. Tapi tetap saja tak mungkin aku melakukannya dengan istri dari anak kandungku sendiri. “Terima kasih atas tawarannya, tapi kupikir saya akan menolak tawaranmu.” suaraku terdengar penuh dengan keraguan saat mengucapkannya.
Mirna mencibirkan bibir bawahnya, saya tak bisa menduga apa yang sedang dirasakannya. Dia tetap terlihat menarik, dan saya merasa Yoyok sungguh mujur.
Dia bicara dengan pelan. “Dengar, Yoyok tak akan tahu. Maksudku, aku tak akan mengatakannya bila Ayah juga menjaga belakang layar. Dan bukan berarti aku menunjukkan diriku pada setiap laki-laki yang kutemui. Aku bukan perempuan mirip itu dan aku mampu mengontrol semoga sering berkunjung kemari. Dan aku tahu Ayah menganggapku cukup mempesona kan, alasannya adalah aku sering menyaksikan Ayah memandangi pantatku.”
Aku tak mungkin menyangkalnya. Mirna mungkin tak terlalu tinggi, tetapi ia memiliki bongkahan pantat yang indah diatas kedua kakinya. “Ya, kau memang mempunyai pantat yang indah. Tapi itu bukan bermakna kalau saya ingin berselingkuh dengan menantuku sendiri.”
Dia berhenti sejenak, tetapi Mirna kelihatannya tak akan mengalah begitu saja. “Yah, namun jangan lupa. “Kalau Ayah mau… aku nggak menolak.”
Dan itulah permulaan dari semua ini.
Seiring ahad yang berlalu, entah di sengaja atau tidak, dia seakan selalu berusaha untuk menggodaku, menciptakan puting sususnya menjamah dadaku saat beliau menyerahkan bayinya padaku untuk ku gendong. Atau dia masukkan jarinya di mulutnya ketika Yoyok tak melihat, dan menghisapnya dengan persepsi sarat kenikmatan ke arahku.
Suatu waktu dia duduk di lantai dengan kaki menyilang dan sedang bermain dengan bayinya, ia memandangku tepat di mata, tersenyum, dan menyentuh pangkal paha di balik celana jeansnya. Aku tak akan melewatkan hal itu. Dan beliau entah bagaimana senantiasa mendapatkan cara untuk berduaan denganku meskipun sesaat, dan beliau memberiku ciuman singkat yang penuh gairah, tepat di bibir. Itu semua dilakukannya berulang-ulang.
“Kalau Ayah mau… aku nggak menolak,” beliau berbisik di belakang Yoyok dikala suaminya itu sedang memasukkan DVD pada player.
“Kalau Ayah mau… saya nggak menolak,” ia berbisik saat mendekat untuk memberikan minuman padaku.
“Kalau Ayah mau… saya nggak menolak,” dia membisikkannya setiap kali dia berpamitan.
Dan sekarang, saya bukanlah yang dibuat dari batu, dan saya tak akan bilang tingkah lakunya itu tidak menunjukkan imbas terhadapku. Mirna sangat manis dan mungil, dan meskipun sesudah melahirkan bayi pertamanya tak menciptakan tubuhnya berubah mirip kebanyakan perempuan. Dia tetap langsing, dan anggun, dan beliau memberikan dirinya untuk kumiliki. Tapi aku tak akan mengawali langkah awal untuk tidur dengan menantuku sendiri, tak perduli semudah apapun itu.
Setidaknya itulah yang tetap kukatakan pada diriku sendiri.
Beberapa ahad yang lalu kami semua berkumpul di rumahku untuk melihat pertarungan bola. Aku mengambil beberapa kaleng minuman dan sedang berada di dapur untuk merencanakan beberapa kudapan dikala Mirna muncul dari balik pintu itu.
“Hai!” sapanya, membuka pintu dan masuk ke dapur. “Ayah sudah siap untuk pertandingan nanti?”
“Hampir. Aku sedang menciptakan masakan untuk keluarga kecil kita, dan saya punya beberapa wortel untuk cucuku. Aku pikir ia akan suka dan warnanya sama dengan kesebelasan yang mau bertanding nanti, kan?
Mirna tertawa dan berkata. “Aku rasa beliau tak akan perduli. Disamping itu bukankah ada hal lain yang lebih baik yang mampu Ayah kerjakan untukku?”
“Jangan menggodaku. Aku seorang kakek dan saya akan lakukan apa yang menurutku akan disenangi oleh cucuku.” saya memandangnya. Mirna berdiri di sana memakai bandana merah kesukaannya diatas rambutnya yang sebahu. Dia menggunakan kaos yang sedikit ketat yang bahkan tak hingga ke pinggangnya, dan pusarnya mengedip padaku dibalik kaosnya. Kancing jeansnya membuatnya kelihatan mirip bawah umur diera bunga tahun 60an, dan dia memakai sandal dengan bab bawah yang tebal yang menjadikannya lebih tinggi sepuluh centi.
Kuku kakinya dicat merah senada dengan lipstiknya, dan itu menjadi terlihat dengan sungguh mempesona dibalik denimnya. Dia senantiasa suka mengenakan aksesori, dan beliau memakainya pada leher, telinga, pergelangan tangan dan bahkan di jari kakinya. Dia membuatku berandai-andai jika saja aku masih cukup umur, jadi aku dapat memacari gadis sepertinya. Mungkin sebuah waktu nanti saya harus pergi ke kampus dan mencari gadis-gadis. Khayalanku terhenti dikala menyadari jika Yoyok dan bayinya tidak mengikutinya masuk.
“Mana anggota keluargamu yang lainnya?” aku bertanya ingin tahu.
“Mereka akan segera datang. Yoyok pergi ke toko perkakas untuk berbelanja peralatan mesin cuci yang rusak. Dia ingin menjinjing serta anaknya. ‘Perjalanan ke toko perkakas yang pertama bareng Ayah’ kurasa yang dikatakannya padaku.” ia tersenyum.
“Apa Ayah mempermasalahkan dikala pertama kalinya mengajak Yoyok ke toko perkakas?”
“Aku tak ingat,” aku berkata dengan garing.
Mirna mendekat padaku, dan menaruh tangannya melingkari leherku. “Ini kesempatan Ayah. Kalau Ayah mau… saya nggak menolak.”
Mirna memandangku sempurna di mata dan mengangkat tubuhnya dan menciumku usang dan liar. Aku ingin mendorongnya, tapi saya tak tahu dimana aku mesti menaruh tanganku. Aku tak ingin menyentuh pinggang telanjang itu, dan kalau saya menaruh tanganku di dadanya saya pasti akan menjamah puting susunya. Saat aku masih kagetdan resah, aku temukan diriku menikmati ciumannya. Ini sudah terlalu usang, dan aku merasa telah lupa akan rasa lapar yang mulai berkembang dalam diriku.
Akhirnya saya menghentikan ciuman itu dan mundur dan melepaskan tangannya dari leherku. “Kita tak mampu melakukannya.” saya mencoba menyampaikannya dengan lembut, namun aku takut itu kedengaran seperti rajukan.
“Ya kita mampu.” Mirna kembali meletakkan lengannya di leherku dan mendorong bibirku ke arahnya. Ada gairah yang lebih lagi dalam ciuman kali ini, dan kesannya penerimaanku. Kali ini saat kami berhenti, ada sedikit kelemahan udara diantara kami berdua, dan aku makin merasa sedikit sangsi.
Mirna memandangku dengan binar di matanya dan suatu senyuman di bibirnya. “Ayah menginginkanku. Aku bisa merasakannya. Ayah tak menerima perempuan setahun belakangan ini, dan Ayah tak memiliki daerah untuk melampiaskannya. Dan aku mengharapkan Ayah. Jadi tunggu apa lagi…”
Pada segi ini saya tak mampu berkomentar. Aku menginginkannya. Tapi aku tak dapat menyetubuhi menantuku, bisakah aku? Tapi saya menginginkan dia. Aku merasa pertahananku melemah, dan ketika Mirna menciumku lagi, aku jadi sedikit terkejut dikala menyadari diriku membalas ciumannya dengan rakus.
“Mmmmm. Itu lebih baik,” katanya saat kami berhenti untuk mengambil nafas. Mirna menarik tangannya dari leherku dan mulai melepaskan kancing celanaku saat menciumku kembali kemudian ia mundur. Makara beliau mampu menyaksikan ketika beliau melepaskan kancing jeansku, menurunkan resletingnya, dan merogoh ke dalam untuk mengeluarkan barangku. Aku terkejut ketika terlihat jadi tampak lebih besar di genggaman tangannya yang kecil. Setahun telah tak disentuh oleh wanita , dan bereaksi dengan segera, menjadi keras dan cairan pre-cumnya keluar dikala beliau mengocoknya dengan lembut.
Mirna mundur dan duduk. Saat kepalanya turun, beliau menempatkan bibirnya di pangkal penisku yang lembap. “Aku rasa aku menggemari bentuknya,” bisiknya sambil menatap mataku. Lalu lalu ia membuka mulutnya dan dengan perlahan memasukkan penisku ke dalam mulutnya. Ke dalam dan lebih dalam lagi penisku masuk dalam mulutnya yang lembut, hangat dan lembap, dan aku merasa berada di dalam vagina yang basah dan kenyal ketika lidahnya menari di penisku. Akhirnya aku merasa sudah berada sedalam yang ku mampu, bibirnya menjamah rambut kemaluanku dan kepala penisku berada entah di mana jauh di tenggorokannya. Penisku tanpa terasa mengejang, dan pinggangku bergerak bertentangan arah dengannya, dan bersiap untuk menyetubuhi parasnya.
Tapi Mirna perlahan menjauhkan mulutnya dariku, menimbulkan bunyi seperti sedang mengemut permen. Saat beliau bangun untuk menciumku lagi, aku mengarahkan tanganku diantara pahanya. Aku gosok jeansnya dan beliau menggeliat alhasil. “Mmmm, itu pasti lezat,” katanya. “Tapi supaya saya menjadikannya jadi lebih mudah.”
Mirna melepaskan kancing celananya dan menurunkan resletingnya, menunjukkan celana dalam katunnya yang bergambar beruang kecil. Diturunkannya celananya dan melepaskannya dari tubuhnya. Kami melihat ke bawah pada area gelap dibawah sana dimana kewanitaannya bersembunyi, dan lalu aku sentuh perutnya yang kencang dan terus menurunkan celana dalamnya.
Mirna mengerang dalam kenikmatan dikala tanganku meraih sasarannya dibalik celana dalamnya. Vaginanya serasa selembut pantat bayi, dan aku sadar jikalau ia niscaya sudah mencukurnya sebelum kemari. Terasa lembap dan licin oleh cairan kewanitaannya dan membuatku takjub sebab itu tak mengakibatkan bekas basah di luar jeansnya. Saat tanganku menyelinap dibalik bibir vaginanya dan menyentuh klitorisnya yang mengeras, dia memejamkan matanya dan menekan bertentangan arah dengan jariku.
Mirna menaruh salah satu tangannya di leherku dan mendorong kami untuk sebuah ciuman intensif berikutnya sedangkan tangannya yang lain mengocok penisku dan tanganku terus bergerak dalam lubang basahnya. Saat kami berhenti untuk bernafas, Mirna mundur dan menyampaikan sesuatu yang mengejutkan, “Yoyok tiba.”
Aku secepatnya melepasnya dan menuju jendela. Ya, kendaraan beroda empat Yoyok terlihat di jalan sedang menuju kemari. Mirna niscaya melihatnya dari balik bahuku dikala kami saling mencumbui leher. Tiba-datang perasaan bersalah tiba menerkam alasannya adalah nyaris saja tertangkap tangan. Aku tak yakin apa yang hampir saja kami kerjakan. Dengan buru-buru saya kenakan kemabali celanaku, tetapi Mirna menghentikanku dan menangkap tanganku dan melanjutkan kocokannya.
“Hei, tidak boleh. Tak semudah itu Ayah boleh mengakhirinya. Aku telah menunggu terlalu lama untuk ini.”
“Tapi Yoyok hampir tiba! Dia akan melihat kita!”
Mirna mengeluarkan penisku dan berlangsung ke arah meja dapur. “Ini perjanjiannya,” katanya. “Aku tak akan mengadu pada Yoyok ihwal apa yang baru saja kita kerjakan jikalau Ayah mampu mampu mengeluarkan seluruh sperma Ayah dalam vaginaku sebelum beliau sampai kemari.” Sambil berkata begitu, ia menurunkan celananya hingga lutut dan membungkuk di meja itu.
“Dia secepatnya datang!” hampir saja saya teriak.
“Tidak.” Mirna membentangkan kakinya sejauh celananya memungkinkan untuk itu dan beliau memandangku lewat bahunya. “Dia harus menggendong bayi dan mengeluarkan semua barangnya. Biasanya dia membutuhkan beberapa menit. Sekarang kemarilah dan setubuhi aku.”
Mirna sudah telanjang dari pinggang sampai kaki, dan beliau memohon padaku agar segera memasukkan diriku dalam tubuhnya. Aku menatap dua lubang yang mengundang itu. Pantatnya begitu kencang dan saya tak terganggu ketika menyaksikan lubang anusnya yang berkerut kemerahan, dan di bawahnya, bibir vaginanya yang merah, terlihat mengkilap lembap. Kakinya tak sejenjang versi, tapi lebih kecil dan terasa pas, dan saya membayangkan bercinta dengannya beberapa jam.
Tangannya bergerak kebelakang diantara pahanya dan menempatkan tangannya pada vaginanya. Dengan dua jarinya dilebarkannya bibir vaginanya sampai terbuka, dan aku dapat melihat lubang merah mudanya mengundang penisku agar secepatnya masuk. “Ayo,” katanya. “Ambil aku.”
Aku tak tahu apa dia sedang bercanda dikala mengatakannya. Yoyok atau bukan, rangsangan ini lebih dari cukup untuk mereguk birahinya. Aku melangkah ke belakang menantuku dan menempatkan penisku di kewanitaannya. Saat aku mendorong penisku melewati lubang surganya yang sempit, saya mampu merasakan jari Mirna menahan bibir madunya biar tetap terbuka, dan dia melenguh dikala aku memegang pinggangnya dan memasukkan diriku padanya.
Mirna telah sangat berair sampai aku dengan mudah melalui vagina mudanya yang sempit. Aku mulai mengayunkan barangku di dalamnya, sebagian didorong oleh nafsu akan badan menggairahkannya dan sebagian oleh rasa takut kalau Yoyok memergoki kami. Mirna mengerang, dan aku dapat merasakan jarinya menggosok kelentit dan bibir vaginanya sendiri. Nafasnya mulai tersengal, dan setelah beberapa goyangan dariku, dia segera orgasme. Suara rengekan pelan keluar dari bibirnya dikala dia mencengkeram pinggiran meja dengan besar lengan berkuasa, dan letupan orgasmenya menggoncang kami berdua saat aku menghentaknya.
Itu cukup untuk menghantarku. Aku tak berafiliasi dengan wanita dalam setahun ini, dan saya belum pernah mendapatkan yang sepanas Mirna. Aku menahan nafas dan mendorong seluruh kelaki-lakianku ke dalam dirinya. Kami mematung, dan kemudian spermaku menyemprot dengan ahli jauh di dalam surganya. Serasa aku sudah mengguyurnya dengan sperma yang panas dan berlebih. Dia mengerang dalam lezat, menggetarkan pantatnya di seputar penisku saat aku mengosongkan persediaan benihku. Dia melemah seiring dengan habisnya spermaku, dan kami alhasil berhenti bergerak, kecuali untuk mengambil nafas.
Takut Yoyok akan datang sebelum kami sempat melepaskan diri, saya keluarkan diriku dari tubuhnya dengan suara plop yang basah, kemudian mundur menjauh dan mengenakan celanaku. Mirna masih tetap berbaring tertelungkup di atas meja merasakan kehangatan gabungan cairan birahi kami, pantat telanjangnya masih tetap memanggilku. Aku lihat spermaku dan cairannya mulai meleleh keluar dari bibir surganya. Aku palingkan tampang dan menyaksikan Yoyok nyaris sampai di pintu belakang, bayi di tangan yang satu dan belanjaan di tangan lainnya.
Aku berbalik dan memohon pada Mirna. ” Ayolah!” kataku. “Kamu telah peroleh keinginanmu. Dia nyaris hingga kemari.”
Mirna bangun, tatapan matanya masih kelihatan linglung. Dia bergerak ke depanku, menjadikanku selaku penghalang dari persepsi suaminya ketika dia dengan tergesa-gesa memakai celananya.
“Apa kalian sudah siap untuk pertandingannya?” tanya Yoyok sambil membuka pintu.
“Ya,” saya menjawab dari balik punggungku ketika saya membisu untuk menghalangi Mirna yang menaikkan resletingnya. Setelah ia akhir, saya secepatnya berbalik untuk menyambut Yoyok.
“Ini,” katanya, menyodorkan bayinya padaku dan menaruh belanjaannya diatas meja dapur.
“Urus ini, saya akan mengambil popok bayi.” Yoyok melangkah ke pintu yang masih terbuka, dan saya menghampiri Mirna. Dia masih tampaksedikit linglung.
“Hampir saja,” kataku.
“Sini, semoga aku yang menggendongnya.”
Aku berikan bayinya. Mirna memberiku panorama seraut tampang dari seorang wanita yang puas sesudah bersetubuh, dan memberiku ciuman hangat yang berair.
“Masih ada satu hal lagi yang mesti kuketahui,”katanya.
“Apa itu?”
A?a,?A"Kalau saya ingin, bisakah aku mendapatkannya besok?”
Dan beliau melenggang begitu saja tanpa menanti jawabanku yang hanya termenung termangu. Dia percaya jikalau akan bersedia…

0 Response to "Cerita Sampaumur Di Perkosa Menantu"