Cerita Asusila Ngentot Dengan Ayah Tiri
By Blinger
—
Jumat, 09 Februari 2018
—
Add Comment
—
Cerita Dewasa,
Cerita Lesbian,
Cerita Mesum,
Cerita Ngetot,
Cerita Sex
Cerita Mesum Ngentot Dengan Ayah Tiri - Sengaja aku ceritakan dongeng faktual ke hidupan ku untuk mengembangkan pengalaman terhadap para teman-sobat supaya dapat dijadikan citra betapa kejam kehidupan ini namun bila kita mampu dengan cermat menjalaninya, kehidupan yang kejam akan mampu menjadi indah dan berguna.
Cerita Mesum Ngentot Dengan Ayah Tiri
Semuanya berawal dari kehancuran rumah tangga kami sesudah sekian lama ibu ku berpisah dengan ayahku, roda ekonomi keluarga kami tidak terlampau terguncang, karena Ibu berakal mencari uang. Ibu telah menopang ekonomi keluarga dengan aneka macam upaya meski harus menjalani kehidupan yang hina sebagai wanita penghibur. Oleh alasannya itu, sepeninggal Ayah kami tidak mengalami kesusahan perekonomian dalam mengurusku dan kedua adik laki-lakiku.
saat usia 12 tahun saya menentukan untuk tinggal bersama ibuku yang pada saat itu ibu telah hidup bersama dengan Pak Juwono, sosok pak juwono memang bukan merupakan sosok yang asing bagi kami karena kebenaran pak juwono adalah tetangga sekampung kami, dan wajar menurutku ibu membutuhkan pria dalam hidupnya Pertama, sebab usia Ibu masih termasuk muda, 38 tahun, untuk mengarungi hidup ini sendirian. Kedua, sebab kami tahu bahwa Pak Juwono berstatus duda tanpa anak. Pak Juwono yakni pria yang masak, penyayang,dan bertanggung jawab. Aku dan kedua adikku telah cukup mengenal kepribadiannya.
Masuknya Pak Juwono sebagai anggota baru keluarga kami memang menjinjing warna-warna lain dalam kehidupan keluarga kami. Aku pribadi sungguh bahagia dengan adanya figur seorang ayah pengganti. Terus jelas, sebagai anak perempuan satu-satunya saya haus akan perhatian dan kasih sayang seorang ayah. Apalagi di usia sampaumur saya ingin ada yang menuntunku dalam masalah cinta dan berafiliasi dengan pria. Aku harap bisa menimba pengalaman dari ayah tiriku ini.
Kedekatanku dengan ayah tiriku membuat Ibu bangga. Beliau bahagia menyaksikan kami semua dekat dengan suami barunya. Bahkan, boleh dibilang aku bersikap agak manja kepadanya. Setelah berselang beberapa tahun dan saat itu aku sudah berusia 15 tahun dan aku telah duduk di bangku SMU Setiap pulang sekolah, saya niscaya segera mencari ayah tiriku untuk menceritakan pengalamanku di sekolah. Beliau akan dengan tabah mendengar ceritaku, lalu dengan bijak menasihatiku jika ada hal-hal yang dianggapnya tidak ’sesuai’.
Kadang-kadang atas ijin Ibu, saya mengajak ayah tiriku berjalan-jalan ke mall untuk mengisi waktu kosong, setelah berjalan-jalan kami mampir untuk nongkrong di salah satu tempat sambil ayah memberikan hikmah-nasihatnya dan akupun memampaatkan untuk bercuhat ihwal seputar pergaulan era remajaku, alasannya adalah kadang kala aku enggan bercurhat di rumah takut kalo kedengaran ibuku.
Tanpa kusadari saya kian bersahabat dan semakin erat terhadap ayah tiriku, saya sudah semakin acuh taacuh aja dan tidak malu lagi semisalnya keluar dari kamar mandi dan hanya mengenakan handuk mandi sebagai epilog bagian-bab tubuhku yang vital dihadapan ayahku. Dan kadangkala ayahku pula yang menggendongku ke kawasan tidurku kalau aku kedapatan ketiduran di ruang tamu alasannya ketiduran akibat mataku yang capek alasannya adalah membaca buku ataupun menonton telivisi.
Lama-kelamaan aku makin mengagumi sifat-sifat kedewasaan yang dimiliki oleh ayah tiriku, dan ada rasa perasaan khusus tertentu yang tidak mampu kuterjemahkan, entahlah apakah itu yakni perasaan cinta? Mungkin itulah sebab aku selalu menampik setiap pernyataan cinta yang dilontarkan oleh sahabat-sahabat priaku. Terus terang saya tidak kepincut dengan sobat-sobat pria sebayaku yang cenderung manja dan kekanak-kanakan. Sebaliknya saya mengagumi laki-laki-laki-laki yang sampaumur dan matang. Rasanya saya betah berada disisi mereka untuk mendengar kisah ataupun nasehat-nasehatnya, dan itu seluruhnya kudapatkan sarat dari ayah tiriku ini.
Rupanya gejala ini juga dirasakan dan ditangkap oleh ayah tiriku. Sebelumnya saya memang sudah biasa jika hendak pergi sekolah berpamitan dan mencium pipi ibu dan ayahtiriku, Sekarang jika ibu tidak ada, Ayah akan membalas mencium pipiku. Semula aku merasa terkejut dan ada sedikit perasaan malu, bukan kenapa-kenapa ini ialah ciuman pertama dari seorang pria kepadaku dan sekaligus yaitu ayahku. Bahkan pernah suatu waktu saya terperangah saat ayah tidak cuma membalas mencium pipiku, melainkan juga bibirku. Melihat wajahku memerah, alasannya adalah aku belum pernah pacaran, Ayah cuma tersenyum simpul.
Kalau sebelumnya saya enggan untuk didekati ayahtitiku dikala aku tiduran atau ketika saya tidur sambil nonton tv, usang kelamaan saya terbiasa dan kerap kali aku bermanja-manja minta didekap oleh ayah, terasa sangat nyaman berada dalam dekapan ayahtiriku, hinnga suatu dikala aku terkejut tatkala ayahtiriku menciumi bibir merahku dengan begitu lembut dan bukan karena saya tidak terima, malah saya meraasa ada sesuatu perasaan hangat dan desiran dalam detak jantungku yang tak karuan.
Kejadian seperti itu terus berulang saat ada peluang bagi kami Dan akupun mulai sudah biasa dengan gaya gres dari ayah tiriku. Semakin lama kami berani melakukannya lebih usang, kami pernah melakukannya selama beberapa menit dengan panasnya. Kalau tidak mengenang Ibu yang ada di rumah yang sewaktu-waktu bisa memergoki mungkin ayahku tidak akan melepaskanku dari pagutannya.
Semakin waktu berlangsung akibat dari rasa penasaran dan akupun tambah mengharapkan sesuatu yang lebih dari ayahtiriku, aku mengharapkan perasaan bahagia itu tidak hanya sesaat ku mampu dan risikonya ntah darimana aku menerima akal bulus untuk menyarankan terhadap ibu biar ia mendatangi saudaranya di bogor Beberapa waktu berselang, suatu dikala tatkala ibu tidak dirumah . Kebetulan kedua adikku sedang tidak tinggal di bareng kami sebab pergi berkunjung ketempat tinggal ayah yang satu kota dengan kami tetapi lumayan jauh jaraknya. Alhasil cuma aku dan Ayah tiriku yang ada di rumah kini ini. Menyadari tidak ada orang lain, bekerjsama hatiku berdegup kencang menyadari saat-saat yang tidak disangka-sangka tinggal berdua saja dengan Ayah tiriku yang amat kukagumi.
Ketika saya pulang dari main ketempat salah seorang temanku menjelang sore hari, beliau telah menungguku di teras rumah dan terlihat kegembirannya yang terbias di matanya saat menyambut kepulanganku. “Pulangnya kog malam, Non?” tanya ayah dengan senyum khasnya.
Aku menjawab dengan kalem, “Tadi jalan-jalan dengan teman Yah. “Senyumnya mendadak agak hilang saat keceritakan aku berjalan-jalan dengan sahabat-sobat cowok kampusku. Aku tertawa dalam hati melihat sikap ayah tiriku yang tampaksedikit menyimpan rasa cemburu.
Saat-saat sepeti ini memang telah aku tunggu-tunggu dank u manpaatkan semanpaat mungkin untuk meraih hasratku yang sudah menggebu-gebu, Sehabis mandi seperti lazimnya saya tetap cuma menggunakan handuk melalui ayah menuju ke arah kamarku dan akupun berlaku sedikit centil seakan memancing dan memberi aba-aba pada ayah.
“Nia, apakah perjaka yang menemani kamu adalah pacar kamu?”, selidik ayah tiriku.
“Sebentar ayah, Nia mau berpakaian dahulu, dan nanti akan Nia ceritakan seluruhnya ke Ayah”, jawabku sambil tetap menuju ke arah kamarku, sepintas kulihat ayahku seperti bangkit dari sofa kawasan duduknya. Aku menutup sedikit pintu kamar yang sengaja tak ku kunci dan mulai mengeringkan rambutku dengan memakai kipas angin yang kunyalakan.
Tiba-datang saya mendengar bunyi derit pintu kamarku terbuka dan kulihat ayah tiriku berlangsung masuk menghampiriku. Karena saya masih terbalut dengan handuk saya hambar saja mendapatkan kedatangan ayah tiriku meskipun bergotong-royong hatiku terasa dag dig dug tak karuan.
“Aduhh.., ayah nih kog penasaran amat sih, dibilang entar juga pasti diceritain”, kataku menggoda sembari tetap mengeringkan rambutku yang masih agak basah dan sengaja handuk yang menutupi sedikit ku angkat sampai tampakmuus paha ku.
“Nia, kamu serius yah berpacaran dengan cowo yang tadi itu?”, masih dengan ingin tau ayahku terus menanyaiku.
“Hmm…, Kalo ya kenapa…, kalo tidak juga kenapa?” tanyaku memancing perasaan ayah tiriku.
“Kamu nakal yahh…, udah main diam-diam-rahasiaan” ucapnya seraya tiba-tiba tangannya menggelitik pinggulku.
Aku tergelitik kegelian sambil meronta-ronta kecil untuk melepaskan dari gelitikan tanggannya. Ayahku tetap menguber-uberku sambil tetap menggelitik seluruh tubuhku, sampai kesannya kita berdua jatuh ke ranjang dan ayah tetap saja menggelitik seluruh badanku. Sampai risikonya kita berdua cekakak cekikikan dan akihirnya aku berteriak-teriak kecil minta ampun agar Ayah menghentikan gelitikannya. Begitu ayah menghentikan gelitikannya tubuhku terasa lemas dan kami berdua ngos-ngosan akibat kehabisan nafas. Ayah tiduran disampingku di atas ranjang sambil tetap mengamati wajahku yang masih bersimbah peluh. Aku mencoba mempesona napas panjang sambil memejamkan mata untuk menghilangkan rasa lemas yang kurasakan.
Tiba-datang saya mencicipi ciuman lembut menempel di bibirku, tetapi saya merasakan pagutan ciuman kali ini lebih terasa dan lebih rileks, mungkin alasannya adalah Ibu tidak ada di rumah. Akupun membiarkan bibirku dilumat dengan lembut, gres kali ini ciumannya membuatku terasa terbang diawang-awang. Tanpa disadari tangan ayah yang tadi mengelus lembut pinggulku…, sudah melepas handuk epilog tubuhku. Akupun baru sadar bahwa saya sudah tidak berpakaian. Sebelum aku sempat berpikir banyak, ayahku sudah memelukku kembali dengan eratnya seraya mengelus-elus rambutku yang panjang. Terus terperinci aku sungguh terlena dengan sentuhan kasih sayangnya ini.
Ketika dia mengangkat wajahku, saya menundukkan wajahku yang bersemu merah. Aku bisa mendengar bunyi detak jantung ayah yang berdegup kencang dikala matanya menyapu dengan higienis seluruh lekuk-lekuk tubuhku yang telah tidak terlindung apapun. Ayah mengelus bibirku dan tiba-tiba memagutnya kembali dengan sarat nafsu. Aku cuma mampu pasrah dibawah kenikmatan yang baru kurasakan ini. Bahkan saya mulai berani membalas pagutannya. Ayah kemudian menyeretku kedalam pangkuannya di atas ranjang. Kami terus berciuman, sampai tangannya mulai bergerak mengelus ke tempat-daerah tubuhku yang paling sensitif.
Aku menjerit kecil ketika kurasakan tangannya yang pembangkang menyentuh dan meremas-remas dengan lembut payudaraku. Sambil melumat bibirku, ayahku secara perlahan-perlahan berupaya melepaskan seluruh pakaiannya. Aku menjerit kecil tertahan tatkala penis ayahku keluar dari celana dalamnya dan dalam kondisi sangat panjang dan ‘tegak’, gres kali ini saya menyaksikan secara bersahabat penis seorang laki-laki, bentuknya panjang mengeras dan dibagian ujung kepala penis ayah membengkak dan berkilat-kilat bagai jamur. Belum sempat logikaku berlangsung,ayah sudah kembali memeluk dan mencumbuku kembali, kini kami sama-sama bergumul dengan panasnya tanpa sehelai benangpun menempel di badan kami.
Mataku terpejam rapat sambil berteriak tertahan saat ayah tiriku mencumbui organ kewanitaanku. Ada rasa nikmat hebat yang kurasakan, hingga setiap beberapa ketika badanku menggelinjang-gelinjang tak kuasa menahan hentakan-hentakan kenikmatan yang keluar dari seluruh sendi-sendi tubuhku. Sampai alhasil saya mencicipi benda panjang dan hangat menyeruak memasuki vaginaku. Saat itulah aku mempersembahkan diriku, kehormatan, jiwa ragaku terhadap ayah tiriku yang sungguh ku kagumi. Jujur dikala itu aku memang sudah tidak suci lagi pernah sekali melakukan sama pacarku namun untuk yang kali ini lain daripada lainnya indah, lezat, dan sungguh luar biasa yang kurasakan.
Kami bersetubuh tanpa mempedulikan waktu, terus berpacu dan berpacu meliwati titik puncak demi klimaks sampai hampir menjelang subuh tubuh kami sama-sama lemas sebab merasakan titik puncak yang berkali-kali hingga balasannya kami rubuh dan tidur berpelukan dalam satu ranjang dengan perasaan puas.
Terus jelas pengalaman pertamaku bekerjasama seks menenteng kesan yang hebat dalam hidupku. Aku sama sekali tidak merasakan kesakitan sebab ayahku tahu persis bagaimana menjalankan permainan seks kami dengan sebaik mungkin. Malam pertama kami, kami lewatkan dengan mengulang permainan seks hingga tiga kali. Ketika tak berdaya lagi, kami baru berhenti.
Tiga hari ditinggal Ibu dan adik-adik membuat aku dan Ayah benar-benar menikmati petualangan asmara.
Selanjutnya kamipun sering melaksanakan persetubuhan tersebut dengan cara mencuri waktu diwaktu malam secara diam-membisu, kebenaran ayah orangnya kegemaran nonton Telivisi sampai larut malam dan acap kali malah aku yang sering mengajak ayah melakukan persetubuhan itu di luar rumah dengan berjumpa di hotel yang tidak jauh dari kawasan tinggalku, kami bertemu dengan janjian pada siang hari sampai sore di kamr hotel aku memuaskan napsu birahi ku sepuas-puasnya alasannya adalah kalo di rumah aku tidak menerima kepuasan yang klimaxs, kerap kali sengaja kami mengatur seakan ayah pergi keluar kota untuk beberapa hari dan akupun saat ayah berangkat dari rumah berpamitan sama ibu untuk ketempat temanku beberapa hari dengan banyak sekali alasan, dan dengan lihai saya menutur pada ibu bahwa kalo ayah ada di rumah saya gak mungkin berani takut ayah marah dan ibukupun memahami juga mengijinkanku, padahal kami sudah janjian untuk bertemuan dengan ayahtiriku di salah satu hotel kota bogor untuk selama 1 atau 2 hari untuk memuaskan hasrat birahi kami yang senantiasa menggebu-gebu, dan ketika pulang sengaja saya pulang lebih dahulu dari ayah. Dan hal itu berlanjut dengan indahnya.
Selama nyaris duatahun menjalin asmara diam-diam dengan ayah, Ibu mulai curiga bukan memiliki arti alasannya aku ada pergeseran, aku tergolong cewek yang genius dan provisional, saya membisu-diam mengonsumsi pil kb hingga setiap bulan saya tetap kehadiran tamu. Apalagi, Ibu mengetahui kalau hingga berusia 17 tahun aku belum juga mau punya pacar. Padahal aku terhitung elok dan supel. Apalagi saat saya telah menamatkan SMU ku, Ibu mendesakku untuk mulai mencari pasangan hidup.
Ketika diam-membisu kudiskusikan hal ini terhadap Ayah, beliau sangat mendukungku menjalin hubungan dengan pria lain. Soalnya, Ayah mulai mencium tanda-tanda kecurigaan di mata Ibu menyaksikan hubunganku dengan Ayah semakin lengket aja.
Maka ketika Wahyu,kakak kelasku yang paling gencar mendekatiku. Kupikir apa salahnya saya membina korelasi dengannya. Apalagi parasnya lumayan ganteng, postur tubuhnya atletis, dan otaknya encer pula. Singkat cerita saya kemudian serius menjalin kekerabatan dengannya. Sementara itu, cerita cintaku dengan Ayah terus berlanjut. Kali ini kami lebih banyak melaksanakan persetubuhan kami di luar rumah. Kadang-kadang kami janji bertemu di hotel A atau B yang letaknya agak jauh dari kota daerah tinggalku.
Enam bulan sehabis berpacaran dengan Wahyu, keluarganya tiba melamarku. Aku menerima lamarannya dengan perasaan biasa-lazimsaja. Terus-terperinci perasaan cintaku telah kupersembahkan seutuhnya terhadap ayah tiriku. Aku menikah hanya untuk menutupi perselingkuhanku dengan ayah.
Untungnya, Wahyu ialah orang yang tidak mempersoalkan keperawananku saat kami melupakan malam pertama. Menghadapi permainan seks Wahyu yang termasuk pemula, aku merasa tidak puas. Kadang-kadang aku membayangkan sedang berhubungan badan dengan ayah tiriku yang macho dan terlatih. Akhirnya, aku tetap sering menelepon ayah untuk saling bertemu di luar rumah. Usianya yang sudah berkepala empat telah mengenali secara betul segala bentuk permainan seks yang dapat memberikan kepuasan titik puncak kepada gadis-gadis muda seusiaku.
Bercinta dengan ayah tiriku, aku mendapatkan titik puncak yang berulang-ulang, hal yang tidak mampu kudapatkan bila saya berhubungan tubuh dengan suamiku sendiri. Aku tahu perbuatanku yaitu keliru. Namun saya tidak dapat menghapus sosok Ayah tiriku dalam kehidupanku. Aku tidak tahu sampai kapan aku mampu menghentikan perselingkuhanku ini yang penting bagiku kami mesti selalu rapi mengendalikan dan merahasiakannya,.. semua bisa diatur asal kita sama setuju slalu kuingat peasan ayah. Aku hanyalah seorang wanita yang menghendaki adanya figur laki-laki matang disisiku, terimakasih ayahtiriku yang selalu setia memenuhi asrat dan kekurangan ku

0 Response to "Cerita Asusila Ngentot Dengan Ayah Tiri"